Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa: Pasword Menuju Allah

Puasa: Pasword Menuju Allah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 10 Mar 2026
  • visibility 10.047
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Kita pastinya punya banyak password alias kata sandi untuk mengakses sistem tertentu. Dari kata sandi gawai, email, akun medsos (Facebook, Instagram, Tiktok), laptop, m-bangking, dan segala teknologi digital yang Anda punya. Nah, apakah hanya kata kunci di dunia? Ya ora to!

 

Untuk mengakses sistem Allah Swt, kita juga butuh kata sandi. Salah satunya adalah lewat ibadah puasa Ramadan. Sebab, bagi saya, puasa itu ya password lah. Bukan sekadar ibadah ritual biasa. Artinya, puasa menjadi jalan spiritual yang membuka akses manusia menuju kedekatan dengan Allah Swt. Puasa dalam perspektif ini bisa dimetaforakan sebagai “password spiritual” yang menjadi kunci yang bisa memungkinkan manusia memasuki ruang kesadaran ilahi yang lebih dalam dan substansial.

 

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 menjadi landasan normatif puasa dalam Islam. Ya, dalam surat paling populer saat Ramadan ini, di dalamnya menyatakan puasa diwajibkan agar kita (umat Islam) mencapai takwa, derajat ketakwaan kepada Allah Swt. Idiom takwa dalam tradisi Islam sering dimengerti sebagai kesadaran penuh akan kehadiran Allah Swt dalam kehidupan kita.  Puasa dengan kata lain tak sekadar praktik fisik belaka, namun menjadi mekanisme pembentukan kesadaran spiritual. Begitu!

 

Puasa: Password Spiritual

Puasa mempunyai makna batin yang sangat serius. Inilah yang jika kita telaah mendalam, puasa hakikatnya melahirkan kesadaran spiritual yang bisa menjadi sebuah password. Dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali berpandangan puasa mempunya sejumlah kelas/derajat/kaliber/ tingkatan yang itu menunjukan tingkatan kata kunci alias password. Pertama, puasa lahiriah atau puasa umum, yaitu menahan makan dan minum. Kedua, puasa khusus, atau anggota tubuh dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa sangat khusus, yaitu puasa yang dilakukan oleh hati dari semua sesuatu yang bisa menjauhkan manusia dari Allah Swt. Jelas ya!

 

Pandangan Imam Al-Ghazali ini menegaskan puasa tak hanya ritual formal saja, namun merupakan sebuah proses penyucian diri yang bertahap, berkelas, berkaliber laiknya tingkatan password menuju Allah Sawt. Tiap lapisan puasa itu membuka pintu kesadaran lebih dalam sehingga manusia mencapai kedekatan spiritual dengan Allah Swt. Bergantung kaliber kita posisinya di mana? Begitu!

 

Password spiritual yang lahir dari proses kesadaran religius atau kesadaran spiritual dalam perspektif ilmu sosial seperti ini bisa dipaparkan lewat teori pengalaman religius perspektif William James dalam sebuah buku The Varieties of Religious Experience (2009). Pengalaman keagamaan dalam pandangan James sering kali lahir saat manusia keluar dari rutinitas biasa saja, dan memasuki kondisi psikologis lebih reflektif. Maka dalam pandangan ini, tradisi keagamaan Islam laiknya puasa, tadarus Al-Quran, iktikaf, doa, atau meditasi bisa membuka ruang bagi pengalaman spiritual yang lebih intens.

 

Artinya, saat teori James ini dijadikan pisau analisis untuk mengkaji praktik puasa, maka menahan diri dari makan dan minum hakikatnya tak sekadar urusan pekerjaan fisik belaka. Kok bisa? Bisa, karena puasa menjadi proses psikologis yang menggeser fokus manusia dari kebutuhan jasmani menuju kesadaran batin yang mendalam. Dahaga dan lapar yang dirasakan umat Islam selama puasa menjadi mekanisme yang berdimensi mengingatkan manusia akan keterbatasannya, dan membuka ruang kontemplasi soal relasi dirinya dengan Allah Swt.

 

Dalam buku The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1990), Peter L. Berger menguraikan agama menyediakan struktur makna yang membantu umat manusia mengerti akan realitas kehidupan yang sangat luas. Lewat ritual-ritual khusus (misal dalam Islam), manusia membangun relasi simbolik dengan dunia yang dianggap suci.

 

Dalam kerangka ini, puasa bisa dimengerti sebagai ritual yang menguatkan relasi manusia dengan dimensi transendensi, tak sekadar imanensi. Saat seorang muslim melakukan puasa, hakikatnya ia secara sadar menunda berbagai kenikmatan duniawi yang hina. Kegiatan penundaan tersebut melahirkan jarak simbolik antara manusia dan dunia material, akhirnya ia bisa lebih fokus pada dimensi spiritual kehidupannya.

 

Ketika kita analogikan dengan dunia digital modern, kerja puasa laiknya sebuah kata kunci alias password yang membuka akses ke sistem yang lebih dalam, yaitu Allah Swt sendiri. Tanpa adanya sebuah password, kata kunci, atau Personal Identification Number (PIN) seorang tentu tak dapat masuk ke ruang tertentu. Nah, tanpa latihan pengendalian diri seperti puasa Ramadan, tentunya umat manusia akan sulit mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi, apalagi menuju Allah Swt. Tentu abot!

 

Metafora di atas bisa dilogikakan lewat pendekatan psikologi habit (kebiasaan) manusia. Pengendalian diri dalam kajian perilaku manusia adalah fondasi pembentukan karakter. Saat seorang dapat menunda kepuasan sesaat, sebenarnya ia sedang latihan untuk menguatkan kemampuan regulasi diri yang menjadi dasar bagi perkembangan moral.

 

Dalam konteks ini, hakikatnya puasa melatih kemampuan itu secara intensif. Artinya, selama 1 (satu) bulan penuh, umat muslim melakoni disiplin waktu makan (lewat sahur dan berbuka), memperbanyak ibadah (mahzah dan muamalah), dan mengurangi berbagai aktivitas yang berpotensi merusak nilai spiritual alias maksiat. Proses latihan ini secara perlahan akan membentuk pola kesadaran baru yang lebih reflektif dan terkendali.

 

Nah, tentu dalam konteks kehidupan modern yang penuh distraksi lewat peranti digital gawai, godaan media sosial, dan budaya konsumsif, puasa bisa dipahami sebagai praktik detoksifikasi spiritual. Puasa yang benar-benar sukses tentunya meminimalkan intensitas relasi manusia dengan dunia material, dan sekaligus menguatkan relasi dengan dimensi transenden, yaitu tentunya Allah Swt.

 

Nah, akhirnya bisa kita simpulan sederhana, hakikatnya puasa tak sekadar rukun Islam, atau kewajiban ritual tahunan yang selalu hadir, namun puasa justru menjadi mekanisme edukasi spiritual yang memiliki dimensi teologis, psikologis, sosial. Puasa menggembleng umat manusia  membuka akses (password) menuju kedekatan dengan Allah, mengendalikan diri, memperdalam kesadaran moral, dan lainnya.

 

Puasa yang bisa menjadi password menuju Allah Swt hakikatnya tak sekadar ritual formal, namun karena puasa membuka ruang transformasi batin. Manusia lewat puasa bisa sianu jalan menuju Allah Swt tak selalu lewat gerakan atau tindakan besar, namun lewat latihan sederhana yang dilakukan dengan kesadaran mendalam selama berpuasa. Apa saja bentuknya? Ya, bisa lewat kegiatan merenung, menahan diri, dan kembali pada hakikat dirinya sebagai makhluknya Allah yang bergantung sepenuhnya pada Sang Pencipta itu sendiri.

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Fikih Energi Terbarukan

    • calendar_month Sen, 19 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 321
    • 0Komentar

    Fikih atau dapat diartikan syariat Islam harus bisa menjawab berbagai masalah yang muncul di tengah – tengah masyarakat dunia yang berkaitan dengan kehidupan, termasuk dalam perubahan.  Unsur alam yang berkaitan dengan kehidupan adalah energi. Perkembangan jaman yang semakin cepat dan maju semakin membutuhkan tunjangan energi untuk menyokong kehidupan manusia. Selain itu, kebutuhan energi yang semakin banyak juga […]

  • Belajar Pada Kiai Sahal Mahfudh

    Belajar Pada Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Jum, 10 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 334
    • 0Komentar

      KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh merupakan seorang kiai yang  ‘alim dan faqih dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau merupakan anak ketiga dari enam bersaudara  dari pasangan KH. Mahfudh Salam (w. 1944) dan Nyai Hj. Badi’ah (w.1945). Kiai Sahal lahir di Desa Kajen  Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah pada 17 Desember 1937. Kiai Sahal sapaan […]

  • 1 Muharram, PR IPNU IPPNU Asempapan Gelar Barzanji

    1 Muharram, PR IPNU IPPNU Asempapan Gelar Barzanji

    • calendar_month Rab, 11 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Beberapa pemgurus IPNU Asempapan sedang ‘mahallul qiyam’ dalam acara pembacaan maulid al Barzanji untuk menyambut tahun baru 1443 H. PATI – Dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1443 H, PR IPNU IPPNU Desa Asempapan, Kecamatan Trangkil menggelar kegiatan barzanji. Kegiatan tersebut digelar di salah satu rumah kader IPNU Desa Asempapan pada Selasa malam […]

  • PCNU-PATI Photo by Elliot Voilmy

    Berkesadaran

    • calendar_month Jum, 3 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 300
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Pernahkah kalian merasa bahwa apa yang dilakukan orang tua kita justru malah membuat kita semakin tak bahagia? Meski dalilnya itu didasarkan untuk kebaikan kita? Atau pernahkah kalian merasa terbebani dengan permintaan-permintaan orang tua karena menganggap kita sudah dewasa dan seharusnya bisa mengabulkan segala keinginan tersebut? Salah satu yang menurut saya beban […]

  • Pelantikan Pengurus Majlis Wakil Cabang NU Kec Sukolilo

    Pelantikan Pengurus Majlis Wakil Cabang NU Kec Sukolilo

    • calendar_month Jum, 15 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Bertempat di gedung IPHI Sukolilo Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama melaksanakan pelantikan terhadap Pengurus MWC NU masa khitmad 2015-2020,Jumat  8 Januari 2015 kemarin.             “Saya mengharapkan dengan pergantian kepengurusan yang baru ini, mampu membawa dan mengamalkan ajaran ahlussunah waljama’ah di Kecamatan Sukolilo secara khusus dan kab Pati secara umum. Bukan hanya itu saja berjuang di Nahdlatul […]

  • Kemesraan Bung Karno & Mbah Wahab Hasbullah

    Kemesraan Bung Karno & Mbah Wahab Hasbullah

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 404
    • 0Komentar

     Strategi Diplomasi Fathul Qarib Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Bung Karno menanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat? Kiai Wahab menjawab tegas,”Hukumnya sama dengan orang yang ghasab.” “Apa artinya ghasab, kiai?” Tanya Bung […]

expand_less