Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ini Puasa dari Scroll

Ini Puasa dari Scroll

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
  • visibility 8.489
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Coba Anda Googling. Khususnya di Google Terjemah. Kata Scroll artinya menggulir. Scrolling berarti “bergulir”. Scroll Down bermakna “gulir ke bawah”. Scroll Up adalah “gulir ke atas.

Mengapa harus mencari dan memastikan? Ya, jelas agar ada pengalaman empiris tentang mengapa kita harus puasa dari scroll, baik itu media sosial (Facebook, Tiktok, Instagram), maupun menggulir mesin penelurusan, game, e-commerce, dan kecerdasan buatan. Betapa banyak godaan berseliweran di saat puasa Ramadan melalui teknologi tersebut.

Penting atau Tidak?

Mengapa puasa dari scroll penting? Bagi saya sih penting sekali. Sebab, hampir semua masyarakat muslim di Indonesia kini menggunakan gawai. Ya, secara umum, Ramadan datang sebagai momentum pengendalian diri. Dari segala bentuk yang membatalkan, menggoda, membujuk, bahkan menjerumuskan. Kita tak sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat sejak fajar hingga waktu magrib tiba. Akan tetapi, di era digital hari ini, banyak sekali muncul satu tantangan baru yang kerap luput dari kesadaran kita.

Apa itu? Ya jelas, itu adalah kebergantungan pada kebiasaan scroll tanpa henti. Jari terus bergerak, layar terus menyala, sementara hati perlahan kehilangan ruang hening untuk merenung. Dalam makna substantifnya, puasa tidak sekadar ritual biologis, melainkan latihan spiritual dan etis. Ia mengajarkan pengendalian, kesadaran, dan kepekaan. Maka dari itu, di tengah banjir notifikasi, algoritma media sosial, dan budaya fear of missing out (FOMO), Ramadan seharusnya menjadi puasa dari scroll, yaitu puasa dari konsumsi digital yang berlebihan dan tidak bermakna. Kira-kira demikian!

Berpuasa dari kebiasaans croll sangat urgen. Sebab, era digital saat ini perhatian manusia adalah sumber daya paling berharga sekaligus paling rentan terkuras tanpa disadari. Scroll tanpa henti menjauhkan muslim dari kehadiran diri, melemahkan fokus ibadah, dan menumpulkan kepekaan spiritual yang justru ingin diasah oleh Ramadan.

Puasa dari scroll, setidaknya menjadikan muslim dapat belajar mengendalikan relasinya dengan teknologi digital, medsos, game, AI, bahkan jual beli online, memilah informasi secara bijak, serta mengembalikan ruang hening untuk refleksi, zikir, dan kontemplasi. Hehehe Ya, inilah wujud puasa kontemporer yang relevan dengan tantangan zaman, yaitu menahan bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga hasrat untuk terus terhubung tanpa makna. Begitu!

Fenomena Doomscrolling

Johann Hari (2022), dalam buku Stolen Focus: Why You Can’t Pay Attention menyebut bahwa doomscrolling merupakan tindakan, perilaku, atau kebiasaan yang secara terus-menerus menelusuri atau menggulir layar media sosial dan situs berita untuk membaca berita negatif, menyedihkan, atau menakutkan secara berlebihan. Tradisi ini sering didorong oleh rasa cemas atau rasa butuh informasi, namun justru meningkatkan stres, kelelahan mental, dan paranoia.

Kita harus jujur, bahwa kebiasaan menggulir konten medsos secara kontinu tanpa tujuan dan arah yang jelas telah menjadi “kebiasaan” harian masyarakat muslim modern, termasuk kaum cendekiawan, intelektual, bahkan gus dan kiai. Medsos didesain untuk mempertahankan atensi selama mungkin. Algoritma bekerja bukan untuk menenangkan jiwa, tetapi untuk mengikat perhatian.

Sherry Turkle (2011) melalui buku Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less menyebutkan teknologi digital menjadikan manusia selalu terkoneksi. Namun, mereka semakin kehilangan kehadiran diri. Ironis bukan? Manusia hadir secara fisik, namun pikiran melayang di ruang virtual. Parah sekali! Dalam konteks Ramadan 1447 H ini, kondisi ini berbahaya sekali, pasalnya ibadah kehilangan kekhusyukan, zikir berubah menjadi rutinitas mekanis, dan refleksi diri tergeser oleh arus informasi instan. Padahal, puasa hakikatnya yaitu praktik mindfulness dalam perspektif Islam, kesadaran penuh atas diri, Tuhan, dan sesama.

Memuasakan Jari

Dalam kolom kali ini, saya menyebut bahwa puasa menjadi media, metode, wahana, atau ruang untuk melatih diri agar disiplin dalam menegakkan etika umat Islam di ruang digital. Utamanya, kita harus bisa memuasakan “jari” kita sendiri. Sebab, Islam tidak pernah menolak teknologi. Artinya, dalam hal ini yang ditolak adalah ketiadaan kendali moral. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menyebutkan anggota tubuh manusia termasuk mata dan lisan haruslah ikut berpuasa. Intinya begitu. Dalam konteks hari ini, jari dan layar pun seharusnya turut “berpuasa”.

Secara sederhana, siyam dari scroll bukan berarti menjadikan umat Islam antimedsosi. Akan tetapi, ini menjadi ikthiar mendisiplinkan relasi kita dengan teknologi, atau lebih khusus “memuasakan jari”. Masalahnya, apa yang kita konsumsi? Untuk apa kita membagikan sesuatu? Apakah konten yang kita lihat dan sebarkan mendekatkan diri pada nilai takwa atau justru menjauhkan? Bukankah lebih baik membagikan Kolom Ramadan di pcnupati.or.id ini? Hehehe Karena sejak 2024 alhamdulillah saya konsisten menulis tiap Ramadan sampai Ramadan 2026 ini.

Dalam buku Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, Henry Jenkins (2008) berpendapat budaya digital bersifat partisipatoris. Artinya, tiap pengguna (user) menjadi produsen makna. Artinya, tiap status (story), like, share, dan komentar memiliki implikasi etis yang sangat mendalam. Maka, dalam momentum Ramadan ini pastinya mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan perlu dilakukan.

Konsumsi Menuju Kontemplasi

Budaya konsumtif saat Ramadan biasanya meningkat. Biasanya sih. Namun bisa kita analisis, bahwa salah satu hikmah puasa adalah “melambat”. Apa maksudnya? Tubuh jadi melambat, ritme hidup berubah, dan ruang kontemplasi terbuka. Namun scroll tanpa kendali justru mempercepat segalanya: yaitu bisa berupa emosi, penilaian, bahkan kemarahan.

Dalam konteks ini, sebuah buku berjudul The Burnout Society yang ditulis Byung-Chul Han (2015) mencoba mengkritik pedas bahwa saat ini banyak masyarakat modern yang terjebak dalam budaya kelelahan akibat stimulasi berlebih. Dalam konteks kolom ini, Ramadan hakikatnya hadir sebagai koreksi peradaban, yaitu manusia tidak diciptakan untuk terus aktif, tetapi juga untuk hening dan berpikir. Apakah Ramadan sudah menjadikan kita berpiking, hening, dan menjadikannya sebagai kontemplasi? Kayaknya berat deh!

Ruang kontemplasi akan terbuka lebar ketika kita bisa merealisasikan puasa dari scroll. Lewat apa? Ya bisa melalui membaca Al-Qur’an tanpa tergesa, berdoa tanpa distraksi, dan berpikir tanpa gangguan notifikasi. Bagi saya, inilah spiritualitas yang tidak bisa diwakilkan oleh teknologi.

Selain itu, literasi digital umat Islam juga perlu ditingkatkan. Apalagi, kita dibekali dengan kepemilikan beragam produk teknologi, baik itu gawai, laptop, peralatan dapur, televisi, dan ratusan aplikasi. Artinya apa? Puasa dari scroll tak sekadar berhenti pada pengurangan, namun juga pengalihan ke aktivitas digital yang bermakna. Hal ini menjadi titik temu antara puasa dan literasi digital.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) menyebut literasi digital merupakan kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak. Ingat ya: bijak. Dalam konteks Ramadan, literasi digital bisa menjadi amal sosial ketika kita bisa menyaring hoaks, menyebarkan pesan damai, dan menghadirkan narasi keislaman yang ramah.

Bagi sivitas akademika, utamanya Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, termasuk di lingkungan aktivis Ormas Islam, Ramadan menjadi momentum tepat untuk menjadikan ruang digital sebagai ladang dakwah intelektual, bukan arena kegaduhan. Kita harus ingat, bahwa tujuan akhir puasa adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 183). Dalam hal ini, takwa bukan sekadar urusan relasi vertikal, namun juga cara kita hidup di ruang sosial termasuk ruang digital.

Simpulannya, puasa dari scroll bagi saya menjadi ikhtiar atau gerakan kecil menuju takwa digital, yaitu sebuah kesadaran bahwa tak semua informasi layak dikonsumsi, tidak semua opini perlu direspons, dan tidak semua momen harus diunggah. Pada bulan Ramadan 1447 H ini, mungkin kita tidak perlu bertanya: apa yang sedang viral? Tetapi lebih penting bertanya: apa yang sedang bernilai? Atau apa yang lebih bermakna?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2016
    • account_circle admin
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Sering saya lihat masjid digunakan sebagai tempat kegiatan – kegiatan ibadah seperti mauludan, isrro’ mi’roj dan sebagainya, dan biasanya setelah acara selesai orang – orang pada makan bersama di dalam masjid, apa itu tidak apa – apa (makan kok di dalam masjid) ? Wa’alaikum  salam Wr Wb. Masjid merupakan salah satu tempat […]

  • Ganyang FDS

    Ganyang FDS

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
    • account_circle admin
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Banyak tokoh yang menyatakan bahwa sedekah terbaik adalah meninggalkan generasi dengan kualitas unggul. Anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibunya bukanlah hard diskyang hanya dijejali dengan bermacam program (yang dianggap) unggulan. Mereka bukan pula sebuah objek yang digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen regulasi pendidikan. dengan presepsi demikian, maka selain harus mendapatkan nutrisi otak, anak juga […]

  • Langkah Nyata Menuju Organisasi yang Berdaya dan Mandiri dari MKKS SMK Maarif Se Jateng

    Langkah Nyata Menuju Organisasi yang Berdaya dan Mandiri dari MKKS SMK Maarif Se Jateng

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.354
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Purworejo, 30 Oktober 2025, Sebagai wujud tanggungjawab dan bentuk dukungan konkret untuk mewujudkan visi organisasi yang berdaya dan mandiri, LP Ma’arif NU Jawa Tengah bersama Musyawaroh Kepala Sekolah (MKKS) SMK Ma’arif NU Jawa Tengah menggelar kegiatan Rapat Koordinasi. Kegiatan tersebut juga sekaligus penyerahan bantuan dana operasional kepada MKKS SMK Ma’arif NU Jawa Tengah. […]

  • Aswaja: Manhaj Nahdlatul Ummah

    Aswaja: Manhaj Nahdlatul Ummah

    • calendar_month Ming, 15 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 157
    • 0Komentar

     Aswaja adalah golongan yang konsisten mengikuti tradisi dan metode yang dipraktekkan Nabi dan para sahabat (ma ana alaihi al-yauma wa ashhabi). Aswaja dalam konteks Indonesia adalah golongan yang secara mayoritas mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam bidang akidah, Imam Asy-Syafi’i dalam bidang fiqih, dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan Imam Abi al-Hasan Asy-Syadzili dalam bidang […]

  • PCNU-PATI

    PC IPNU IPPNU Pati Intruksikan Kader Galang Dana untuk Korban Bencana di Bumi Mina Tani

    • calendar_month Kam, 1 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati menginstruksikan kader Pelajar NU Pati turun ke jalan untuk galang donasi. Bantuan yang didapatkan akan diberikan kepada para korban bencana alam di Bumi Mina Tani. Diketahui, pada Rabu (30/11/2022), Kabupaten Pati dihantam bencana angin puting beliung dan banjir […]

  • PCNU-PATI Photo by Paul

    Hobinya adalah Masa Depannya

    • calendar_month Jum, 11 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Beberapa waktu lalu, saya diperkenalkan dengan seorang aktivis perempuan oleh salah satu kawan baik saya. Seorang novelis dan penggiat literasi.  Perempuan yang memiliki segudang kesibukan dari mulai menjadi ibu rumah tangga sampai menjadi jurnalis media, berbagi pengalaman tentang lika liku perjalanan hidupnya. Sejak kecil ia sudah gemar membaca dan menulis. Hingga […]

expand_less