Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ini Puasa dari Scroll

Ini Puasa dari Scroll

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
  • visibility 8.816
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Coba Anda Googling. Khususnya di Google Terjemah. Kata Scroll artinya menggulir. Scrolling berarti “bergulir”. Scroll Down bermakna “gulir ke bawah”. Scroll Up adalah “gulir ke atas.

Mengapa harus mencari dan memastikan? Ya, jelas agar ada pengalaman empiris tentang mengapa kita harus puasa dari scroll, baik itu media sosial (Facebook, Tiktok, Instagram), maupun menggulir mesin penelurusan, game, e-commerce, dan kecerdasan buatan. Betapa banyak godaan berseliweran di saat puasa Ramadan melalui teknologi tersebut.

Penting atau Tidak?

Mengapa puasa dari scroll penting? Bagi saya sih penting sekali. Sebab, hampir semua masyarakat muslim di Indonesia kini menggunakan gawai. Ya, secara umum, Ramadan datang sebagai momentum pengendalian diri. Dari segala bentuk yang membatalkan, menggoda, membujuk, bahkan menjerumuskan. Kita tak sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat sejak fajar hingga waktu magrib tiba. Akan tetapi, di era digital hari ini, banyak sekali muncul satu tantangan baru yang kerap luput dari kesadaran kita.

Apa itu? Ya jelas, itu adalah kebergantungan pada kebiasaan scroll tanpa henti. Jari terus bergerak, layar terus menyala, sementara hati perlahan kehilangan ruang hening untuk merenung. Dalam makna substantifnya, puasa tidak sekadar ritual biologis, melainkan latihan spiritual dan etis. Ia mengajarkan pengendalian, kesadaran, dan kepekaan. Maka dari itu, di tengah banjir notifikasi, algoritma media sosial, dan budaya fear of missing out (FOMO), Ramadan seharusnya menjadi puasa dari scroll, yaitu puasa dari konsumsi digital yang berlebihan dan tidak bermakna. Kira-kira demikian!

Berpuasa dari kebiasaans croll sangat urgen. Sebab, era digital saat ini perhatian manusia adalah sumber daya paling berharga sekaligus paling rentan terkuras tanpa disadari. Scroll tanpa henti menjauhkan muslim dari kehadiran diri, melemahkan fokus ibadah, dan menumpulkan kepekaan spiritual yang justru ingin diasah oleh Ramadan.

Puasa dari scroll, setidaknya menjadikan muslim dapat belajar mengendalikan relasinya dengan teknologi digital, medsos, game, AI, bahkan jual beli online, memilah informasi secara bijak, serta mengembalikan ruang hening untuk refleksi, zikir, dan kontemplasi. Hehehe Ya, inilah wujud puasa kontemporer yang relevan dengan tantangan zaman, yaitu menahan bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga hasrat untuk terus terhubung tanpa makna. Begitu!

Fenomena Doomscrolling

Johann Hari (2022), dalam buku Stolen Focus: Why You Can’t Pay Attention menyebut bahwa doomscrolling merupakan tindakan, perilaku, atau kebiasaan yang secara terus-menerus menelusuri atau menggulir layar media sosial dan situs berita untuk membaca berita negatif, menyedihkan, atau menakutkan secara berlebihan. Tradisi ini sering didorong oleh rasa cemas atau rasa butuh informasi, namun justru meningkatkan stres, kelelahan mental, dan paranoia.

Kita harus jujur, bahwa kebiasaan menggulir konten medsos secara kontinu tanpa tujuan dan arah yang jelas telah menjadi “kebiasaan” harian masyarakat muslim modern, termasuk kaum cendekiawan, intelektual, bahkan gus dan kiai. Medsos didesain untuk mempertahankan atensi selama mungkin. Algoritma bekerja bukan untuk menenangkan jiwa, tetapi untuk mengikat perhatian.

Sherry Turkle (2011) melalui buku Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less menyebutkan teknologi digital menjadikan manusia selalu terkoneksi. Namun, mereka semakin kehilangan kehadiran diri. Ironis bukan? Manusia hadir secara fisik, namun pikiran melayang di ruang virtual. Parah sekali! Dalam konteks Ramadan 1447 H ini, kondisi ini berbahaya sekali, pasalnya ibadah kehilangan kekhusyukan, zikir berubah menjadi rutinitas mekanis, dan refleksi diri tergeser oleh arus informasi instan. Padahal, puasa hakikatnya yaitu praktik mindfulness dalam perspektif Islam, kesadaran penuh atas diri, Tuhan, dan sesama.

Memuasakan Jari

Dalam kolom kali ini, saya menyebut bahwa puasa menjadi media, metode, wahana, atau ruang untuk melatih diri agar disiplin dalam menegakkan etika umat Islam di ruang digital. Utamanya, kita harus bisa memuasakan “jari” kita sendiri. Sebab, Islam tidak pernah menolak teknologi. Artinya, dalam hal ini yang ditolak adalah ketiadaan kendali moral. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menyebutkan anggota tubuh manusia termasuk mata dan lisan haruslah ikut berpuasa. Intinya begitu. Dalam konteks hari ini, jari dan layar pun seharusnya turut “berpuasa”.

Secara sederhana, siyam dari scroll bukan berarti menjadikan umat Islam antimedsosi. Akan tetapi, ini menjadi ikthiar mendisiplinkan relasi kita dengan teknologi, atau lebih khusus “memuasakan jari”. Masalahnya, apa yang kita konsumsi? Untuk apa kita membagikan sesuatu? Apakah konten yang kita lihat dan sebarkan mendekatkan diri pada nilai takwa atau justru menjauhkan? Bukankah lebih baik membagikan Kolom Ramadan di pcnupati.or.id ini? Hehehe Karena sejak 2024 alhamdulillah saya konsisten menulis tiap Ramadan sampai Ramadan 2026 ini.

Dalam buku Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, Henry Jenkins (2008) berpendapat budaya digital bersifat partisipatoris. Artinya, tiap pengguna (user) menjadi produsen makna. Artinya, tiap status (story), like, share, dan komentar memiliki implikasi etis yang sangat mendalam. Maka, dalam momentum Ramadan ini pastinya mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan perlu dilakukan.

Konsumsi Menuju Kontemplasi

Budaya konsumtif saat Ramadan biasanya meningkat. Biasanya sih. Namun bisa kita analisis, bahwa salah satu hikmah puasa adalah “melambat”. Apa maksudnya? Tubuh jadi melambat, ritme hidup berubah, dan ruang kontemplasi terbuka. Namun scroll tanpa kendali justru mempercepat segalanya: yaitu bisa berupa emosi, penilaian, bahkan kemarahan.

Dalam konteks ini, sebuah buku berjudul The Burnout Society yang ditulis Byung-Chul Han (2015) mencoba mengkritik pedas bahwa saat ini banyak masyarakat modern yang terjebak dalam budaya kelelahan akibat stimulasi berlebih. Dalam konteks kolom ini, Ramadan hakikatnya hadir sebagai koreksi peradaban, yaitu manusia tidak diciptakan untuk terus aktif, tetapi juga untuk hening dan berpikir. Apakah Ramadan sudah menjadikan kita berpiking, hening, dan menjadikannya sebagai kontemplasi? Kayaknya berat deh!

Ruang kontemplasi akan terbuka lebar ketika kita bisa merealisasikan puasa dari scroll. Lewat apa? Ya bisa melalui membaca Al-Qur’an tanpa tergesa, berdoa tanpa distraksi, dan berpikir tanpa gangguan notifikasi. Bagi saya, inilah spiritualitas yang tidak bisa diwakilkan oleh teknologi.

Selain itu, literasi digital umat Islam juga perlu ditingkatkan. Apalagi, kita dibekali dengan kepemilikan beragam produk teknologi, baik itu gawai, laptop, peralatan dapur, televisi, dan ratusan aplikasi. Artinya apa? Puasa dari scroll tak sekadar berhenti pada pengurangan, namun juga pengalihan ke aktivitas digital yang bermakna. Hal ini menjadi titik temu antara puasa dan literasi digital.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) menyebut literasi digital merupakan kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak. Ingat ya: bijak. Dalam konteks Ramadan, literasi digital bisa menjadi amal sosial ketika kita bisa menyaring hoaks, menyebarkan pesan damai, dan menghadirkan narasi keislaman yang ramah.

Bagi sivitas akademika, utamanya Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, termasuk di lingkungan aktivis Ormas Islam, Ramadan menjadi momentum tepat untuk menjadikan ruang digital sebagai ladang dakwah intelektual, bukan arena kegaduhan. Kita harus ingat, bahwa tujuan akhir puasa adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 183). Dalam hal ini, takwa bukan sekadar urusan relasi vertikal, namun juga cara kita hidup di ruang sosial termasuk ruang digital.

Simpulannya, puasa dari scroll bagi saya menjadi ikhtiar atau gerakan kecil menuju takwa digital, yaitu sebuah kesadaran bahwa tak semua informasi layak dikonsumsi, tidak semua opini perlu direspons, dan tidak semua momen harus diunggah. Pada bulan Ramadan 1447 H ini, mungkin kita tidak perlu bertanya: apa yang sedang viral? Tetapi lebih penting bertanya: apa yang sedang bernilai? Atau apa yang lebih bermakna?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Photo by Mufid Majnun

    Spirit Iduladha bagi Umat Islam

    • calendar_month Sab, 15 Jun 2024
    • account_circle admin
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Iduladha yang dikenal dikenal sebagai Hari Raya Kurban adalah salah satu hari besar dalam agama Islam yang dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari ini jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah/ Zulhijah dalam kalender Hijriyah dan menandai puncak dari ibadah haji di Makkah. Hari ini dikenal pula sebagai Hari Raya Haji yang […]

  • Ketua PWNU Jateng Gus Rozin Serukan Idulfitri Bermakna, Utamakan Persaudaraan

    Ketua PWNU Jateng Gus Rozin Serukan Idulfitri Bermakna, Utamakan Persaudaraan

    • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.262
    • 0Komentar

      SEMARANG — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdliyin di Jawa Tengah. Hal itu disampaikan Gus Rozin saat di Kantor PWNU Jateng, Jalan dr Cipto Nomor 180 Semarang, Jumat (20/3/2026). Dalam keterangannya, ia […]

  • Lazisnu Ranting Klakah, Door to Door Santuni Yatim

    Lazisnu Ranting Klakah, Door to Door Santuni Yatim

    • calendar_month Jum, 20 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Penyaluran santunan ke rumah salah satu yatim oleh Para Pengurus Ranting Lazisnu Klakahkasihan, Gembong, Kamis (19/8) GEMBONG – Pengurus Ranting Lazisnu Klakahkasihan, Kecamatan Gembong berkeliling desa Kamis (19/8) kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyantuni anak-yatim yang berasa di desa ini.  “Karena luasnya desa, jadi kami cicil. Santunan yatama ini merupakan gelombang ke dua,” terang […]

  • Refleksi Harlah NU ke-94 Kebangkitan Kaum Muda NU

    Refleksi Harlah NU ke-94 Kebangkitan Kaum Muda NU

    • calendar_month Sel, 11 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Harlah NU ke-94 adalah momentum strategis untuk membangkitkan spirit kaum muda NU. Sejak dipimpin Gus Dur pada tahun 1984, eskalasi pergerakan kaum muda NU mengagumkan. Gus Dur berhasil mengorbitkan kader-kader muda untuk tampil sebagai pemimpin dan aktivis NU masa depan yang kreatif, inovatif, progresif, dan kompetitif. Pencerahan pemikiran dan aksi-aksi kontroversial Gus Dur mampu membangkitkan […]

  • a woman holding a bouquet of flowers in her hands

    Merayakan IWD (International Women’s Day)

    • calendar_month Jum, 8 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Pagi ini setelah saya bersih-bersih rumah, seperti biasa saya pasti membuka handphone untuk sekadar berseluncur di media sosial. Entah untuk membuka Whatsapp memastikan apakah ada yang mengirimi saya sebuah pesan selamat pagi, selamat berbahagia hari ini. Selain membuka Whatsapp yang nyatanya memang tak ada ucapan tersebut disana, saya kemudian beralih ke […]

  • PCNU-PATI

    PC Lazisnu Pati & Tokopedia Bagi-Bagi Beasiswa

    • calendar_month Rab, 21 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PC Lazisnu Pati menyalurkan bantuan beasiswa pendidikan untuk 40 anak se-kabupaten pati, Rabu (21/02). Adapun kategori penerima beasiswa ini adalah semua jenjang dari SD sampai Perguruan Tinggi. Diketahui bahwa bantuan beasiswa ini merupakan kerjasama Lazisnu Pusat dengan Tokopedia yang kemudian diteruskan kepada PC Lazisnu Pati. Bantuan yang digelontorkan dari Lazisnu Pusat adalah senilai Rp […]

expand_less