Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Suluk Maleman Kali ini Menyoal Punjernya Peradaban

Suluk Maleman Kali ini Menyoal Punjernya Peradaban

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
  • visibility 388
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id Suluk Maleman edisi ke-166 kembali mengulik hal-hal yang menarik. Lewat tema “Sejarah Dimulai Dari Rumah”, yang digelar pada Sabtu (18/10) ngaji budaya tersebut memantik persoalan keberadaan sosok ibu sebagai pusat peradaban.

Bagi Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, hadits “surga di bawah telapak kaki Ibu” tak hanya untuk dilihat dari sisi seorang anak ke ibunya. Dia justru memiliki sudut pandang terkait bagaimana seorang ibu mempersiapkan surga bagi anaknya.

“Barangkali bisa juga, bagaimana ibu mendidik anak-anaknya agar dapat selamat di dunia dan akhirat. Cara ibu mendidik anak bisa jadi akan sangat berpengaruh ke anaknya kelak,” celetuk Anis membuka ruang kontemplasi dalam acara tersebut.

Maka Anis menekankan bagaimana seorang perempuan dan ibu harus benar-benar terdidik, karena ibu merupakan ruang sekolah pertama bagi anak-anaknya.
“Ibu akan menciptakan peradaban. Mengambil dari masa lampau dan nilai-nilai yang diserap untuk diajarkan ke anak-anaknya. Maka ibu harus benar-benar terdidik untuk menciptakan generasi masa depan,” imbuh dia.

Dia juga menyoroti syair Kahlil Gibran tentang anak merupakan anak panah yang dilepaskan. Penggalan sastra itu bukan mengajarkan bagaimana orangtua terpisah dari anak-anak namun sebaliknya.

“Anak panah sebelum diluncurkan tentu akan dipersiapkan dengan sedemikian rupa. Bagaimana arahnya, kekuatan hentakan dan lainnya. Persiapan sedemikian rupa itu agar anak punya nilai yang dasar sehingga mampu diaplikasikan saat dewasa,” imbuh dia.

Anis justru menyayangkan pemahaman emansipasi yang kerap disalah artikan. Emansipasi banyak dipahami tentang kebolehan istri bekerja hingga meninggalkan tugas utamanya dalam mendidik anak-anaknya.

“Emansipasi sebenarnya harus lebih kepada keterdidikan. Karena dengan pendidikan itu akan berpengaruh besar,” tambahnya.
Meski begitu, Anis menyadari saat ini ada sistem besar yang membuat hal itu harus terjadi. Yakni kapitalisme. Sistem itu memaksa kedua orangtua sama-sama sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Sistem kapitalisme, lanjut Anis, memaksa orang untuk hidup dengan standar hidup tertentu. Ironisnya standar itu didasarkan pada yang bersifat duniawi. Hal itu pulalah yang memaksa kedua orangtua bekerja bersama-sama agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

“Anak yang kurang mendapat perhatian dari orangtua justru mendapatkannya dari gawai yang tentu banyak memiliki sisi negatif,” terang dia.
Saat anak bermain dengan lingkungan tentu akan mudah diperhatikan dan dikontrol. Hal itu justru jauh berbeda dengan penggunaan gawai. Sistem pengawasan akan semakin sulit dan dengan nilai yang tidak lagi bisa terkontrol.

“Dulu orangtua bisa mengontrol bagaimana tindak laku, maupun dengan siapa saat anaknya bermain. Tapi sekarang tidak bisa. Karena bukan lagi anak keluar untuk menemukan nilai-nilai di lingkungan. Namun sekarang justru nilai luar yang masuk ke ruang keluarga tanpa terkontrol,” khawatir Anis.

Oleh karena itulah Anis menyebut peradaban harus dimulai dari rumah. Masa depan seharusnya dibentuk dari rumah.
“Ada situasi yang dapat direnungkan. Jika seorang anak tiba-tiba datang ke orangtuanya membawa uang hasil korupsi, lantas bagaimana sikap orangtua? Apakah menolak, menerima atau bahkan bangga? Sikap seperti inilah yang kemudian juga akan berdampak besar pada peradaban kita nantinnya,” imbuh dia.

Anis juga memberi contoh lainnya. Seorang istri yang mengatakan ketertarikannya pada hal bersifat duniawi seperti mobil atau rumah, akan menjadi godaan terbesar seorang suami untuk berperilaku korupsi nantinya.

“Maka tonggak pertama penjagaan harus dari rumah. Nilai-nilai harus dibangun dari rumah. Ibu membangun pintu surga, tapi bapak membuka pintu dunia,” ujar dia.
Anis juga mengingat pengajaran dari KH Abdullah Salam. Dimana selalu beranggapan perempuan harus terdidik untuk mendidik anaknya. Oleh karena itulah dia menyayangkan anggapan sekolah hanya untuk bekerja.

“Dulu itu profesi ibu rumah tangga justru yang paling mulia. Kenapa sekarang malah dianggap rendah?,” sesal dia.
Budayawan asal Kudus, Dr Abdul Jalil menambahkan nilai yang diajarkan Al Ghozali pada 700 tahun lalu mengajarkan urutan prioritas dalam menjalani hidup. Yakni ilahi, agama, kecerdasan otak, baru kapital dan terakhir nilai keluarga.

“Tapi kenapa sekarang terbalik, kapital dan keluarga justru menjadi nomor 4 dan lima. Sementara ilahi, agama dan kecerdasan justru menjadi belakang?,” imbuh dia.
Dia menyebut sistem kapitalisme lah yang membuat fenomena itu terjadi. Dalam sistem itu memberi penegasan bahwa nilai itu adalah kapital. Sehingga menempatkan siapapun yang memiliki uang banyak yang menang.

“Maka saya bersepakat dengan Bib Anis, bahwa peradaban harus dimulai dari terkecil yakni keluarga. Penting juga menyamakan persepsi antar keluarga akan nilai apa yang dipakai dalam keluarga tersebut,” terang dia.

Menurut Dr. Abdul Jalil, lini tersebut juga harus merangkum keluarga inti, keluarga besar mau pun lingkungan pendidikan. Ini yang harus diperkuat, karena harus menghadapi tantangan dari lingkungan makro yang tidak sederhana,

Diskusi yang begitu mendalam membuat ribuan masyarakat yang menyaksikan secara langsung maupun lewat berbagai kanal media sosial itu terlarut dalam ngaji budaya Suluk Maleman. Penampilan musik dari Sampak GusUran membuat acara yang rutin digelar setiap bulan itu kian hangat.(*)

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dan Dr. Abdul Jalil dalam NgAllah Suluk Maleman “Sejarah Dimulai Dari Rumah” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (18/10).

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Program ‘Explore More’ Ma’arif Jateng Digelar Di MA Banin

    Program ‘Explore More’ Ma’arif Jateng Digelar Di MA Banin

    • calendar_month Kam, 15 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    WINONG-Madrasan Aliyah Tarbiyatul Banin menjadi tuan rumah program ‘Explore More’ Kamis (15/8). Kegiatan terebut merupakan kemitraan LP Ma’arif Jawa Tengah dengan Girl Rising Unilever Indonesia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam pelaksanaannya, LP Ma’arif memilih dua kabupaten untuk dijadikan lokasi program Explore More ini yaitu Kab. Blora dan Kab. Pati. Di Kabupaten Pati, pelatihan […]

  • Photo by Hobi industri on Unsplash.

    Salah Pilih Susah Pulih

    • calendar_month Rab, 14 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 480
    • 0Komentar

    Oleh: Niam At Majha Ketika saya menulis ini setelah menggunakan hak pilih yang katanya untuk kemajuan Indonesia ke depan. Mulai dari Presiden DPD, DPR RI, Jateng dan Kabupaten saya telah menggunakan hak secara benar sesuai dengan ketentuan dari Bawaslu dan KPU. Sepulang dari kegiatan tersebut dan jali kelingking saya terkena tinta. Saya mencari ide dengan […]

  • PCNU - PATI

    Ketua PAC IPPNU Gembong: Peremajaan Usia Bukan Solusi yang Tepat

    • calendar_month Kam, 21 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 418
    • 0Komentar

    GEMBONG – Ketua PAC IPPNU Gembong, Sri Hayati menilai wacana kebijakan peremajaan usia dalam tubuh IPNU IPPNU tidak tepat. Menurutnya, jika wacana tersebut direalisasikan rasanya kurang pas. Hal ini melihat kondisi lingkungan di Gembong khususnya, masyarakatnya mayoritas belum mengenal apa itu IPNU IPPNU. “Akhir-akhir ini di Gembong banyak yang baru ingin tau apa IPNU IPPNU […]

  • Harlah NU, Genengmulyo Gelar Pengajian

    Harlah NU, Genengmulyo Gelar Pengajian

    • calendar_month Sen, 31 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 384
    • 0Komentar

      KH. Abdul Hadi Kurdi menyampaikan ceramah dalam rangka Harlah NU JUWANA – PR IPNU IPPNU Desa Genengmulyo sukses menggelar pengajian dalam rangka Harlah NU ke-96. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Jami’ Baitussalam, Sabtu (29/1/2022). KH. Abdul Hadi Kurdi diundang sebagai penceramah. Kegiatan dihadiri oleh GP Ansor, muslimat, Fatayat, NU, IPNU, IPPNU dan warga sekitar. […]

  • Pendidikan Politik Ala Gus Dur

    Pendidikan Politik Ala Gus Dur

    • calendar_month Sab, 7 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

     Oleh: Siswanto* KH Abdurrohman Wahid yang sering kita kenal dengan panggilan akrabnya Gus Dur merupakan sosok guru besar bangsa, nasionalis, humoris, dan merakyat. Gus Dur juga terkenal sebagai sosok budayawan dan cendekiawan rakyat yang pemekiran dan sikapnya menunjukkan kepada kepedulian terhadap nasib rakyat di tengah dinamika pembangunan nasional. Selain itu juga Gus Dur terkenal dengan […]

  • ‎INISNU Temanggung Teken MoU dengan Pemprov Jateng

    ‎INISNU Temanggung Teken MoU dengan Pemprov Jateng

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.439
    • 0Komentar

    ‎ ‎SEMARANG – Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) Temanggung resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangkaian kegiatan Collaborative Awards Jawa Tengah Tahun 2026. ‎ ‎Penandatanganan dilaksanakan pada Jumat, 20 Februari 2026, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang lalu yang merupakan kerjasama 73 perguruan tinggi swasta […]

expand_less