Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
  • visibility 1.369
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Dalam Khittah Nahdlatul Ulama (NU), istilah NU merujuk pada dua makna yang saling terkait, yaitu NU sebagai sebuah organisasi dan NU sebagai komunitas anggotanya. KH. Abdul Muchit Muzadi dalam buku, Ensiklopedia Khittah NU, dijelaskan bahwa istilah NU Jam’iyyah (NU secara struktural) dan NU Jamaah (NU secara kultural) sering kali digunakan untuk membedakan keduanya. Istilah-istilah ini tidak hanya dipahami di kalangan pengurus NU, tetapi juga sangat akrab di kalangan kaum muda Nahdliyin, yang semakin memahami dan mengapresiasi peran keduanya dalam keberlangsungan dan pengembangan NU.

NU kultural, pada dasarnya, merujuk pada kelompok individu yang merasa terhubung dengan nilai-nilai, tradisi, dan semangat yang dijunjung oleh NU, meskipun mereka tidak terlibat secara langsung sebagai pengurus atau bagian dari struktur organisasi formal NU. Kelompok ini merasa menjadi bagian integral dari komunitas besar Nahdliyin, meskipun tidak terikat dalam kerangka organisasi yang lebih formal.

Mereka mencakup berbagai kalangan, mulai dari para kiai, anak muda, hingga masyarakat umum yang memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan NU. Meski tidak terdaftar sebagai anggota struktural, mereka tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip ajaran NU dalam kehidupan sehari-hari, dan ini menjadikan mereka bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan dan semangat gerakan NU.

Meskipun mereka tidak terikat dalam struktur organisasi formal, kelompok NU kultural berperan penting dalam mengembangkan dan memperkuat pengorganisasian berbasis agama yang menjadi ciri khas NU. Keberadaan mereka sangat penting dalam memelihara dan memperkaya jaringan sosial, budaya, dan keagamaan yang mencerminkan nilai-nilai NU.

Mereka terlibat aktif dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, membentuk berbagai jaringan yang saling menguatkan, baik dalam konteks sosial, pendidikan, maupun ekonomi. Banyak dari mereka yang menjalani profesi sebagai cendekiawan, pengasuh pesantren, akademisi, petani, pedagang, dan profesi lainnya, namun dengan tetap membawa nilai-nilai dan semangat NU dalam aktivitas mereka.

Melihat kenyataan ini, NU kultural dapat dipahami sebagai sebuah gerakan yang muncul dari dalam masyarakat sipil NU, yang berkembang dengan inisiatif lokal dan mandiri pada setiap tingkatan yang ada. Mereka tidak terikat pada satu pola atau bentuk tertentu, sehingga dapat bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Keberadaan mereka sangat penting dalam keberlanjutan dan perkembangan NU, dan sangat disayangkan jika harus dijauhi atau dimusuhi oleh NU struktural. Sebaliknya, level NU kultural menjadi tempat bagi proses kaderisasi yang berlangsung secara alami dan berkelanjutan.

Melalui proses ini, muncul individu-individu yang memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi di berbagai bidang dalam NU, baik dalam ranah kultural, sosial, maupun struktural, dan bahkan terlibat dalam organisasi NU itu sendiri.

Kontribusi mereka dalam menyebarkan dan membumikan ajaran NU di luar struktur formal organisasi memberikan warna dan dinamika tersendiri bagi perkembangan NU secara keseluruhan. Keberagaman peran mereka memperkaya khazanah kultural yang ada, menguatkan identitas NU, serta menegaskan bahwa NU bukan sekadar sebuah organisasi, tetapi sebuah gerakan yang inklusif, berakar kuat dalam tradisi, dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, NU kultural berperan urgent dalam memperkaya dan melestarikan tradisi NU, serta memastikan bahwa semangat dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU tetap hidup dan berkembang. Meskipun berada di luar batasan struktur organisasi, NU kultural mampu menjangkau masyarakat luas, memperkuat kesadaran kolektif akan ajaran-ajaran NU, dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadikan NU kultural sebagai penggerak utama dalam menjaga kelangsungan dan relevansi NU di tengah dinamika sosial dan budaya yang terus berkembang.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GP Ansor Pati Buka 3 Posko Mudik

    GP Ansor Pati Buka Posko Mudik di 3 Lokasi

    • calendar_month Sen, 17 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Ansor Banser Pati membuka Posko Mudik menjelang hari raya Idulfitri 1444 H ini. Posko itu dibuka langsung oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muadz Thohir, Minggu (16/4) malam.  Pembukaan secara simbolis Posko Mudik Ansor Banser Pati dilakukan di Posko Margorejo, tepatnya di depan Plaza Pragola. Hadir dalam kesempatan itu Kapolresta […]

  • Strategi Menulis Opini dan Esai Bisa Pakai Dua Gaya Ini

    Strategi Menulis Opini dan Esai Bisa Pakai Dua Gaya Ini

    • calendar_month Sel, 5 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Semarang – Dalam menulis artikel populer (opini/esai), penulis bisa menggunakan dua gaya yaitu gaya teknokratis dan gaya sosiologis. Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah SMP Tahfidz Al Furqon Karangawen Demak Junaidi Abdul Munif saat menjadi narasumber Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus Part 2 Gerakan Literasi Karya Tulis Jurnalistik bertema “Strategi Penulisan Artikel Populer (Opini/Esai) bertema Pendidikan” […]

  • Hukum Menerima Amplop Pilkada

    Hukum Menerima Amplop Pilkada

    • calendar_month Sen, 25 Jun 2018
    • account_circle admin
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Amplop menjelang Pilkada adalah umumul balwa (realitas umum yang sulit dihindari) yang dilarang negara karena mencederai esensi demokrasi, mengharapkan pemimpin dipilih karena integritas dan kapabilitasnya. Namun, bagaimana Pandangan agama, khususnya fiqh ? Saya mengikuti dua forum yang hasilnya berbeda. Pertama, MWCNU Trangkil  mengharamkan menerima amplop itu karena jelas-jelas suap (risywah) diharamkan dalam agama. Suap adalah […]

  • PCNU-PATI

    NU Banyak Berkontribusi untuk NKRI

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 515
    • 0Komentar

    Pcnupati.ori.id- Temanggung – Momentum upacara apel peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Temanggung dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Selasa (31/1/2023). Apel sendiri diikuti sekira sebanyak 15 ribu Nahdliyin, ynag memenuhi Alun-alun Kota Tembakau itu. Dalam sambutannya Ganjar Pranowo menyampaikan tentang peran penting NU terhadap bangsa. “Kontribusi NU sangat banyak, baik […]

  • Proses Panjang, PBNU Lantik Hamidulloh Ibda Pimpin INISNU Temanggung

    Proses Panjang, PBNU Lantik Hamidulloh Ibda Pimpin INISNU Temanggung

    • calendar_month Kam, 27 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.957
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi melantik Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., sebagai Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung untuk masa jabatan 2025–2029 berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor: 4776/PB.01/A.II.01.22/99/11/2025 Tentang: Pengangkatan Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung Masa Khidmat 2025-2029 tertanggal 7 November 2025. Prosesi pelantikan digelar […]

  • PCNU-PATI

    Sekolah sebagai Taman

    • calendar_month Sab, 10 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 581
    • 0Komentar

    Sekolah, bukanlah dan tak boleh menjadi ‘menara gading’. Begitulah kira-kira maunya seorang filsuf Spanyol, Jose Ortega y Gasset, yang kemudian menjadi ungkapan populer. Orang tahu apa yang dimaksudnya. Sebagai suatu lembaga yang berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak, dengan impian-impian terbaik bagi masa depan mereka, tentu saja, sekolah tak boleh menjadi terasing dan atau […]

expand_less