Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ilusi Kaum Kota: Slow Living di Desa

Ilusi Kaum Kota: Slow Living di Desa

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 6 Feb 2025
  • visibility 451
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Desa memang cenderung lebih unggul dibandingkan kota dalam urusan kualitas udara. Jumlah kendaraan berbahan bakar fosil dan industri makro yang sedikit menjadikan desa tempat yang baik untuk bernapas. Masyarakatnya juga punya kepedulian tinggi dan ramah-ramah. Gedung-gedung belum menjamah sampai ke sana, sehingga view alamnya lebih natural, tanpa solek bangunan tinggi.

Nilai plus lain, Cost hidup di desa sangat terjangkau bagi kalangan berpenghasilan ‘kota’. Makanan, minuman hingga harga tanah akan jauh lebih murah daripada kota dengan komposisi dan ukuran sama. Gaji UMR mungkin butuh waktu hingga ratusan tahun untuk menabung guna membeli sebidang tanah di kota. Akantetapi dengan ukuran yang sama, tanah di desa bisa berpuluh kali lipat lebih terjangkau, sehingga bisa menghemat waktu menabung.

Inilah mengapa trend slow living tinggal di desa menjadi booming. Pesona desa yang tersebar lewat tiktok dan instagram serta memori manis ketika KKN, melahirkan kembali nostalgi nan melankoli, betapa romantiknya jika desa digunakan sebagai destinasi menghabiskan usia.

Hanya saja, sebagai orang yang lahir, tumbuh besar di desa dan pernah merasakan kerasnya kota besar dalam waktu relatif lama, penulis bisa mengomparasikan keabsud-an masyarakat kota maupun desa.

Hidup di sini (baca: desa) memang sangat tricky. Bukan urusan perut dan ekonomi, namun lebih pada fakta sosial. Tinggal di desa untuk selamanya tak bisa dibanding dengan peristiwa manis selama KKN yang hanya satu atau dua bulan. Desa menggenggam tantangannya sendiri, begitupun kota. ‘Kekejaman’ desa tak ubahnya kerasnya kota dalam kemasan sachet dengan rasa yang berbeda.

Pertama, masyarakat desa ancap kali memiliki rasa ingin tau yang tinggi, bahkan sampai merogoh ranah prifasi individu lain. Dengan kata lain, sekat antara A dan B hanyalah garis ilusi. Para hidung belang, jangan harap bisa selingkuh di sini, sebab semua warga akan tahu.

Ke dua, bertautan dengan fakta pertama, kemampuan menganalisa masyarakat desa sangatlah tajam, penggalian data dilakukan secara masif dan canggih. Kita tidak bisa bersembunyi dari mereka, sebab ‘CCTV’ yang terorganisir–seperti bekerja dengan cara magis–bisa mengawasi segala yang kita punya dan kita alami.

Sayangnya, kemampuan ini tidak diiringi dengan pengolahan data dan pengambilan simpulan yang baik, keduanya kacau!. Hal ini terjadi lantaran ‘riset’ yang mereka lakukan amatlah subjektif. Apriori bahwa objek penelitian harus selalu salah, sekaligus menjadi simpulan tanpa pengolahan data terlebih dulu. Sebab, informasi aib lebih laku di pasaran.

Ke tiga, arus informasi, terutama dikalangan emak-emak sangatlah deras. Sebelum ditemukannya jaringan 5G, pasar, sawah, kang sayur sudah menjadi ruang pertukaran informasi dengan kecepatan cahaya. Karenanya, aib yang berhasil dicitrakan akan menyebar liar tanpa kendali dan tidak akan berhenti sebelum seisi desa mengetahui

Ke empat, daya saing masyarakat desa juga lebih tinggi dibandingkan masyarakat kota. Kompetisi selalu terjalin ketat diantara mereka. Ketika satu KK membeli televisi berukuran 41’’, tetangga sebelah melonjak adrenalinnya untuk membeli 52’’. Seorang suami membelikan isterinya sepeda motor, maka isteri tetangga—entah dengan cara apa—juga harus memiliki motor yang sama. Begitu pula dalam urusan fashion sampai teflon untuk menggoreng telur, jika dia punya, akupun harus punya!.

Ke lima, masyarakat desa tanpa disadari menganut marxisme dalam urusan penyetaraan (kecuali kalangan elit desa seperti tuan tanah, ASN, pengusaha atau alumni perantauan Jepang-Korea, mereka punya kelasnya sendiri). Masyarakat bawah yang tampil wah, akan menimbulkan beragam asumsi. Namun segala probabilitas yang muncul tak akan kemana-mana, masih dalam tema: dicurigai memelihara tuyul, babi ngepet atau pesugihan.

Ke enam, Masyarakat desa juga cukup diskriminatif khususnya terhadap kaum miskin. Misal, dalam urusan hajatan saja, orang-orang miskin yang hadir gercep, dicap cari makan gratis. Kalaupun mereka terlambat datang, maka dicap tidak tau diri, kalau mereka tidak datang, apalagi.

Inti dari segala inti, tidak semua warga desa memiliki karakteristik seperti disebutkan tadi, dan tidak ada niatan untuk mendiskreditkan desa (sebab penulis juga orang ndeso). Meski demikian, narasi tersebut bisa dikatakan mendekati valid. Karena, tulisan ini merupakan simpulan dari puluhan bahkan ratusan cerita dari teman-teman yang mukim di desa, dan beberapa diantaranya adalah pengalaman penulis sendiri.

Terakhir, jadikan desa hanya sebagai tempat singgah setiap weekend agar warga metropolitan tidak perlu mumet memikirkan risiko yang harus dihadapi, sekaligus tidak ‘mencemari’ budaya ndeso dengan style kota yang individualis dan materealis. Ujungnya, di desa maupun di kota, slow living selalu bisa digapai hanya dengan mindset stoik yang kuat.

*penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong-Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 1

    • calendar_month Ming, 2 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Oleh: Elin Khanin Nembak cewek mana pun yang lewat, di depan umum? “Siapa takut?!” tukas cowok itu tanpa gentar sembari bangkit dari duduk. Bukan sifatnya memang jika harus merasa ketakutan atau gemetaran sejak kotak tempat kertas berisi tantangan itu diedarkan ke sepenjuru aula. Namun, dia sempat heran. Dari sekian banyak gulungan kertas yang disodorkan pada […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Rab, 12 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Pak kiai, apa hukumnya sholatnya orang yang ketika sujud dia tidak menempelkan jari-jari kakinya pada lantai ? Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Salah satu rukun sholat adalah sujud,dan sujud itu sendiri mempunyai syarat-syarat  yang harus dipenuhi agar sujud itu bisa sah,bila sujud tidak sah maka sholatnya juga tidak sah,oleh karena itu menjadi sebuah […]

  • PCNU-PATI Photo by David Libeert

    Puisi-Puisi Muhammad Thohir

    • calendar_month Ming, 26 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Ramadan Penuh Cinta Ramadan kian menyapa Di atas permadani cinta Menyapa dengan penuh bahagia Karena rindu yang semakin membara Menyambut penuh riang Menguatkan iman takwa Membersihkan kotaran jiwa semoga hilang Mendekap pada Sang Maha Cinta Mengiringi jalan menuju ridho-Nya Di bulan suci Bertadarus membaca al-Qur’an dan menghayati Semoga kita tergolong orang-orang yang mendapat ampunan dan […]

  • Ketua Dewan Pengawas LPPL Temanggung TV Lantik Direksi Baru

    Ketua Dewan Pengawas LPPL Temanggung TV Lantik Direksi Baru

    • calendar_month Sen, 6 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 266
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id Temanggung – Pemerintah Kabupaten Temanggung menggelar acara pelantikan dan pengambilan sumpah/janji jabatan Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bhumi Phala Wisata serta Dewan Direksi Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV untuk periode 2025-2030, Senin (6/10/2025), di Pendopo Jenar Kompleks Kantor Bupati Temanggung. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Temanggung Agus Setyawan yang […]

  • PCNU-PATI

    PC IPNU IPPNU Pati Sukses Selenggarakan Rakercab Kedua

    • calendar_month Sen, 19 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 318
    • 0Komentar

    PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati sukses mengadakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) kedua. Kegiatan itu dilaksanakan di Kantor PCNU Pati pada Ahad (18/9/2022). Ketua PC IPNU Pati Matsna Zakiyyatus Salwa mengatakan, kegiatan ini sebagai landasan untuk melaksanakan program kerja pada tahun kedua kepengurusan saat ini. “Program kerja yang disusun disesuaikan dengan kebutuhan dari jajaran […]

  • Suluk Maleman Menyoal Tuhan dalam Pemahaman Manusia

    Suluk Maleman Menyoal Tuhan dalam Pemahaman Manusia

    • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 258
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Pemahaman manusia tentang Tuhan, karena perbedaan sudut pandang, acap menjadi rumit dalam banyak pembahasan. Masalah inilah yang mencoba dibedah di forum NgAllah Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia. Awalnya Anis Sholeh Ba’asyin menggaris-bawahi bahwa apa yang disebut ateisme bukanlah gejala baru. “Dalam sejumlah teori, ditegaskan bahwa pada […]

expand_less