Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

Patrick Kluivert dalam Botol Kaidah Fikih

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 16 Jan 2025
  • visibility 1.553
  • comment 0 komentar

 

Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Semarak bola Indonesia tengah gundah gulana. Kisah-kisah manis Shin Tae-yong terpaksa harus segera menjadi kenangan. Sedangkan nakhoda baru, Patrick Kluivert datang berlapis tuxedo dan berjalan diatas karpet merah bermerk PSSI dengan penuh kepercayaan diri.

Self confident seorang Kluivert jelas nampak saat berhadapan dengan Najwa Shihab dalam sebuah wawancara. Meski sesekali tampak gelagapan menyahut pertanyaan Mbak Nana, namun dari tutur katanya, menunjukkan bahwa, pria Holand ini cukup PD.

Dari wawancara yang cukup singkat itu, alih-alih turut membully–seperti kebanyakan fans Timnas–penulis berusaha mengambil hikmah dari kalam-kalam yang dilontarkan oleh Kluivert. Seraya merenung, penulis juga memcoba memadu-padankan ungkapan demi ungkapan Kluivert dalam kaidah-kaidah fikih.

Tentu ini bukan sekadar iseng atau gurauan. Ada makna yang hendak penulis sampaikan, bahwa, kaidah fikih bisa diimplementasikan di mana saja, baik pelakunya menyadari telah mempergunakan kaidah islam tersebut atau tidak. Atau setidaknya, kita bisa belajar bahkan dari orang yang dicap negatif oleh khalayak, ternyata menyimpan mutiara, walaupun hanya pada level kata (karena kita belum melihat kerjanya).

Pertama, Meski aktivis media sosial menghujat, pengamat bola sampai politisi mengundat masa lalunya, Kluivert tetap tenang dan nyaman dengan status baru yang resmi di dapat, kepala pelatih Timnas Indonesia. Isu judi bola yang sempat menyeret namanya, tak membuat Kluivert minder sedikitpun. Gelagat dan body language saat wawancara dengan Najwa Shihab, menunjukkan bahwa ia cukup tenang menghadapi cacian masyarakat.

Ketika ditanya soal apakah ia ingin memberi klarifikasi dan menanggapi respon warganet plus enam dua, dia tidak menjawab juga enggan mengklarifikasi. Ia hanya mau fokus membahas sepak bola, dan nggak ikut campur soal pro dan kontra bola mania terhadap pribadinya.

Ini sesuai dengan ungkapan Imam Suyuthi bahwa, keluar dari perselisihan itu lebih disukai (lebih baik). Kuivert memilih keluar dari geger gedhen yang sedang terjadi di kalangan gila bola dan memilih menjawab pertanyaan seputar bola saja, alih-alih menanggapi komentar netizen.

Di samping itu, kaidah al furudhu afdhalu min an nafli (fardhu itu lebih utama dari pada sunnah), juga masih relevan. Kewajiban pelatih asal Amsterdam ini adalah menjalankan tugas melatih bola. Adapun menanggapi tudingan-tudingan itu hukumnya mubah, semau-maunya dia. Jadi, berangkat dari nalar ini, jawaban Kluivert yang emoh memberi tanggapan sangat tepat.

Hanya saja, pemerhati bola juga ada benarnya. Mereka menerapkan kaidah: tidak dianggap sebagai dzan (praduga) sesuatu yang sudah jelas salahnya. Sekandal judi dan duta judi bola adalah sesuatu yang melekat pada diri Kluivert. Akan tetapi, untuk urusan ini, penulis tidak mau memanjangkannya (insya Allah akan dibahas di lain waktu).

Ke dua, Kluivert mengakui keagungan Shin Tae-yong dan segenap prestasinya dengan Timnas Indonesia. Ia memuji dan akan melanjutkan perjuangan Shin. Bahkan ia akan tetap mempertahankan banyak squad utama pilihan Shin untuk menjadi peluru kendalinya.

Kluivert juga mengoreksi kekurangan seniornya itu dan akan menambalnya dengan racikannya sendiri. Agaknya, kaidah fikih menjaga tradisi lama yang masih relevan dan menerapkan pembaharuan, cocok dengan rencana pelatih timnas ini.

Ke tiga, saat ditanya bagaimana style-nya di ruang ganti, ia menjawab dengan sempurna, katanya: “tidak perlu memberikan pemain banyak informasi, karena pemain akan semakin banyak berfikir.”

Terkait afirmasi ini, ada kaidah fikih yang mengatakan, “al masyghul laa yasyhgul”, yang sudah sibuk jangan ditambah sibuk. Di ruang ganti, tentu para pemain sudah terkuras tenaga dan mentalnya. Lanjut Kluivert, mereka sudah tau apa yang harus dilakukan. Jadi, benar saja, memberi informasi dalam kondisi ini justru malah menyibukkan otak pemain, yang tentu di dalamnya ada banyak perkara yang difikirkan untuk empat puluh lima menit ke depan.

Ke empat, jelang akhir wawancara, Najwa Shihab berusaha menggoyahkan ‘iman’ Kluivert dengan memberikan bayang-bayang menyeramkan akan tujuh poin yang wajib didapat Timnas Indonesia di laga-laga yang tersisa. Ditambah lagi, bar-barnya supporter bola Indonesia di media sosial yang sudah menjadi prestasi internasional juga ditegaskan lagi oleh Mbak Nana. Namun, Kluivert dengan PD menjawab, “i’m ready!.” Al yaqiinu laa yuzaalu bis syaak, kelas bosku!.

*Mudir Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong-Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Canda Tawa Rasulullah

    Canda Tawa Rasulullah

    • calendar_month Sab, 2 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 450
    • 0Komentar

    Kita bisa bayangkan rumah yang lampu penerangnya redup dengan rumah yang terang, pasti akan mempengaruhi semangat hidup penghuninya. Maka, senyum dan sedikit tawa riang benar-benar menjadi sebuah kebutuhan bagi umumnya manusia. Para ulama mantiq mengatakan” Manusia adalah merupakan hewan yang bisa tertawa.”             Dari makolah di atas dapat di simpulkan tertawa adalah cirri khas manusia […]

  • Tingkatkan publikasi, PC Fatayat NU Kab. Pati gelar pelatihan desain grafis

    Tingkatkan publikasi, PC Fatayat NU Kab. Pati gelar pelatihan desain grafis

    • calendar_month Kam, 11 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 489
    • 0Komentar

      Tingkatkan publikasi, PC Fatayat NU Kab. Pati gelar pelatihan desain grafis Pati 9 Maret 2021 Dalam rangka memperingati harlah ke 71 thn Fatayat NU  Pati. ajak kader Fatayat Pelatihan desain grafis untuk meningkatkan publikasi Fatayat. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 – 12.00 berlokasi di gedung PCNU Pati  lt 3 di bimbing langsung oleh […]

  • Kakanwil Kemenag Jateng Monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen

    Kakanwil Kemenag Jateng Monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen

    • calendar_month Rab, 15 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

      H. Mustain Ahmad, Kakanwil Krmenag Jateng memberikan pembinaan dan monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen PATI – Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Pembinaan dan Monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen, dengan di dampingi oleh Kepala Kemenag, Kasubag TU dan Kasi Penmad Kemenag Kabupaten Pati, Selasa (14/12).  Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi […]

  • Hak Perempuan dalam Islam

    Hak Perempuan dalam Islam

    • calendar_month Sel, 13 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 488
    • 0Komentar

      Islam adalah agama rohmatan lil’alamin, semuanya sudah ada tata cara dan ketentuan untuk menjadi panduan kita dalam beragama. Ada banyak aspek yang dibahas didalam Islam, salah satunya mengenai perempuan. Saya mencoba mengulas kitab Assittin Al-Adliyyah semampu saya, dan sesuai dengan pemahaman saya. Dalam kitab tersebut terdiri dari 60 hadist yang bisa menjadi rujukan bagaimana […]

  • PCNU-PATI Photo by Andrei Slobtsov

    Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 4

    • calendar_month Ming, 30 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin “Salmaaan … come on. Kamu ngapain sih?” Fix, suara itu semakin membuat Salman ge-er. Ditambah provokasi dari sana sini membuatnya ingin mengangkat pantat dan memenuhi panggilan itu sesegera mungkin. Tapi ia sempat ragu saat meneliti ekspresi wajah para pengurus bagian keamanan, Kang Frans, Kang Husni, dan Kang Rif’al. Ada senyum berbau […]

  • PCNU-PATI

    Menjadi Perempuan; Itu Tak Mudah

    • calendar_month Jum, 3 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Mengapa hanya karena terlahir sebagai perempuan selalu dilemahkan? Mengapa ruang bicaranya selalu ditutup? Apakah dia tak berhak mendapatkan haknya sebagai manusia? Mengapa dan mengapa hal ini masih sering dan terus terjadi? Apakah jika perempuan mendapatkan haknya yang setara dengan laki-laki akan menimbulkan masalah? Dan segala pertanyaan lainnya. Saya akan bercerita perihal […]

expand_less