Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » My Lovely Chan

My Lovely Chan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
  • visibility 302
  • comment 0 komentar

Oleh : J. Intifada

Bertemu denganmu hanya selalu lewat mimpi. Tak terhitung lagi berapa kali aku memimpikanmu. Kapan lagi aku akan bertemu denganmu. Aku berpikir, tak akan bertemu denganmu lagi. Meski dalam mimpi setidaknya telah melegakan hati.

Masih menjadi misteri. Kenapa kamu. Padahal kita hanya bertemu sekali saat seminar bahasa Mandarin. Kamu bersama Aldo. Temanku di kelas bahasa. Aldo memperkenalkanmu sebagai teman SMA di sekolah kebangsaan yang hanya ada siswa dari etnismu saja.

Sekali kita duduk bersebelahan. Sesekali aku bertanya padamu arti dari bahasa Mandarin yang tak ku mengerti. Dengan halus kamu mengajariku. Cara pegucapan dari bahasa ini tidak ada yang sama walau tulisannya hampir mirip.

Aku keturunan Jawa asli sangat kesulitan dalam mempelajarinya. Kamu bercerita, dari kecil kamu sudah belajar bahasa Mandarin. Bahkan bahasa sehari-harimu ketika berada di rumah adalah bahasa tersebut. Aku sedikit terkagum. Juga tak heran karena memang kamu dari keturunan negeri bambu itu.

Aldo sama denganmu. Tetapi entah kenapa, aku tak pernah tertarik dengannya. Sedangkan denganmu hanya sekali kita bertemu dan berkenalan, sepertinya sudah mengenal lama.

Beberapa kali ketika pulang dari kampus, aku mencoba memutar melewati kampusmu. Siapa tahu kamu sedang duduk-duduk di depan kelas atau sedang berjalan pulang. Tiap hari aku pergi ke kampus juga sengaja berjalan lewat depan kampusmu. Lumayan cukup jauh. Tapi tak masalah bagiku.

Sepekan dua pekan tak mendapatimu ada di kampus. Engganku ingin bertanya pada Aldo. Aku takut dia tahu aku tertarik padamu. Aku mulai menyerah untuk mencarimu. Mencoba melupakan pertemuan kita saat itu. Kembali beraktifitas seperti biasa.

Tak banyak yang bisa aku lakukan. Biasa mahasiswa kupu-kupu. Yang habis kuliah pulang ke kost. Sesekali diajak perkumpulan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Belajar tentang bahasa mandarin. Aku semakin tertarik mendalaminya. Mungkin juga karena kamu.

Sesaat sebelum pulang dari seminar itu, kamu menanyakan padaku. Kenapa memilih bahasa mandarin? Aku tergagap. Tak menyangka kamu akan menanyakan hal itu.

“Mungkin agar bisa bertemu denganmu di forum ini.” jawabku bercanda

Kamu sedikit tertawa. Tak menyangka bahwa aku akan menjawab dengan gurauan. Setelah itu kamu tidak menanyakan lagi dan pamit pulang ke rumah. Iya rumah. Bukan kost. Kamu warga asli ibu kota, Semarang. Sekilas kamu menyebut tempat tinggalmu dekat Johar. Aku tak menanyakan detail lagi rumahmu. Karena tak mungkin aku datang ke rumahmu. Siapa pula yang akan berteman denganku.

Aldo sepertinya tahu. Beberapa hari aku terlihat di kelas. Menanyakan padaku kenapa tak seperti biasa. Aku tersenyum kecil dan menjawab tak ada masalah yang berarti. Ingin sekali aku bertanya bagaimana kabarmu. Tetapi suara seakan tertahan.

Hingga suatu hari saat kita mempunyai tugas untuk wawancara warga lokal yang menggunakan bahasa mandarin, aku buru-buru mengangkat tangan tetapi si Aldo keduluan bicara.

“Gimana kalau temanku? Dia masih menggunakan bahasa mandarin sehari-sehari dirumah.”

“Oh yang kemarin ikut seminar itu sama kamu?”

 

Aldo mengiyakan. Ya siapa lagi kalau bukan kamu. Teman-teman menyetujui. Akhir pekan kita akan ke rumahmu. Kamu tahu bagaimana ekspresiku saat ini. beberapa hari aku bersemangat mengumpulkan pertanyaan dan mempelajari kosakata. Berlatih cara pengucapannya dengan teman ku yang lain.

“Kamu semangat sekali Er ?”

Aku tersipu. Tak mungkin aku mengatakan bersemangat bertemu denganmu. Dalam hati aku ingin terlihat pandai di hadapanmu. Aku juga ingin menjawab pertanyaanmu yang belum ku jawab. Kenapa aku memilih bahasa mandarin.

Tiga jam sebelum berkumpul ke rumahmu, Aldo mengajakku mencari buah tangan. Iya masa kita bertamu ke rumahmu tidak membawa apa-apa. Adat jawa biasa seperti itu. Membawa sesuatu ke tuan rumah. Aku yang mengusulkan. Sebagai tanda terima kasih kita karena keluargamu mau diwawancarai. Aldo dan teman-teman tidak menolak. Bahkan dia yang menawarkan diri untuk mengantar membelikannya.

“Biasanya apa? tanyaku

“Terserah saja.”

“Kalau parcel buah?”

Kami berempat sudah patungan. Aldo menjemputku di kost ke toko buah dekat kampus. Kami memilih parcel yang besar. Aldo memilihkan buah-buahan kesukaan papa mamamu. Aku menurut saja dibelakang Aldo sambil sesekali melirik arloji. Satu jam lagi kita berjanji berkumpul di depan gerbang kampus untuk berangkat bersama ke rumahmu.

Di depan rumah, kamu sudah menunggu kedatangan kami. Kaos merah celana levis membuatmu semakin tampan. Aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Inginku berlari memelukmu, tetapi aku tahu batas. Itu tidak pantas.

Aku senyum-senyum sendiri sesaat memasuki gerbang rumahmu. Kamu seraya berdiri meletakkan buku filsafat yang sedang kau baca. Sekilas aku membaca tulisan di sampulnya, buku tentang filsafat barat. Kamu melihatku dan menjabat tanganku.

“Hey ketemu lagi.”

“Iya. Senang sekali.” Ku coba atur napas dan nada bicaraku agar tidak terlihat antusias. Kamu tersenyum dan mempersilakan kami masuk.

Zǎo shang hǎo sapa papamu sambil menyalami. Papa mu mempersilakan kami duduk dan ibu mu datang membawa baki minuman. Aku menyerahkan parcel kepada ibumu. Dengan senang hati diterimanya dan mengatakan tak perlu repot-repot.

Selanjutnya acara perkenalan. Orang tuamu sangat welcome. Tak membuat segan dan selalu bisa mencairkan suasana. Menanyakan asal kita, bagaimana kuliah kita, bagaimana rasanya hidup di perantauan. Seperti bukan sedang menyelesaikan tugas karena papamu sangat suka bercanda. Kita sangat senang dan tak terasa telah menyelesaikan semua pertanyaan.

Saking asyiknya tak terasa telah selesai semua pertanyaan yang kita berikan. Papamu malah meminta pertanyaan tambahan lagi. Kita semua tertawa dan merasa ini lebih dari cukup. Akhir dari tugas ini, kata penutup dari papamu.

“Kami hanya tidak ingin melupakan bahasa leluhur kami. Untuk itu sebisa mungkin bahasa sehari-hari dirumah ini menggunakan bahasa mandarin. Bukan kami tak mencintai negeri ini. kami sangat mencintai negeri ini. kami lahir dan dijamin hak yang sama. Kami juga belajar bahasa indonesia dengan baik dan benar.”

Aku mencatat semua yang papamu katakan. Sambil merekam di dalam memori. Apa yang beliau sampaikan penuh dengan arti. Selain membahas bahasa mandarin, papamu juga menceritakan tentang tempat tinggalmu ini. Rumahmu cukup sederhana bagi ukuran orang chinese. Dalam bayanganku, kamu terlahir dari keluarga kaya. Aku pikir memang benar kamu kaya hati.

Papamu lahir dan hidupnya dihabiskan dirumah ini. banyak kenangan yang terukir di setiap rumah. Papamu sengaja tidak banyak merenovasi, agar kelak anak cucunya bisa mengetahui sejarah hidup dari leluhurnya.

Selesai wawancara mamamu menjamu kita dengan makan siang. aku dan teman-temanku saling melirik. Aldo seperti tahu apa yang kita khawatirkan. Dia berbisik dan mengatakan aman. aku masih tak percaya. Aldo pun menjelaskan. Walau keluarga keturunan asli, tetapi sangat menghormati adat disini. Tidak makan babi dan memelihara anjing. Aku baru menyadari di rumahmu hanya ada kucing.

Selesai pertemuan itu, tak ada lagi pertemuan denganmu. Mimpi bertemu denganmu pun tak ada lagi. Aku hampir sudah lupa denganmu. Hingga kita tak sengaja bertemu papasan di ATM. Aku melihatmu di dalam ruangan bersama wanita. Kalian terlihat akrab saat mengeluarkan uang dari mesin atm.

Apakah itu kekasihmu? Kenapa Aldo tidak bercerita bila kamu sudah punya pacar. Wanita itu keluar dan kamu masih di dalam untuk melakukan transaksi lagi. Teman wanitamu melihatku mengantri. Dia menyapa dan bertanya apakah aku akan ambil uang. Aku mengangguk dan buru-buru masuk. Menutup pintu ruangan dengan gugup. Aku takut kamu mengenaliku.

Di ruangan ber ac yang ada dua mesin atm itu, kita berdiri berdampingan. Ku coba menguasai diri untuk tidak salah tingkah. Aku bisa mengontrol diri, tapi tidak di dalam hati. Ku rasakan jantungku berdegup lebih cepat. Inginku menyapa, namun enggan. Kita seperti tak saling mengenal. Selesai mengambil uang, kamu terlihat menghampirinya. Ku pandangi kalian dari balik kaca dan berseru dalam hati.

”Kenapa aku deg-degan.”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MWCNU Gembong Gelar Pengajian Akbar

    MWCNU Gembong Gelar Pengajian Akbar

    • calendar_month Sab, 3 Sep 2016
    • account_circle admin
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Pati, Pengurus Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Gembong mengadakan Pengajian Akbar dalam Rangka Halal bi halal dan memperingati harlah NU ke 90, pengajian bertempat di MI Kendil desa Klakahkasian dengan pembicara KH. Imron Rosyadi dari Pati, Minggu 24/7 kemarin.             KH. Imam Sofwan sebagai wakil dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama mengemukakan untuk menjalin silaturahmi yang […]

  • Puisi-Puisi Melisa Yusrina

    Puisi-Puisi Melisa Yusrina

    • calendar_month Sab, 14 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

      Sepucuk Kata Untuk Rekanita   Keringatmu adalah semangat Lelahmu adalah cambuk kehidupan Langkahmu tanda perjuangan Pengabdianmu tanda cinta   Semua itu hanya untuk satu tujuan Untuk menyirnakan kegelepan Untuk tetap melanjutkan perjuangan sang panutan Mekar seribu bunga di taman Mekar cinta pada ikatan Sehat selalu rekanita tersayang Tetaplah belajar, berjuang, dan bertaqwa tanpa bosan. […]

  • SAKO Pramuka Pandu Ma'arif NU Jawa Tengah Gelar Kemah Perdamaian dan Kemanusiaan

    SAKO Pramuka Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah Gelar Kemah Perdamaian dan Kemanusiaan

    • calendar_month Sen, 15 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.274
    • 0Komentar

      Kota Semarang – Malam hari di bawah langit mendung Bumi Perkemahan Candra Birawa Kwartir Daerah Jawa Tengah, terdengar dengan lantang ketua sangga putra kontingen dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Jepara memimpin penyajian yel-yel. Mereka memasuki kawasan bumi perkemahan dengan semangat dan penuh energi. Gerimis tidak mampu mematahkan semangat para peserta kegiatan Kemah Perdamaian dan Kemanusiaan, […]

  • Yayasan Assalam Pasucen Berikan Bansos kepada Masyarakat Kurang Mampu di Acara Kemah Bhakti

    Yayasan Assalam Pasucen Berikan Bansos kepada Masyarakat Kurang Mampu di Acara Kemah Bhakti

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Yayasan Assalam, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, mengadakan kemah wisata bhakti di Bumi Perkemahan Regaloh. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, yakni mulai Jumat (1/11/2024) hingga Minggu (3/11/2024). Sebanyak 375 siswa madrasah yang berada di naungan Yayasan Assalam, mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. ”Kami dari keluarga besar Yayasan Assalam Pati, Madrasah […]

  • Merajut Toleransi dan Persaudaran di Bulan Idul Adha. Photo by Fauzan On Unsplash.

    Merajut Toleransi dan Persaudaran di Bulan Idul Adha

    • calendar_month Sab, 1 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Oleh: Siswanto, MA Idul Adha atau yang kita kenal dengan sebutan Eid al-Adha merupakan salah satu Hari Raya Besar Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah di bulan terakhir dalam kalender Islam. Karena pada momentum Idul Adha ini, seluruh umat Islam di penjuru dunia ikut mengumandangkan takbir. Sedangkan makna takbir Hari Raya Idul Adha di […]

  • PAC IPNU IPPNU Trangkil Juara Lomba Kreasi Pelajar

    PAC IPNU IPPNU Trangkil Juara Lomba Kreasi Pelajar

    • calendar_month Ming, 23 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 267
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Trangkil mengerahkan 73 personil untuk berpartisipasi dalam kegiatan Apel dan Kirab Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Kabupaten Pati pada Sabtu (22/10/2022). Dalam kesempatan itu, PAC IPNU IPPNU Trangkil juga menyabet juara 1 dalam ajang Lomba Kreasi Pelajar […]

expand_less