Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Semua Orang Menjual Diri

Semua Orang Menjual Diri

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 25 Mei 2023
  • visibility 124
  • comment 0 komentar


Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

“Lowongan Pekerjaan, Pria/Wanita max. 25 tahun, ijazah minimal SMA/se derajat dan Good Looking.”

Pamflet semacam ini sering kita temukan di mana-mana. Good looking menjadi standar baru dalam kehidupan masa kini. Artinya, setiap orang perlu ‘menjual diri’.

Wait, jangan ngeres dulu!

Misalnya, seorang pria yang bekerja sebagai sales mobil mewah, dituntut memoles dirinya sedemikian rupa. Atasan jas dan celana bahan senada. Sepatu pantofel licin dan rambut klimis juga diperlukan untuk menggaet ‘nafsu beli’ klien. Dia memang sedang menjual mobil, tapi sebelum itu, ia harus mampu menjual diri.

Seorang ustadz atau kiai, pada level berbeda pun demikian. Bayangkan ada seorang ustadz yang tersohor, seusai mengisi ceramah, dia mampir karaokean. Semua kata-kata yang baru ia lontarkan di hadapan jama’ah, pasti akan ‘cuih’-kan, meskipun itu adalah ayat Tuhan. Citranya sebagai pembawa kebenaran, ambruk seketika ditimpa satu kesalahan.

Artinya, iapun harus menjual diri dengan modal akhlak (kadang-kadang juga perlu kostum yang menunjang) agar semua yang diucapkan bisa diikuti jamaah.

“Tidak. Saya tidak melakukannya. Saya tidak menjual apapun dari diri saya. Hidup yang singkat ini, saya fokuskan untuk beribadah hanya untuk-Nya. Tidak ada transaksi antara satlya dan Tuhan,” kata seorang pengagum tasawuf.

Terdengar anggun dan mempesona, tapi maaf, dengan redaksi yang anda pilih untuk mengelak takdir, sebenarnya anda pun sedang menjual diri, kisanak. Bedanya salesman ‘menjual diri’ dengan good looking-nya, ustadz ‘menjual diri’ dengan akhlak, dan sufi, menjual diri dengan ibadahnya.

Perbedaan berikutnya ada pada goal dan pangsa pasar. Salesman menjual mobil kepada orang-orang kaya agar dia mendapatkan lebih banyak komisi. Ustadz menjual dirinya kepada jama’ah dengan akhlak yang baik, agar mereka percaya dengan apa yang ia ucapkan. Sementara kaum sufi pun menjual diri dengan laku mereka. ‘Pasarnya’ adalah Tuhan.

Nah, yang terakhir inilah model ‘jual diri’ dengan transaksi terindah yang pernah ada. Sebab, alat tukarnya adalah cinta, bukan lagi uang atau pun popularitas.

*Penulis adalah Pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Raih IPK 4.00, Dian Marta Wijayanti Sah Jadi Doktor Manajemen Pendidikan Lulusan UNNES

    Raih IPK 4.00, Dian Marta Wijayanti Sah Jadi Doktor Manajemen Pendidikan Lulusan UNNES

    • calendar_month Jum, 26 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 189
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Program Studi S3 Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sidang promosi doktor pada Jumat pagi, 26 September 2025. Sidang yang berlangsung di Gedung G Lantai 1 Sekolah Pascasarjana UNNES tersebut menghadirkan promovenda Dian Marta Wijayanti dengan disertasi berjudul “Determinan Kinerja Guru Sekolah Dasar di Kota Semarang dengan Digital […]

  • Ruqyah Massal Dilaksanakan Sehari, Masyarakat Minta Tambah

    Ruqyah Massal Dilaksanakan Sehari, Masyarakat Minta Tambah

    • calendar_month Ming, 10 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 163
    • 0Komentar

    GEMBONG-Pelaksanaan ruqyah massal di Kecamatan Gembong yang diselenggarakan oleh Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) berjalan lancar. Namun demikian, banyak masyarakat merasa kecewa dengan agenda ini, sebab hanya dilaksanakan sehari saja. “Saya mendapatkan laporan bahwa banyak masyarakat yang kecewa karena kegiatan ini hanya dilakukan sehari saja.” Tutur K. Sholikhin, Ketua MWC NU Gembong sambil berkelakar. Peserta ruqyah […]

  • Si Dombos, Logo dan Maskot Porsema XIII Ma’arif NU Jateng

    Si Dombos, Logo dan Maskot Porsema XIII Ma’arif NU Jateng

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 213
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Wonosobo – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah kembali menggelar agenda besar, Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII Tahun 2025. Kegiatan bergengsi ini akan berlangsung pada Rabu 10 September 2025 – Sabtu 13 September 2025 di Kabupaten Wonosobo dengan tema “Kolaborasi membangun generasi yang sehat, hebat dan […]

  • 4 Karakter yang Wajib Dimiliki Seorang Pemimpin. Photo by Hunters Race on Unsplash.

    4 Karakter yang Wajib Dimiliki Seorang Pemimpin

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Oleh: Angga Saputra Pcnupati.or.id . – Menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah.  Kepemimpinan memiliki beberapa fungsi penting menuju keberhasilan sebuah organisasi. Salah satunya, dengan memberikan visi yang jelas di dalam tubuh organisasi. Dalam hal itu, pemimpin perlu menjelaskan visi yang harus dilakukan para anggota untuk mencapainya. Lebih dari itu, pemimpin harus bisa menginspirasi […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan Bulan Produktif Berkarya

    • calendar_month Kam, 4 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Ramadan sebagai bulan suci dalam agama Islam, tidak hanya merupakan waktu untuk meningkatkan ibadah spiritual, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menjadi lebih produktif dalam berkarya. Berkarya apa? Apakah ngonten video Youtube, TikTok, menulis artikel ilmiah, artikel populer, esai, menulis puisi, cerpen, novel, atau apa? Ya, bagi saya berkarya apa saja asal positif. […]

  • PCNU-PATI

    Epistemologi Tafsir Kontemporer

    • calendar_month Sab, 27 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang di dalamnya memuat ajaran moral universal bagi umat manusia sepanjang masa. Dalam posisinya sebagai kitab petunjuk, al-Qur’an diyakini tidak akan lekang dan lapuk dimakan zaman. Akan tetapi dalam kenyataannya, teks al-Qur’an sering kali dipahami secara parsial dan ideologis sehingga menyebabkannya seolah menjadi teks yang mati dan tak lagi relevan dengan […]

expand_less