Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Semua Orang Menjual Diri

Semua Orang Menjual Diri

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 25 Mei 2023
  • visibility 452
  • comment 0 komentar


Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

“Lowongan Pekerjaan, Pria/Wanita max. 25 tahun, ijazah minimal SMA/se derajat dan Good Looking.”

Pamflet semacam ini sering kita temukan di mana-mana. Good looking menjadi standar baru dalam kehidupan masa kini. Artinya, setiap orang perlu ‘menjual diri’.

Wait, jangan ngeres dulu!

Misalnya, seorang pria yang bekerja sebagai sales mobil mewah, dituntut memoles dirinya sedemikian rupa. Atasan jas dan celana bahan senada. Sepatu pantofel licin dan rambut klimis juga diperlukan untuk menggaet ‘nafsu beli’ klien. Dia memang sedang menjual mobil, tapi sebelum itu, ia harus mampu menjual diri.

Seorang ustadz atau kiai, pada level berbeda pun demikian. Bayangkan ada seorang ustadz yang tersohor, seusai mengisi ceramah, dia mampir karaokean. Semua kata-kata yang baru ia lontarkan di hadapan jama’ah, pasti akan ‘cuih’-kan, meskipun itu adalah ayat Tuhan. Citranya sebagai pembawa kebenaran, ambruk seketika ditimpa satu kesalahan.

Artinya, iapun harus menjual diri dengan modal akhlak (kadang-kadang juga perlu kostum yang menunjang) agar semua yang diucapkan bisa diikuti jamaah.

“Tidak. Saya tidak melakukannya. Saya tidak menjual apapun dari diri saya. Hidup yang singkat ini, saya fokuskan untuk beribadah hanya untuk-Nya. Tidak ada transaksi antara satlya dan Tuhan,” kata seorang pengagum tasawuf.

Terdengar anggun dan mempesona, tapi maaf, dengan redaksi yang anda pilih untuk mengelak takdir, sebenarnya anda pun sedang menjual diri, kisanak. Bedanya salesman ‘menjual diri’ dengan good looking-nya, ustadz ‘menjual diri’ dengan akhlak, dan sufi, menjual diri dengan ibadahnya.

Perbedaan berikutnya ada pada goal dan pangsa pasar. Salesman menjual mobil kepada orang-orang kaya agar dia mendapatkan lebih banyak komisi. Ustadz menjual dirinya kepada jama’ah dengan akhlak yang baik, agar mereka percaya dengan apa yang ia ucapkan. Sementara kaum sufi pun menjual diri dengan laku mereka. ‘Pasarnya’ adalah Tuhan.

Nah, yang terakhir inilah model ‘jual diri’ dengan transaksi terindah yang pernah ada. Sebab, alat tukarnya adalah cinta, bukan lagi uang atau pun popularitas.

*Penulis adalah Pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekretaris PCNU dan Dua Perwakilan Garfa Pati Ikuti Geladhen Hageng Jemparingan Nasional di Kulon Progo

    Sekretaris PCNU dan Dua Perwakilan Garfa Pati Ikuti Gladhen Hageng Jemparingan Nasional di Kulon Progo

    • calendar_month Ming, 26 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.016
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-74 Kulon Progo, ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Alun-Alun Wates untuk mengikuti Gladhen Hageng Jemparingan Nasional, sebuah ajang panahan tradisional bergaya Mataram. Turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut adalah delapan peserta dari Kabupaten Pati. Di antaranya lima anggota Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) […]

  • Selamat Menghadapi Hal Baru

    Selamat Menghadapi Hal Baru

    • calendar_month Jum, 3 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 464
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Euforia pergantian tahun telah usai. Kini saya dan anda kembali menjalankan rutinitas seperti biasanya. Bangun pagi lalu berangkat bekerja lalu pulang untuk istirahat dimalam hari. Sebetulnya tak ada hal yang baru dan istimewa, bukan. Namun mengapa momentum dan euforia tahun baru tampaknya selalu dipandang sebagai hal yang sakral dalam menyongsong pencapaian-pencapaian yang […]

  • LP Ma’arif NU Jateng Siap Kirim Peserta Magang di Jepang

    LP Ma’arif NU Jateng Siap Kirim Peserta Magang di Jepang

    • calendar_month Sel, 2 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.732
    • 0Komentar

    Pekalongan – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul berdaya saing global. Bersama Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia dan IM Japan, LP Ma’arif NU Jawa Tengah dipercaya menyelenggarakan Pelatihan Tahap I Daerah Program Pemagangan ke Jepang yang berlangsung di SMK Syafi’i Akrom Kota […]

  • Ketua LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo Dikukuhkan sebagai Pengurus KKG PAI Provinsi Jawa Tengah

    Ketua LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo Dikukuhkan sebagai Pengurus KKG PAI Provinsi Jawa Tengah

    • calendar_month Sel, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.981
    • 0Komentar

      Semarang – Ketua LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo, Rohani, resmi dikukuhkan sebagai salah satu pengurus Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) SD Provinsi Jawa Tengah periode 2026–2030. Pengukuhan tersebut dilaksanakan di Auditorium Jateng Majeng, Semarang. Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Dr. H. Saiful Mujab, M.A. selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi […]

  • Mengenang KH Muhammadun Abdul Hadi Kajen

    Mengenang KH Muhammadun Abdul Hadi Kajen

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 1.094
    • 0Komentar

    KH Muhammadun Abdul Hadi adalah salah satu kiai di Kajen Pati. Putra dari Mbah Abdul Hadi ini terkenal dengan kecintaannya pada ilmu, tawadu‘, sekaligus aktivis bahtsul masail dan Nahdlatul Ulama. Kiai yang pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Agama ini bahkan diakui Mbah Abdul Hamid Pasuruan sebagai waliyullah yang zahid dan wara‘. Berikut ini ulasan mengenang KH […]

  • PCNU-PATI Photo by Alberto Bianchini

    Air

    • calendar_month Rab, 30 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Oleh: Niam At Majha Air adalah penghidupan. Air untuk hidup dan kehidupan. Air adalah elemen penting dalam sebuah hidup dan kehidupan. Sebab dalam tubuh Saya dan Anda hampir separuh lebih terdiri dari air. Bisa dikatakan apabila jika sangat tergantung pada air. Dan air pula dapat menimbulkan anugrah dan musibah. Tinggal bagaimana saya dan Anda bersikap […]

expand_less