Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan: Feels Like Home

Ramadan: Feels Like Home

  • account_circle admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 8.868
  • comment 0 komentar

Ramadan: Feels Like Hom

‎Oleh Hamidulloh Ibda

 

Saya kirim pesan WhatsApp ke Mas Egi (Virgiawan Listanto) pada Senin 23 Februari 2026. Mas Egi adalah Ketua Panitia Ramadan: Feels Like Home 1447 / 2026 Masjid Baitul Mujahid. Saya tanya”Ramadan Feels Like Home sing menggagas siapa?” Dia menjawab “Saya mas, bagaimana?”

 

Begini jawaban lengkapnya: Dalam rangka menyemarakkan suasana Bulan Ramadan, menjaga semangat beribadah, dan mempererat tali silaturahmi di antara jemaah, kami mengajukan proposal rangkaian kegiatan dengan tema: “Ramadan Feels Like Home — Tempat Hati Kembali Pulang.

 

Tema ini terinspirasi dari filosofi bahwa sesibuk apa pun kita bekerja selama 11 bulan, kita akan selalu pulang ke rumah untuk bertemu keluarga dan membersihkan diri. Begitu pula dengan Ramadan; ia adalah “tempat pulang” bagi rohani kita untuk beribadah dan membersihkan jasmani serta rohani. Kami berkomitmen menjadikan masjid sebagai rumah yang aman dan nyaman bagi jemaah, terutama dalam menjalankan ibadah qiyamul lail di 10 hari terakhir Ramadan.

 

Lalu, ia juga mengirimkan meme bertulisan di bawah ini:

Sejauh apa pun kita melangkah,

sesibuk apa pun kita bekerja,

hati selalu tahu ke mana harus kembali.

Ibarat Rumah yang menyambut kita

dengan hangat di kala lelah,

Ramadan hadir sebagai pelukan untuk jiwa

yang rindu akan ketenangan.

Di sini, di Rumah Allah Masjid Baitul Mujahid,

mari kita bersihkan jasmani dan rohani

dalam rasa aman dan nyaman.

RAMADAN

Feels Like Home

– Tempat Hati Kembali Pulang –

Selamat datang kembali bulan Suci Ramadan.

Mari bersimpuh lebih lama,

beribadah lebih khusyuk.

*********

‎Feels Like Home. Tempat Hati Kembali Pulang. Narasi ini adalah produk pemuda yang dijadikan rangkaian tema kegiatan Ramadan 1447 H di Masjid Baitul Mujahid Perum Graha Mandiri Residence Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

‎Bukan “keminggris.” Bukan pula sok kebarat-baratan. Tapi, tema ini bagi saya merupakan bentuk kontekstualisasi spirit generasi muda dalam memakmurkan masjid. Jadi, jangan dipahami secara bahasa saja.

 

‎Ya, genap setahun saya ikut nimbrung meramaikan kegiatan di Masjid Baitul Mujahid. Kegiatan Ramadan 2026 pun beragam. Sesuai konsep panitia, kegiatan meliputi Salat Tarawih Berjamaah setiap malam, Tadarus Al-Qur’an (Bakda Tarawih & Subuh), Ramah Tamah (kudapan ringan bakda Tarawih), Buka Bersama setiap hari di masjid, Ramadan Cantik: Dekorasi masjid bertema Feels Like Home, Zakat Fitrah: pengumpulan dan pendistribusian, Malam Selikuran dan Halalbihalal, dan lainnya. Oh ya, Pengajian Ramadan Ahad Sore juga dijadwalkan dengan menghadirkan narasumber eksternal. Mulai dari KH. Muharno (Muchtar Abi Maya) (Pengasuh PP Assalafiyah Perbalan), Ust. Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I., M.Pd.I., (Pengasuh Pondok Pesantren An-Najma Bandarejo Semarang), H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A.,(Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo), dan Gus Mujib Jogo Roso (Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huda Getasan).

 

Mengapa Harus Kembali Pulang?

Hakikatnya, Ramadan menjadi momentum kembali pulang. Pertanyaannya, pulang ning endi? Ya, pulang dari kegaduhan dunia menuju ketenangan jiwa. Lalu, pulang dari keterpecahan sosial menuju kebersamaan, dan juga pulang dari kegersangan batin menuju rumah spiritual yang bernama iman dan takwa. Itu makna menurut saya.

 

Masjid Baitul Mujahid Perum Graha Mandiri Residence Patemon, Gunungpati, Kota Semarang, yang mengangkat tema “Ramadan: Feels Like Home (Tempat Hati Kembali Pulang)” tidak sekadar slogan yang ndakik-ndakik, adagium estetik, namun menjadi refleksi mendalam atas hakikat Ramadan yang dijadikan ruang spiritual, wadah kultural, dan media edukatif bagi umat Islam di sekitar masjid dan umumnya di Semarang.

 

Konsep baiti, home, ndalem, atau “rumah” sangat dekat dengan dimensi teologis. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 156, Allah berfirman yang artinya “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah, 156).

 

Intinya, kita (manusia) berasal dari Allah Swt dan akan kembali kepada-Nya (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Dalam konteks ini, Ramadan menjadi momentum simbolik merasakan kembali perjalanan pulang tersebut. Bukan saat tertimpa musibah, cobaan, ujian, atau halangan, namun kita kembali pulang saat Ramadan. Mengapa demikian? Sebab, Ramadan substansinya menghadirkan kondisi batin yang damai, tenang, suwung, sebagaimana rumah menghadirkan rasa aman. Baiti jannati. Ketika dunia sering terasa laiknya persinggahan melelahkan, maka Ramadan menjadi ruang istirahat rohani yang mendamaikan. Di sanalah hati menemukan orientasinya kembali. Jadi, saatnya kita feels like home!

 

Kembali pulang itu bermakna luas sekali. Narasi “kembali ke rumah” ketika kita analisis dengan teori habitus dari Pierre Bourdieu (1977) dalam buku Outline of a Theory of Practice. Bourdieu menyebut bahwa habitus merupakan sistem disposisi untuk membentuk cara berpikir dan bertindak seorang mengacu pengalaman sosial yang sudah terinternalisasi.

 

Dalam hal ini, Ramadan melahirkan habitus baru, lebih tepatnya, Ramadan membangkitkan kembali habitus religius yang mungkin tertidur lama. Sebab, Ramadan identik habitus religius yang kuat dan ketat sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Pola bangun tidur untuk sahur, tarawih, witir, iktikaf, tadarus, ngaji, berbuka puasa, sedekah, infak, zakat, zikir, memperbanyak ibadah, sampai memperkuat silaturahmi mengonstruksi struktur batin teratur dan disiplin.

 

Masjid Baitul Mujahid dengan mengusung tema ini memiliki idealisme bahwa Ramadan tak hanya agenda ritus religius tahunan, namun menjadi proses pembentukan karakter kolektif warga perumahan GMR maupun warga kampung di sekitar masjid, juga mahasiswa kos-kosan di sekitar masjid. Rumah spiritual tersebut dikonstruksi melalui repetisi amal saleh yang hilirisasinya melahirkan kesadaran etis.

 

Jürgen Habermas lewat buku The Theory of Communicative Action: Reason and The Rationalization of Society (1984) mempertegas bahwa masjid berfungsi sebagai ruang publik religius. Dalam teori tindakan komunikatif ini, dalam perspektif Habermas, Ramadan mengonstruksi dialog sosial, khotbah, kajian Jumat Subuh, Pengajian Ahad Sore, diskusi ringan di emperan masjid, hingga percakapan ringan selepas tarawih saat ramah tamah, mampu memperkuat rasionalitas komunikatif berbasis nilai.

 

Di sini, Masjid Baitul Mujahid (bisa masjid-masjid yang lain), menjadi ruang deliberatif wadah/tempat nilai keislaman didialogkan dan dinegosiasikan dalam konteks kehidupan warga sekitar. Feels Like Home bermakna bahwa masjid tidak hanya tempat singgah, namun ruang aman untuk berbagi cerita, masalah, kenangan, memori, keresahan, harapan, dan doa.

 

Emile Durkheim melalui buku The Elementary Forms of Religious Life (1995) memiliki pandangan berbeda, karena ia menegaskan agama memiliki fungsi membangun solidaritas kolektif melalui pengalaman sakral bersama. Durkheim melalui perspektif sosiologi agama ini menegaskan bahwa “rumah” tak hanya bangunan fisik, melainkan ruang penuh makna.

 

Masjid: Rumah Sosial dan Edukasi

Dalam konteks ini, bulan suci Ramadan maupun masjid menjadi “rumah sosial”, maksudnya sebagai tempat pribadi dapat merasakan kembali collective effervescence, sebuah getaran kebersamaan yang lahir dari salat tarawih-witir berjemaah, hangout bersama di masjid, ngabuburit bersama, buka puasa bersama, tadarus bersama, dan sedekah kolektif lewat takjil berbuka dan usai tarawih. Masjid di sini menjadi pusat integrasi sosial, yaitu masjid tidak sekadar tempat salat, melainkan ruang perjumpaan makna. Di Masjid Baitul Mujahid, warga perumahan Graha Mandiri Residence dan warga di luar perumahan di sekitar Patemon yang mungkin jarang berinteraksi dalam rutinitas harian, mereka kembali merasa satu keluarga dalam atmosfer sakral Ramadan.

 

Melalui teori pedagogi kritisnya, Paulo Freire dalam buku Education for Critical Consciousness (1974) memiliki pendapat pendidikan wajib membebaskan manusia dari “kesadaran semu”. Dalam konteks ini Ramadan hakikatnya membebaskan manusia dari belenggu perbudakan nafsu dan materialisme. Puasa Ramadan mengembalikan orientasi hidup pada nilai transendental. Dalam konteks Perum GMR dan sekitarnya, kegiatan Ramadan di Masjid Baitul Mujahid menjadi ruang pendidikan emansipatoris, ia membangun kesadaran kolektif tentang kepedulian sosial, keadilan, dan solidaritas terhadap sesama tanpa pandang bulu.

 

Ramadan juga menjadi kurikulum kehidupan. Ya, ini dalam perspektif pendidikan John Dewey dalam karya monumental Experience and Education (1938) menegaskan pendidikan hakikatnya menjadi pengalaman yang membentuk pertumbuhan. Ramadan merupakan experiential learning par excellence, pendidikan melalui praktik langsung. Nah, di sini saya memaknai puasa mengedukasi tentang empati sosial, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual lewat pengalaman konkret lapar dan dahaga. Puasa bukan menjadi teori moral, namun bentuk riil latihan eksistensial. Setiap hari salam bulan suci Ramadan, kita berpuasa menjadi wahana untuk laboratorium karakter.

 

Bagi Masjid Baitul Mujahid, tema Feels Like Home tersebut menjadi panggilan strategis. Masjid harus menjadi home base spiritual Jemaah sekalian, ia terbuka bagi remaja, mahasiswa, penghuni kos, perantua, ramah anak, akrab bagi warga, memberi makan yang lapar, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa ada syarat yang njelimet. Kegiatan Ramadan di Masjid Baitul Mujahid tak sekadar ritus seremonial tiap tahun, namun menjadi rekayasa sosial yang membangun ekosistem keimanan dan ketakwaan. Minimal guyub rukun. Ketika jemaah merasa “di rumah” sendiri, maka hakikatnya mereka akan kembali bukan karena kewajiban, tetapi karena treno.

 

Akhir tulisan, saya menyebut bahwa Ramadan: Feels Like Home menjadi metafora sekaligus visi janga panjang. Tema ini mengajak tiap hati untuk kembali kepada Allah, kepada keluarga, kepada yang fitri, kepada komunitas, dan kepada jati diri paling otentik.

 

Sebab, Ramadan tak hanya bulan yang datang dan pergi begitu saja tiap tahun. Namun Ramadan adalah rumah yang selalu menunggu untuk disinggahi, dimakmurkan, disucikan, dan menyatukan semua warga. Di Masjid Baitul Mujahid, rumah itu dibangun bersama, dengan doa, cinta, kasih sayang, ilmu, dan kebersamaan tanpa pamrin apapun. Bukankah demikian?

-Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikat

an Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • A large white building sits in front of a foggy mountain.

    IRAN INSPIRASI DUNIA MUSLIM

    • calendar_month Sab, 21 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani* Hari-hari ini kita menyaksikan perang terbuka Iran-Israel. Iran melancarkan serangan ke Israel karena terlebih dahulu diserang oleh Israel yang menewaskan banyak angkatan perang dan merusak fasilitas militer. Perang ini diprediksi akan terus berlangsung dan akan semakin memanas jika Negara-negara adidaya, seperti Amerika, Rusia, dan China ikut terlibat. Dunia kagum kepada Iran […]

  • PCNU Pati Raih Penghargaan Ke-3 Penanggulangan HIV dan AIDS se-Jawa Tengah

    PCNU Pati Raih Penghargaan Ke-3 Penanggulangan HIV dan AIDS se-Jawa Tengah

    • calendar_month Kam, 25 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 161
    • 0Komentar

     Kabar NU. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  Pati meraih penghargaan ke tiga sebagai pengurus cabang yang aktif dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan PWNU Jawa Tengah. Penghargaan diberikan oleh perwakilan tim penanggulangan HIV dan AIDS (Sub Recipient/SR) PWNU Jawa Tengah, Tedi Kholiludin. H.Saalamun,  sekretaris SR  PCNU Pati yang hadir dan menerima penghargaan tersebut […]

  • LP Maarif NU Jateng Gelar Temu Penulis dan Sastrawan

    LP Maarif NU Jateng Gelar Temu Penulis dan Sastrawan

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. – Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, adakan temu penulis dan sastrawan terpilih, serta memberikan penghargaan kepada sejumlah media massa. Kegiatan bertema “Bahagia dalam berliterasi” itu digelar selama dua hari, yakni pada 9 dan 10 September 2023 di Hotel Muria, Kota Semarang. Panitia kegiatan, Hamidulloh Ibda, mengatakan, terdapat empat […]

  • Menghadiri Undangan

    Menghadiri Undangan

    • calendar_month Sen, 6 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikium warohmatullohi wabarokatuh, Pak kiai,karena kebiasaan setiap bakda isya’ sudah bersiap-siap untuk tidur,maka saya tidak pernah mendatangi undangan ba’da isya’ yang ada jamuan makan,yang ini bisa membuat begadang yang tidak perlu yang sangat saya hindari,karena menurut saya undangan bakda isya’ adalah undangan yang hukumnya makruh yang kita hukumnya sunnah tidak menghadirinya,karena kanjeng nabi sendiri tidak […]

  • PCNU - PATI Photo by StockSnap

    Pengantin di Rel Kereta

    • calendar_month Ming, 7 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Oleh: Elin Khanin Sore itu langit Pengapon tampak kelabu. Awan bergulung-gulung di atas sana. Menciptakan suasana kelam dan suram. Sesuram wajah gadis yang berjalan di atas kerikil tajam. Gadis itu tampak lesu, bibirnya pucat, matanya sembab dan sedikit bengkak. Menandakan ia banyak menangis. Mungkin seharian tanpa jeda, atau malah sudah lama ia menanggung kepedihan. Sendirian. […]

  • PCNU-PATI Photo by Gabor Kozmon

    Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Setiap tahun kaum muslim melakukan ibadah puasa wajib satu bulan penuh di bulan ramadhan. Bulan ramadhan memang bulan yang istimewa, bulan yang suasananya begitu berbeda. Kebersamaan dalam keluarga, kebersamaan dalam masyarakat begitu melekat. Misalnya, buka puasa bersama, tarawih bersama, dan sahur bersama. Dan, bulan puasa juga diawali dengan rame-rame hiruk-pikuk […]

expand_less