Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Puisi » Puisi-Puisi Melisa Yusrina

Puisi-Puisi Melisa Yusrina

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 14 Agu 2021
  • visibility 209
  • comment 0 komentar

 

Sepucuk Kata Untuk Rekanita

 

Keringatmu adalah semangat

Lelahmu adalah cambuk kehidupan

Langkahmu tanda perjuangan

Pengabdianmu tanda cinta

 

Semua itu hanya untuk satu tujuan

Untuk menyirnakan kegelepan

Untuk tetap melanjutkan perjuangan sang panutan

Mekar seribu bunga di taman

Mekar cinta pada ikatan

Sehat selalu rekanita tersayang

Tetaplah belajar, berjuang, dan bertaqwa tanpa bosan.

 

 

Namamu

 

Namamu akan selalu ku kenang

Dalam dekapan maupun pelukan

 

Namamu akan selalu ku kenang

Dalam syair doa atau pun sedang duduk saja

Dalam lamunan ketika senja

Dalam fajar menjemput mega

 

Ketika dirimu hadir atas nama rindu yang telah tertakdir

Segalanya berubah

Melihat langit ada wajahmu

Melihat bulan ada senyummu

Melihatmu, aku menemukan masa depanku

 

Lorong Rindu

 

Ku tuju jalan rindu di kalbu

Menyusuri lorong kenang demi kenang

Menjumpai percikan cerita di tiap jam dulu

Kala kita bisa bertemu

 

Kala waktu dan jarak tak lagi sebab ku mengadu

Mengadu pada Sang Pemilik Rindu

 

Hatiku yang kian membatu akan rindu

Ku curahkan pada angin malam

Ku curahkan pada Bintang bintang

Biar mereka membantu menyampaikan keinginan

Bahwa ku rindu senyuman

 

Ku inginkan sebuah pertemuan

Ku inginkan juga sebuah ikatan

Ku curahkan tentang kamu di sepertiga malam

Namamu,  dan harapan ku di penghujung doaku

 

 

Selembar Kertas

 

Suatu ketika hati berkata

Bertutur sedemikian indah

Bertutur sambil menengadah tangan terbuka

Jika Tuhan tak memberi nafas

Mungkin diri ini hanya selembar kapas

Terombang ambing terbawa angin

Jika Tuhan tak memberi iman

Mungkin diri ini seperti batu jalanan

Berjalan tanpa tujuan

Hidup tanpa dasar

Hanya mengandalkan hembusan angin membawa diri kesana kemari

Telah jauh rasa syukur dalam diri

Tak puas dengan segala yang dimiliki

Tak ingat di luar sana masih banyak nyawa yang tak makan berhari-hari,

 

 

Kemarilah

 

Kemarilah,

Dua kursi menunggu kita untuk bertukar cerita,

Dua kursi menunggu kita untuk rindu yang terpisah

Bahkan senja ikut menyambut dengan penuh suka ria,

Kemarilah,

 

*Melisa Yusrina,Pasucen 05/06 Trangkil, Pengurus Cabang IPPNU Pati, Masiswi IPMAFA Pati : fb: Melisa Yusrina ig: @melisa_ysrn

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sukses menyelenggarakan Kegiatan PESANTREN RAMADHAN GP Ansor Ranting Pagerharjo & PR IPNU IPPNU PAGERHARJO

    Sukses menyelenggarakan Kegiatan PESANTREN RAMADHAN GP Ansor Ranting Pagerharjo & PR IPNU IPPNU PAGERHARJO

    • calendar_month Ming, 9 Mei 2021
    • account_circle admin
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Sukses menyelenggarakan Kegiatan PESANTREN RAMADHAN GP Ansor Ranting Pagerharjo & PR IPNU IPPNU PAGERHARJO Sukses menyelenggarakan Kegiatan dibulan suci ramadhan yang bertajuk PESANTREN RAMADHAN atas kerjasama GP Ansor Ranting Pagerharjo & PR IPNU IPPNU PAGERHARJO, Kegiatan PESANTREN RAMADHAN yang dilaksanakan selama 3 hari yakni mulai hari (kamis s.d sabtu, 6-8 Mei 2021)  Tepatnya diOmah Dolanan […]

  • Adzan Dua Kali Menjelang Sholat Jum’at

    Adzan Dua Kali Menjelang Sholat Jum’at

    • calendar_month Sen, 28 Apr 2014
    • account_circle admin
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Adzan Dua Kali Menjelang Shalat Jum’at Pada awalnya untuk menandai datangnya shalat Jum’at dikumandangkan adzan satu kali, yaitu ketika khatib sedang duduk di mimbar. Praktek demikian berlangsung sejak jaman Rasulullah hingga Khalifah Umar bin Al Khatthab. Kemudian saat menjabat khalifah, Utsman bin Affan menambahkan satu adzan yaitu sesaat sebelum khatib naik mimbar. Hal itu dia […]

  • KH Ali Yafie: Sang Mujaddid Fiqh Klasik

    KH Ali Yafie: Sang Mujaddid Fiqh Klasik

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Jamal Makmur Asmani KH. Ali Yafie adalah sosok reformer fiqh klasik. Beliau mampu menjelaskan kandungan fiqh klasik secara sistematis, argumentatif, dan kontekstual. Hal ini bisa dibaca dari karya-karya beliau yang luar. Alhamdulillah penulis bisa memiliki beberapa karya beliau yang sangat bernas. Fiqh sosial, fiqh bi’ah (fiqh lingkungan), konsultasi fiqh mengupas problematika […]

  • Heboh, 12 Pimpinan Ranting Plus 2 Anak Rantong Fatayat NU Dilantik

    Heboh, 12 Pimpinan Ranting Plus 2 Anak Rantong Fatayat NU Dilantik

    • calendar_month Ming, 31 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Ketua PC Fatayat NU, Asmonah (pegang kertas) sedang melantik para Pengurus 12 Ranting dan 2 Pengurus Anak Ranting Fatayat NU yang ada di Kecamatan Trangkil  TRANGKIL – PAC Fatayat NU Trangkil baru melangsungkan pelantikan Pimpinan Ranting (PR). Tak hanya satu, namun 12 PR Fatayat NU dilantik dalam satu majelis pada Jumat (29/10) lalu. Jumlah tersebut […]

  • Khitan Gratis, Program LAZISNU Kec Pucakwangi

    Khitan Gratis, Program LAZISNU Kec Pucakwangi

    • calendar_month Sen, 28 Jun 2021
    • account_circle admin
    • visibility 215
    • 0Komentar

      Pati. Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, melalui NU Care meluncurkan program khitan gratis.   Program ini diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu.   Khitan gratis ini terealisasi berkat kerja sama Lazisnu Pucakwangi dengan Rumah Khitan As-Syifa Tegalwero, Pucakwangi.    Semenjak diluncurkan pada awal tahun ini, program tersebut […]

  • PCNU-PATI

    Habis Gelap Terbitlah Terang

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, sedangkan penerjemahannya (dari versi bahasa Belanda ke bahasa Melayu) pertama kali dilakukan pada 1922 oleh Bagindo Dahlan Abdullah, Zainudin Rasad, Sutan Muhammad Zain, dan Djamaloedin Rasad (mereka menyebut diri Empat Saudara).[1] Proses pengumpulan surat-surat yang pernah dikirimkan […]

expand_less