Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
  • visibility 356
  • comment 0 komentar
115770045_gettyimages-679794032-1384591

Hadist dari Sayyidah ‘Aisyah RA, Sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada Ummu Salamah: “Janganlah engkau sakiti aku tentang ‘Aisyah. Karena sesungguhnya wahyu itu tidak pernah datang kepadaku ketika aku berada dalam satu selimut bersama dengan salah seorang dari kalian selain Aisyah. (HR.Bukhori) Penjelasan dari hadist ini adalah bahwa seorang perempuan itu tidak menghalangi atau bahkan menjauhkan laki-laki dari ibadah kepada Allah. Bahkan yang dicontohkan dalam hadist tersebut Rasulullah pernah menerima wahyu dalam posisi berada dalam satu selimut dengan sayyidah ‘Aisyah. Jadi apabila ada yang mengatakan bahwa perempuan itu menjadi penghalang atau menjauhkan seseorang dari Allah itu sebetulnya adalah hal yang keliru. Tingkat spiritualitas seseorang itu berbeda-beda dan memang bukan karena faktor adanya keberadaan perempuan yang bisa menghalangi bahkan menjauhkan dari Allah, tetapi karena perbuatan dan akhlak masing-masing individunya sendiri.

Selanjutnya hadist dari sahabat Qasim bahwa Sayyidah Aisyah berkata: “Sejelek-jeleknya kalian adalah menyamakan kami (perempuan) dengan anjing dan keledai. Lalu beliau berkata: saya melihat sendiri Rasulullah sholat dan ketika itu saya ada didepannya dan sholatnya Rasul tidak batal. Dan ketika itu saya sedang tidur terlentang diantara Rasulullah sholat dan kiblatnya. Maka ketika Rasul ingin bersujud Rasul akan membuat isyarat agar kaki saya dilipat agar beliau bisa bersujud.”(HR.Bukhori) Pertanyaannya mengapa Sayyidah Aisyah tidur didepan Rasulullah? Mungkin saja padawaktu itu tidak seperti zaman sekarang yang setiap rumah ada ruangan-ruangannya sendiri. Barangkali ketika Sayyidah Aisyah sedang tidur, Rasul sedang sholat dalam ruangan yang sama. Pada waktu itu pun menganggap perempuan adalah sebagai penghalang kekhusyukan ibadah seseorang dan mengurangi nilai ibadah. Padahal sebenarnya tolak ukur khusyuk tidaknya ibadah seseorang bukan karena adanya keberadaan seorang perempuan didekatnya.

Hadist selanjutnya, dari Abi Qatada berkata: “Nabi keluar menemui kami. Ini ada umamah (anak dari Abu Al-Ash). Abu Al-Ash adalah menantu Nabi suami dari Sayyidah Zainab putri Nabi. Umamah digendong Nabi ketika Nabi sedang sholat. Ketika Nabi hendak rukuk, cucunya tadi (umamah) diletakkan di lantai. Ketika Nabi mau berdiri maka Nabi kembali menggendong umamah.” (HR.Bukhori) Dari hadist ini tergambarkan bahwa Nabi pernah sholat sambil menggendong cucunya. Nabi memberi teladan bahwa mendekati perempuan itu sama sekali tidak batal. Hadist ini adalah bentuk klarifikasi terhadap informasi yang tidak benar. Oleh sebab itu, Rasul memberikan teladan yang luar biasa bahwa seorang perempuan bahkan bayi perempuan pun tidak membatalkan atau bahkan menurunkan kualitas ibadah seseorang. Rasul itu sangat halus, tidak pernah menampilkan islam dalam wujud yang sangar, kaku, atau tidak akomodatif. Ini yang perlu kita contoh.

Masuk pada hadist selanjutnya dari Anas bin Malik berkata: “Datang tiga orang laki-laki ke rumah istri-istri Rasulullah untuk bertanya. Mereka bertanya tentang ibadah Rasulullah. Ketika diceritakan apa yang dilakukan oleh Nabi, maka mereka merasa sedikit sekali apa yang mereka lakukan. Lalu mereka berkata: Lalu bagaimana dengan kami yang sangat jauh sekali dengan Nabi? Padahal Nabi sudah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu maupun dosa-dosa yang akan datang. Lalu satu diantara ketiga berjanji, saya akan sholat malam terus menerus sepanjang malam. Dan yang satunya berkata, saya akan berpuasa terus menerus tanpa satu hari bolong. Dan satunya berkata, saya tidak akan menikahi perempuan juga tidak akan mendekati perempuan. Maka Rasulullah datang dan berkata, apa yang engkau katakan demikian, demi Allah padahal aku yang paling takut kepada Allah tapi saya itu ya kadang puasa kadang tidak, dan juga saya sholat dan tidur, dan saya menikahi seorang perempuan. Barangsiapa tidak suka dengan sunahku maka bukan termasuk didalam golonganku.” (HR.Bukhori) Jadi hadist ini menunjukkan beberapa hal, yang pertama dalam ibadah, kita itu tidak perlu melakukan dengan sangat ekstrim (sholat terus menerus, puasa terus menerus tanpa bolong, tidak mau menikahi perempuan bahkan menjauhi perempuan).

Maka Rasul mengoreksi hal tersebut. Rasul mencontohkan dirinya sendiri bahwa Rasul ya sholat ya tidur juga, tidak puasa terus menerus, juga menikahi perempuan. Jadi yang namanya hidup, kita beragama dalam beribadah kepada Allah tidak perlu ekstrim. Kita juga perlu berinteraksi dengan orang lain, tidak melulu menjalankan ritual ibadah saja. Kedua, yaitu melengkapi hadist-hadist sebelumnya yang menganggap bahwa perempuan adalah penghalang ibadah seseorang. Disini dicontohkan oleh Rasul, bahwa beliau juga menikahi perempuan, menyayangi putri dan cucu perempuan beliau. Tidak benar bahwa perempuan itu menjauhkan seseorang dari agama atau bisa mengurangi nilai ibadahnya seseorang.

Hadist selanjutnya dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dibuat cinta kepadaku, seorang Perempuan, parfum /wangi-wangian, dan dijadikan pemandangan yang indah didepan mataku didalam sholat.”(HR. Annasa’i) Ternyata dalam hadist ini mempertegas lagi bahwa Rasul mensejajarkan perempuan dengan hal lainnya yang mulia salah satunya adalah sholat. Rasul sangat mencintai perempuan (para istri dan keluarga beliau). Rasul juga suka parfum/wangi-wangian dan Rasul juga suka sholat. Sholat adalah media komunikasi atau berhubungan intens dengan Allah, itulah sebabnya Rasul sangat mencintai sholat. Hadist ini sesungguhnya memberi tahu kita bahwa perempuan itu tidak seharusnya dilecehkan, direndahkan, disamakan dg hal-hal yang tidak baik. Perempuan itu seyogyanya tidak dipandang rendah sebagaimana manusia lain (laki-laki).

Dalam konteks saat ini barangkali sudah tidak ada yg menganggap rendah perempuan secara langsung, akan tetapi bahwa didalam masyarakat kita masih sering merendahkan perempuan dengan perkataan maupun perbuatan dengan tidak disadari. Misal, menganggap perempuan tidak mempunyai kemampuan sama halnya dengan laki-laki. Satu contoh, ketika perempuan mendaftarkan diri menjadi seorang pemimpin. Sebelum kontestasi pasti ada saja yang mengatakan, “ahh perempuan, mana bisa dia memimpin“.

Contoh kedua, membatasi kesempatan perempuan untuk mendapatkan Pendidikan yang lebih tinggi karena menganggap bahwa setelah menikah seorang perempuan paling akan jadi ibu rumah tangga saja,oleh sebab itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Hal seperti ini sehingga mempersempit kesempatan pada seorang perempuan yang sebetulnya punya potensi yang sama dengan laki-laki. Ini sesungguhnya adalah hal yang bisa merendahkan perempuan. Justru kadang yang membuat seorang perempuan terasa tidak dihargai keberadaannya bukan hanya dari lawan jenisnya tapi dari sesama perempuan sendiri yang saling merendahkan dan mencela. Maka jadilah manusia yang selayaknya manusia lainnya dengan mengikuti apa yang diajarkan didalam Islam tentang aspek keadilan dan kesetaraan yang sangat ditonjolkan dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah. (Inayatun Najikhah)

 

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Photo by Clay Banks

    Menikah; Dibatasi Musim

    • calendar_month Jum, 3 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Bulan Syawal sebentar lagi usai. Euforia lebaran kemarin berganti dengan kegembiraan dua sejoli maupun dua keluarga dalam acara pernikahan. Bulan Syawal diyakini masyarakat Jawa sebagai bulan baik untuk menunaikan sebuah hajat. Salah satunya pernikahan. Menikah di bulan Syawal diyakini akan mendatangkan keberkahan dan senantiasa dilimpahi kebahagiaan. Maka tak heran terhitung mulai […]

  • Kaji Filantropi Kreatif Islam, BRIN Gelar FGD Filantropi NU

    Kaji Filantropi Kreatif Islam, BRIN Gelar FGD Filantropi NU

    • calendar_month Sel, 26 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 207
    • 0Komentar

      Jakarta – Melalui platform Zoom Meeting, Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan FDG atau Sharing Session bertajuk “Filantropi Nahdlatul Ulama” pada Selasa (26/3/2024) yang dihadiri puluhan periset, dosen/akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sebagai informasi, kegiatan tersebut merupakan rangkaian riset […]

  • RMI NU Pati Berangkatkan 95 Santri ke Pesantren Lirboyo 

    RMI NU Pati Berangkatkan 95 Santri ke Pesantren Lirboyo 

    • calendar_month Rab, 16 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 254
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Sebanyak 95 santri Lirboyo yang berasal dari Kabupaten Pati kembali ke pondok pesantren, Selasa (15/4/2025) pagi. Puluhan santri itu diberangkatkan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Pati. Para santri ini diberangkatkan menggunakan dua armada bus, dengan dukungan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Pati dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Pati. Ketua […]

  • PCNU-PATI Photo by vihaels

    Pohon

    • calendar_month Rab, 21 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Air, tanah, angin dan pohon adalah satu dari kesatuan. Mereka komponen saling mengisi satu dengan lainnya. Jika salah satunya ada yang lebih dominan atau pun ada ketimpangan, maka kondisi alam menjadi tak stabil. Saat angin puting beliung hadir, menunjukkan keeksistensinnya; maka pohon menjadi pemecah angin tersebut agar tak bergerombol. Dengan […]

  • PCNU PATI - Gandeng Lazisnu, Karang Taruna Desa Lahar Santuni Puluhan Anak Yatim

    Gandeng Lazisnu, Karang Taruna Desa Lahar Santuni Puluhan Anak Yatim

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 245
    • 0Komentar

    TLOGOWUNGU  – Ramadan memang menjadi momen untuk berlomba-lomba dalam menebar kebaikan. Salah satunya, Karang Taruna Mandala Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Pati yang ikut ambil bagian. Para anggota Karang Taruna Lahar ini membagikan ratusan takjil kepada masyarakat yang melintasi jalan depan balai desa setempat. Selain itu, mereka juga memberikan santunan kepada puluhan anak yatim piatu.  Ketua Karang Taruna Desa […]

  • PCNU-PATI

    Peringati Hari Santri Nasional, Ribuan Santri di Kayen Gelar Apel dan Kirab

    • calendar_month Sab, 22 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id  – Peringatan Hari Santri Nasional 2022 yang digelar oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati berlangsung meriah. Kegiatan itu diisi dengan acara kirab.   Ketua panitia kegiatan, Rasmo mengatakan, peringatan Hari Santri tahun ini memang sengaja diperingati dengan meriah. Hal itu bertujuan untuk mengenalkan HSN kepada seluruh lapisan masyarakat.  Sebelum […]

expand_less