Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
  • visibility 218
  • comment 0 komentar
115770045_gettyimages-679794032-1384591

Hadist dari Sayyidah ‘Aisyah RA, Sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada Ummu Salamah: “Janganlah engkau sakiti aku tentang ‘Aisyah. Karena sesungguhnya wahyu itu tidak pernah datang kepadaku ketika aku berada dalam satu selimut bersama dengan salah seorang dari kalian selain Aisyah. (HR.Bukhori) Penjelasan dari hadist ini adalah bahwa seorang perempuan itu tidak menghalangi atau bahkan menjauhkan laki-laki dari ibadah kepada Allah. Bahkan yang dicontohkan dalam hadist tersebut Rasulullah pernah menerima wahyu dalam posisi berada dalam satu selimut dengan sayyidah ‘Aisyah. Jadi apabila ada yang mengatakan bahwa perempuan itu menjadi penghalang atau menjauhkan seseorang dari Allah itu sebetulnya adalah hal yang keliru. Tingkat spiritualitas seseorang itu berbeda-beda dan memang bukan karena faktor adanya keberadaan perempuan yang bisa menghalangi bahkan menjauhkan dari Allah, tetapi karena perbuatan dan akhlak masing-masing individunya sendiri.

Selanjutnya hadist dari sahabat Qasim bahwa Sayyidah Aisyah berkata: “Sejelek-jeleknya kalian adalah menyamakan kami (perempuan) dengan anjing dan keledai. Lalu beliau berkata: saya melihat sendiri Rasulullah sholat dan ketika itu saya ada didepannya dan sholatnya Rasul tidak batal. Dan ketika itu saya sedang tidur terlentang diantara Rasulullah sholat dan kiblatnya. Maka ketika Rasul ingin bersujud Rasul akan membuat isyarat agar kaki saya dilipat agar beliau bisa bersujud.”(HR.Bukhori) Pertanyaannya mengapa Sayyidah Aisyah tidur didepan Rasulullah? Mungkin saja padawaktu itu tidak seperti zaman sekarang yang setiap rumah ada ruangan-ruangannya sendiri. Barangkali ketika Sayyidah Aisyah sedang tidur, Rasul sedang sholat dalam ruangan yang sama. Pada waktu itu pun menganggap perempuan adalah sebagai penghalang kekhusyukan ibadah seseorang dan mengurangi nilai ibadah. Padahal sebenarnya tolak ukur khusyuk tidaknya ibadah seseorang bukan karena adanya keberadaan seorang perempuan didekatnya.

Hadist selanjutnya, dari Abi Qatada berkata: “Nabi keluar menemui kami. Ini ada umamah (anak dari Abu Al-Ash). Abu Al-Ash adalah menantu Nabi suami dari Sayyidah Zainab putri Nabi. Umamah digendong Nabi ketika Nabi sedang sholat. Ketika Nabi hendak rukuk, cucunya tadi (umamah) diletakkan di lantai. Ketika Nabi mau berdiri maka Nabi kembali menggendong umamah.” (HR.Bukhori) Dari hadist ini tergambarkan bahwa Nabi pernah sholat sambil menggendong cucunya. Nabi memberi teladan bahwa mendekati perempuan itu sama sekali tidak batal. Hadist ini adalah bentuk klarifikasi terhadap informasi yang tidak benar. Oleh sebab itu, Rasul memberikan teladan yang luar biasa bahwa seorang perempuan bahkan bayi perempuan pun tidak membatalkan atau bahkan menurunkan kualitas ibadah seseorang. Rasul itu sangat halus, tidak pernah menampilkan islam dalam wujud yang sangar, kaku, atau tidak akomodatif. Ini yang perlu kita contoh.

Masuk pada hadist selanjutnya dari Anas bin Malik berkata: “Datang tiga orang laki-laki ke rumah istri-istri Rasulullah untuk bertanya. Mereka bertanya tentang ibadah Rasulullah. Ketika diceritakan apa yang dilakukan oleh Nabi, maka mereka merasa sedikit sekali apa yang mereka lakukan. Lalu mereka berkata: Lalu bagaimana dengan kami yang sangat jauh sekali dengan Nabi? Padahal Nabi sudah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu maupun dosa-dosa yang akan datang. Lalu satu diantara ketiga berjanji, saya akan sholat malam terus menerus sepanjang malam. Dan yang satunya berkata, saya akan berpuasa terus menerus tanpa satu hari bolong. Dan satunya berkata, saya tidak akan menikahi perempuan juga tidak akan mendekati perempuan. Maka Rasulullah datang dan berkata, apa yang engkau katakan demikian, demi Allah padahal aku yang paling takut kepada Allah tapi saya itu ya kadang puasa kadang tidak, dan juga saya sholat dan tidur, dan saya menikahi seorang perempuan. Barangsiapa tidak suka dengan sunahku maka bukan termasuk didalam golonganku.” (HR.Bukhori) Jadi hadist ini menunjukkan beberapa hal, yang pertama dalam ibadah, kita itu tidak perlu melakukan dengan sangat ekstrim (sholat terus menerus, puasa terus menerus tanpa bolong, tidak mau menikahi perempuan bahkan menjauhi perempuan).

Maka Rasul mengoreksi hal tersebut. Rasul mencontohkan dirinya sendiri bahwa Rasul ya sholat ya tidur juga, tidak puasa terus menerus, juga menikahi perempuan. Jadi yang namanya hidup, kita beragama dalam beribadah kepada Allah tidak perlu ekstrim. Kita juga perlu berinteraksi dengan orang lain, tidak melulu menjalankan ritual ibadah saja. Kedua, yaitu melengkapi hadist-hadist sebelumnya yang menganggap bahwa perempuan adalah penghalang ibadah seseorang. Disini dicontohkan oleh Rasul, bahwa beliau juga menikahi perempuan, menyayangi putri dan cucu perempuan beliau. Tidak benar bahwa perempuan itu menjauhkan seseorang dari agama atau bisa mengurangi nilai ibadahnya seseorang.

Hadist selanjutnya dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dibuat cinta kepadaku, seorang Perempuan, parfum /wangi-wangian, dan dijadikan pemandangan yang indah didepan mataku didalam sholat.”(HR. Annasa’i) Ternyata dalam hadist ini mempertegas lagi bahwa Rasul mensejajarkan perempuan dengan hal lainnya yang mulia salah satunya adalah sholat. Rasul sangat mencintai perempuan (para istri dan keluarga beliau). Rasul juga suka parfum/wangi-wangian dan Rasul juga suka sholat. Sholat adalah media komunikasi atau berhubungan intens dengan Allah, itulah sebabnya Rasul sangat mencintai sholat. Hadist ini sesungguhnya memberi tahu kita bahwa perempuan itu tidak seharusnya dilecehkan, direndahkan, disamakan dg hal-hal yang tidak baik. Perempuan itu seyogyanya tidak dipandang rendah sebagaimana manusia lain (laki-laki).

Dalam konteks saat ini barangkali sudah tidak ada yg menganggap rendah perempuan secara langsung, akan tetapi bahwa didalam masyarakat kita masih sering merendahkan perempuan dengan perkataan maupun perbuatan dengan tidak disadari. Misal, menganggap perempuan tidak mempunyai kemampuan sama halnya dengan laki-laki. Satu contoh, ketika perempuan mendaftarkan diri menjadi seorang pemimpin. Sebelum kontestasi pasti ada saja yang mengatakan, “ahh perempuan, mana bisa dia memimpin“.

Contoh kedua, membatasi kesempatan perempuan untuk mendapatkan Pendidikan yang lebih tinggi karena menganggap bahwa setelah menikah seorang perempuan paling akan jadi ibu rumah tangga saja,oleh sebab itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Hal seperti ini sehingga mempersempit kesempatan pada seorang perempuan yang sebetulnya punya potensi yang sama dengan laki-laki. Ini sesungguhnya adalah hal yang bisa merendahkan perempuan. Justru kadang yang membuat seorang perempuan terasa tidak dihargai keberadaannya bukan hanya dari lawan jenisnya tapi dari sesama perempuan sendiri yang saling merendahkan dan mencela. Maka jadilah manusia yang selayaknya manusia lainnya dengan mengikuti apa yang diajarkan didalam Islam tentang aspek keadilan dan kesetaraan yang sangat ditonjolkan dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah. (Inayatun Najikhah)

 

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mobil Layanan Ummat PCNU Resmi Dilaunching

    Mobil Layanan Ummat PCNU Resmi Dilaunching

    • calendar_month Sab, 23 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Launching mobil layanan ummat PCNU Pati PATI – Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pati telah meluncurkan satu Ambulans dan tujuh Mobil Layanan Umat. Peresmian sejumlah mobil tersebut dilaksanakan di halaman kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Jumat (22/10) siang.  Launching kendaraan yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional itu dihadiri oleh Sekda Jumani, Kapolres Pati AKBP Christian […]

  • KH. Abdul Ghoffar Rozin

    KH. Abdul Ghoffar Rozin

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Jamal Makmur KH. Abdul Ghoffar Rozin yang akrab disapa Gus Rozin adalah buah hati dari KH. MA. Sahal Mahfudh dan Ibu Nyai Hj. Dra. Nafisah Sahal. Sejak kecil ia ditempa dalam keluarga yang mencintai ilmu dan perjuangan. KH MA Sahal Mahfudh adalah tokoh puncak di dua organisasi besar, yaitu NU dan MUI. […]

  • Untaian Hikmah Dari Rasullah

    Untaian Hikmah Dari Rasullah

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang di utus membawa petunjuk  dan agama yang haq, untuk menunjukkan ke unggulan agama itu di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik banyak yang tidak suka dengan Rasullah.             Buku ini menjelaskan tentang perumpamaan menawan dari Rasullah dalam hadis-hadis sahih. Melalui buku ini Nabi Muhammad membuat banyak perumpamaan bagi […]

  • PCNU-PATI

    PT Sukun Santuni Ribuan Anak Yatim, Ketua PCNU Pati Berikan Apresiasi

    • calendar_month Rab, 5 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 186
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Sebanyak 1.000 anak yatim di Kabupaten Pati mendapat santunan dari PT Sukun, Selasa (4/4/2023) sore. Mereka diundang untuk menerima santunan di Gedung Haji Pati.  Diketahui, Santunan 10 Ribu Anak Yatim PT Sukun diadakan di 10 kota/Kabupaten di Jawa Tengah. Seribu anak yatim di setiap kabupaten menerima santunan.  Pati merupakan Kabupaten kedelapan. Setelahnya, santunan bakal […]

  • Meriah, Porsema Hadirkan Ekspo di Alun-Alun Wonosobo

    Meriah, Porsema Hadirkan Ekspo di Alun-Alun Wonosobo

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Wonosobo – Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII PWNU Jawa Tengah tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, seni, pertunjukan Seni Warok Lengger dan Tari Topeng, Porsema Bersholawat, tetapi juga diramaikan dengan ekspo dan bazar yang berpusat di Alun-Alun Wonosobo. Tahun ini, Porsema XIII diikuti oleh 5.577 peserta, 1.794 official, serta lebih dari 4.000 partisipan dari […]

  • Fatayat NU Kayen Kaji Kesetaraan Gender

    Fatayat NU Kayen Kaji Kesetaraan Gender

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 166
    • 0Komentar

    KAYEN-PAC Fatayat NU Kecamatan Kayen menggelar kajian yang tak biasa. Rabu (28/8) pukul 13.00 WIB para Pengurus Ranting Fatayat NU ke Kecamatan Kayen memadati rumah Laili Sulanjari di Desa Sumbersari. Penyampaian materi tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender di depan puluhan Pengurus Ranting Fatayat NU se-Kecamatan Kayen Kehadiran para pemudi NU ini dalam rangka mengikuti perkumpulan […]

expand_less