Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
  • visibility 144
  • comment 0 komentar
115770045_gettyimages-679794032-1384591

Hadist dari Sayyidah ‘Aisyah RA, Sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada Ummu Salamah: “Janganlah engkau sakiti aku tentang ‘Aisyah. Karena sesungguhnya wahyu itu tidak pernah datang kepadaku ketika aku berada dalam satu selimut bersama dengan salah seorang dari kalian selain Aisyah. (HR.Bukhori) Penjelasan dari hadist ini adalah bahwa seorang perempuan itu tidak menghalangi atau bahkan menjauhkan laki-laki dari ibadah kepada Allah. Bahkan yang dicontohkan dalam hadist tersebut Rasulullah pernah menerima wahyu dalam posisi berada dalam satu selimut dengan sayyidah ‘Aisyah. Jadi apabila ada yang mengatakan bahwa perempuan itu menjadi penghalang atau menjauhkan seseorang dari Allah itu sebetulnya adalah hal yang keliru. Tingkat spiritualitas seseorang itu berbeda-beda dan memang bukan karena faktor adanya keberadaan perempuan yang bisa menghalangi bahkan menjauhkan dari Allah, tetapi karena perbuatan dan akhlak masing-masing individunya sendiri.

Selanjutnya hadist dari sahabat Qasim bahwa Sayyidah Aisyah berkata: “Sejelek-jeleknya kalian adalah menyamakan kami (perempuan) dengan anjing dan keledai. Lalu beliau berkata: saya melihat sendiri Rasulullah sholat dan ketika itu saya ada didepannya dan sholatnya Rasul tidak batal. Dan ketika itu saya sedang tidur terlentang diantara Rasulullah sholat dan kiblatnya. Maka ketika Rasul ingin bersujud Rasul akan membuat isyarat agar kaki saya dilipat agar beliau bisa bersujud.”(HR.Bukhori) Pertanyaannya mengapa Sayyidah Aisyah tidur didepan Rasulullah? Mungkin saja padawaktu itu tidak seperti zaman sekarang yang setiap rumah ada ruangan-ruangannya sendiri. Barangkali ketika Sayyidah Aisyah sedang tidur, Rasul sedang sholat dalam ruangan yang sama. Pada waktu itu pun menganggap perempuan adalah sebagai penghalang kekhusyukan ibadah seseorang dan mengurangi nilai ibadah. Padahal sebenarnya tolak ukur khusyuk tidaknya ibadah seseorang bukan karena adanya keberadaan seorang perempuan didekatnya.

Hadist selanjutnya, dari Abi Qatada berkata: “Nabi keluar menemui kami. Ini ada umamah (anak dari Abu Al-Ash). Abu Al-Ash adalah menantu Nabi suami dari Sayyidah Zainab putri Nabi. Umamah digendong Nabi ketika Nabi sedang sholat. Ketika Nabi hendak rukuk, cucunya tadi (umamah) diletakkan di lantai. Ketika Nabi mau berdiri maka Nabi kembali menggendong umamah.” (HR.Bukhori) Dari hadist ini tergambarkan bahwa Nabi pernah sholat sambil menggendong cucunya. Nabi memberi teladan bahwa mendekati perempuan itu sama sekali tidak batal. Hadist ini adalah bentuk klarifikasi terhadap informasi yang tidak benar. Oleh sebab itu, Rasul memberikan teladan yang luar biasa bahwa seorang perempuan bahkan bayi perempuan pun tidak membatalkan atau bahkan menurunkan kualitas ibadah seseorang. Rasul itu sangat halus, tidak pernah menampilkan islam dalam wujud yang sangar, kaku, atau tidak akomodatif. Ini yang perlu kita contoh.

Masuk pada hadist selanjutnya dari Anas bin Malik berkata: “Datang tiga orang laki-laki ke rumah istri-istri Rasulullah untuk bertanya. Mereka bertanya tentang ibadah Rasulullah. Ketika diceritakan apa yang dilakukan oleh Nabi, maka mereka merasa sedikit sekali apa yang mereka lakukan. Lalu mereka berkata: Lalu bagaimana dengan kami yang sangat jauh sekali dengan Nabi? Padahal Nabi sudah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu maupun dosa-dosa yang akan datang. Lalu satu diantara ketiga berjanji, saya akan sholat malam terus menerus sepanjang malam. Dan yang satunya berkata, saya akan berpuasa terus menerus tanpa satu hari bolong. Dan satunya berkata, saya tidak akan menikahi perempuan juga tidak akan mendekati perempuan. Maka Rasulullah datang dan berkata, apa yang engkau katakan demikian, demi Allah padahal aku yang paling takut kepada Allah tapi saya itu ya kadang puasa kadang tidak, dan juga saya sholat dan tidur, dan saya menikahi seorang perempuan. Barangsiapa tidak suka dengan sunahku maka bukan termasuk didalam golonganku.” (HR.Bukhori) Jadi hadist ini menunjukkan beberapa hal, yang pertama dalam ibadah, kita itu tidak perlu melakukan dengan sangat ekstrim (sholat terus menerus, puasa terus menerus tanpa bolong, tidak mau menikahi perempuan bahkan menjauhi perempuan).

Maka Rasul mengoreksi hal tersebut. Rasul mencontohkan dirinya sendiri bahwa Rasul ya sholat ya tidur juga, tidak puasa terus menerus, juga menikahi perempuan. Jadi yang namanya hidup, kita beragama dalam beribadah kepada Allah tidak perlu ekstrim. Kita juga perlu berinteraksi dengan orang lain, tidak melulu menjalankan ritual ibadah saja. Kedua, yaitu melengkapi hadist-hadist sebelumnya yang menganggap bahwa perempuan adalah penghalang ibadah seseorang. Disini dicontohkan oleh Rasul, bahwa beliau juga menikahi perempuan, menyayangi putri dan cucu perempuan beliau. Tidak benar bahwa perempuan itu menjauhkan seseorang dari agama atau bisa mengurangi nilai ibadahnya seseorang.

Hadist selanjutnya dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dibuat cinta kepadaku, seorang Perempuan, parfum /wangi-wangian, dan dijadikan pemandangan yang indah didepan mataku didalam sholat.”(HR. Annasa’i) Ternyata dalam hadist ini mempertegas lagi bahwa Rasul mensejajarkan perempuan dengan hal lainnya yang mulia salah satunya adalah sholat. Rasul sangat mencintai perempuan (para istri dan keluarga beliau). Rasul juga suka parfum/wangi-wangian dan Rasul juga suka sholat. Sholat adalah media komunikasi atau berhubungan intens dengan Allah, itulah sebabnya Rasul sangat mencintai sholat. Hadist ini sesungguhnya memberi tahu kita bahwa perempuan itu tidak seharusnya dilecehkan, direndahkan, disamakan dg hal-hal yang tidak baik. Perempuan itu seyogyanya tidak dipandang rendah sebagaimana manusia lain (laki-laki).

Dalam konteks saat ini barangkali sudah tidak ada yg menganggap rendah perempuan secara langsung, akan tetapi bahwa didalam masyarakat kita masih sering merendahkan perempuan dengan perkataan maupun perbuatan dengan tidak disadari. Misal, menganggap perempuan tidak mempunyai kemampuan sama halnya dengan laki-laki. Satu contoh, ketika perempuan mendaftarkan diri menjadi seorang pemimpin. Sebelum kontestasi pasti ada saja yang mengatakan, “ahh perempuan, mana bisa dia memimpin“.

Contoh kedua, membatasi kesempatan perempuan untuk mendapatkan Pendidikan yang lebih tinggi karena menganggap bahwa setelah menikah seorang perempuan paling akan jadi ibu rumah tangga saja,oleh sebab itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Hal seperti ini sehingga mempersempit kesempatan pada seorang perempuan yang sebetulnya punya potensi yang sama dengan laki-laki. Ini sesungguhnya adalah hal yang bisa merendahkan perempuan. Justru kadang yang membuat seorang perempuan terasa tidak dihargai keberadaannya bukan hanya dari lawan jenisnya tapi dari sesama perempuan sendiri yang saling merendahkan dan mencela. Maka jadilah manusia yang selayaknya manusia lainnya dengan mengikuti apa yang diajarkan didalam Islam tentang aspek keadilan dan kesetaraan yang sangat ditonjolkan dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah. (Inayatun Najikhah)

 

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Baru Fatayat Sukolilo : Kami Segera Susun Proker

    Ketua Baru Fatayat Sukolilo : Kami Segera Susun Proker

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 114
    • 0Komentar

    SUKOLILO-Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Sukolilo baru saja memiliki hajat besar. Pergeseran kursi kepemimpinan pemudi NU kecamatan paling ujung selatan di Kabupaten Pati ini baru saja usai. Tepat sehari sebelum hari sumpah pemuda, PAC Fatayat NU Sukolilo ganti kepemimpinan.  Minggu (27/10) pagi, konferensi PAC Muslimat NU Sukolilo menggelar konferensi di Gedung Haji Sukolilo. […]

  • Serba Serbi Cinta

    Serba Serbi Cinta

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2017
    • account_circle admin
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Setiap orang mempunyai definisi tersendiri tentang urusan cinta; sebab manusia dilahirkan pun karena cinta, selama kehidupan manusia pasti pernah mengalami apa itu cinta. Sah-sah saja, cinta memiliki seribu definisi dan setiap orang punya sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikannya.             Karena kesucian cinta adalah segalanya dalam menjalin sebuah hubungan antara pereempuan dan laki-laki. Dan yang […]

  • Ketua PC-NU Dapat Kunjungan dari IPNU-IPPNU

    Ketua PC-NU Dapat Kunjungan dari IPNU-IPPNU

    • calendar_month Kam, 1 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 116
    • 0Komentar

    WINONG-Rombongan Pengurus Cabang IPNU/IPPNU terus melakukan sambung silaturrohim. Bukan hanya alumni yang menjadi sasaran, namun juga segenap Pengurus Cabang, Lembaga dan Banom-Banom NU Lainnya. “Kami sengaja datangi rumah-rumah beliau, bukan di kantor. Itu kami lakukan untuk membangun suasana kekeluargaan” tandas Salman, Ketua PC IPNU Pati. Suasana sambung silaturrohim IPNU/IPPNU di rumah Ketua PC-NU Pati Selain […]

  • PCNU Kabupaten Pati Gelar Halalbihalal

    PCNU Kabupaten Pati Gelar Halalbihalal

    • calendar_month Sen, 8 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati mengadakan Halalbihalal, Ahad (7/5/2023) siang. Kegiatan itu bertempat di aula kantor PCNU setempat.  Turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya adalah jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Pati, Mustasyar PCNU Pati, Ketua MUI Kabupaten Pati, Rais Syuriah PCNU Pati, perwakilan Lembaga dan Badan Otonom (Banom), hingga seluruh jajaran […]

  • Sugianto, Banser yang Mengocak Perut Rombongan PCNU Pati

    Sugianto, Banser yang Mengocak Perut Rombongan PCNU Pati

    • calendar_month Sab, 30 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 130
    • 0Komentar

    DEMAK – Istighotsah PWNU dalam menyambut 1 abad Nahdlatul Ulama yang dilangsungkan di Masjid Agung Demak, menyisakan cerita yang cukup menggelikan bagi undangan dari PCNU Pati. Setibanya di lokasi, pada Hari Sabtu (30/7), pukul 03.30 WIB, rombongan dari Pati tersebut diminta lurus ke barat menuju gedung PCNU Demak. “Kita diminta menyelesaikan administrasi sekalian ambil konsumsi,” […]

  • Pelajar NU untuk Bangsa

    Pelajar NU untuk Bangsa

    • calendar_month Jum, 10 Feb 2017
    • account_circle admin
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Cabang IPNU dan IPPNU mengadakan Pendidikan dan Latihan sebagai salah satu faktor penting dalam kehidupan dan jalannya roda regenerasi dalam sebuah Organisasi. Yang mana dalam DIKLAT tersebut terjadinya proses regenerasi dan transfer ilmu pengetahuan serta doktrin awal tentang organisasi. Tidak terkecuali Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) yang merupakan […]

expand_less