Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

Perempuan Tak Jadi Sebab Jauh dari Agama

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
  • visibility 626
  • comment 0 komentar
115770045_gettyimages-679794032-1384591

Hadist dari Sayyidah ‘Aisyah RA, Sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada Ummu Salamah: “Janganlah engkau sakiti aku tentang ‘Aisyah. Karena sesungguhnya wahyu itu tidak pernah datang kepadaku ketika aku berada dalam satu selimut bersama dengan salah seorang dari kalian selain Aisyah. (HR.Bukhori) Penjelasan dari hadist ini adalah bahwa seorang perempuan itu tidak menghalangi atau bahkan menjauhkan laki-laki dari ibadah kepada Allah. Bahkan yang dicontohkan dalam hadist tersebut Rasulullah pernah menerima wahyu dalam posisi berada dalam satu selimut dengan sayyidah ‘Aisyah. Jadi apabila ada yang mengatakan bahwa perempuan itu menjadi penghalang atau menjauhkan seseorang dari Allah itu sebetulnya adalah hal yang keliru. Tingkat spiritualitas seseorang itu berbeda-beda dan memang bukan karena faktor adanya keberadaan perempuan yang bisa menghalangi bahkan menjauhkan dari Allah, tetapi karena perbuatan dan akhlak masing-masing individunya sendiri.

Selanjutnya hadist dari sahabat Qasim bahwa Sayyidah Aisyah berkata: “Sejelek-jeleknya kalian adalah menyamakan kami (perempuan) dengan anjing dan keledai. Lalu beliau berkata: saya melihat sendiri Rasulullah sholat dan ketika itu saya ada didepannya dan sholatnya Rasul tidak batal. Dan ketika itu saya sedang tidur terlentang diantara Rasulullah sholat dan kiblatnya. Maka ketika Rasul ingin bersujud Rasul akan membuat isyarat agar kaki saya dilipat agar beliau bisa bersujud.”(HR.Bukhori) Pertanyaannya mengapa Sayyidah Aisyah tidur didepan Rasulullah? Mungkin saja padawaktu itu tidak seperti zaman sekarang yang setiap rumah ada ruangan-ruangannya sendiri. Barangkali ketika Sayyidah Aisyah sedang tidur, Rasul sedang sholat dalam ruangan yang sama. Pada waktu itu pun menganggap perempuan adalah sebagai penghalang kekhusyukan ibadah seseorang dan mengurangi nilai ibadah. Padahal sebenarnya tolak ukur khusyuk tidaknya ibadah seseorang bukan karena adanya keberadaan seorang perempuan didekatnya.

Hadist selanjutnya, dari Abi Qatada berkata: “Nabi keluar menemui kami. Ini ada umamah (anak dari Abu Al-Ash). Abu Al-Ash adalah menantu Nabi suami dari Sayyidah Zainab putri Nabi. Umamah digendong Nabi ketika Nabi sedang sholat. Ketika Nabi hendak rukuk, cucunya tadi (umamah) diletakkan di lantai. Ketika Nabi mau berdiri maka Nabi kembali menggendong umamah.” (HR.Bukhori) Dari hadist ini tergambarkan bahwa Nabi pernah sholat sambil menggendong cucunya. Nabi memberi teladan bahwa mendekati perempuan itu sama sekali tidak batal. Hadist ini adalah bentuk klarifikasi terhadap informasi yang tidak benar. Oleh sebab itu, Rasul memberikan teladan yang luar biasa bahwa seorang perempuan bahkan bayi perempuan pun tidak membatalkan atau bahkan menurunkan kualitas ibadah seseorang. Rasul itu sangat halus, tidak pernah menampilkan islam dalam wujud yang sangar, kaku, atau tidak akomodatif. Ini yang perlu kita contoh.

Masuk pada hadist selanjutnya dari Anas bin Malik berkata: “Datang tiga orang laki-laki ke rumah istri-istri Rasulullah untuk bertanya. Mereka bertanya tentang ibadah Rasulullah. Ketika diceritakan apa yang dilakukan oleh Nabi, maka mereka merasa sedikit sekali apa yang mereka lakukan. Lalu mereka berkata: Lalu bagaimana dengan kami yang sangat jauh sekali dengan Nabi? Padahal Nabi sudah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu maupun dosa-dosa yang akan datang. Lalu satu diantara ketiga berjanji, saya akan sholat malam terus menerus sepanjang malam. Dan yang satunya berkata, saya akan berpuasa terus menerus tanpa satu hari bolong. Dan satunya berkata, saya tidak akan menikahi perempuan juga tidak akan mendekati perempuan. Maka Rasulullah datang dan berkata, apa yang engkau katakan demikian, demi Allah padahal aku yang paling takut kepada Allah tapi saya itu ya kadang puasa kadang tidak, dan juga saya sholat dan tidur, dan saya menikahi seorang perempuan. Barangsiapa tidak suka dengan sunahku maka bukan termasuk didalam golonganku.” (HR.Bukhori) Jadi hadist ini menunjukkan beberapa hal, yang pertama dalam ibadah, kita itu tidak perlu melakukan dengan sangat ekstrim (sholat terus menerus, puasa terus menerus tanpa bolong, tidak mau menikahi perempuan bahkan menjauhi perempuan).

Maka Rasul mengoreksi hal tersebut. Rasul mencontohkan dirinya sendiri bahwa Rasul ya sholat ya tidur juga, tidak puasa terus menerus, juga menikahi perempuan. Jadi yang namanya hidup, kita beragama dalam beribadah kepada Allah tidak perlu ekstrim. Kita juga perlu berinteraksi dengan orang lain, tidak melulu menjalankan ritual ibadah saja. Kedua, yaitu melengkapi hadist-hadist sebelumnya yang menganggap bahwa perempuan adalah penghalang ibadah seseorang. Disini dicontohkan oleh Rasul, bahwa beliau juga menikahi perempuan, menyayangi putri dan cucu perempuan beliau. Tidak benar bahwa perempuan itu menjauhkan seseorang dari agama atau bisa mengurangi nilai ibadahnya seseorang.

Hadist selanjutnya dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dibuat cinta kepadaku, seorang Perempuan, parfum /wangi-wangian, dan dijadikan pemandangan yang indah didepan mataku didalam sholat.”(HR. Annasa’i) Ternyata dalam hadist ini mempertegas lagi bahwa Rasul mensejajarkan perempuan dengan hal lainnya yang mulia salah satunya adalah sholat. Rasul sangat mencintai perempuan (para istri dan keluarga beliau). Rasul juga suka parfum/wangi-wangian dan Rasul juga suka sholat. Sholat adalah media komunikasi atau berhubungan intens dengan Allah, itulah sebabnya Rasul sangat mencintai sholat. Hadist ini sesungguhnya memberi tahu kita bahwa perempuan itu tidak seharusnya dilecehkan, direndahkan, disamakan dg hal-hal yang tidak baik. Perempuan itu seyogyanya tidak dipandang rendah sebagaimana manusia lain (laki-laki).

Dalam konteks saat ini barangkali sudah tidak ada yg menganggap rendah perempuan secara langsung, akan tetapi bahwa didalam masyarakat kita masih sering merendahkan perempuan dengan perkataan maupun perbuatan dengan tidak disadari. Misal, menganggap perempuan tidak mempunyai kemampuan sama halnya dengan laki-laki. Satu contoh, ketika perempuan mendaftarkan diri menjadi seorang pemimpin. Sebelum kontestasi pasti ada saja yang mengatakan, “ahh perempuan, mana bisa dia memimpin“.

Contoh kedua, membatasi kesempatan perempuan untuk mendapatkan Pendidikan yang lebih tinggi karena menganggap bahwa setelah menikah seorang perempuan paling akan jadi ibu rumah tangga saja,oleh sebab itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Hal seperti ini sehingga mempersempit kesempatan pada seorang perempuan yang sebetulnya punya potensi yang sama dengan laki-laki. Ini sesungguhnya adalah hal yang bisa merendahkan perempuan. Justru kadang yang membuat seorang perempuan terasa tidak dihargai keberadaannya bukan hanya dari lawan jenisnya tapi dari sesama perempuan sendiri yang saling merendahkan dan mencela. Maka jadilah manusia yang selayaknya manusia lainnya dengan mengikuti apa yang diajarkan didalam Islam tentang aspek keadilan dan kesetaraan yang sangat ditonjolkan dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah. (Inayatun Najikhah)

 

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Kristaps Ungurs

    Menunggu Panen

    • calendar_month Ming, 18 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Oleh : Ramli Lahaping Seiring waktu, Romi makin gandrung mengulang kebiasaannya. Setiap kali berada di waktu senggang, ia akan duduk di teras depan rumah punggunggnya untuk memandang-mandangi sepohon durian montong yang berada di sebelah kanan halamannya. Ia akan memperhatikan buah-buah pohon itu, sembari mengkhayalkan kenikmatan saat nanti ia menyantapnya.  Kebiasaan Romi itu tambah menjadi-jadi belakangan […]

  • NU Memang Asyik

    NU Memang Asyik

    • calendar_month Sen, 22 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Aku, sama sekali tidak pernah mengetahui kapan aku secara resmi menjadi warga NU. Yang jelas konon aku dilahirkan di satu kampung yang masyarakatnya kuat memegang tradisi ke-Nu-anya, walaupun mereka sendiri tidak tahu tentang apa itu NU secara pasti. NU diterima karena warisan leluhur mereka. Ayah, ibu, kakek, buyut dan semua keluargaku juga tidak begitu paham […]

  • PCNU-PATI

    Gandeng Ranting IPNU Gelang, Tim KKN IPMAFA Selenggarakan Pelatihan Bilal

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 534
    • 0Komentar

    Jepara – Kelompok Kuliah Kerja Nyata 21 “Tim Wianggeni” Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menggelar Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama (IPNU) mengadakan Pelatihan Bilal, Kamis (10/8/2023). Acara tersebut diikuti oleh peserta didik laki-laki Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatul Ulum dan anggota Pimpinan Ranting IPNU Gelang, dengan jumlah peserta 25 orang. Antusiasme peserta sangat terlihat dengan […]

  • NU Gabus Galakkan Peran Lazisnu

    NU Gabus Galakkan Peran Lazisnu

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 440
    • 0Komentar

    GABUS – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan zakat, infaq dan shodaqoh, Lazisnu MWC NU Kecamatan Gabus menggelar Pelatihan Amil Zakat dan Sosialisasi Program Lazisnu, Minggu (24/4) pagi tadi. Kegiatan yang dilangsungkan di Balaidesa Tanjunganom tersebut, dihadiri langsung oleh Wakil Katib Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Pati, KH. Abdur Rohman dan K. Yusuf Hasyim. Selain itu, […]

  • Bonus Akhir Tahun, MA Salafiyah Kajen Torehkan 531 Prestasi

    Bonus Akhir Tahun, MA Salafiyah Kajen Torehkan 531 Prestasi

    • calendar_month Kam, 30 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 444
    • 0Komentar

     PATI – Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, meraih peringkat terbaik Madrasah Aliyah se-Kabupaten Pati. Torehan prestasi itu diumumkan langsung oleh Kasi Penmad Kantor kementerian Agama Kabupaten Pati, Ruhani, dalam acara gebyar prestasi madrasah 2021 “The Best Achievement” melalui zoom metting, Kamis (30/12/2021).  Peringkat terbaik Madrasah Aliyah se-Kabupaten Pati ini berkat raihan prestasi guru dan […]

  • Sidang Komisi IPNU/IPPNU, Peserta : Semoga Berdampak Sampai Bawah

    Sidang Komisi IPNU/IPPNU, Peserta : Semoga Berdampak Sampai Bawah

    • calendar_month Sen, 19 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 578
    • 0Komentar

      Ketua IPNU, Moh Salman (kiri) dan Ketua IPPNU, Sulistiani (berkaca mata) saat memantau jalannya sidang komisi PATI-Sidang Komisi yang merupakan rangkaian Konfercab PC IPNU/IPPNU Pati telah dilaksanakan Minggu (18/7) kemarin. Berpusat di aula lantai tiga gedung PCNU Pati, sidang tersebut dilaksanakan secara virtual.  Sidang yang dihadiri oleh seluruh pengurus IPNU dan IPPNU dari berbagai […]

expand_less