Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Mbah Reban

Mbah Reban

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 28 Sep 2023
  • visibility 555
  • comment 0 komentar

Oleh: Annisa Barokatus

Mbah Reban adalah seorang ulama yang lahir di Desa Tambahmulyo Dukuh Tambak Kapas sekitar tahun 1944 M pada hari Rabu dan meninggal pada hari Rabu pula di rumah beliau Desa Tambahmulyo, pada tanggal 15 Jumadil Ula 1431 H pada usia 65 tahun. Nama Mbah Reban diambil dari hari lahirnya yaitu Rabu.

Mbah Reban merupakan seorang alim yang berasal dari keturunan ulama. Mbah Reban lahir dari pasangan Mbah Marno dan Mbah Manirah. Mbah Marno memiliki ayah bernama Mbah Soto yang merupakan keturunan ke 15 dari Brawijaya V. Ibu dari Mbah Reban adalah Mbah Manirah binti Kyai Surat bin Kyai Yahya. Kyai Yahya inilah orang pertama yang menyebarkan Agama Islam di Desa Tambahmulyo. Kyai Yahya berhasil memenangkan sayembara menangkap perampok dan perusuh di Desa Tambahmulyo saat itu. Kyai Yahya merupakan orang pertama yang mendirikan musholla di Desa Tambahmulyo dan sekarang menjadi Masjid Jami’ Desa Tambahmulyo.

Mbah Reban adalah anak bungsu dan sepuluh bersaudara. Pada usia Mbah Reban 1 tahun sang Ibu meninggal dan sang ayahpun wafat pada usianya yang ke 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakak pertamanya yaitu Mbah Sarjan. Mbah Sarjan adalah seorang ulama penyebar agama Islam di Desa Tambahmulyo. Mbah Sarjan mendirikan Masjid Al Mubarokah Desa Tambahmulyo tepatnya di Dukuh Bangleyan.

Mbah Reban mengenyam pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) setara SD (Sekolah Dasar) dengan berbekal hasil penjualan tanah warisan dari orang tua. Kemudian beliau melanjutkan belajar ke sebuah pondok pesantren di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken. Mbah Reban belajar kepada K.H Syamsul Hadi, seorang ulama Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah pengasuh pondok pesantren tersebut. Mbah Reban muda bergelut dengan ilmu Syari’at dan Tarekat. Beliau mengambil baiat kepada Mbah Thohir, menantu K.H Syamsul Hadi. Mbah Reban juga mengambil baiat tabarruk kepada Mbah Dullah Salam Kajen dan dilanjutkan kepada K.H Rohmat Noor. Selanjutnya, Mbah Reban mengambil Baiat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kepada K.H Lutfi Hakim dari Mranggen Kabupaten Demak. Mbah Reban adalah sosok yang rajin mencari ilmu. Mbah Reban menjadi murid Maulana Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan dimana beliau selalu hadir di jama’ah taklim Jum’at Kliwon hingga akhir hayatnya.

Mbah Reban adalah seorang alim yang selalu melaksanakan salat 5 waktu berjama’ah dan tidak lupa dengan wiridannya. Beliau tidak hentinya membaca manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani pada tanggal 11 setiap bulan Hijriyah (dikenal dengan sebutan sewelasan). Mbah Reban melanggengkan selawat atas Nabi Muhammad saw setiap saat. Beliau mencintai Ulama dan Habib dengan meneladani ucapan, perilaku, amal saleh serta ibadahnya demi mendapat berkah.

Mbah Reban menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan. Beliau mengajarkan agama Islam melalui bidang perekonomian. Mbah Reban diperintahkan oleh sang guru K.H Syamsul Hadi untuk membeli mesin jahit dan mempelajari pola-pola jahitan secara autodidak mellaui pembedahan jahitan baju yang sudah jadi. Atas ijin Allah, Mbah Reban bisa menjahit dan mulai membuka jasa jahit. Beliau menjadi orang pertama di kecamatan Jakenan yang membuka jasa jahit sehingga dikenal sebagai Mbah Reban Jahit. Banyak orang yang akhirnya mengenal sosok Mbah Reban.

Mbah Reban berkesempatan untuk menyampaikan ajaran agama Islam secara damai. Murid pertama beliau bernama Mbak Ngas Jahit. Mbah Reban mengajar agama Islam bersamaan dengan mengajar cara menjahit. Murid berikutnya adalah anak dari Mbak Ngas Jahit yaitu Mbak Tun Jahit. Beberapa tukang jahit di kecamatan Jakenan adalah hasil didikan beliau seperti halnya Penjahit Maulana di Desa Sembaturagung Kecamatan Jakenan. Murid-murid Mbah Reban semakin banyak, tetapi Beliau tidak menarik upah atas jasa mengajarnya. Sering kali murid-murid menyodorkan amplop berisi uang dan selalu ditolak oleh Mbah Reban. Beliau sangat senang dapat mengajarkan ilmunya kepada semua orang.

Mbah Reban sering kali melakukan perjalanan untuk berziarah ke makam para waliullah. Pada suatu hari Mbah Reban berziarah bersama murid-muridnya, Mereka memperhatikan saku Mbah Reban hanya terdapat siwak, tasbih dan sedikit uang saja. Namun pada saat Beliau melintasi peminta sedekah, Mbah Reban merogoh sakunya dan dikeluarkannya uang untuk diberikan kepada peminta sedekah. Murid-murid yang mengetahui hal tersebut merasa aneh. Kejadian serupa terulang beberapa kali disetiap menemui peminta sedekah. Dengan bergegas Mbah Reban langsung merogoh saku dan memberi mereka uang. Saku Mbah Reban seperti menjadi sumber uang untuk disedekahkan.

Mbah Reban menjadi guru yang penuh tauladan; kehidupannya sederhana, perkataannya santun, perbuatan baik, amalannya istikamah dan ibadahnya khusyuk. Mbah Reban mendorong kepada semua murid tidak hanya untuk belajar ilmu agama Islam tetapi juga untuk belajar mandiri mencari pekerjaan. Beberapa murid Mbah Reban mulai merantau ke luar kota, ke luar pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Setiap kali murid-murid Mbah Reban hendak pergi merantau mereka meminta do’a restu dari sang guru. Pada hari wafatnya Mbah Reban, keluarga tidak dapat memberi kabar duka kepada murid-murid yang tempatnya jauh. Selang beberapa hari murid-murid tersebut menghubungi anak Mbah Reban. Mereka menanyakan kabar Beliau.

Kemudian anak Mbah Reban memberitahu berita duka kepada mereka. Mendengar hal tersebut mereka mengungkapkan bahwa tubuh mereka lemas beberapa hari terakhir padahal mereka sudah memeriksakan kesehatan ke dokter. Menurut dokter tidak ada gangguan pada tubuh mereka. Murid-murid Mbah Reban menyimpulkan bahwa lemasnya tubuh tanpa penyakit dikarenakan wafatnya sang guru. Mereka menjadi kuat karena penuh dengan do’a sang guru yang diijabah Allah Swt.

Setelah pemakaman Mbah Reban, anak Mbah Reban mendapat wasiat dari Beliau bahwa dalam mimpinya seolah-olah Mbah Reban masih hidup. Mbah Reban sebagai seorang alim mengajarkan agama Islam pada masa hidupnya dan memberi tauladan kepada keluarga, murid-murid, dan masyarakat sekitar untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. (MTs Tarbiyatul Islamiyah Jakenan)

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Utamakan Etikabilitas Ketimbang Elektabilitas

    Utamakan Etikabilitas Ketimbang Elektabilitas

    • calendar_month Jum, 28 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 464
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id- Membincang moral atau etika memang saat ini menjadi perhatian bersama. Banyak sekali kasus dimedia massa yang berdedar berkaitan dengan degradasi moral anak bangsa ini. Salah satu kasus amoral yang sempat viral pertengahan februari lalu misalnya. Dimana terdapat 4 pelajar yang yang berasal dari salah satu sekolah di Kabupaten Grobogan, melakukan rudapaksa terhadap siswi […]

  • 2000 Anggota Fatayat-Muslimat Pucakwangi Hadiri Rutinan

    2000 Anggota Fatayat-Muslimat Pucakwangi Hadiri Rutinan

    • calendar_month Ming, 28 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 332
    • 0Komentar

    PUCAKWANGI-Minggu (28/7) pagi Desa Sitimulyo Kecamatan Pucakwangi tiba-tiba menghijau. Ini bukan dikarenakan fenomena alam, namun karena sedikitnya 2000 anggota Fatayat-Muslimat hadir dalam acara rutin pertemuan triwulanan. Para pemgurus PAC Fatayat Pucakwangi sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Fatayat sebagai pembuka acara Ketua PAC Fatayat Pucakwangi, Umi Kalsun, S.Pd.I. menyatakan kegiatan triwulan ini merupakan agenda […]

  • Yayasan As-Salafiyah Lahar Gelar Kemah Bakti dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW

    Yayasan As-Salafiyah Lahar Gelar Kemah Bakti dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id- Yayasan As-Salafiyah Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, menggelar kemah bakti dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada tanggal 16-18 September 2025, di Jolong 2, Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong. Kemah bakti ini diikuti oleh 340 siswa, mulai dari kelas 5 Ibtidaiyah hingga kelas 12 Aliyah. Kepala MA […]

  • Beda Puasa Nabi Dungan Ummat Masa Kini. Photo by Rauf Alvi On Unsplash.

    Beda Puasa Nabi dengan Ummat Masa Kini

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Tahun ke-6 Hijriyah, terjadi kesepakatan antara Nabi Muhammad SAW. (Kaum Muslimin) dengan Kaum Kafir Quraisy di daerah Hudaibiyah, tepian Makkah. Dalam ar Rahiq wal Makhtum milik Syaikh Shafiyyur Rahman al Muarakfuri, berkisah tentang ‘puasanya’ Nabi dalam perjanjian tersebut. Mulanya, Nabi memandatkan Ali bin Abi Thalib untuk menulis kesepakatan. Ali membuka perjanjian […]

  • Rakerdin Zona 7, Lembaga Ma'arif NU Diajak Berani Go Internasional

    Rakerdin Zona 7, Lembaga Ma’arif NU Diajak Berani Go Internasional

    • calendar_month Ming, 12 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 396
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id-Temanggung – Bertempat di Hall KBIHU Babussalam NU komplek INISNU Temanggung, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah resmi melakukan Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Zona 7, Ahad (12/1/2025). Ketua LP Ma’arif PCNU Temanggung Drs. H.Yusuf Purwanto, M.Ag., mengatakan atas nama panitia penyelenggara, pihaknya mengucapkan selamat datang […]

  • PBNU Mantabkan Agenda Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama

    PBNU Mantabkan Agenda Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Runtutan resepsi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Nahdlatul Ulama versi hijriah telah digagas oleh PBNU. Pada tahun 2025 Masehi yang bertepatan dengan 1446 Hijriyah ini, NU genap berusia 102 tahun. “Sesuai AD ART NU pasal satu, NU lahir 16 Rajab,” ungkap Nur Hidayat, Panitia HUT NU ke-102. Pada tahun ini, secara kebetulan, 16 […]

expand_less