Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Literasi Digital Bulan Ramadan

Literasi Digital Bulan Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 8.542
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Masih pentingkah literasi digital saat bulan Ramadan? Ya, penting lah. Jawaban singkat ini saya jawab sendiri dari pertanyaan yang saya buat sendiri. Meski bulan suci Ramadan selalu datang membawa jeda, koma, waktu rehat sejenak, atau sebutan lain. Apa maksudnya? Jeda dari tradisi makan dan tradisi minum, dari marah, dari kesibukan dunia, kerja, rumah tangga yang sering tak kenal rem.

Akan tetapi di era digital, jeda itu kerap bocor. Kok bisa? Puasa fisik dijalani, namun jari tetap rakus alias gragas, yaitu menggulir layar tanpa henti, menelan informasi tanpa filter, dan membagi konten tanpa mikir panjang. Nah, di sini literasi digital menemukan sumbunya, tidak sekadar kecakapan teknis, melainkan sikap etis dan spiritual.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) tidak sekadar kemampuan menerapkan peranti digital, namun kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika informasi tersebut disajikan melalui komputer. Artinya, dalam konteks bulan suci Ramadan, pemahaman ini meluas, yaitu bagaimana umat beriman memahami, menilai, dan mengelola arus informasi digital untuk selaras dengan nilai puasa, pengendalian diri, kejujuran, dan kebijaksanaan.

Ramadan: Bulan Disiplin Informasi

Latihan dan latihan. Hidup itu memang penuh latihan. Ya, puasa Ramadan hakikatnya memang latihan pengendalian. Lebih tepatnya latihan ngerem awak. Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali memetakan puasa dalam tiga tingkatan: puasa awam, puasa khusus, dan puasa khususul khusus alias sangat khusus. Tingkat paling pucuk, puasa tidak sekadar menahan nasfu perut dan bawah perut, akan tetapi menjaga pancaindra dan hati dari hal-hal merusak dan sia-sia. Pada konteks dunia digital, mata dan telinga itu kini bermigrasi ke layer gawai.

Dari perspektif teori self-regulation, Zimmerman dalam Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview berpendapat individu yang matang mampu mengatur perilaku, pikiran, dan emosinya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, Ramadan merupakan bulan yang menjadi momentum penguatan regulasi diri, termasuk di dalamnya adalah konsumsi informasi. Literasi digital memudahkan seorang bertanya sebelum mengklik: apakah ini bermanfaat? apakah ini benar? apakah ini perlu dibagikan? Ngono!

Tanpa literasi, medsos ibaratnya menjadi ladang ghibah modern, wahana cerita ngalor-ngidul tak jelas arahnya, menjadi wahana penyebaran hoaks berbalut dalil, dan kemarahan kolektif yang rentan viral. Puasa pun tereduksi menjadi ritual biologis belaka, bukan proses penyucian jiwa yang hakiki.

Dari Hoaks ke Hikmah

UNESCO (2011) melalui Media and Information Literacy Curriculum for Teachers menyebut literasi digital merupakan bagian dari media and information literacy (MIL), yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara kritis dan etis. Ramadan menuntut ketiganya harus terlaksana semua. Begitu!

Dalam kegiatan sehari-hari secara teknis di bulan Ramadan, ketika mengakses informasi keislamanan, misalnya, tak cukup sekadar viral atau diklaim “kata ulama”, “kata kiai”, “kata gus” dan lainnya. Maka di sini evaluasi menjadi keharusan, yaitu sumbernya siapa, sanad ilmunya jelas atau tidak, konteksnya sesuai atau dipelintir, relevan dengan Al-Quran dan Assunnah atau tidak. Dalam tradisi Islam, prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6) menjadi fondasi literasi informasi jauh sebelum istilah digital populer.

Di sisi lain, produksi konten berupa status, suara, gambar, komentar, juga bagian dari tanggung jawab literasi. Tiap unggahan merupakan jejak digital sekaligus jejak moral seseorang. Teori digital citizenship dalam buku Digital Citizenship in Schools: Nine Elements All Students Should Know, Mike Ribble (2015) menekankan etika, tanggung jawab, dan empati dalam ruang digital. Artinya, Ramadan mengajarkan hal sama: berkata baik atau diam, termasuk di kolom komentar. Seharusnya demikian!

Tantangan literasi digital di bulan Ramadan yang penting yaitu information overload. Teori cognitive load melalui buku Cognitive Load Theory (2011), John Sweller, Paul Ayres, Slava Kalyuga menjelaskan otak manusia memiliki kapasitas terbatas. Artinya, ketika terlalu banyak informasi terlebih emosional dan kontradiktif, akan berdampak melelahkan mental dan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Maka dari itu, literasi digital di bulan Ramadan dapat dimaknai sebagai keberanian untuk berpuasa dari kebisingan digital, yaitu membatasi waktu layar, memilih konten yang meneduhkan, dan menghindari debat kusir yang menguras energi spiritual. Hal ini bukan antiteknologi, namun dalam buku Mindful Tech: How to Bring Balance to Our Digital Lives, David M. Levy (2017) menegaskan hal itu menjadi bentuk mindful technology use yaitu menggunakan teknologi dengan kesadaran penuh.

Akhirnya, dalam hal ini literasi digital di bulan Ramadan bermuara pada kesalehan digital. Artinya, bukan soal seberapa sering membagikan ayat atau poster dakwah, namun seberapa konsisten nilai puasa tercermin dalam perilaku online, yaitu jujur, santun, adil, dan bertanggung jawab.

Bisa saya sebut, bahwa Ramadan memberi kita peluang langka. Mengapa? Karena Ramadan dapat menyelaraskan iman dengan algoritma, takwa dengan teknologi. Sangat keren. Ketika perut dilatih menahan lapar dan dahaga, maka jari pun patut dilatih menahan diri dari “godaan scroll”. Pasalnya, di era digital, kualitas puasa bukan sekadar diukur dari terbit hingga terbenam matahari, namun juga dari apa yang kita klik, ketik, dan sebarkan. Begitu!

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MA Abadiyah Gabus Raih Juara

    MA Abadiyah Gabus Raih Juara

    • calendar_month Sel, 9 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Pati. Madrasah Aliyah Abadiyah Gabus  menyabet Medali Perunggu dalam ajang Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) Se Indonesia Ke 12 Di Bogor di wakili oleh Septiana Rohmawati siswi Kelas X.             Madrasah tentu bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum, tinggal kita sebagai guru pendidik mampu mengenali potensi dan bakat terhadap anak didik kita.             “Saya sebagai guru […]

  • PCNU-PATI

    153 Banser Jawa-Bali Ditempa di Kabupaten Pati

    • calendar_month Kam, 31 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Ratusan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se-Jawa dan Bali menempa diri dalam sejumlah kemampuan di Kabupaten Pati. Kegiatan Diklatsus Banser Protokoler dan Tanggap Bencana (Bagana) ini digelar di MI Nurul Huda Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, selama tiga hari, yaitu pada 25-27 Agustus 2023.  Ratusan anggota Banser ini disiapkan untuk menjadi kader yang siap dan […]

  • Resmi Dibuka, Ini Cabang Perlombaan Persimanu I Ma'arif NU Jateng

    Resmi Dibuka, Ini Cabang Perlombaan Persimanu I Ma’arif NU Jateng

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Semarang – Perkemahan Prestasi Ma’arif NahdlatuI Ulama (Persimanu) I Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU (Sakoma NU) JawaTengah resmi dibuka oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Drs. KH. Muhamad Muzammil di Bumi Perkemahan Munjuluhur Kabupaten Purbalingga pada pada Rabu (12/7/2023). Ketua Sakoma NU Jawa Tengah Kak H. Shobirin mengatakan, bahwa kegiatan Persimanu I Jawa Tengah tahun […]

  • PCNU-PATI

    Lewat Kenduri Desa Damai; FKPT Jateng Cegah Terorisme

    • calendar_month Rab, 21 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Kudus – Bertempat di Balai Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar Kenduri Desa Damai bertajuk “Kenali dan Peduli Lingkungan Sendiri” pada Rabu (21/6/2023). Ketua Bidang Media, Hukum dan Hubungan Masyarakat FKPT Jawa Tengah Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa Kenduri Desa Damai […]

  • Tingkatkan Kemampuan Lapangan, Banser Pati Gelar Orientasi Kenal Medan

    Tingkatkan Kemampuan Lapangan, Banser Pati Gelar Orientasi Kenal Medan

    • calendar_month Sel, 11 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 176
    • 0Komentar

      Salah satu materi Orientasi Kenal Medan Banser Pati  PATI – Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pati menggelar Orientasi Kenal Medan (OKM) 2022 di kawasan pegunungan Desa Medani, Kecamatan Cluwak akhir pekan kemarin. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan anggota Banser yang merupakan perwakilan dari seluruh kecamatan. Adapun pembukaan kegiatan di Obyek Wisata […]

  • Qunut Nazilah dalam Sholat Sunah

    Qunut Nazilah dalam Sholat Sunah

    • calendar_month Jum, 16 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 265
    • 0Komentar

       1.       Pertanyaan : Apakah membaca QunutNazilah juga di sunnahkan di dalam sholat sunnah ?   Jawaban:  Sebagaimana kitaketahui bahwa membaca qunut saat i’tidal nyaroka’at terakhirnya sholat subuh merupakan sebuah kesunnahan, akan tetapi membaca qunut tidak hanya terkhususkan dalam sholat subuh saja, melainkan dalam sholat maktubahyang lain juga di sunnahkan membaca doa qunut […]

expand_less