Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 8 Sep 2021
  • visibility 301
  • comment 0 komentar

 

Potret Desa Kajen dan Masjid Kajen dari udara. Sumber : kajen-margoyoso.desa.id

Sekelompok pemuda Desa Kajen yang tergabung dalam komunitas budaya Kaneman Kajen Jonggringan (Kanjengan) turut memeriahkan Haul Waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.

Kanjengan menggelar serangkaian acara yakni bincang buku, peluncuran buku, kidungan manuskrip dan ngaji bareng di puncak acara.

“Karena pandemi, semua dilaksanakan secara daring melalui kanal youtube Kanjengan TV. Rangkaiannya selama bulan Muharram/Syuro, atau sepanjang Agustus-September,” ujar Ahmad Falih Nur Hidayat, Ketua Panitia.

Falih mengatakan, sebanyak 11 buku yang diperbincangkan adalah karya-karya yang berkaitan dengan Mbah Mutamakkin atau pun Desa Kajen.

Sementara dua buku yang diluncurkan adalah kajian artefak masjid Kajen dan riwayat serta perjuangan Mbah Mutamakkin.

“Satu buku berbahasa Arab, membedah makna simbolik ornamen Masjid Kajen yang kaya ajaran dan filosofi. Dan satunya lagi cetakan ulang dari buku pertama yang membahas cerita tutur dari para sesepuh tentang Mbah Mutamakkin,” jelas Falih.

Di puncak acara, kata Falih, digelar kidungan Teks Pakem Kajen atau Suluk Alif. Setelah itu ada pengajian daring yang diisi oleh Gus Ulil Abshar Abdalla.

Sementara itu, koordinator Kanjengan Farid Abbad mengatakan, tema Festival Kajen ke-VII kali ini mengangkat tema “Sangkan Paraning Kajen: Ngaji, Ngajeni, Kajen.”

Harapannya, kata Farid, tema tersebut dapat menjadi ikhtiar bersama khususnya warga Desa Kajen untuk mengerti asal usul dan tujuan hidupnya.

“Ini merupakan hasil kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan oleh kaneman Kajen secara kontinyu.”

“Kami telah melakukan penelusuran sejarah, mengumpulkan manuskrip, diskusi, kajian, dan sesekali anjangsana ke wilayah-wilayah yang ada kaitannya dengan jejak dakwah Mbah Mutamakkin,” ujar Wakil Pengasuh Ponpes Al-Roudloh Kajen ini.

Farid menjelaskan, ikhtiar tersebut sebagai bentuk komitmen Kanjengan untuk merawat dan terus melestarikan tradisi kampung halaman.

“Mbah Mutamakkin dan Desa Kajen meninggalkan banyak warisan. Sebagai ahli waris, ibarat diberi sebidang tanah, pilihannya ada dua. Tanah itu dijual, atau ditanami tumbuh-tumbuhan supaya ngrembaka dan lebih bermanfaat. Kanjengan memilih yang kedua,” ujar mahasiswa S2 Antropologi UI ini.

“Di puncak acara nanti, terkait Sangkan Paran Kajen ini akan dibahas oleh Gus Ulil Abshar Abdalla pada Selasa 07 September malam,” imbuhnya.

Kidungan Teks Pakem Kajen

Manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya. Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu Ngerojo.

Terakhir, sebab panambangnya setelah itu meninggal dunia. Kaneman Kajen mencoba merevitalisasinya kembali: menembangkan satu-satunya manuskrip yang menyimpan ajaran Dewa Ruci versi Mbah Mutamakkin. Satu-satunya. Sebab dalam manuskrip-manuskrip yang lain, misalnya Serat Cabolek (yang ada belasan versi itu), Ketib Anom lah yang membabar Dewa Ruci.

Kisah lain, Mbah Mutamakkin adalah guru spiritual Pukubuwana II. Ada pertemuan empat mata antara Mbah Mutamakkin dan Pakubuwa II.  Ada ‘bisikan rahasia’ Mbah Mutamakkin yang disampaikan. Bisikan itu agaknya memengaruhi langkah politik-kebangsaan Pakubuwana II kala itu di Jawa, yang sedang gonjang-ganjing.

Kemudian, manuskrip ini juga menceritakan pengalaman seorang santri yang ngaji kepada Mbah Mutamakkin. Namanya Ki Kedung Gede. Awalnya ia hendak melabrak Mbah Mutamakkin karena dianggap sesat. Namun ketika berjumpa, dan mengetahui kapasitas keilmuan Mbah Mutamakkin, Ki Kedung Gede justru malah ingin berguru. Ki Kedung Gede pun mengakui bahwa Mbah Mutamakkin tidak hanya mengajarkan agama Islam, tapi juga ilmu-ilmu kuno.

Lantas, mengapa ditembangkan?

Mbah Yai Ruba’i, generasi kelima yang menyimpan manuskrip tersebut merindukan suasana masa kecilnya. Kira-kira 70-an tahun yang lalu. Kala itu, Mbah Yai Ruba’i bersama ayahandanya, Kiai Syamsuri, setiap tahun mengikuti acara rutin Syuronan di Pasareyan Mbah Mutamakkin. 

Salah satunya tetembangan Teks Pakem Kajen alias Suluk Alif. Warga setempat menyebutnya sebagai ‘kidungan’. Namun kidungan itu hanya berlangsung beberapa tahun. Sebab panambangnya sudah sepuh dan setelah itu meninggal dunia.

Kami sebagai generasi yang berbakti, lantas mencoba mengidungkannya kembali. Salah satunya untuk menebus kerinduan Mbah Yai Ruba’i. Meskipun dengan segala keterbatasan. Sesederhana itu alasannya.

“Menurut kami, ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa menggantikan lelaku tradisi yang kadung dianggap kuno. Padahal, tradisi yang bersangkutan dulunya adalah laku hidup sehari-hari. Di masa kini, terutama ada pertimbangan-pertimbangan kultural dan spiritual, yang menurut kami keduanya tidak bisa diwakili oleh teknologi digital dalam melakukan sebuah tradisi,” ujar Taufiq Hakim yang mengidungkan Teks Pakem Kajen. Saat kidungan berlangsung pada 28 Agustus lalu, spontan ada warga Kajen yang ikut mengidungkan. Ia adalah Mbah Yasir. Menurut pengakuannya, Mbah Yasir juga merindukan suasana seperti itu.

Di sisi lain, kata Taufiq, menulis jurnal, buku, esai, adalah penting sebagai eksistensi tradisi di ranah studi dan kontestasi pengembangan studi. Kami juga melakukannya. 

“Tetapi, merevitalisasi tradisi yang telah lama hilang juga tak kalah penting: ‘mengembalikan tradisi’ kepada ahli warisnya. Kedua lelaku tersebut musti berjalan beriringan,” ujar mahasiswa Magister Sastra UGM ini.(sis/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Photo by Mufid Majnun

    Pedoman Politik ala Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Sab, 16 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, M.A Dalam menyambut pesta demokratis yang rutin bergulir setiap lima tahun sekali. Sebagai warga Negara Republik Indonesia tentunya memiliki hak pilih untuk menentukan pilihannya masing-masing. Hal ini sangat wajar karena setiap orang memiliki karakteristik dan pendapat tersendiri. Sehingga sebagai warga negara yang baik, harus bijak dan bisa menyikapi sebuah pemandangan perbedaan demi […]

  • MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

    MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

    • calendar_month Sen, 1 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Oleh: Faiz Aminuddin*                                                                                 Warga di kawasan Asia Tenggara sebentar lagi akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang akan dimulai pada tanggal […]

  • PCNU - PATI Photo by Pexels

    Perayaan Ulang Tahun

    • calendar_month Sab, 25 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Dikalangan masyarakat umum (awam), bila bertetapan dengan hari kelahirannya, biasanya diadakan perayaan hari ulang tahun, acaranya pun digelar semeriah mungkin, mulai acara potong tumpeng, ucapan selamat, musik-musikan dan lain-lain. Pertanyaan : Bagaimana hukumnya merayakan hari ulang tahun sebagaimana yang terjadi selama ini ? Jawaban : Hukumnya bid’ah hasanah, apabila terdapat umûrun hasanatun. Referensi : Mukhtashor […]

  • Strategi Menulis Opini dan Esai Bisa Pakai Dua Gaya Ini

    Strategi Menulis Opini dan Esai Bisa Pakai Dua Gaya Ini

    • calendar_month Sel, 5 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Semarang – Dalam menulis artikel populer (opini/esai), penulis bisa menggunakan dua gaya yaitu gaya teknokratis dan gaya sosiologis. Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah SMP Tahfidz Al Furqon Karangawen Demak Junaidi Abdul Munif saat menjadi narasumber Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus Part 2 Gerakan Literasi Karya Tulis Jurnalistik bertema “Strategi Penulisan Artikel Populer (Opini/Esai) bertema Pendidikan” […]

  • PCNU-PATI

    Peluncuran Buku Antologi Puisi Iga, Rindu Tanah Plasenta Syarifuddin Arifin

    • calendar_month Sel, 5 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Depok, Senin 4/9/2023,-  Puisi yang ditulis oleh Syarifuddin Arifin dalam buku antologi puisi tunggal ke-6 berjudul “Iga, Rindu Tanah Plasenta” sebagai puisi-puisi  romantik atau romantisme. ” Penyair belajar sejarah, romantik ‘kan sejarah, enggak dicari-cari atau terserok kemana-mana,” ujar Prof.Dr.Wahyu Wibowo kepada penulis usai mengikuti perbincangan diskusi sastra dan peluncuran buku antologi puisi ke-6 karya […]

  • PCNU-PATI

    Siswa MI Mambaul Ulum Grogolan Dukuhseti Sabet Juara 1 Lari Jarak Jauh di Porsema Jateng

    • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. – JATENG – Kabar menggembirakan datang dari even Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII Jawa Tengah. Pasalnya, salah satu atlet dari Kabupaten yakni Pati Muhammad Andrean Saputra (12) torehkan prestasi dari cabor lari jarak jauh.  Andrean merupakan pelajar kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mambaul Ulum, Desa Grogolan, Kecamatan Dukuhseti. Ia berhasil meraih juara […]

expand_less