Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 8 Sep 2021
  • visibility 657
  • comment 0 komentar

 

Potret Desa Kajen dan Masjid Kajen dari udara. Sumber : kajen-margoyoso.desa.id

Sekelompok pemuda Desa Kajen yang tergabung dalam komunitas budaya Kaneman Kajen Jonggringan (Kanjengan) turut memeriahkan Haul Waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.

Kanjengan menggelar serangkaian acara yakni bincang buku, peluncuran buku, kidungan manuskrip dan ngaji bareng di puncak acara.

“Karena pandemi, semua dilaksanakan secara daring melalui kanal youtube Kanjengan TV. Rangkaiannya selama bulan Muharram/Syuro, atau sepanjang Agustus-September,” ujar Ahmad Falih Nur Hidayat, Ketua Panitia.

Falih mengatakan, sebanyak 11 buku yang diperbincangkan adalah karya-karya yang berkaitan dengan Mbah Mutamakkin atau pun Desa Kajen.

Sementara dua buku yang diluncurkan adalah kajian artefak masjid Kajen dan riwayat serta perjuangan Mbah Mutamakkin.

“Satu buku berbahasa Arab, membedah makna simbolik ornamen Masjid Kajen yang kaya ajaran dan filosofi. Dan satunya lagi cetakan ulang dari buku pertama yang membahas cerita tutur dari para sesepuh tentang Mbah Mutamakkin,” jelas Falih.

Di puncak acara, kata Falih, digelar kidungan Teks Pakem Kajen atau Suluk Alif. Setelah itu ada pengajian daring yang diisi oleh Gus Ulil Abshar Abdalla.

Sementara itu, koordinator Kanjengan Farid Abbad mengatakan, tema Festival Kajen ke-VII kali ini mengangkat tema “Sangkan Paraning Kajen: Ngaji, Ngajeni, Kajen.”

Harapannya, kata Farid, tema tersebut dapat menjadi ikhtiar bersama khususnya warga Desa Kajen untuk mengerti asal usul dan tujuan hidupnya.

“Ini merupakan hasil kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan oleh kaneman Kajen secara kontinyu.”

“Kami telah melakukan penelusuran sejarah, mengumpulkan manuskrip, diskusi, kajian, dan sesekali anjangsana ke wilayah-wilayah yang ada kaitannya dengan jejak dakwah Mbah Mutamakkin,” ujar Wakil Pengasuh Ponpes Al-Roudloh Kajen ini.

Farid menjelaskan, ikhtiar tersebut sebagai bentuk komitmen Kanjengan untuk merawat dan terus melestarikan tradisi kampung halaman.

“Mbah Mutamakkin dan Desa Kajen meninggalkan banyak warisan. Sebagai ahli waris, ibarat diberi sebidang tanah, pilihannya ada dua. Tanah itu dijual, atau ditanami tumbuh-tumbuhan supaya ngrembaka dan lebih bermanfaat. Kanjengan memilih yang kedua,” ujar mahasiswa S2 Antropologi UI ini.

“Di puncak acara nanti, terkait Sangkan Paran Kajen ini akan dibahas oleh Gus Ulil Abshar Abdalla pada Selasa 07 September malam,” imbuhnya.

Kidungan Teks Pakem Kajen

Manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya. Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu Ngerojo.

Terakhir, sebab panambangnya setelah itu meninggal dunia. Kaneman Kajen mencoba merevitalisasinya kembali: menembangkan satu-satunya manuskrip yang menyimpan ajaran Dewa Ruci versi Mbah Mutamakkin. Satu-satunya. Sebab dalam manuskrip-manuskrip yang lain, misalnya Serat Cabolek (yang ada belasan versi itu), Ketib Anom lah yang membabar Dewa Ruci.

Kisah lain, Mbah Mutamakkin adalah guru spiritual Pukubuwana II. Ada pertemuan empat mata antara Mbah Mutamakkin dan Pakubuwa II.  Ada ‘bisikan rahasia’ Mbah Mutamakkin yang disampaikan. Bisikan itu agaknya memengaruhi langkah politik-kebangsaan Pakubuwana II kala itu di Jawa, yang sedang gonjang-ganjing.

Kemudian, manuskrip ini juga menceritakan pengalaman seorang santri yang ngaji kepada Mbah Mutamakkin. Namanya Ki Kedung Gede. Awalnya ia hendak melabrak Mbah Mutamakkin karena dianggap sesat. Namun ketika berjumpa, dan mengetahui kapasitas keilmuan Mbah Mutamakkin, Ki Kedung Gede justru malah ingin berguru. Ki Kedung Gede pun mengakui bahwa Mbah Mutamakkin tidak hanya mengajarkan agama Islam, tapi juga ilmu-ilmu kuno.

Lantas, mengapa ditembangkan?

Mbah Yai Ruba’i, generasi kelima yang menyimpan manuskrip tersebut merindukan suasana masa kecilnya. Kira-kira 70-an tahun yang lalu. Kala itu, Mbah Yai Ruba’i bersama ayahandanya, Kiai Syamsuri, setiap tahun mengikuti acara rutin Syuronan di Pasareyan Mbah Mutamakkin. 

Salah satunya tetembangan Teks Pakem Kajen alias Suluk Alif. Warga setempat menyebutnya sebagai ‘kidungan’. Namun kidungan itu hanya berlangsung beberapa tahun. Sebab panambangnya sudah sepuh dan setelah itu meninggal dunia.

Kami sebagai generasi yang berbakti, lantas mencoba mengidungkannya kembali. Salah satunya untuk menebus kerinduan Mbah Yai Ruba’i. Meskipun dengan segala keterbatasan. Sesederhana itu alasannya.

“Menurut kami, ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa menggantikan lelaku tradisi yang kadung dianggap kuno. Padahal, tradisi yang bersangkutan dulunya adalah laku hidup sehari-hari. Di masa kini, terutama ada pertimbangan-pertimbangan kultural dan spiritual, yang menurut kami keduanya tidak bisa diwakili oleh teknologi digital dalam melakukan sebuah tradisi,” ujar Taufiq Hakim yang mengidungkan Teks Pakem Kajen. Saat kidungan berlangsung pada 28 Agustus lalu, spontan ada warga Kajen yang ikut mengidungkan. Ia adalah Mbah Yasir. Menurut pengakuannya, Mbah Yasir juga merindukan suasana seperti itu.

Di sisi lain, kata Taufiq, menulis jurnal, buku, esai, adalah penting sebagai eksistensi tradisi di ranah studi dan kontestasi pengembangan studi. Kami juga melakukannya. 

“Tetapi, merevitalisasi tradisi yang telah lama hilang juga tak kalah penting: ‘mengembalikan tradisi’ kepada ahli warisnya. Kedua lelaku tersebut musti berjalan beriringan,” ujar mahasiswa Magister Sastra UGM ini.(sis/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Ramadhan, Lazisnu dan Poroz Gelontorkan 4,5 M untuk Warga Palestina

    Jelang Ramadhan, Lazisnu dan Poroz Gelontorkan 4,5 M untuk Warga Palestina

    • calendar_month Ming, 23 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Lazisnu PBNU bersama dengan Perkumpulan Organisasi Zakat (Poroz) berencana bakal menyumbangkan Rp 4,5 M. ke Palestina. Bantuan ini ditujukan guna memenuhi kebutuhan ramadhan warga di negeri tersebut. Pelepasan pengiriman bantuan ini dilaksanakan di kantor Kementerian Agama RI Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Jumat (21/2) dan dipimpin langsung oleh Prof Waryono, Direktur Pemberdayaan […]

  • PMII Joyo Kesumo Ziarahi Makam-Makam Auliya’

    PMII Joyo Kesumo Ziarahi Makam-Makam Auliya’

    • calendar_month Sen, 29 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    PATI-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Joyo Kesumo Pati melakukan tour religi tiga wali di Pati dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung dari Hari Minggu (28/7) siang hingga malam. Belasan pengurus Komsat Joyo Kesumo membelah panasnya siang dan dinginnya malam untuk mengingat jasa para auliya’. Para Pengurus PMII Komsat Joyo Kesumo saat melaukan ziarah di makam […]

  • PCNU-PATi

    PAC Fatayat NU Kecamatan Gunungwungkal masa khidmat 2022-2023, Resmi dilantik

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Gunungwungkan, resmi dilantik pada Jumat, 17/2 bertempat di gedung Haji Kecamatan Gunungwungkal. Dalam kegiatan tersebut yang hadir meliputi, PCFNU (Hj. Alfi Hidayah, S. Pd.I WK Ketua dan lilik Khoni’ah,SE (Sekretaris umum), Muspika (Camat,polsek,koramil), Hj. Muntamah (Dewan kehormatan Fatayat NU Kab. Pati dan DPRD Pati),MWC NU dan banom-banomnya dan […]

  • Islam Agama Kemanusiaan

    Islam Agama Kemanusiaan

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Di tengah krisis pemahaman keislaman otentik dan komprehensif, umat Islam membutuhkan pemikiran yang mampu menyegarkan dan membangkitkan paham keislaman yang moderat, toleran dan rahmatan lil ‘alamin. Pemahaman keislaman demikian pada gilirannya mampu merealisasikan kerukunan antar umat beragama dan antar aliran di internal Islam sendiri. Melalui bukunya ini, K.H. Husein Muhammad menyampaikan beberapa refleksi pemikirannya dalam […]

  • Kaffarot (Denda) Orang yang Sudah Tua

    Kaffarot (Denda) Orang yang Sudah Tua

    • calendar_month Rab, 28 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 572
    • 0Komentar

      Ilustrasi : Pixabay Pertanyaan : Zainab mempunyai kakek yang usianya sudah tua dan juga sudah pikun. Karena pikunnya sudah agak parah, kakeknya sering lupa terhadap kesibukannya, kewajiban-kewajibannya, bahkan anak cucunya. Bolehkah kewajiban yang ditinggalkan kakek Zainab  diganti bayar kaffârot ? Jawaban : Jika kewajiban yang ditinggal berupa sholat maka sholatnya tidak bisa diganti dengan kaffârot jika […]

  • PCNU PATI _ Tumbuhkan Jiwa Sportivitas Karang Taruna Lahar Gelar Turnamen Bola Voli.

    Tumbuhkan Jiwa Sportivitas Karang Taruna Lahar Gelar Turnamen Bola Voli

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 519
    • 0Komentar

    TLOGOWUNGU –  Sportivitas haruslah dipupuk sejak dini agar menjadi manusia yang kuat secara fisik dan mental. Tujuan tersebut dilakukan oleh Karang Taruna Mandala Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, dengan mengajak para pemuda setempat berpartisipasi dalam Turnamen Bola Voli Antar Dukuh.  Turnamen yang berlangsung sejak 29 Mei hinga 10 Juni 2022 di Lapangan Gelora Manda Desa Lahar itu […]

expand_less