Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 8 Sep 2021
  • visibility 687
  • comment 0 komentar

 

Potret Desa Kajen dan Masjid Kajen dari udara. Sumber : kajen-margoyoso.desa.id

Sekelompok pemuda Desa Kajen yang tergabung dalam komunitas budaya Kaneman Kajen Jonggringan (Kanjengan) turut memeriahkan Haul Waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.

Kanjengan menggelar serangkaian acara yakni bincang buku, peluncuran buku, kidungan manuskrip dan ngaji bareng di puncak acara.

“Karena pandemi, semua dilaksanakan secara daring melalui kanal youtube Kanjengan TV. Rangkaiannya selama bulan Muharram/Syuro, atau sepanjang Agustus-September,” ujar Ahmad Falih Nur Hidayat, Ketua Panitia.

Falih mengatakan, sebanyak 11 buku yang diperbincangkan adalah karya-karya yang berkaitan dengan Mbah Mutamakkin atau pun Desa Kajen.

Sementara dua buku yang diluncurkan adalah kajian artefak masjid Kajen dan riwayat serta perjuangan Mbah Mutamakkin.

“Satu buku berbahasa Arab, membedah makna simbolik ornamen Masjid Kajen yang kaya ajaran dan filosofi. Dan satunya lagi cetakan ulang dari buku pertama yang membahas cerita tutur dari para sesepuh tentang Mbah Mutamakkin,” jelas Falih.

Di puncak acara, kata Falih, digelar kidungan Teks Pakem Kajen atau Suluk Alif. Setelah itu ada pengajian daring yang diisi oleh Gus Ulil Abshar Abdalla.

Sementara itu, koordinator Kanjengan Farid Abbad mengatakan, tema Festival Kajen ke-VII kali ini mengangkat tema “Sangkan Paraning Kajen: Ngaji, Ngajeni, Kajen.”

Harapannya, kata Farid, tema tersebut dapat menjadi ikhtiar bersama khususnya warga Desa Kajen untuk mengerti asal usul dan tujuan hidupnya.

“Ini merupakan hasil kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan oleh kaneman Kajen secara kontinyu.”

“Kami telah melakukan penelusuran sejarah, mengumpulkan manuskrip, diskusi, kajian, dan sesekali anjangsana ke wilayah-wilayah yang ada kaitannya dengan jejak dakwah Mbah Mutamakkin,” ujar Wakil Pengasuh Ponpes Al-Roudloh Kajen ini.

Farid menjelaskan, ikhtiar tersebut sebagai bentuk komitmen Kanjengan untuk merawat dan terus melestarikan tradisi kampung halaman.

“Mbah Mutamakkin dan Desa Kajen meninggalkan banyak warisan. Sebagai ahli waris, ibarat diberi sebidang tanah, pilihannya ada dua. Tanah itu dijual, atau ditanami tumbuh-tumbuhan supaya ngrembaka dan lebih bermanfaat. Kanjengan memilih yang kedua,” ujar mahasiswa S2 Antropologi UI ini.

“Di puncak acara nanti, terkait Sangkan Paran Kajen ini akan dibahas oleh Gus Ulil Abshar Abdalla pada Selasa 07 September malam,” imbuhnya.

Kidungan Teks Pakem Kajen

Manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya. Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu Ngerojo.

Terakhir, sebab panambangnya setelah itu meninggal dunia. Kaneman Kajen mencoba merevitalisasinya kembali: menembangkan satu-satunya manuskrip yang menyimpan ajaran Dewa Ruci versi Mbah Mutamakkin. Satu-satunya. Sebab dalam manuskrip-manuskrip yang lain, misalnya Serat Cabolek (yang ada belasan versi itu), Ketib Anom lah yang membabar Dewa Ruci.

Kisah lain, Mbah Mutamakkin adalah guru spiritual Pukubuwana II. Ada pertemuan empat mata antara Mbah Mutamakkin dan Pakubuwa II.  Ada ‘bisikan rahasia’ Mbah Mutamakkin yang disampaikan. Bisikan itu agaknya memengaruhi langkah politik-kebangsaan Pakubuwana II kala itu di Jawa, yang sedang gonjang-ganjing.

Kemudian, manuskrip ini juga menceritakan pengalaman seorang santri yang ngaji kepada Mbah Mutamakkin. Namanya Ki Kedung Gede. Awalnya ia hendak melabrak Mbah Mutamakkin karena dianggap sesat. Namun ketika berjumpa, dan mengetahui kapasitas keilmuan Mbah Mutamakkin, Ki Kedung Gede justru malah ingin berguru. Ki Kedung Gede pun mengakui bahwa Mbah Mutamakkin tidak hanya mengajarkan agama Islam, tapi juga ilmu-ilmu kuno.

Lantas, mengapa ditembangkan?

Mbah Yai Ruba’i, generasi kelima yang menyimpan manuskrip tersebut merindukan suasana masa kecilnya. Kira-kira 70-an tahun yang lalu. Kala itu, Mbah Yai Ruba’i bersama ayahandanya, Kiai Syamsuri, setiap tahun mengikuti acara rutin Syuronan di Pasareyan Mbah Mutamakkin. 

Salah satunya tetembangan Teks Pakem Kajen alias Suluk Alif. Warga setempat menyebutnya sebagai ‘kidungan’. Namun kidungan itu hanya berlangsung beberapa tahun. Sebab panambangnya sudah sepuh dan setelah itu meninggal dunia.

Kami sebagai generasi yang berbakti, lantas mencoba mengidungkannya kembali. Salah satunya untuk menebus kerinduan Mbah Yai Ruba’i. Meskipun dengan segala keterbatasan. Sesederhana itu alasannya.

“Menurut kami, ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa menggantikan lelaku tradisi yang kadung dianggap kuno. Padahal, tradisi yang bersangkutan dulunya adalah laku hidup sehari-hari. Di masa kini, terutama ada pertimbangan-pertimbangan kultural dan spiritual, yang menurut kami keduanya tidak bisa diwakili oleh teknologi digital dalam melakukan sebuah tradisi,” ujar Taufiq Hakim yang mengidungkan Teks Pakem Kajen. Saat kidungan berlangsung pada 28 Agustus lalu, spontan ada warga Kajen yang ikut mengidungkan. Ia adalah Mbah Yasir. Menurut pengakuannya, Mbah Yasir juga merindukan suasana seperti itu.

Di sisi lain, kata Taufiq, menulis jurnal, buku, esai, adalah penting sebagai eksistensi tradisi di ranah studi dan kontestasi pengembangan studi. Kami juga melakukannya. 

“Tetapi, merevitalisasi tradisi yang telah lama hilang juga tak kalah penting: ‘mengembalikan tradisi’ kepada ahli warisnya. Kedua lelaku tersebut musti berjalan beriringan,” ujar mahasiswa Magister Sastra UGM ini.(sis/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU dan Pem Kab  Mengadakan Istigousah Terakhir Tahun 2015

    NU dan Pem Kab Mengadakan Istigousah Terakhir Tahun 2015

    • calendar_month Sen, 7 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Kamis 26/11/15 kemarin  bertempat di Pendopo Kabupaten Pati telah di selenggarakan Istigosah ulama dengan umaro’. Acara rutinan tiga bulan sekali tersebut atas kerjamasa NU dan Pem Kab Pati.  Dan pada malam Jumat kemarin adalah acara Istigosah terakhir di tahun 2015.             “Ini adalah Istigosah terakhir di tahun 2015, dan sudah berlangsung selama 3 tahun. Maka […]

  • Mencari Hutang untuk Tahlilan

    Mencari Hutang untuk Tahlilan

    • calendar_month Sen, 8 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Sudah menjadi tradisi masyarakat, kalau ada keluarganya yang meninggal dunia, ahli warisnya mengumpulkan orang untuk bersama-sama membaca fatihah, surat ikhlas, tahlil dan lain-lain. Tepat pada satu hari, dua hari dan seterusnya.Dan semua itu tidak terlepas dari biaya, padahal ahli mayyit termasuk orang-orang yang tidak mampu dan mayyit sendiri tidak meninggalkan tirkah (harta peninggalan).   Pertanyaan […]

  • Doa dari Rumah Seluruh Umat Beragama Terjadwal Siang Ini

    Doa dari Rumah Seluruh Umat Beragama Terjadwal Siang Ini

    • calendar_month Ming, 11 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), mengajak seluruh umat beragama di Indonesia untuk #PrayFromHome secara serentak siang ini, Minggu (11/7) pukul 14.00 WIB. JAKARTA-Hari ini, Minggu (11/7) Kementerian (Kemenag) Agama Republik Indonesia menggelar hajat bagi warga Indonesia. Gerakan hashtag Pray From Home (berdoa dari rumah) atau PFH mulai digalakkan akhir-akhir ini.  Kemenag sendiri […]

  • PCNU-PATI

    Inilah Sembilan Tren Tema Artikel yang Laku di Jurnal Scopus

    • calendar_month Sen, 30 Sep 2024
    • account_circle admin
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Tuban – Dalam rangka menguatkan keterampilan dosen dalam menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus, LPPM Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) Tuban menggelar Workshop Academic Writing bertajuk “Strategi Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi di Jurnal Bereputasi” bertempat di Aula Lt.3 Gedung A Kampus Universitas Al Hikmah Indonesia (UAI) Tuban. Acara tersebut […]

  • Photo by Tim Mossholder

    Kodrat dalam Bingkai Gender

    • calendar_month Jum, 17 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Hari ini jadwal saya menulis. Rasa malas akibat kurang nyamannya perasaan sejak tadi malam membuat saya kurang bersemangat merangkai kata. Jadi mohon dimaklumi jika anda membaca tulisan ini menemui kejanggalan atau kurang terhubung satu kalimat dengan lainnya. Harap bersabar ini bukan ujian. Dan saya ingin menyampaikan terimakasih jika anda berkenan meluangkan […]

  • Gelar Tasyakuran Harlah 102 Tahun NU, PCNU Pati Beri Harapan Pada Pemkab

    Gelar Tasyakuran Harlah 102 Tahun NU, PCNU Pati Beri Harapan Pada Pemkab

    • calendar_month Jum, 31 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 539
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menggelar tasyakuran harlah ke-102 tahun NU pada Jumat, (31/1/2025). Berbagai harapan disampaikan pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dibawah calon bupati terpilih. Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung PCNU Pati tersebut, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pati, KH Yusuf Hasyim menyinggung perihal tindak lanjut Peraturan Bupati (Perbup) […]

expand_less