Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Celoteh » Dampingi Anak-Anak

Dampingi Anak-Anak

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 13 Okt 2023
  • visibility 457
  • comment 0 komentar

Oleh : Inayatun Najikah

Satu bulan belakangan ini banyak sekali berita tentang anak-anak yang mengalami kejadian buruk. Melansir banyak berita mengabarkan bahwa seorang siswa salah satu Madrasah Aliyah kota Demak membacok gurunya. Sedangkan di Kabupaten Cilacap dua orang siswa SMP menjadi tersangka kasus penganiayaan kepada sesama temannya sendiri yang sempat viral di jagat maya. Dan tiga hari yang lalu bertepatan dengan hari kesehatan mental dunia, kita dikejutkan oleh kasus bunuh diri seorang mahasiswi kampus ternama di Semarang.

Saya turut prihatin. Kasus-kasus diatas merupakan bukti kelalaian kita sebagai orang dewasa dalam membimbing dan mengawasi anak-anak. Kabarnya pada kasus yang pertama tersebut karena si anak meminta keringanan agar bisa mengikuti ulangan tengah semester namun sang guru yang bersangkutan tak mengindahkan permintaan tersebut. Alhasil si anak menjadi marah lalu memutuskan untuk pulang kerumah mengambil sabit yang kemudian ia gunakan untuk menganiaya guru tersebut.

Berbeda dengan kasus yang kedua. Dari video yang beredar memperlihatkan dua orang siswa yang masih mengenakan seragam sekolah tengah melakukan perundungan dan penganiayaan kepada seorang temannya secara terus menerus.

Sedangkan kasus yang ketiga mengabarkan seorang mahasiswi yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 4 salah satu mal di Semarang. Dalam kejadian itu ia meninggalkan secarik kertas yang berisi tulisan berbahasa inggris, dimana intinya adalah permohonan maaf untuk keluarganya karena ia tidak sekuat yang diharapkan.

Disini saya hanya ingin menyampaikan bahwa bagaimanapun keadaannya setiap anak-anak tidak boleh disalahkan. Kecuali memang apa yang dilakukannya telah menyakiti atau merugikan orang lain. Saya mengutip kalimat dari salah satu scene drama korea yang tak lama ini tengah saya tonton hingga selesai. Salah satu dialognya menyebutkan bahwa anak-anak tak sepatutnya disalahkan karena perbuatannya. Sebab mereka masih baru mengenal dunia ini. Mereka belum mengetahui seluk beluk bagaimana kehidupan ini berjalan. Dan sebaiknya segala tingkah laku dan perbuatannya harus tetap terkontrol dalam pengawasan orang tua dan orang dewasa lainnya.

Dikatakan juga pada dialog tokoh utama perempuan drama korea yang berjudul king the land tersebut, bahwa orang dewasa lah yang seharusnya bertindak lebih dewasa lagi. Agar mampu mengerti dan memahami maksud dan keinginan si anak. Lalu kemudian diarahkan.

Namun terkadang kita melupakan kesadaran sebagai manusia yang hidupnya telah lebih lama dari anak-anak. Kita memandang bahwa mereka sama seperti kita. Mereka harus tahu cara berempati, peduli, mengenal mana yang baik dan buruk dengan sendirinya. Dengan dalih agar mereka mandiri dan tak ketergantungan nantinya.

Terkadang kita juga melupakan tugas dan tanggungjawab terhadap pendampingan dan justru malah fokus membuat anak-anak bertingkah layaknya orang dewasa. Dan jika anak-anak mengungkapkan segala resah, gelisah, gundah, gulana, maka dianggap lebay dan terlalu lemah. Padahal itu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi mereka.

Sampai sekarang ini kita masih banyak menjumpai orang tua dan orang-orang dewasa yang belum mampu mendampingi anak-anak dalam tumbuh kembangnya dengan baik. Dan ketika anak-anak melakukan “kesalahan” yang bagi mereka sendiri tak tahu bahwa itu salah, kita malah melabeli dan menjustifikasi bahwa mereka tak bisa menjadi pribadi yang baik.

Dari ketiga kasus itu saja mari kita belajar menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya. Memberikan kesempatan pada siapapun untuk bercerita dan berbicara tanpa memandang berapa usianya, siapa dirinya, dan bagaimana latar belakangnya. Memang hal ini tak mudah, namun apakah tak mungkin jika kita mencegahnya dari diri kita sendiri sebagai lingkup terkecil dalam sistem yang terbentuk di masyarakat?

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.624
    • 0Komentar

    Aceh Timur — Banjir bandang itu datang tanpa memberi waktu. Dalam hitungan menit, air setinggi enam meter menyeret rumah, sawah, ternak, kendaraan, dan seluruh harta warga Dukuh Dataran Indah, Kecamatan Peunaron. Di antara ratusan korban, rumah milik Maslukin, Wagiran, Adnan, dan Efendy ikut tergeser puluhan meter dari tempat semula. Hari itu, Jumat 16 Januari 2026, […]

  • NU Kabupaten Pati Punya Website

    NU Kabupaten Pati Punya Website

    • calendar_month Sab, 26 Apr 2014
    • account_circle admin
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Web yang dimiliki NU Kabupaten Pati sementara tampil dengan nama nu-kab-pati.blogspot.com namun kelak akan tampil simple, dan tidak panjang dalam memberi nama Websitenya. cukup ketik www.nu.kabpati.com atau nu.kabpati.org maka saat ini web NU Sudah bisa anda buka. Dalam web ini berisi tentang informasi yang berhubungan dengan NU Kabupaten Pati, pengumuman, pengumuman, mungkin nantibisa berkembang terus […]

  • Nilai-Nilai Islam Nusantara Satukan Keberagaman dalam Bingkai Pendidikan

    Nilai-Nilai Islam Nusantara Satukan Keberagaman dalam Bingkai Pendidikan

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.383
    • 0Komentar

      Semarang – Disertasi Fakhruddin Karmani menegaskan bahwa Islam Nusantara merupakan model keberagamaan yang relevan bagi Indonesia sebagai bangsa multikultural. Dalam pendahuluannya dijelaskan bahwa Islam Nusantara menekankan toleransi, komunikasi terbuka, serta penghormatan terhadap perbedaan sebagai kekuatan penyatu dalam bingkai NKRI. Nilai-nilai utama seperti tasāmuh (toleransi), musāwah (egaliter), insāniyyah (humanis), dimūqrāṭiyyah (demokratis), dan waṭaniyyah (nasionalis) menjadi […]

  • Momen Kemerdekaan, PCNU : Tanpa Ulama NU Mungkin Indonesia belum Merdeka

    Momen Kemerdekaan, PCNU : Tanpa Ulama NU Mungkin Indonesia belum Merdeka

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 621
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim, ketua PCNU Pati dalam diskusi Kebangsaan bersama mahasiswa KKN Gembira IPMAFA PATI-17 Agustus 76 tahun silam, proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan. Pembacaan naskah keramat ini menjadi simbol kemerdekaan Indonesia.  Masyarakat era milenial, tidak merasakan beratnya perjuangan kala itu. Maka, K. Yusuf Hasyim, ketua PCNU Pati, mengajak warga Indonesia untuk merenungi jasa-jasa pahlawan, khususnya […]

  • Ratusan Potong Masker Ludes Sekejap

    Ratusan Potong Masker Ludes Sekejap

    • calendar_month Rab, 15 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 495
    • 0Komentar

    Proses briefing yang disampaikan oleh Maulana Luthfi Karim, ketua Kader Penggerak NU Gembong dan pihak kepolisian sebelum pembagian masker GEMBONG-Kader Penggerak NU (KPNU) Kecamatan Gembong menggelar aksi solidaritas. Kegiatan ini dilaksanakan di Pasar Gembong, Rabu (15/4) pagi tadi. Aksi yang dilakukan adalah membagi sejumlah masker kepada para pengunjung dan pedagang pasar. Sedikitnya ada 400 potong […]

  • Fakhruddin Kukuhkan Pengurus LP Ma’arif NU PCNU Kab. Purbalingga.

    Fakhruddin Kukuhkan Pengurus LP Ma’arif NU PCNU Kab. Purbalingga

    • calendar_month Sen, 11 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 618
    • 0Komentar

    Dengan semangat ngurusi Madrasah/Sekolah Ma’arif NU, Ketua LP Maarif NU PCNU kab. Purbalingga, Thoriq Jahidin menekankan kepada semua pengurus yang baru saja dikukuhkan oleh Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani pada acara Rapat Kerja Dinas di PM Colaboration Purbalingga pada hari Sabtu (09/11/24) Rapat Kerja Dinas LP Ma’arif NU PCNU Kab. Purbalingga […]

expand_less