Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Crush Never Ending

Crush Never Ending

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 28 Apr 2024
  • visibility 490
  • comment 0 komentar

Oleh : J. Intifada

Pertanyaannya masih sama. Kenapa aku belum bisa bergerak untuk membuka hati. Sedang kamu sudah punya kebahagiaan baru. Aku masih mempertanyakan kenapa perasaanku masih begitu lekatnya. Sedang kamu sepertinya sudah hilang beban dan melepasku tanpa arah.

Aku tak pernah ingin tahu kehidupanmu sekarang.

Entah siapa istrimu, entah bagaimana anakmu. I don’t care. Aku hanya peduli. Bagaimana kamu. Iya kamu. Apakah perasaanku ini semu belaka? Apakah selama ini aku hanya halu saja? Kamu tidakkah merasakan yang sama?

Lain hari aku berkutat dengan perasaan yang terikat denganmu. Sampai aku lupa bahwa aku perlu melanjutkan hidup. Sesekali ku tengok sosial media mu. Sungguh aku cemburu dengan kebahagiaanmu. Lalu aku pun bergumam sendiri. Merutuki diri untuk tidak akan peduli.

Kowe wes bahagia. Moso aku rung iso bahagia. Moso bahagia tergantung awakmu. Yuw ora lah. Lha kowe ae bahagia ne mbi kae. Moso aq kudu bahagia ngenteni kwe bahagiain aku. Kowe wes bahagia yuwes cukup. Bagi ku cukup tahu aja kalau kamu bahagia.

Taklosske perasaanku. Ora meh ngaboti kowe meneh. Lha opo aq meh dadi istri keduamu. Yuw moh. Wong dia bisa jadi ratumu yuw aq kudu iso dadi ratu dari yang lain. Pastinya seseorang yang ingin menjadikan aku ratu untuknya. Ora meh ngemis cintamu.

Begitulah setiap saat diriku mencoba mewaraskan diri. Disaat hari tenang tanpa ada kabar darimu, hidupku terasa damai. Melakukan aktifitas serasa ringan dan tanpa beban. Hanya saja bila ada momen yang membangkitkan memori tentangmu.

Good malam, selamat night. Ahh sapaan ku kala itu. Bahkan sudah berpuluh tahun itu tak terdengar. Tapi terasa seperti aku mengucapkan itu pada mu. Padahal aku tak ingin berdrama. Itu datang begitu saja tanpa sengaja.

Sudah saatnya aku beranjak dari tempatku sekarang. Bukan lagi menanti dan meratapi kepergianmu. Sudah ku ikhlaskan kau berbahagia disana. Ku nikmati perasaan tanpa hadirmu. Memaafkan tiap kali aku merasa bersalah padamu.

Perasaan yang ingin tahu bagaimana perasaanmu dulu padaku. Apakah benar aku wanita yang kau cintai. Wanita yang kan kau bawa ke rumahmu. Ahh masih teringat jelas kamu memohon padaku. Mengajakku ke rumahmu untuk mengikuti pesta pernikahan kakak perempuanmu.

Aku menolak. Bukan berarti aku tak ingin datang. Sungguh aku tahu maksud apabila ku datang. Kau ingin memperkenalkanku di keluarga besarmu. Mengenalkanku sebagai kekasihmu mungkin. Atau teman baikmu.

Namun sayang kau tak menyambut pemahamanku. Aku ingin kau datang. Membujukku. Merayuku dan memaksamu ikut. Memboncengmu ke rumahmu. Mengajakku menginap dirumahmu.

Ah, khayalan macam apa ini. Jelas itu tak mungkin. Kau pasti mengira aku orang yang tak bisa sembarangan untuk dibujuk dan diajak kerumah orang tuamu. Kenyataannya, aku memang menunggumu untuk memperjuangkanku. Berjuang di depan orang tuaku dan orang tuamu. Mungkin salahku juga tak memberimu sinyal. Atau aku sudah memberi banyak rambu. Yang kau tafsiri, kau tak bisa melewati rambu-rambu itu.

Bodohnya aku. Aku memang memasang alarm di alam bawah sadarku bahwa aku tak ingin bersamamu. Alasannya mungkin sudah kau perjelas dengan tindakanmu yang tak ingin maju.

Harga diri,

Status sosial,

Pendidikan.

Saat ini aku hanya ingin berkata, “shit, damn,” Bila ini cinta tak perlu lah ada batasan kata-kata semacam itu. Tapi ya sudahlah, kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Walau perasaan kita ahh tahulah.

Atau memang kamu pernah akan memperjuangkanku. Hanya karena aku tak bisa membaca perjuanganmu. Karena aku terlalu takut. Takut bahwa itu bukan untukku. Atau selama ini perasaan ini hanya semu. Bertepuk tangan saja dalam mimpi-mimpiku.

“Dia lagi apa ya di?” tanyaku suatu kali pada Ardi

“Ya mana tahu lah. Coba sana kasih pesan.”

“Ya kali kirim pesan. Kalau yang buka dia alhamdulillah. Kalau istrinya?”

“Ya alhamdulillah. Diajak kenalan.”

Humf. Aku menghela napas. Berat juga merelakan yang sudah terlalu melekat.

“Makanya buka hati. Kamu akan menemukan kebahagiaan yang baru.”

Aku kembali membuka ponsel. Mencoba scroll media sosial menghilangkan perasaan yang masih labil. Kadang tegar dengan kenyataan dia sudah bahagia. Kadang masih menginginkan dia datang. Tak tahu lagi maunya hati.

“Katanya sudah rela?”

“Sudah….”

“Lalu?”

Aku enggan menjawab pertanyaan yang berulang. Tiap kali aku mengatakan aku rela akan diikuti dengan keengganan membuka hati. Kemudian beberapa kali bila terasa hening dalam kesendirian akan terbesit akan dia.

“Aku pergi dulu ya. Anak-anak ngajakin ngopi.”

“Huum.”

Ardi meninggalkan chat pribadi wa dengan ku dalam kegabutan. Dia teman yang baik. Tak ada perasaan apa-apa untuknya. Pun sebaliknya. Kami hanya saling mengisi kegabutan dengan mengghibah crush masing-masing.

Tiap kali butuh teman curhat, dia akan selalu dengan senang hati menanggapi. Kadang ikut mengompori perasaan yang terlalu dalam. Saat dia sedang tak bisa diganggu, dia tak sungkan bilang akan menghubungi nanti.

Ku letakkan ponsel mungilku. Merebahkan diri dan meraih buku bergambar rumah bergaya eropa yang ada cerobong asap dengan bertuliskan, come and go, never mind. Ku buka dan meninggalkan goresan di dalamnya.

Andai seandainya itu tak dilarang aku ingin mengungkapkan semua pengandaianku padamu. Sayangnya berandai-andai adalah sesuatu yang sia-sia. Aku mencoba merenungi bahwa memang sebaiknya aku menerima. Tidak lagi mempersoalkan tentang perasaanmu yang lalu. Tidak lagi penasaran apakah kamu masih memikirkanku.

Cukup dengan menyadari kamu sedang bahagia bersama keluarga kecilmu. Walau aku tak tahu bagaimana kabarmu sekarang. Bagaimana paras istrimu sesungguhnya. Yang aku lihat hanya fotonya dari media sosial. Bagaimana putra kecilmu bergelayutan meminta gendongan.

Aku tahu pasti itu akan menyita banyak waktu dan perhatianmu. Walau aku masih meyakini masih ada sedikit perhatian untukku. Just a mind. In the memory.

Melekat dan mengikat. Ah, padahal kita tak pernah punya hubungan spesial layaknya kekasih. Bahkan kita tak pernah bertemu. Jarak antar pulau. Apalagi. Mungkin bila kita masih satu kota.

Mungkin? Mungkin satu akan menimbulkan mungkin – mungkin yang lain. Dan mungkin yang lalu adalah hal mustahil akan terjadi. karena tak akan pernah terulang. Namamu jelas sangat punya daya tarik sendiri.

Awal mengenalmu, awal berteman denganmu, awal salah tingkah dengan tatapanmu, awal kedekatan kita yang. Ah sudahlah. Itu hanya masa lalu……………

Namanya masa lalu ya adanya sudah berlalu. Tak perlu lagi disanjung apalagi digunjing. jadikan renungan saja.

Bila mbak nana bisa bilang,” jangan mencintai orang yang sama dua kali, karena yang kedua kali kita hanya mencintai kenangannya.” That’s true. Aku mencintai kenangan-kenangan bersamamu.

Mungkin bila saat ini aku menjadi istrimu, aku tidak bisa leluasa mengenangmu sambil menulis diary. Sambil sesenggukan bagaimana aku merasa kehilanganmu.

Ahh teringat pula kata bang A. Fuadi, “wong tidak memiliki kok merasa kehilangan.” Lha apa aku pernah merasa memilikimu? Gak kan. Yaudah ya. Aku ikhlas kamu pergi. Aku sudah rela kok.

Ku tutup diary dengan helaan napas. Menutup mata dan menunggu pagi. Tak lama kemudian terlelap.

Kalau aku jadi dia, aku akan mengungkapkan perasaanmu.

Buat mendapatkan penolakan.

Sebelumnya kan kamu bisa mengungkapkan.

Terlambat.

Ku buka kembali kedua mataku. Pikiran dan hatiku masih berdebat. Sungguh, aku lelah dengan pikiran dan perasaan ini. Kapan ini akan berhenti.

“Good morning sista.”

Pesan wa dari Mbak Fita pagi-pagi menyapa. Senyum tersungging membacanya. Tak biasanya sahabat karibku ini mengirim chat wa.

Belum sempat ku membalas, dia sudah menyusul mengetik kembali.

“Mau aku kenalin ke adikku gak?”

Ingin ku buang semua isi kepala yang semalam campur aduk. Bisanya Mbak Fita mempunyai ide itu. Ku kirim emoticon tertawa terjungkal.

“Daripada kamu galau mulu mikirin suami orang.” imbuhnya membalas emoticonku yang tak bisa ku berkata-kata lagi.

Ku tutup handphone dan beranjak membersihkan diri bersiap berangkat kerja.

“Kamu yakin mau ngenalin adikmu?”

“Kan biar kamu ada teman ngobrol aja.”

“Yakin?”

Mbak Fita tak membalas lagi. Ku lanjutkan hari dengan memikirkan tawaran mbak Fita. Rasanya ada benarnya. Aku butuh teman ngobrol yang bisa diajak bercanda dan memecahkan masalah. Tapi aku belum terlalu mengenal adiknya.

Aku takut kejadian denganmu terulang lagi. Berteman dan menjadi nyaman. Hingga terbawa suasana dan menaruh harapan. Padahal niat hati dari awal kita akan berteman saja. Akhirnya aku tak bisa melepas bayang-bayangmu.

“Berteman tak ada salahnya.”

“Baiklah. Akan ku coba.”

“Membuka hati, membuka diri, membuka pikiran. Kalau jodoh tak akan kemana.”

Ku kirim emoticon senyum dan ku tinggalkan percakapan untuk melanjutkan pekerjaan yang mendekati dateline.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Apresiasi Permintaan Maaf Bupati

    PCNU Apresiasi Permintaan Maaf Bupati

    • calendar_month Sel, 12 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 183
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati mengapresiasi langkah Bupati Pati, H. Sudewo, ST, MT, yang menyampaikan permintaan maaf terkait klaim sepihak atas persetujuan kebijakan lima hari sekolah. Permintaan maaf itu disampaikan sehari setelah Maklumat PCNU Pati dikeluarkan pada Ahad, 10 Agustus 2025. Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim menilai, sikap Bupati yang […]

  • Pasca Rapat Anggota PR IPNU IPPNU  Desa Jontro Gencar Bangun Komunikasi

    Pasca Rapat Anggota PR IPNU IPPNU Desa Jontro Gencar Bangun Komunikasi

    • calendar_month Jum, 12 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Pati, 12 Maret 2021 Setelah terpilihanya ketua baru Rekan Ali mustain (IPNU) dan Rekanita Maulin ni’mah (IPPNU) hasil  Konfrensi Pimpinan Ranting desa Jontro Kec Wedarijaksa. Kini langkah pertma yang di lakukan yaitu membangun komunikasi ke beberapa  tokoh-tokoh NU yang berada di desa tersebut. Kegiatan ini di laksanakan pertamakali pada 12 maret 2021 yang berlokasi di […]

  • MWCNU Jakenan Bersama Forkopimcam Sambut Hari Santri 2021 Dengan Manakiban

    MWCNU Jakenan Bersama Forkopimcam Sambut Hari Santri 2021 Dengan Manakiban

    • calendar_month Jum, 22 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

      Ketua MWC NU Kayen, Aris Sutopo (kiri) didampingi Camat dan Kapolsek setempat JAKENAN – MWCNU Jakenan bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) gelar manakiban dan doa bersama dalam rangka menyambut peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2021, Kamis malam (21/10). Acara yang dilangsungkan di  di Pendopo Kantor Kecamatan Jakenan, mulai pukul 19.30 WIB dihadiri […]

  • Sepeda Santai, Meriahkan Hari Santri Nasional MWC NU Wedarijaksa

    Sepeda Santai, Meriahkan Hari Santri Nasional MWC NU Wedarijaksa

    • calendar_month Ming, 20 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Pemenang Undian Grand Prize Sepeda Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 diramaikan oleh seluruh warga masyarakat kecamatan Wedarijaksa dan sekitarnya, salah satunya dengan kegiatan Sepeda Santai, Ahad (20/10). Sepeda  Santai ini diikuti oleh seluruh  jajaran pengurus MWC NU, pengurus Ranting, panitia, seluruh banom, dinas lembaga, dan semua lapisan masyarakat. Kegiatan ini dibuka oleh Camat Wedarijaksa, […]

  • PCNU-PATI

    LAZISNU Bantu Korban Kebakaran

    • calendar_month Sel, 7 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-PC Lazisnu Pati kembali melakukan pemberian bantuan kepada warga yang membutuhkan. Bantuan yang dimaksud diberikan kepada Legiman, warga Dukuh Sambirowo Rt 05 Rw 03 kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati, selasa (07/02). Pihak Lazisnu Pati yang diwakili oleh tim manajerial turut serta menggandeng MWC NU Pucakwangi beserta banomnya. Pemberian bantuan kali ini diberikan dalam bentuk uang tunai.  […]

  • Mantabkan Organisasi, PAC IPNU/IPPNU Juwana Adakan Pelantikan dan Raker

    Mantabkan Organisasi, PAC IPNU/IPPNU Juwana Adakan Pelantikan dan Raker

    • calendar_month Jum, 2 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 146
    • 0Komentar

    JUWANA-Usai pelaksanaan Konferensi Anak Cabang, PAC IPNU IPPNU Juwana adakan pelantikan & rapat kerja 1 pada Jum’at, 2 Agustus 2019. Kegiatan yang dilaksanakan digedung haji Juwana ini, bertujuan untuk merencakan sekaligus melaksanakan kegiatan-kegiatan PAC IPNU IPPNU Kecamatan Juwana dalam 1 tahun kedepan yang telah di sepakati dalam forum. Para pengurus baru PAC IPNU Juwana Mengusung […]

expand_less