Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ad Maiora Natus Sum

Ad Maiora Natus Sum

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
  • visibility 936
  • comment 0 komentar

Oleh: M. Iqbal Dawami

Di tengah-tengah kota Bandung, yang ramai dengan hiruk pikuk kehidupan modern, terdapat sebuah oasis keheningan dan warisan sejarah yang kaya, yaitu SMA Santo Aloysius. Didirikan pada tanggal 21 Juni 1930, sekolah Katolik ini merupakan saksi bisu perkembangan kota Bandung dari masa ke masa. Berdiri megah dengan arsitektur yang merefleksikan keanggunan masa lalunya, sekolah ini adalah salah satu yang tertua di Bandung. Kemegahan dan sejarah yang melekat pada SMA Santo Aloysius menjadikannya lebih dari sekadar institusi pendidikan; ia adalah simbol dari tradisi, keunggulan, dan nilai-nilai yang abadi.

Tahun lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat istimewa ini. Langkah pertama yang saya ambil di halaman sekolah langsung menyihir saya ke dalam suasana yang tenang dan memikat, jauh dari kebisingan kota. Di tengah halaman, saya disambut oleh sebuah patung besar menjulang tinggi. Patung tersebut adalah Santo Aloysius, pelindung sekolah dan figur yang sangat dihormati dalam komunitas Katolik.

Santo Aloysius, dengan riwayat hidupnya yang menginspirasi, seolah-olah membisikkan cerita kepada setiap orang yang meluangkan waktu untuk merenungkan perjalanannya. Meskipun ia sering dianggap memiliki kesamaan dengan seorang sufi dalam tradisi Islam karena dedikasinya yang luar biasa kepada Tuhan dan komitmennya untuk membantu sesama, Santo Aloysius memiliki ciri khas spiritualitasnya sendiri. Ungkapannya yang terkenal, “Ad maiora natus sum,” yang berarti “Untuk hal-hal besar aku dilahirkan,” menggema di seluruh penjuru sekolah, menginspirasi siswa dan pengunjung sama-sama untuk berpikir besar dan berusaha mencapai lebih.

Mengunjungi sekolah ini tidak hanya merupakan perjalanan fisik, tapi juga perjalanan spiritual, di mana saya diajak untuk merenungkan makna kehidupan yang lebih dalam. Di bawah patung Santo Aloysius, saya menemukan beberapa ungkapan yang menggugah jiwa. Salah satunya adalah, “Hidup bagai kerikil jatuh ke air, tampak berubah ke segala arah. Benih kebaikan tak ‘kan pernah mati, pasti berbuah dan membawa berkah.” Ungkapan ini, sederhana namun mendalam, mengingatkan kita semua bahwa tindakan kecil kita dapat menimbulkan gelombang perubahan yang besar.

Ungkapan “Hidup bagai kerikil jatuh ke air, tampak berubah ke segala arah. Benih kebaikan tak ‘kan pernah mati, pasti berbuah dan membawa berkah,” menggambarkan sebuah filosofi kehidupan yang sarat makna. Bagai kerikil kecil yang dilemparkan ke dalam kolam tenang, setiap tindakan kita, tidak peduli seberapa kecil, dapat menimbulkan riak yang bergerak melampaui batas yang kita bayangkan. Kerikil tersebut, meski kecil dan tampak tidak berarti, memiliki kekuatan untuk mengubah wajah air yang tenang menjadi kanvas dinamis dari gelombang yang menyebar ke segala arah.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ungkapan ini mengajarkan kita tentang kekuatan dari tindakan kebaikan. Sebuah senyuman, kata-kata penyemangat, atau bahkan tindakan sederhana seperti mendengarkan, bisa menjadi kerikil yang kita lemparkan ke dalam kolam kehidupan seseorang. Kita mungkin tidak langsung menyaksikan dampak dari tindakan tersebut, tetapi gelombang yang dihasilkan dapat membawa perubahan signifikan dalam kehidupan orang lain.

Lebih jauh, ungkapan ini menekankan bahwa benih kebaikan tidak akan pernah mati. Ini adalah pengingat bahwa setiap perbuatan baik, tidak peduli seberapa kecil, memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Seperti benih yang ditanam dengan harapan, tindakan kebaikan memerlukan waktu, kesabaran, dan kondisi yang tepat untuk berkembang. Namun, sekali tumbuh, ia akan membawa berkah tidak hanya kepada orang yang melakukan kebaikan tersebut tetapi juga kepada komunitas yang lebih luas.

Pentingnya filosofi ini tidak hanya terbatas pada interaksi personal tetapi juga dapat diterapkan dalam lingkup yang lebih luas seperti dalam komunitas, tempat kerja, dan bahkan dalam konteks global. Dalam dunia yang sering kali dipenuhi dengan pesimisme dan konflik, mengadopsi prinsip bahwa setiap tindakan kecil kita dapat menginspirasi perubahan positif adalah cara yang kuat untuk membawa cahaya ke dalam kegelapan.

Ungkapan ini juga mengajak kita untuk merefleksikan kembali nilai-nilai dan prioritas kita dalam kehidupan. Dengan memahami bahwa kita semua memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perubahan, kita diingatkan untuk bertindak dengan empati, kebaikan, dan tanggung jawab. Dalam setiap pilihan dan tindakan kita, terdapat kesempatan untuk menjadi pembawa perubahan yang positif.

Dengan demikian, ungkapan ini bukan hanya sebuah pepatah, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak. Ini adalah undangan untuk masing-masing dari kita untuk mengambil bagian dalam menciptakan dunia yang lebih baik, satu kerikil kebaikan pada satu waktu. Di tengah kekacauan dan tantangan kehidupan, mari kita ingat bahwa kerikil kecil yang kita lemparkan hari ini dapat menjadi gelombang besar perubahan esok hari.

Kunjungan saya ke SMA Santo Aloysius adalah pengalaman yang tak terlupakan. Saya meninggalkan sekolah tersebut dengan hati yang lebih kaya dan pikiran yang terinspirasi. Di tengah-tengah dunia yang terus berubah dan sering kali menuntut, SMA Santo Aloysius berdiri sebagai mercusuar harapan, mengingatkan kita semua bahwa kita dilahirkan untuk hal-hal yang lebih besar, namun dimulai dari hal-hal kecil layaknya krikil. Saya ingin mengutipnya lagi ungkapan Santo Aloysius ini:

“Hidup bagai kerikil jatuh ke air, tampak berubah ke segala arah. Benih kebaikan tak ‘kan pernah mati, pasti berbuah dan membawa berkah. Ad maiora natus sum (untuk hal-hal besar aku dilahirkan).”

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Koin Kemandirian NU

    Koin Kemandirian NU

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

    RABU, 31 Januari 2018, Nahdlatul Ulama memeringati Hari Lahir (Harlah) ke-92. Berdiri sejak 31 Januari 1926, kontribusi NU pada bangsa tidak terhitung jumlahnya, baik dalam konteks pembinaan moral, peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta internalisasi nasionalisme dan patriotisme. NU berdiri dari tiga embiro gerakan, yaitu Nahdlatul Wathan yang bergerak di bidang nasionalisme (1916), Tashwirul […]

  • Seribu Satu Rebana untuk Peringati Tahun Baru

    Seribu Satu Rebana untuk Peringati Tahun Baru

    • calendar_month Rab, 11 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 454
    • 0Komentar

    PAC IPNU IPPNU Trangkil gelar kegiatan seribu satu rebana untuk memperingati tahun baru 1443 Hijriyah. PATI – PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Trangkil baru saja sukses menggelar kegiatan seribu satu rebana. Kegiatan tersebut dilaksanakan di pendopo Desa Tlutup, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati pada Selasa malam (10/8). Wahyu Putra, Ketua PAC IPNU Kecamatan Trangkil menuturkan bahwa […]

  • Festival Rebana Ramaikan Haul KH Abdurrahman bin Yahya dan HUT Ke-93 YAPIM Ngagel

    Festival Rebana Ramaikan Haul KH Abdurrahman bin Yahya dan HUT Ke-93 YAPIM Ngagel

    • calendar_month Rab, 16 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 438
    • 0Komentar

      pacnupati.or.id – Festival Rebana dalam rangka Haul ke-103 KH Abdurrahman bin Yahya dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-93 Yayasan Pendidikan Islam Manahijul Huda (YAPIM), digelar di halaman Masjid Baiturrahman, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, pada Selasa (15/7/2025). Kegiatan ini menjadi ajang kompetisi sekaligus silaturahmi antarpeserta. Ketua HUT YAPIM, Ahmad Jami’in, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas […]

  • Inventaris Masjid

    Inventaris Masjid

    • calendar_month Sab, 4 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 650
    • 0Komentar

    Pertanyaan: Bolehkah Barang – barang inventaris masjid yang sudah tidak bisa di gunakan , apabila barang barang tersebut di jual dan uangnya dijadikan kas masjid ? (Ranting NU Tlogorejo) Jawaban: a.         Apabila inventaris masjid tersebut  termasuk barang waqaf maka hukumnya khilaf , menurut pendapat yang ashoh ( paling shohih ) barang tersebut boleh di jual […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Menulis Kegiatan Menyenangkan.. Photo by lilartsy on Unsplash.

    Menulis, Kegiatan mengasyikkan

    • calendar_month Jum, 3 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Saya sedang menjajaki dunia tulis menulis. Menulis kisah dan cerita yang  familiar terjadi disekitar kita. Meski terlihat lucu dan aneh. Namun tak apa, saya berusaha menuangkan apa yang terlintas dipikiran. Apa yang terdengar dan terlihat; supaya tak mengganjal dalam akal. Meskipun sederhana dan alakadarnya. Saya sangat menyadari karena memang tak ada basic disitu awalnya. Bisa […]

  • Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.522
    • 0Komentar

    Aceh Timur — Banjir bandang itu datang tanpa memberi waktu. Dalam hitungan menit, air setinggi enam meter menyeret rumah, sawah, ternak, kendaraan, dan seluruh harta warga Dukuh Dataran Indah, Kecamatan Peunaron. Di antara ratusan korban, rumah milik Maslukin, Wagiran, Adnan, dan Efendy ikut tergeser puluhan meter dari tempat semula. Hari itu, Jumat 16 Januari 2026, […]

expand_less