Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Urgensi Pendidikan di Pesantren

Urgensi Pendidikan di Pesantren

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 8 Apr 2023
  • visibility 433
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Pondok pesantren pada umumnya dikenal sebagai lembaga Pendidikan tertua di Pulau Jawa-Madura, dan Nusantara. Pondok pesantren berkemampuan tinggi dalam berswakarya dan berswakarsa dalam menyelenggarakan Pendidikan. Misi yang mulia selama ini lebih bercorak pada Pendidikan agama yang berorientasi pada pembentukan budi pikerti atau karakter santri, baik pada ranah agama maupun akhlak. Sehingga pesantren identik dengan pendidikan pembentukan karakter.

Di era modern sekaramg ini, pesantren selain dituntut untuk memperkuat penanaman nilai-nilai spiritual kepada para santri, juga dituntut untuk untuk memperkaya pada aspek tanggungjawab. Kedua hal ini dimaksud agar santri memiliki kepribadian yang seimbang anatar nilai-nilai spiritual, kedisiplinan, dan sifat tanggungjawab dimanapun santri berada.

Pesantren dengan cara hidupnya yang bersifat kolektif barangkali merupakan perwajahan atau cerminan dari semanagat dan tradisi yang berasal dari Lembaga-lembaga pendidikan tradisonal yang ada di pedesaan yang menanamkan sifat gotong-royong untuk saling bahu-membahu menolong antar sesame umat muslim. Adapun nilai-nilai keagamaan seperti ukhuwah (persaudaraan), ta’awun (Kerjasama), jihad (berjuang), taat, sederhana, mandiri, ikhlas, dan berbagai nilai eksplisit dari ajaran Islam merupakan cerminan tradisi yang ada di Pesantren, bahkan sampai sekarang ini terus terlestarikan.

Selain itu, pesantren berperan sebagai lembaga yang mengembangkan nilai moral-spiritual, informasi, komunikasi timbal-balik secara kultural dengan masyarakat dan sebagai tempat pemumpukan solidaritas umat.

Menurut Azyurmadi Azra, pesantren telah memerankan tiga perananan; transmission of Islamic knowledge (penyampaian ilmu-ilmu keislaman), maintenance of Islamic tradisional (pemeliharaan tradisi Islam), dan reproduction of ulama (pembinaan calon-calon ulama).

Sedangkan watak utama yang melekat pada pesantren sebagai Lembaga pendidikan keagamaan telah menjadikannya memiliki tradisi keilmuan tersendiri, sehingga seiring berjalannya waktu tradisi ini mengalami perkembangan dari masa ke masa dan menampilkan manifestasi yang berubah-ubah.

Oleh karena itu, apabila kita cermati sebagaimana dikutip dalam buku ‘Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren’ setidaknya ada tiga karakteristik yang melekat dan sebagai basis utama kultul di pesantren.

Pertama, pesantren sebagai Lembaga tradisionalisme. Tradisionalisme dalam konteks pesantren harus dipahami sebagai upaya mencontoh tauladan yang dilakukan para ulama salaf yang masih murni dalam menjalankan ajaran Islam agar terhindar dari bid’ah, khurafat, takhayul serta klenik. Hal ini, kemudian lebih dikenal dengan Gerakan salaf yaitu gerakan dari orang-orang terdahulu yang ingin kembali kepada Alquran dan Hadis.

Kedua, pesantren sebagai pertahanan budaya (cultural resistance). Mempertahankan budaya dengan ciri tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Ide cultural resintance telah mewarnai kehidupan intelektual dunia pesantren. Adapun subyek yang diajarkan di lembaga ini melalui hidayah dan berkah seorang kiai sebagai guru utama adalah kitab klasik atau kitab kuning yang selalu diolah dan ditrasmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat cultural resintane menjadikan dunia pesantren selalu tegar dalam menghadi hegemoni dunia luar. Sejarah menunjukkan bahwa saat penjajahan semakin menindas, saat itu pula perlawanan kaum santri semakin tidak terbendung. Misalnya penjahahan kolonialisme di Surabaya, dimana para penjajah menindas para warga sipil maupun para kiai dianiaya serta penindasan terhadap warga yang tidak bersalah, maka melalui Resolusi Jihad yang digaungkan oleh Hadratusy Syaik Hasyim Asy’ari sebagai contoh sahaih pengabdian santri kepada kiai dan bukti santri demi menjaga bumi pertiwi dari kolonialisme.

Ketiga, pesantren sebagai pendidikan keagamaan. Pendidikan pesantrendidasari, digerakkan dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam. Ajaran dasar ini berkelindan dengan struktur social atau realitas social yang digumuli dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, maka pendidikan pesantren didasarkan atas dialog yang terus menerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar agama yang diyakini memiliki nilai kebenaran mutlak dan realitas social yang dimiliki nilai kebenaran relatif.            

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Pati Gelar Apel Hari Santi di Pendopo Kabupaten

    PCNU Pati Gelar Apel Hari Santri

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 3.685
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati melaksanakan peringatan Hari Santri 2025, di pendopo kabupaten, Rabu (22/20/2025) sore. Kegiatan ini semula dijadwalkan berlangsung di Taman Makam Pahlawan Giri Dharma, kemudian dilanjutkan ziarah serta tabur bunga di pusara Muhammad Hasyim Mahfudh (1929-1949). Namun karena terhalang hujan lebat, maka apel dipindahkan ke pendopo kabupaten. Seratusan […]

  • Ketua PCNU Ajak Warga Pati Jaga Kondusifitas, Polresta Ingatkan Masyarakat Tidak Terprovokasi

    Ketua PCNU Ajak Warga Pati Jaga Kondusifitas, Polresta Ingatkan Masyarakat Tidak Terprovokasi

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 388
    • 0Komentar

      Pati – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, KH. Yusuf Hasyim, menyerukan kepada masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kedamaian di tengah dinamika yang terjadi di wilayah Pati. Menurutnya, menjaga ketenteraman adalah wujud nyata dari menjalankan perintah Allah SWT dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. “Kita semua harus yakin bahwa Pati ini cinta […]

  • PCNU - PATI

    PCNU Pati Donasi Uang Tunai Rp. 300 Juta Korban Semeru 

    • calendar_month Sel, 19 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 365
    • 0Komentar

    PCNU Kabupaten Pati berkunjung ke PCNU Kabupaten Lumajang pada sabtu (16/7) lalu. Maksud kunjungan ini adalah untuk menyerahkan donasi bagi warga yang terdampak erupsi Semeru akhir tahun 2021.  Pihak PCNU Kabupaten Pati terdiri dari Dr. Choiron selaku wakil ketua, Maskan selaku sekretaris, Dr. Qosim selaku ketua LKNU dan ketua NU Peduli Pati, serta perwakilan LAZISNU […]

  • Gus Rozin: Hanya 8 Persen Generasi Milenial Mengakui NU, Kita Harus Waspada

    Gus Rozin: Hanya 8 Persen Generasi Milenial Mengakui NU, Kita Harus Waspada

    • calendar_month Sab, 10 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 430
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.di-Semarang – Ketua Majelis Pembimbing Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama (Sakomanu) Jawa Tengah, KH. Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya pengakuan generasi milenial terhadap Nahdlatul Ulama (NU). “Dari data yang kami terima, hanya sekitar 8 persen generasi milenial yang mengakui dan merasa memiliki NU. Ini tentu […]

  • Menguak Misteri Dunia Dengan Al-Quran

    Menguak Misteri Dunia Dengan Al-Quran

    • calendar_month Ming, 18 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 713
    • 0Komentar

      Kendati manusia sudah sangat lama menghuni bumi, tetapi masih banyak misteri di dunia ini yang belum terkuak. Sebut saja beberapa misteri seperti; adakah Alien? Peri, fakta atau mitos? Berbagai misteri fenomena alam yang menakjubkan, dan sebagainya. Buku ini mencoba memaparkan 50 misteri dunia menurut Al-Quran.             Buku ini secara garis besar terdiri atas tiga […]

  • PCNU-PATI Photo by Microsoft 365

    Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

    • calendar_month Ming, 8 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Chapter 2 ————– “Bu Bidan, tolong istri saya! Dia kesakitan.” Keluar dari kamar Cempaka, lelaki berpostur tinggi besar itu tergopoh-gopoh  panik menuju tempat pendaftaran—dimana dua orang tengah sibuk melayani para ibu hamil yang sedang antri periksa. Tangan  mereka menggenggam buku KIA berwarna pink. “Oh ya, sebentar, Pak,” seru Tita. “Shanaya mana?” […]

expand_less