Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU dan Gagasan Islam Nusantara

NU dan Gagasan Islam Nusantara

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 22 Jul 2023
  • visibility 592
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Pemahaman keagamaan merupakan bentuk laku kesadaran manusia dalam beragama. Cara manusia memahami agama senantiasa akan mengalami hambatan jika ia tidak mampu menangkap pesan-pesan Tuhan (al-murâd al-ilâhiy) yang tersirat dalam setiap sendi ajaran agama.  Jika Islam memiliki daya vitalitas yang tinggi, maka upaya revitalisasi pemahaman keagamaan merupakan sebuah keniscayaan. Hal inilah yang disadari dengan baik oleh para Sunan di bumi Nusantara.

Istilah Nusantara adalah istilah budaya, bukan istilah yang cenderung “resmi” seperti “Indonesia”, ia merupakan istilah yang melekat dalam budaya dan terus hidup di tengah masyarakat. Di sini Nusantara tidak menunjuk pada satu model, corak, budaya, namun menunjuk pada keragaman yang ada di pulau-pulau Nusantara. Karena Nusantara merupakan kumpulan dari pulau-pulau, yang tidak kurang dari 17.000 pulau.

Sejarah para Sunan menjadi ‘angel’ dalam memotret dialektika kultural kesadaran keagamaan dengan jalur yang damai, akomodatif, dan toleran. Sebuah gerakan keagamaan yang sangat dinamis dan humanis. Hal inilah yang menjadikan Islam Nusantara berbeda dengan peradaban Islam di belahan wilayah yang lain, di mana Islam datang melalui serangkaian penaklukkan militer.

Tidak jauh berbeda dengan kondisi ketika Islam hadir di tengah masyarakat Arab, Islam di Nusantara pun datang dengan wajah yang sama; asing dan baru. Perbedaan letak geografis, kondisi sosial-budaya dan bahkan juga cara pandang dan pola hidup, Islam Nusantara berhak memiliki identitas yang berbeda dengan Islam di dunia Arab, yang mana telah matang terlebih dahulu berabad-abad tahun sebelumnya.

Dari sini kita dapat menyatakan bahwa para Sunan dengan penuh kesadaran telah berhasil mendialektikakan antara Islam dan budaya bangsa di Nusantara. Sebuah potret nasionalisme beragama dalam berbangsa yang sangat elegan dan humanis. Lantas seperti apakah tekstur nasionalisme modern beragama dalam bernegara? Hal inilah yang akan menjadi titik sentral bahasan selanjutnya.

Kajian mengenai Islam Nusantara merupakan sebentuk upaya ilmiah guna mengukuhkan bahwa ajaran-ajaran Islam di Nusantara memiliki karakteristik yang unik dan berdasar. Islam sebagai agama perubahan mampu diaplikasikan dengan baik oleh para punggawa ulama di Nusantara. Jawa yang dahulu kala menjadi sentral peradaban mampu mentransfromasikan bentuk budayanya ke seantero denah Nusantara. Sama halnya dengan rihlah ilmiah yang dilakukan oleh para cerdik-cendikia di dunia Arab-Islam, para punggawa ilmu di Nusantara pun melakukan hal yang sama.  Ini artinya bahwa Islam –melalui nilai ajarannya- merupakan agama yang senantiasa memberikan peluang terhadap aktifitas transformasi budaya guna menciptakan peradaban beragama (hadlârat at-tadayyun) yang baru.

Sejatinya tidak ada yang harus dirisaukan tentang masa depan Islam di Indonesia. Dua sayap besar umat Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, sudah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan sebuah Islam yang ramah terhadap siapa saja, bahkan terhadap kaum tidak beriman sekalipun, selama semua pihak saling menghormati perbedaan pandangan. Tetapi bencana bisa saja terjadi bila pemeluk agama kehilangan daya nalar, kemudian menghakimi semua orang yang tidak sefaham dengan aliran pemikiran mereka yang monolitik. Contoh dalam berbagai unit peradaban umat manusia tentang sikap monopoli kebenaran ini tidak sulit untuk dicari. Darah pun sudah banyak tertumpah akibat penghakiman segolongan orang terhadap pihak lain karena perbedaan penafsiran agama atau ideologi.

Dalam beberapa kurun dasawarsa belakangan ini, umat Islam, khususnya di Indonesia, banyak disuguhkan dengan peristiwa-peristiwa intoleran juga radikal-anarkis sebagai akibat dari menjamurnya gerakan ideologi fundamental yang skriptural dan literalistik. Guna mencegah kerusakan yang lebih parah dan menjaga kedaulatan bangsa dalam berbhineka, upaya penjernihan perspektif sebagai langkah konkret dan solutif adalah hal yang tidak bisa dihindari.

Dawuh Hadlaratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari bahwa: “Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan, nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan”,

Dawuh di atas merupakan seuntai pesan religi penuh makna yang sudah tak asing lagi di benak para Santri. Hal inilah yang menjadi embrio cikal-bakal lahirnya pemikiran Islam Nusantara sebagai corak Nasionalisme Modern dari Santri untuk Negri.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolom Ramadan Tanpa Honor

    Kolom Ramadan Tanpa Honor

    • calendar_month Sen, 3 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Ramadan 1445 H lalu, saya berkomitmen menulis artikel sebulan penuh di pcnupati.or.id. Terlaksakanah? Ya, terlaksana. Anda bisa cek sendiri di Kolom Ramadan. Pada Ramadan 1446 H tahun 2025 ini, saya kembali lagi berkomitmen menulis artikel di rubrik Kolom Ramadan. Tanpa honor. Tanpa gaji. La kok iso piye kuwi leh? Ya iso lah. […]

  • PCNU-PATI

    Yuk Berdonasi, Untuk Meringankan Sesama

    • calendar_month Rab, 9 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Pati- NU Care Lazisnu Pati terhitung mulai hari ini Selasa (8/11) melakukan penggalangan donasi untuk adik Andini Karisma Putri Ramadhani, warga desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati.  Andini mengalami musibah ketumpahan minyak panas yang mengakibatkan kulitnya melepuh. Putri dari pasangan surini dan arif setyawan ini kini harus menjalani perawatan untuk mengobati luka yang dideritanya.  PC […]

  • Ribuan Mahasiswa Baru UIN Jogja Kumandangkan Mars Syubbanul Wathon

    Ribuan Mahasiswa Baru UIN Jogja Kumandangkan Mars Syubbanul Wathon

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 499
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA-UIN Sunan Kalijaga mengadakan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) Senin (26/8) hingga Rabu (28/8) malam ini. Kegiatan ini merupakan kegiatan wajib tahunan untuk mengenalkan para mahasiswa baru kepada kampusnya. 3.856 mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyanyikan Mars Syubbanul Wathon di Gedung Dr. Amin Abdullah  “Selama tiga hari, mahasiswa baru diberikan edukasi seputar kampus […]

  • Hadiri Halalbihalal Ma`arif Jepara, Ketua LP Ma`arif NU Jateng Tekankan Pentingnya Penguatan Akidah Aswaja Nahdliyah di Sekolah/Madrasah

    Hadiri Halalbihalal Ma`arif Jepara, Ketua LP Ma`arif NU Jateng Tekankan Pentingnya Penguatan Akidah Aswaja Nahdliyah di Sekolah/Madrasah

    • calendar_month Ming, 13 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 457
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id Jepara – Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani menegaskan pentingnya penguatan akidah Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Hal itu terungkap dalam Halalbihalal Keluarga Besar LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Jepara yang bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Sabtu (12/4/2025). Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah […]

  • Photo by Dima Solomin

    Mbak Meta

    • calendar_month Rab, 28 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 599
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Beberapa bulan kebelakang saya melihat beranda di Facebook saya berseliweran ibu-ibu baik muda atau pun setengah tua berbicara tanpa jeda. Mereka mensosialisasikan kegiatannya baik dalam urusan dapur, sumur, tapi kasurnya di skip. Sedangkan dalam unggahan tersebut di kasih tulisan-tulisan yang menghalangi vidio untuk di tonton. Jadi ketika saya melihat vidio […]

  • PCNU-PATI Photo by Leo Sagala

    Jalan Kaki

    • calendar_month Sen, 19 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Dear kawan. Ada sebuah buku yang menurut saya layak Anda baca. Judulnya A Philosophy of Walking karya Frederic Gros. Jangan-jangan Anda sudah membacanya? Syukurlah jika sudah baca. Tapi anggap saja Anda belum membacanya biar saya punya alasan untuk menulis ini. Buku ini sudah diterjemahkan oleh penerbit Renebook dan terbit pada […]

expand_less