Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Bapak Hamdi van Holland

Bapak Hamdi van Holland

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
  • visibility 417
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Hari itu adalah musim bunga bermekaran indah di halaman rumah. Keindahannya seolah hendak menyambut kedatangan kami yang tahun 2013 berlebaran di Bojong, Pandeglang. Ah, desa Bojong. Sebuah desa yang penuh dengan memori masa kecil dan remajaku. Kenanganku akan pasar Bojong, sawah Cijakan, dan sungai Cilemer tak lekang ditelan zaman.

Di teras halaman rumah kutatap semua hal yang ada di sekitarnya. Tak ada yang berubah. Aku berjalan menyusuri kebun yang letaknya di depan rumah. Kupandang setiap tanaman yang ada di situ. Kuperhatikan lebih lama bunga-bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Kuhirup dalam-dalam udara depan rumah itu. Sejuk dan syahdu.

Aku merasa lebaran kali itu terasa sungguh istimewa. Dan aku bersyukur kepada Allah SWT dapat berlebaran di kampung halaman. Karena momen ini sungguh langka, tidak hanya lebaran Idul Fitri yang hanya setahun sekali, tetapi juga dapat bertemu dengan seseorang yang sekian lama tidak bertemu, kecuali pada saat aku masih kanak-kanak.

Orang itu adalah Bapak Hamdi. Beliau adalah Pak Dhe’, kakak dari ibuku dan putra pertama dari kakek-nenekku. Kami biasa memanggilnya Bapak Bai. Itu menjadi panggilan akrab beliau. Aku belum sempat bertanya bagaimana sejarahnya beliau mendapat panggilan itu. Aku menduga nama ini panggilan yang dibuat oleh kakek dan nenekku, lalu semuanya pada ngikut.

Bersama istri dan putriku, di suatu sore kami hendak menemui beliau, sekaligus buka bersama dengan seluruh anggota keluarga di rumah mendiang kakek dan nenek. Alhamdulillah beliau masih ingat padaku. Kucium tangannya, kemudian kupeluk badannya. Aku merasa dipeluk kakek. Wajah dan perawakannya sungguh mirip dengan kakek. Kemiripan itu tidak hanya aku yang mengakuinya, tapi juga orang lain. Misalnya, pada saat sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri beliau diperkenankan untuk berdiri memperlihatkan diri sembari diperkenalkan oleh ketua takmir masjid Al-Hidayah, Bapak Haji Sidik. Melihat sosok beliau, sontak para jamaah kaget, karena beliau begitu mirip dengan almarhum kakek.

Sudah 13 tahun beliau tidak pulang ke Indonesia. Tentu banyak hal dan peristiwa penting yang terjadi dalam keluarga yang beliau lewatkan secara langsung. Di antaranya adalah wafatnya kakek dan nenek. Sebetulnya pada saat wafatnya nenek, beliau hendak pulang, tapi kakek melarangnya, tidak usah memaksakan diri apabila keadaannya tidak memungkinkan, ujar kakek. Kakek meyakinkankannya bahwa nenek wafat dengan begitu indah, tidak usah pulang, cukup doakan saja.

Selepas shalat Idul Fitri seluruh keluarga berziarah ke pusara kakek dan nenek yang letaknya di belakang mesjid. Setelah kami membaca surat yasin, tahlil, dan shalawat, beliau kemudian memimpin doa. Mendengar doa beliau, kami semua terisak. Sebuah doa yang menyentuh ke dalam relung hati kami. Doa yang begitu dimengerti sehingga air mata kami begitu deras membasahi pipi. Berikut doa yang masih kuingat:

“Ema, ibu, ieu anak-anak ema jeung ibu. Ieu incu-incu ema-ibu. Anak-anak, incu-incu ema-ibu nuju kumpul di boboran ieu… Ya Allah kami adalah anak-anak yang belum bisa berbakti pada kedua orangtua kami, tapi keduanya telah Engkau panggil. Jadikanlah doa kami untuk keduanya dapat diterima. Berilah cahaya (nur) di makam kedua orangtua kami, lapangkanlah dan berilah kebahagiaan untuk keduanya. Allahummajalhuma fi qobrihima addoyaau wannur walfushata wassuruur. Ya Allah maafkanlah dan ampunilah dosa kedua orangtua kami dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka berdua mengurus dan mendidik kami waktu kami masih kecil.”

Pada saat kami bersilaturahmi ke rumah adik kakek, yang biasa kami panggil Bapak Gunung, di Gunung Kencana, beliau memberi nasihat kepada kami semua. Beliau becerita panjang lebar tentang kakek dan nenek. Di sela-sela nasihatnya, beliau bercerita tentang kakek pada saat menunaikan ibadah haji. Cerita ini membuat semua kaget. Cerita ini tidak pernah kudengar sebelumnya, bahkan oleh orangtuaku sekalipun. Beliau merahasiakan cerita ini agar semuanya tidak panik, hingga pada waktunya bisa diceritakan. Dan pada saat itu ketika kami berkumpul di Gunung Kencana adalah waktu yang menurut beliau paling tepat untuk diceritakan.

Saya sedikit menyesal pada saat Bapak Bai memberi nasihatnya. Menyesal, mengapa pada waktu itu saya tidak merekamnya, sehingga saya bisa menyimpan nasihatnya itu lebih lengkap dan akan kutulis ulang untuk kuabadikan hingga semua keluarga dapat terus mengingatnya. Yang kuingat ada tiga poin dari nasihat beliau. Pertama, kudu inget ka ema jeung ibu. Kedua, ngalaksanakeun amanat ema jeung ibu. Ketiga, ngajaga silaturahmi

Di akhir nasihatnya, beliau menyitir doa yang begitu bagus yang belum pernah kudengar dari siapa pun dan dari kitab manapun: 


اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ
 
Ya Allah satukanlah hati kami dan perbaikilah hubungan kami, tunjukkanlah kami jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari jalan kegelapan kepada jalan yang terang, jauhkanlah kami dari keburukan baik yang nampak maupun yang tidak.”

Salah satu hal yang istimewa dan membawa berkah dengan kedatangan beliau adalah menghidupkan kembali antara silaturahmi dan piknik bersama sebagaimana yang sering kami lakukan pada saat kakek dan nenek masih ada. Ya, tatakala lebaran Idul Fitri tiba, kami semua berziarah ke orangtua kakek-nenek, bersilaturahmi, dan piknik.

Kurang lebih satu bulan setelah lebaran beliau kembali ke Belanda. Kenyataan itu sungguh membuat kami sedih. Tapi, soal kesedihan, beliau tidak kalah sedihnya dengan kami. Bahkan, mungkin beliau adalah orang yang paling sedih. Betapa tidak, beliau telah lama tidak bertemu, mencium tangan dan memeluk kakek dan nenek, sehingga yang ada adalah kerinduan. Namun, kerinduan itu tidak pernah terpenuhi karena keduanya sudah tiada. Bisa dibayangkan pada saat kakek dan nenek masih ada, tatkala Bapak Bai datang ke Bojong, di depan rumah, kakek dan nenek sudah menunggunya, berdiri dan menyapanya, “Anak aing, anak aing (anakku, anakku)…” Keduanya menyambut beliau dengan air mata berlinang, air mata bahagia karena rindu.

Saya teringat sebuah puisi yang ditulis Muhammad Iqbal, penyair dan filosof India, pada saat ia mengenang ibunya, dimana waktu itu Muhammad Iqbal sedang kuliah di Inggris. Begini puisinya: 

Siapakah itu, yang menungguku di rumah, berdoa untukku,

Dan merasa khawatir ketika surat-surat datang terlambat?

Pada pusaramu akan kutulis pertanyaan ini:

Siapa yang ingat kepadaku dalam salat malamnya?

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Galina Nelyubova

    Begitulah Demi

    • calendar_month Rab, 5 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Saya berselancar di dunia maya dengan lihat lihat status di Whatsapp dan Reels di Instagram dan cuitan di Twitter dan pertanyaan Apa yang Anda Pikirkan di Facebook sambil menikmati secangkir kopi dalam sendirian dan keterasingan dari orang orang yang sibuk dengan ke si bukannya masing masing. Meja tempat saya ngopi […]

  • Awali Semester Genap, Ratusan Siswa YPI Monumen Mujahidin Bageng Ikuti Istigasah

    Awali Semester Genap, Ratusan Siswa YPI Monumen Mujahidin Bageng Ikuti Istigasah

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.845
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Yayasan Perguruan Islam (YPI) Monumen Mujahidin Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengadakan istigasah dalam mengawali semester genap tahun ajaran 2025/2026, Ahad (4/1/2026). Kegiatan ini berlangsung di Masjid Al-Masyhur Desa Bageng dan diikuti oleh seluruh elemen yayasan. Mulai dari jajaran pengurus, guru, hingga ratusan murid dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), […]

  • Berkebun di Lahan Sempit

    Berkebun di Lahan Sempit

    • calendar_month Sel, 14 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

    Oleh : Sirril Wafa* Jeruk nipis merupakan jenis tumbuhan yang masuk ke dalam suku jeruk-jerukan. Nama lain buah ini di Asia dan Amerika Tengah dikenal sebagai jeruk pecel.  Menanam pohon jeruk nipis sangat perlu untuk dicoba. Sebab, selain mudah dibudidayakan, buah mungil ini juga punya segudang manfaat.  Di luar sana, tanaman yang memiliki nama beken […]

  • Rangkul Polres, PMII Pati Adakan Vaksin Covid

    Rangkul Polres, PMII Pati Adakan Vaksin Covid

    • calendar_month Kam, 9 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Sekretaris PC PMII Pati, Agus Ulinnuha (jas biru) mendampingi Kapolres Pati, AKBP Christian Tobing, S.I.K., M.H. (seragam polisi kiri) sedang memantau perjalanan kegiatan vaksinasi covid-19 dosis 1 yang dilakukan oleh PMII Pati dan Polres Pati PATI – Para mahasiswa memang sudah selayaknya bergerak. Bukan sekadar belajar di ruang kelas, namun juga harus turun tangan melayani […]

  • PCNU PATI. Takbir Keliling di Pati Masih Belum Diperbolehkan.

    Takbir Keliling di Pati Masih Belum Diperbolehkan

    • calendar_month Kam, 14 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 539
    • 0Komentar

    PATI – Takbir keliling sudah menjadi tradisi tahunan di sejumlah desa yang ada di Pati. Namun, pada tahun ini masyarakat masih belum diperbolehkan mengadakannya. Bupati Pati Haryanto megatakan, masih sama seperti dua tahun belakangan, masyarakat di Bumi Mina Tani belum diizinkan  menggelar takbir keliling pada malam perayaan hari raya Idulfitri 1443 H/2022 M ini. Masyarakat […]

  • MWCNU  Kecamatan Gembong Sukses Gelar Seminar Ekonomi

    MWCNU Kecamatan Gembong Sukses Gelar Seminar Ekonomi

    • calendar_month Sel, 24 Jan 2017
    • account_circle admin
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) dan Para Kader  Muda NU melaksanakan seminar Ekonomi bertajuk “Membangun Kemandirian Ekonomi MWC-NU Gembong” dengan peserta dari seluruh Ranting NU se Kecamatan Gembong dengan menghadirkan dua narasumber, H. Najib Zabidi Direktur Koperasi Aneka Jasa 26 Pati dan Mumu Mubarok, Direktur Arta Mas Abadi, Minggu (15/1) kemarin. […]

expand_less