Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perfect Goodness

Perfect Goodness

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 15 Agu 2022
  • visibility 353
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

“Sebaik-baik manusia yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, dan sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya dan paling jelek amal perbuatannya” (Nabi Muhammad Saw.)

Paulo Coelho (2012) mendapatkan cerita dari seorang bernama Carson Said Amer. Ada seorang pengajar yang memulai seminar dengan memperlihatkan selembar uang dua puluh dolar dan bertanya, “Siapa yang menginginkan lembaran dua puluh dolar ini?”

Beberapa orang mengangkat tangan, tetapi si pengajar berkata, “Sebelum saya memberikannya pada Anda, saya ingin melakukan sesuatu.”

Dia meremas-remas lembar uang itu dan berkata, “Siapa yang masih menginginkan uang ini?”

Tangan-tangan kembali teracung.

“Dan bagaimana kalau saya melakukan ini?”

Dia melemparkan lembar uang yang sudah kucal itu ke tembok, dan setelah lembar uang itu jatuh, dia menginjak-injaknya, kemudian sekali lagi dia menunjukkannya kepada para peserta seminar-sekarang lembaran uang itu sudah benar-benar kucal dan kotor. Dia mengajukan pertanyaan yang sama, dan orang-orang tadi tetap mengangkat tangan.

“Jarang pernah melupakan pelajaran ini,” katanya.

“Tidak masalah, apa pun yang saya lakukan pada lembaran uang ini. Ini tetap selembar uang dua puluh dolar. Dalam hidup kita, sering kali kita dibuat kucal, diinjak-injak, diperlakukan dengan buruk, dihina. Akan tetapi, meski mengalami semua itu, nilai kita tidak akan berubah.”[1]

Kisah uang yang diinjak-injak di atas adalah sebuah ilustrasi yang bagus perihal nilai kebaikan yang kita punya, sebagaimana di akhir kalimat di atas sedikit disebutkan pesannya. Ya, kebaikan tetaplah sebuah kebaikan meski orang berkomentar macam-macam. Kebaikan adalah sebuah nilai beharga. Namun, tidak jarang kita mengalami cemoohan orang tatkala melakukan kebaikan, entah itu katanya hendak pamer, riya, sombong, dan lain sebagainya. Banyak orang kadangkala tidak berkenan tatkala kita melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, lantaran iri, sehingga menilai kita macam-macam. Meskipun begitu, nilai kita sama sekali tidak akan berkurang dengan penilaian buruk mereka.

Saya teringat dengan kata-kata Bunda Teresa yang mengatakan:

Orang kerap kali tak bernalar, tak logis, dan egois.

Biar begitu maafkanlah mereka.

Bila engkau baik, orang akan mungkin menuduhmu menyembunyikan motif yang egois

Biar begitu tetaplah bersifat baik

Bila engkau mendapat sukses, engkau akan dapat pula teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati

Biar begitu tetaplah meraih sukses

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang akan menipumu

Biar begitu tetaplah jujur dan berterus terang

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang hanya dengan semalam

Biar begitu tetaplah membangun

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri.

Biar begitu tetaplah berbahagia

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, sering akan dilupakan orang keesokan harinya

Biar begitu tetaplah lakukan kebaikan.

Berikan pada dunia milikmu yang terbaik dan mungkin itu tidak akan pernah cukup

Biar begitu tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik

Ketahuilah pada akhirnya sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhanmu.

Tidak  pernah antara engkau dan mereka.

Kata-kata Bunda Teresa begitu meyakinkan bahwa kita harus tetap melakukan kebaikan meskipun orang mungkin akan mencibirnya. Kebaikan mempunyai nilai yang teramat berharga dan tidak akan berkurang oleh cibiran orang. Apa pun profesinya, kita mempunyai potensi yang sama untuk melakukan kebaikan terhadap dunia ini. Banyak sekali firman Allah yang bicara tentang “dahysat”nya kebaikan. Maka benar apa yang dikatakan Bunda Teresa bahwa kebaikan itu masalah antara engkau dan Tuhan, Beberapa ayat akan saya kemukakan di sini.

“Barangsiapa yang beramal kebaikan seberat dzarrah (atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS Al-Zalzalah: 7).

“Bukankah balasan kebaikan (ihsan) adalah kebaikan pula?” (QS Al-Rahman: 60).

Bahkan di ayat lain Allah membalas orang yang berbuat baik dengan sepuluh kali lipat dari kebaikan yang kita perbuat.

“Barang siapa membawa amal yang baik (ihsan) maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya” (QS Al-An’am: 160). 

Itulah janji Tuhan, orang yang melakukan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula, bahkan dibalas dengan berlipat ganda. Perkataan Bunda Teresa sesungguhnya terekspresikan dalam Ihsan, sebuah term dalam Agama Islam selain Islam dan Iman. Secara literal, Ihsan adalah (i) melakukan sesuatu sebaik-baiknya dan (ii) melakukan kebaikan terhadap orang lain. Yang pertama kebaikan untuk diri sendiri, yang sifatnya personal, dan kedua, kebaikan untuk orang lain, sifatnya komunal.

Ihsan merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang tanpa pamrih, tanpa berharap sesuatu dari siapa pun. Walaupun berharap, dia hanyalah berharap pada Allah Swt. Kebaikan hanya untuk kebaikan. Nabi Muhammad Saw. menggambarkan Ihsan secara elegan, yakni, saat engkau beribadah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalaupun engkau tidak mampu melihat-Nya, (yakinlah) Dia melihatmu. Dengan tamsil seperti itu, kita akan berbuat sesuatu dengan ikhlas dan penuh kesungguhan.

Dengan kata lain Ihsan adalah puncak kebaikan (perfect goodness). Betapa tidak, betapa bernilainya saat kita melakukan kebaikan tanpa dilihat siapa pun. Yang bisa melakukan seperti itu adalah orang yang ikhlas tanpa pamrih. Melakukan kebaikan memang hanya untuk kebaikan, kalau pun toh ada pamrih itu demi keridhaan Allah semata, sebagai tanda syukur atas kebaikan yang telah diberikan padanya. Dia sadar bahwa Allah saja sudah berbuat Ihsan kepadanya, maka sudah sepantasnya kita juga melakukan Ihsan.

Ekspresi kebaikan bisa bermacam-macam, sesuai kapasitas orangnya. Menyingkirikan duri dari jalan juga merupakan sebuah kebaikan. Hal itu tidak boleh dianggap sepele. Sepintas memang tampak sepele, padahal itu juga sebuah kebaikan. Kita tidak tahu bisa saja ada orang yang menginjak duri tersebut sehingga kakinya luka, bengkak, dan membusuk, sehingga harus dirawat. Dan karena kebaikan orang yang menyingkirkan duri dari jalan itu banyak orang terselamatkan dari kejadian-kejadian buruk yang tidak diinginkan.

Duri bisa kita jadikan sebuah simbol sesuatu yang membahayakan orang lain. Oleh karena itu hal ini bisa kita terapkan dalam hal apa pun. Tidak menggunjing dan menggosip adalah aktivitas menyingkirkan duri. Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan juga sebentuk menyingkirkan duri. Tidak berkata-kata kotor dan menyakiti orang lain juga sebuah kegiatan menyingkirkan duri. Masih banyak lagi. Dengan kata lain, menyingkirkan duri juga termasuk pengamalan ihsan.

Namun, perbuatan ihsan harus hati-hati, karena banyak penumpang gelap selalu merongrongnya. Salah satunya adalah keinginan mendapatkan pujian. Memang tidak salah, tapi itu bisa mengakibatkan perbuatan ihsan kita menjadi tidak bernilai. Seberapa besar kebaikan yang kita lakukan tapi kalau niatnya karena ingin mendapatkan pujian maka kebaikan tersebut minus nilai. Akibatnya, tatkala kebaikan kita tidak dipuji maka kita akan kecewa. Akhirnya timbul ketidakikhlasan. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Kesukaan dipuji dari manusia itu adalah membutakan hati dan menulikan telinga.” Itulah efek dari ihsan yang dilakukan karena ingin pujian. 

Oleh karena itu triknya adalah ingat selalu definisi ihsan, yakni lakukan kebaikan seolah-olah kita melihat Allah, dan sebaliknya, seolah-olah Allah melihat kita langsung. Faahsin kama ahsanallah ilaika—berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.[]


                [1] Lihat Paulo Coelho, Seperti Sungai yang Mengalir (Jakarta: Gramedia), 2012,  hlm. 250-251

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Awali Puasa dengan Puasa

    Awali Puasa dengan Puasa

    • calendar_month Sab, 1 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 422
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Pada tulisan pertama ini, saya ingat pesan kiai saya “Nek pengen pasa Ramadanmu lancar ya pasa disek”. Artinya, jika ingin puasa Ramadanmu lancar, maka kamu harus berpuasa terlebih dahulu. Hal ini menegaskan bahwa puasa harus diawali dengan puasa. Apa maksudnya? Ya, normalnya sih mengawali sesuai itu dengan bacaan ta’awuz dan […]

  • Pengurus PAC Fatayat dan Ansor Tlogowungu Resmi Dilantik

    Pengurus PAC Fatayat dan Ansor Tlogowungu Resmi Dilantik

    • calendar_month Ming, 1 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 505
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id-  Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Tlogowungu beserta Pengurus Ranting (PR) Fatayat NU se-Kecamatan Tlogowungu dan PAC Ansor resmi dilantik.  Pelantikan itu bertempat di Aula Balai Desa Lahar, Ahad (1/1/2023) siang. Kegiatan itu dihadiri oleh ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim, Ketua PC Ansor Pati Abdullah Syafiq, Ketua PC Fatayat NU Pati […]

  • Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

    Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2014
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

    NU–Online. NU merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, organisasi masyarakat keagamaan. Sejak awal didirikan oleh para Kyai, NU mengemban tugas besar menjaga, merawat, dan mengembangkan ajaran Islam ala Ahlissunnah wal Jama’ah di bumi Nusantara. Karenanya sudah teramat jelas bahwa NU tidak bertujuan meraih kekuasaan politik. Kalaupun harus menyebut istilah politik, maka politik NU adalah politik kebangsaan dan […]

  • Photo by NEOM

    Puasa dan Kecerdasan Emosi

    • calendar_month Sen, 25 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 465
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Puasa telah lama dikenal karena manfaat fisiknya, seperti peningkatan kontrol gula darah, pengurangan peradangan, dan bahkan potensi untuk memperpanjang umur. Namun, aspek yang sering terlewatkan dari praktik ini adalah manfaat yang dapat diberikan terhadap pertumbuhan pribadi dan peningkatan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi, yang meliputi kesadaran diri, empati, pengaturan emosi, dan keterampilan […]

  • Ngruwahi Apem, Tradisi Warga Tlogorejo Menjelang Ramadan

    Ngruwahi Apem, Tradisi Warga Tlogorejo Menjelang Ramadan

    • calendar_month Sel, 12 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 434
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Warga Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, punya tradisi sendiri di akhir bulan Sya’ban atau Ruwah, yaitu melakukan bancakan dan berebut kue apem. Kegiatan ini juga dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Masyarakat sekitar menyebut perayaan ini dengan istilah “Ruwahan Apem” atau “Ngruwahi Sewu Apem”. Untuk menyiapkan acara tersebut, masyarakat setempat membutuhkan […]

  • Menata Kebudayaan Sebagai Landasan Politik

    Menata Kebudayaan Sebagai Landasan Politik

    • calendar_month Sen, 28 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 430
    • 0Komentar

      Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke -154 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia kembali mengangkat isu yang menarik, “Menata Budaya, Menyemai Harapan”. Tema ini diambil untuk kembali mengingatkan pentingnya menata ulang kebudayaan sebagai landasan bagi semua sisi kegiatan masyarakat, termasuk politik. Tema ini dianggap penting, bukan hanya karena permintaan Bawaslu Jawa Tengah agar […]

expand_less