Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Mak Ngasimah

Mak Ngasimah

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 14 Agu 2022
  • visibility 509
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Aku Maolan bin Margo lahir tanggal 3 September 1942. Tahun dimana penjajahan masih merajalela di Indonesia. Bapakku Margo bin Jasmo desa Asempapan kecamatan Wedarijaksa yang sekarang Trangkil. Emakku Ngasimah Binti Rasmo Sirah dari dukuh Centhong desa Purwodadi kecamatan Margoyoso.

Emakku orang bodoh, tidak pernah mengenyam bangku sekolah maupun mengaji. Maka aku pun tumbuh menjadi anak bodoh. Bapakku bekerja sebagai penjahit dan ikut sebagai buruh jika ada tebasan sawah atau tambak.

Aku baru belajar berjalan saat menginjak umur satu tahun ketika bapakku meninggal. Tidak sakit tidak kecelakaan. Sore pergi ke tambak, paginya meninggal di sana. Sontak kematian Bapak yang mendadak itu membuat Emak kelimpungan seperti orang edan. Ia selalu menangis dan tak doyan makan sampai badannya kurus tak terurus. Setiap ia lihat foto Bapak, Emak pingsan, hingga akhirnya foto itu dibakar yang mengakibatkan aku tak pernah melihat wajah Bapak karena itu foto satu-satunya yang dimiliki Emak.

Ketika Emak sudah tegar dan mampu merelakan kepergian Bapak setiap kamis sore bakda asar ia mengajakku ke makam Bapak. Sampai di kuburan Bapak, tangis Emak kembali pecah, karena ia memang orang bodoh tak bisa mengaji atau tahlil seperti yang orang-orang lakukan ketika berziarah, ia hanya berkata pada Bapak seolah Bapak masih hidup.

“Mas, ini loh anakmu tak ajak kesini jenguk kamu, semoga kamu di ampuni Allah dan ditempatkan di tempat yang terbaik. Semoga anakmu jadi anak yang soleh ya, Pak,” ucap Emak dengan suara parau dan sarat emosi.

Setelah puas berbicara Emak akan mendekapku erat sekali sambil menangis sesenggukan. Meluapkan seluruh emosi dan sesak yang menghimpit dadanya. Ia tak punya tumpuan lagi selain aku. Terpaksa dada mungil yang menjadi tempat ia bersandar karena dada tegap nan bidang itu sudah hilang.

Setelah tangisnya reda, Emak akan mengajakku pulang. Melewati jalan setapak kuburan yang wingit hingga melewati jalan pedesaan yang ramai oleh warga. Di sanalah setiap mata akan menatap kami dengan iba dan nelangsa,  tak jarang pula yang menatap dengan sorot mata bergidik karena mereka berpikir Emak gila. Gila ditinggal suami tercinta saat sedang senang-senangnya punya suami dan seorang putra.

“Nduk Mah, saking pundi, Ngger? (Nduk Mah, dari mana, Nak?),” Tanya seseorang pada Emak.

“Dari jenguk Bapaknya kenang,” jawab Emak sopan.

“Loh rak soko kubur? (Loh lak dari makam?)” Tanya orang itu lagi penuh peduli.

“Inggih, Mbah. Kenang biar tahu tempat Bapaknya. Masyallah, nggak apa-apa to, Mbah?”

“Iya nggak apa-apa, Nduk.”

“Sampun nggeh, Mbah.”

Meskipun Emak bodoh tapi Emak adalah perempuan yang tahu tata krama, unggah ungguhnya baik, sopan santunnya terjaga. Berkali-kali bertemu orang di jalan Emak selalu menjawab dengan tutur kata yang halus. Ia menghormati siapa saja dan tak pernah sekalipun marah.

Ia tak peduli dengan orang-orang yang tak suka bahkan menjulukinya gila. Karena ia tahu banyak pula yang kasihan dan menaruh welas asih padanya.

“Mesakke Ngasimah, kepedotan tresno, lagi seneng-senenge nduwe bojo lan anak cilik ditinggal mati. Mugo-mugo diparingi sabar lan kuat yo Nduk.”

Begitu kata orang yang hatinya lembut dan menaruh kasih pada Emak. Emak mengangguk seraya mangaminkan.

Emak mengajakku berziarah ke makam Bapak setiap hari kamis sampai aku bisa berjalan sendiri. Begitu aku sudah disapih Emak menikah lagi dengan Tuwowo Yasir, seorang duda beranak lima; Mustajab, Muslimatun, Damiri, Mathori, dan Muhaimin. Saat itu aku tidak diajak serta di keluarga baru Emak. Maka aku diasuh oleh Kakekku, Mbah Jasmo.

Dengan Pak Yasir, pernikahan Emak tak berlangsung lama. Kemudian Emak kembali menikah dengan Mat Barok, seorang putra Carik Ngagel yang sangat kaya. Itu artinya Emak jadi istri orang kaya.

Setiap pagi Emak berjualan di pasar Ngagel. Pulang pergi diantar dokar. Sebenarnya Emak ingin membawaku ikut serta ke dalam keluarga barunya tapi Mbah Jasmo tak memperbolehkan. Ia tak mau pisah dengan aku-cucu satu-satunya. Akhirnya Emak hanya bisa menjengukku sebulan sekali. Hari ketika Emak menjenguk adalah hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Karena malamnya Emak akan menemaniku tidur sampai malam. Ia akan memelukku erat seperti aku memeluknya.

Akhirnya pagi itu aku tak rela Emak pergi. Kugenggam tangannya erat-erat agar sampai ia mengurungkan niatnya untuk pulang.

“Mak, aku melok kuwe, (Mak, aku ikut kamu),” teriakku dengan air mata berderai-derai.

Sontak Emak bersimpuh dan terduduk di atas tanah seraya tersedu-sedu. Ia memelukku dan kutenggelamkan wajahku pada dadanya. Kueratkan pelukan dan menangis di dadanya sampai sesenggukan. Aku tak mampu lagi berpisah. Apapun yang terjadi aku mau ikut. Ternyata Emak pun sama, ia tak mampu lagi berjauhan denganku-anak semata wayangnya.

Dengan keberanian dan tekad bulat akhirnya Emak berkata pada suaminya, “Mas aku kamu ceraikan tetap akan pulang dan kumpul bersama anakku, tidak kamu ceraikan juga tetap akan pulang. Aku nggak kuat pisah sama anakku.” Dengan tangis pecah dan berderai-derai.

Dengan berat hati Mad Barok menceraikan Emak dan Emak pulang, hidup denganku dan Mbah Jasmo lagi. Aku mencintaimu, Mak.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PAC Ansor Juwana Gelar Konferensi

    PAC Ansor Juwana Gelar Konferensi

    • calendar_month Ming, 4 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    Pengurus Anak Cabang Ansor Juwana terpilih berpose bersama pengurus PC Ansor Pati JUWANA-Gerakan Pemuda Ansor merupakan salah satu Banom (Badan Otonom) NU yang mewadahi generasi muda untuk turut memperjuangkan NU. Dengan kata lain, Ansor adalah harapan bagi NU di masa yang akan datang. Baik buruk NU memang tidak sepenuhnya bergantung kapada Ansor. Namun setidaknya Ansor […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin, Bambang Mursito dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Bersama Kita Gila” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/6).

    Suluk Maleman Kali ini Membahas Bangsa Yang Kehilangan Kuda Kuda

    • calendar_month Ming, 21 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.024
    • 0Komentar

    Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyoroti persoalan hilangnya cara pandang bangsa dalam melihat kemanusiaan. Padahal sejarah menunjukkan banyaknya perjuangan melawan penjajah justru didasari nilai-nilai dasar yang sudah lama menjadi menjadi bagian hidup bangsa. Nilai-nilai yang secara diametral bertentangan dengan nilai yang dibawa penjajah. Perenungan itu muncul saat digelarnya Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar […]

  • PAC GP Ansor Tambakromo Bersholawat, Jadi Pembuka Rangkaian Konferancab X

    PAC GP Ansor Tambakromo Bersholawat, Jadi Pembuka Rangkaian Konferancab X

    • calendar_month Sab, 30 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 557
    • 0Komentar

      Tambakromo, 30 Agustus 2025 – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Tambakromo telah sukses menyelenggarakan acara akbar “PAC GP Ansor Tambakromo Bersholawat” pada Jumat malam, 29 Agustus 2025. Acara yang mengusung tema “Satu Barisan Membangun negeri” dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia dan Maulidurrasul Muhammad SAW serta selapanan PAC GP […]

  • Berikut 10 PTKIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Januari 2025

    Berikut 10 PTKIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Januari 2025

    • calendar_month Sel, 4 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 881
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), berikut adalah daftar 10 PTKIN terbaik di Indonesia versi Webometrics edisi Januari 2025. Adapun metode pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2025 mencakup hampir 32.000 institusi pendidikan tinggi dari seluruh dunia. Model pemeringkatan ini berdasarkan pada indikator Webometrics dan bibliometrik […]

  • Faedah Amalan Jumat Terakhir Bulan Rajab

    Faedah Amalan Jumat Terakhir Bulan Rajab

    • calendar_month Jum, 24 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 554
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Bulan Rajab yang merupakan bulan ke tujuh dalam kalender Islam senantiasa mencurahkan berbagai amalan bagi umat Islam. Berbagai amalan mulai dari do’a, sedekah, sholat hingga amalan puasa yang dipercaya melalui hadits-hadits shohih akan memberikan pahala yang luar biasa bagi yang mengamalkannya. Bulan Rajab juga dipercaya sebagai bulan pengampunan dari Allah SWT. Karena […]

  • Dukung Toleransi, Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Webinar Moderasi Beragama

    Dukung Toleransi, Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Webinar Moderasi Beragama

    • calendar_month Kam, 18 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 439
    • 0Komentar

    Ruang Zoom Meeting Webinar dengan tema ‘Menguatkan Kerukunan Beragama di Era Pandemi’ yang diselenggarakan oleh Kelompok 107 KKN RDR 77 UIN Walisongo Semarang PATI – Mahasiswa Kelompok 107 KKN RDR 77 tahun 2021 menyelenggarakan Webinar Moderasi Beragama melalui aplikasi Zoom, Minggu (31/10). Acara dengan tema ‘Menguatkan Kerukunan Beragama di Era Pandemi’ ini dihadiri oleh beberapa […]

expand_less