Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Cerita Lucu dan Unik Dua Abdi Ndalem Mbah Sah

Cerita Lucu dan Unik Dua Abdi Ndalem Mbah Sah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 6 Agu 2022
  • visibility 288
  • comment 0 komentar

Oleh : Sahal Japara

 Peringatan Haul Syekh Mutamakkin Kajen (Suronan) bagi santri Kajen biasanya menjadi ajang pertemuan Alumni. Dalam pertemuan Alumni, selain kangen-kangenan, biasanya akan ada cerita-cerita kenangan waktu mondok. Pagi ini saya akan menceritakan kisah lucu dan unik Abdi Ndalem Mbah Sah/Ibunyai Hafshah/Aisyah Abdullah Salam, gara-gara ketemu dan njagong di sela-sela acara Khotmil Qur’an Haul Mbah Mutamakkin. Semoga bermaanfaat dan terdapat ibrah di dalamnya.  

“Manukmu Ucul, Kurungi!”

 Ada salah seorang Abdi Ndalem Mbah Putri/Mbah Sah (Ibunyai Hafshah/Aisyah Abdullah Salam Kajen) yang bangun tidur dalam keadaan “mimpi basah”. Di Ndalem Mbah Putri, saat itu, ia biasa bertugas untuk belanja bahan-bahan masak dapur. Karena bangun kesiangan, sementara waktu masak pagi di dapur sudah tiba, maka ia pun langsung bergegas pergi ke pasar untuk belanja bahan dan kebutuhan masak pagi di dapur, dan belum sempat untuk mandi junub.

 Di dapur, biasanya, Mbah Putri/Mbah Sah turut serta membantu santri-santri Abdi Ndalem dalam memasak makanan untuk para santri. Meskipun sudah sepuh, beliau sering ikut memotong sayur kangkung, bayam dan sebagainya, juga membantu pekerjaan yang semestinya sudah dikerjakan oleh para Abdi Ndalem. Hal ini lah yang membuat “Sega Ndalem” selalu dikangeni oleh para Alumni. Karena yang memasak adalah priyantun-priyantun mulia, kinasihnya Gusti Allah, yang selalu menyelipkan doa dan dzikir dalam butiran-butiran beras yang menjadi nasi maupun potongan-potongan sayur yang menjadi lauk pauk.

Saat si Abdi Ndalem tadi sudah sampai Pondok, ia langsung membawa seluruh barang belanja ke dapur agar segera dimasak. Sesampainya di dapur, ia bertemu Mbah Putri yang masih “ngrajangi” kangkung. Sembari tersenyum, Mbah Putri ngendika kepada si Abdi Ndalem.

“Heh, manukmu ucul, kurungi!”

(Hai, burungmu lepas, kurungi!)

Si Abdi Ndalem kebingungan memahami maksud dhawuh Mbah Putri. 

“Pripun Mbah?”

“Manukmu ucul, kurungi!”

Ia masih belum “ngeh” dengan dhawuh Mbah Putri. Mbah Putri pun mengulangi ucapannya tadi untuk yang ketiga kalinya. 

“Iku lho, manukmu ucul, kurungi!”

Seketika, si Abdi Ndalem baru paham bahwa ternyata Mbah Putri sedang menyindirnya, yang berangkat belanja ke pasar dalam keadaan masih junub dan belum sempat mandi. Ia betul-betul baru paham. Ia pun tersipu malu, sambil menggumam dalam hati, “Lho kok bisa Mbah Putri tahu kalau aku masih Junub? Apa orang Junub itu ada tulisan Junub di keningnya, sehingga beliau bisa tahu?”

==============================

Mendengar cerita itu kemarin Pagi langsung dari pelakunya, saya yang sebenarnya saat itu ngantuk berat dan sedikit meriang, seketika langsung tertawa terpingkal-pingkal, sampai-sampai kantuk dan meriang di badan hilang semua. Saya pun membalas dengan cerita unik tentang Mbah Putri.

“Mbah Sah: Makelar-nya Mbah Mutamakkin”

Saat itu, saya belum jadi Abdi Ndalem Mbah Sah, masih berstatus sebagai santri Pondok. (“Santri Abdi Ndalem” adalah santri yang biasa berkhidmah membantu memenuhi kebutuhan Ndalem Kiai dan juga para santri, sementara “Santri Pondok” adalah santri yang fokus kegiatannya hanya pada mengaji atau sekolah). Saat itu, Mbah Sah sama sekali belum mengenal saya. Selain jarang sowan, saya belum menjadi bagian dari Abdi Ndalem beliau. 

Selepas lulus sekolah di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, aku meminta Bapak supaya tidak lagi mengirim uang saku bulanan. Sebab, adik-adikku banyak, sementara Bapak hanya seorang Guru Madrasah Diniyyah Takmiliyyah sore atau  “Sekolah Arab”, yang gajinya tak seberapa. Secara logika finansial, aku sama sekali tidak punya pemasukan apa pun untuk biaya hidup di Pondok. Tetapi, kuyakin bahwa orang-orang yang mencari ilmu itu pasti rizqinya ditanggung Gusti Allah. Semua makhluk hidup itu rizqinya ditanggung Gusti Allah, tetapi khusus untuk para pencari ilmu, Gusti Allah menanggung rizki mereka secara “ajaib”, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al Kahfi yang menceritakan Nabi Musa saat mencari Sang Guru Nabi Khidir dan kehilangan seluruh bekal, namun menemukan banyak keajaiban:

“وَاتَّخَذَ سَبِيْلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا” 

“dan ia (ikan/rizqi) itu mengambil jalannya ke laut (mendatangi Nabi Musa/para pencari ilmu) dengan cara yang ajaib.”

Juga sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:

 “مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ، تَكَفَّلَ اللهُ بِرِزْقِهِ.” 

“Barangsiapa mencari ilmu, maka Gusti Allah pasti akan menanggung rizkinya.” 

Akan tetapi, saat itu, aku sedang betul-betul tak punya uang dan tak punya apa-apa, sementara kebutuhan untuk hidup di Pondok banyak sekali dan sangat mendesak. Aku betul-betiul sedang terkena sakit “Kanker”, Kantong Kering. Mau meminta-minta dan merepoti orang tua, rasanya sungkan. Akhirnya, malam itu, aku pun ziarah ke Maqbarah Mbah Mutamakkin, melantunkan Tahlil dan bertawassul. Berziarah ke maqbarah para kekasih Allah itu betul-betul menentramkan. Mereka sudah tidak punya kepentingan. Jika di hidupnya, mereka adalah Ahli dzikir, maka saat wafatnya pun masih mengajak manusia untuk turut serta dalam berdzikir mengingat Allah SWT. Kita, dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdhiyyah, tidak meminta-minta kepada para Wali Allah. Kita hanya sowan berziarah, karena dalam anggapan Ahlisunnah wal Jamaah an Nahdhiyyah, para kekasih Allah itu hidup di alam barzakh, bisa disowani, tahu dan mendengar bacaan orang-orang yang berziarah kepadanya.

Selesai Ziarah di Maqbarah Mbah Mutamakkin, baru sampai Pondok beberapa menit, aku langsung ditimbali santri Abdi Ndalem Mbah Sah.

“Kang, sampean dipadosi Mbah Putri.”

“Nopo? Kulo? Dipadosi Mbah Putri?” 

Aku bertanya keheranan, karena selama mondok di PMH Pusat, aku belum pernah sekali pun dipanggil Mbah Sah untuk sowan. Alih-alih dipanggil, lha wong sowan pun jarang sekali.

“Nggih, sampean Kang.”

“Lho, wonten napa nggih?”

“Mboten ngertos.”

Aku pun langsung sowan Mbah Putri, dengan memendam banyak pertanyaan. Ada apa ya sebenarnya, kok Mbah Putri sampai memanggilku? Saat itu, Mbah Putri berada di kamar beliau. Sesampainya di kamar beliau, Mbah Putri langsung memberiku sebuah amplop sambil ngendika.

“Iki ana hajat si fulan, nadzar khataman al Qur’an ning Mbah Mutamakkin. Sampean waca ya.” 

“Inggih Mbah.”

Saat mau langsung undur diri, Mbah Putri mengulurkan asta lembutnya sambil tersenyum.

“Salaman a, aku iki Mbahmu kok.” Simbah dalam arti ideologis, bukan biologis. Seketika saya salim dan pamitan kepada Mbah Putri.  

Dalam hati, aku langsung terheran-heran. Mbah Putri apa ya didhawuhi Mbah Mutamakkin, kok bisa nyambung? Kok bisa tahu aku ini betul-betul sedang kepepet dan butuh uang? Padahal beliau sama sekali belum mengenalku. Apa Mbah Putri itu makelar-nya Mbah Mutamakkin ya? Pikiran nakalku bertanya-tanya.

Sejak saat itu, aku sering sekali sekali diberi amplop-amplop berisi uang untuk khataman al Qur’an, menunaikan hajat orang-orang, baik di Makamnya Mbah Mutamakkin, Mbah Ronggokusumo, atau pun di Makamnya Mbah Abdullah Salam. Seringkali, satu khataman belum selesai, sudah diberi khataman lagi dan lagi, oleh Mbah Putri. Bahkan, aku bisa kuliah S1, ya diberi beasiswa Mbah Putri lewat jalur khataman di Mbah Mutamakkin. Jadi ceritanya, saat masih berkhidmah menjadi Abdi Ndalem Mbah Putri, aku matur beliau, hendak boyong, pengen meneruskan kuliah. Beliau malah ngendika, 

“Ning kene wae, ngancani aku, ya? Aja ning endi-endi. Eman-eman. Nek pengen kuliah, ya kuliah iku kono gone Yi Sahal (IPMAFA), opo nggone Lek Joyo/Abah Zaky (saat itu Unwahas membuka kelas jauh di PP Al Kautsar asuhan Abah Zaky).” 

Akhirnya, aku nderekke dhawuh Mbah Putri, tidak jadi boyong. Beberapa waktu kemudian, Mbah Putri nimbali lagi dan ngendika. 

“Kuliah gene Yi Sahal iku daftare piro?” 

Kujawab, “1.500.000 Mbah.” 

Tiba-tiba beliau memberiku 15 amplop khataman al Qur’an di Mbah Mutamakkin, sambil ngendika. 

“Iki nggo daftar kuliah ya.” 

Aku betul-betul terkejut, dan berkata dalam hati, “Masya Allah, betapa sayangnya beliau kepada para santrinya.” Lalu aku matur, “Nggih Mbah, ngestuaken dhawuh, maturnuwun sanget. Nyuwun tambah pangestu mawon.”, sembari salim dan mengecup asta lembutnya.   

Kagem Mbah Mutamakkin, Mbah Abdullah Salam, Mbah Aisyah/Hafshah Abdullah Salam, Mbah Nafi’ Abdillah Salam dan sekeluarga besar Kiai-Kiai Kajen, al Fatihah

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Balik Pencopetan Kyai Arwani Kudus

    Di Balik Pencopetan Kyai Arwani Kudus

    • calendar_month Kam, 29 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Sebuah kisah nyata yang dapat kita ambil hikmahnya datang dari seorang kyai Arwani (alm. Allahummaghfirullah).Beliau merupakan sosok kyai kharismatik yang terkenal dengan hafalan Qur’annya. Pesantren yang diasuhnya adalah Yanbuul Qur’an di Kudus, merupakan salah satu pesantren yang menjadi kiblat para hafidz dan hafidzah di Indonesia. Suatu hari, beliau bepergian bersama santrinya. Ketika beliau sampai di […]

  • PCNU-PATI Photo by Alan Alves

    Memilih Diam

    • calendar_month Jum, 24 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Beberapa waktu yang lalu kawan baik saya tengah berkeluh kesah pada saya. Ia membagikan kisah perjalanan cintanya yang begitu rumit. Saat ia bercerita sesekali ia meneteskan air mata. Barangkali terlalu berat kisah yang dihadapinya ini. Saya hanya mendengarkannya dengan seksama, tanpa ingin mengintervensi atau semacamnya. Barangkali dengan begitu ia akan sedikit lega […]

  • PCNU-PATI

    Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan.  Kami benar-benar sibuk sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.  Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, doa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadan saja […]

  • PCNU-PATI

    Ayo Ramaikan, Jalan Sehat PWNU Jawa Tengah Berhadiah Umroh

    • calendar_month Kam, 24 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Semarang – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah akan menggelar Jalan Sehat PWNU Jawa Tengah bertajuk “Santri Siap Menuju Indonesia Emas 2024” pada Ahad (27/10/2024) mendatang. Kegiatan tersebut, direncanakan akan dilaksanakan pada pukul 06.30 sampai 12.00 WIB yang berpusat di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Jawa Tengah. Ketua Panitia Jalan Sehat PWNU Jawa […]

  • PCNU - PATI

    7 Teladan Mbah Dimyati Rais

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Membaca biografi KH. Dimyathi Rais yang baru saja wafat, ada beberapa teladan agung yang bisa dipetik. 1. Spirit thalabul ilmi Beliau adalah sosok pengelana pengetahuan yang haus ilmu. Pondok APIK, Lirboyo, Sarang, dan lain-lain menjadi destinasi keilmuan beliau. Dalam salah satu vidio youtube Beliau menjelaskan salah satu ulama hebat, yaitu Imam Syafii, sosok pengelana pengetahuan […]

  • Photo by Clay Banks

    Menikah; Dibatasi Musim

    • calendar_month Jum, 3 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Bulan Syawal sebentar lagi usai. Euforia lebaran kemarin berganti dengan kegembiraan dua sejoli maupun dua keluarga dalam acara pernikahan. Bulan Syawal diyakini masyarakat Jawa sebagai bulan baik untuk menunaikan sebuah hajat. Salah satunya pernikahan. Menikah di bulan Syawal diyakini akan mendatangkan keberkahan dan senantiasa dilimpahi kebahagiaan. Maka tak heran terhitung mulai […]

expand_less