Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Parodi » Haji; dari Ibadah Hingga Merasa Wah

Haji; dari Ibadah Hingga Merasa Wah

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 22 Jun 2022
  • visibility 107
  • comment 0 komentar

Senja masih seperti kemarin, ada guratan mega memerah. Mendung bergelantungan. Hujan tak datang. Mendung terus menghadang menemani perjalanan pulang dari rutinitas harian. Pergi pagi pulang sore hari. Maklum karyawan kantoran seperti yang dikatakan orang-orang.

Perjalanan masih panjang. Mendung masih menghadang. Notifikasi pesan masuk di whatshap berdatangan tak karuan. Sesekali panggilan masuk berurutan. Saya tak peduli karena masih menikmati perjalanan pulang. Menikmati mendung tak kunjung hujan datang.

“Ini orang tak sabaran, jika panggilan dua kali tak terjawab mbok yo nyadar bisa jadi yang bersangkutan sibuk, yang bersangkutan ada halangan” celetuk saya dengan hati dongkol.

Sampai di rumah, mandi, cuci kaki dan istirahat sambil menikmati secangkir kopi buatan istri. Saya mengambil handphone merk xiaomi keluaran terlama. Mengecek satu persatu pesan masuk dari whatshap.

“Mohon maaf koreksi, setahu saya orang tersebut belum Haji, kenapa di berita namanya di tulis gelar Haji?”

Saya menggerutu sejadi jadinya. Dari tadi telepon tanpa jeda, mengirim pesan secara berturut turut hanya komplain perihal penulisan gelar? Kok remeh dan receh sekali. Meskipun saya yang bertanggung jawab atas portal media online sepenuhnya terkait isi berita seringkali membuat hati terluka, dan artikel tak jarang membuat hati mangkel serta puisi lebih sering bikin orang berhalusinasi. Jadi wajar apabila komplain dan kritikan langsung kepada saya.

Portal media online yang saya dengan teman-teman kelola adalah sebuah media yang bergerak di bidang sosial keagamaan. Jadi tim redaksi bekerja dengan penuh sosial tanpa adanya gaji. Serta ruang lingkupnya pun terbatasi; tak diperbolehkan menulis sesuatu yang kontroversi, menimbulkan polemik. Beritanya standar saja.

Seketika setelah saya membaca pesan whatshap dari orang yang sudah ber Haji saya segera konfimasi ke teman redaksi yang menulis berita tersebut.

“Berita hari ini yang tayang di portal kita ada yang komplain terkait penulisan gelar pada salah satu tokoh, belum Haji di tulis Haji,”

Dengan santai tanpa beban, sesantai saat kita mengelola portal sosial ke agamaan ini. Dengan santai akan tetapi penuh kepastian.

“Sengaja saya menulis Haji dengan maksud dan tujuan sebagai doa, siapa tahu Tuhan memakbulkan doanya, dari sebuah tulisan di berita menjadi Haji beneran, jadi secara tak langsung kita juga mendapatkan pahala meskipun tanpa sengaja.”

Saya tak bisa menekan atau lainnya; lha wong kerja sosial non profit kok. Masih ada yang mau mengelolanya alhamdulillah sekali. Dari komplain sederhana tapi mengena, saya jadi berfikir nakal sekali, berfikir liar sekali; begitu sangat penting kah? penyematan gelar Haji bagi mereka sudah berhaji dan sangat tak diterima ketika ada orang  belum berhaji ditulis gelar Haji di depan namanya?

Temannya saya melanjutkan pembelaannya; bukankah Haji adalah ibadah; seperti halnya ibadah-ibadah lainnya. Ibadah Haji akan menjadi wajib  ketika seseorang mampu dan jika belum mampu tak mendapatkan kewajiban tersebut.

Dari kejadian salah tulis  gelar di berita tersebut saya beranggapan apabila antara orang yang sudah berhaji dan belum berhaji harus dibedakan, terutama dalam lingkungan masyarakat. Dan ketika ada kegiatan harus ada pembeda, ketika nulis surat undangan nikahan, undangan kondangan di depan namanya harus di tulis Haji.

“Mereka Haji modal mas, jadi wajar saja apabila ingin dihormati, ingin dimengerti, ingin dipahami. Bukankah modalnya juga banyak, dan penantiannya juga panjang dan lama tak secepat saat kita menunggu lampu traffic light nyala hijau setelah itu kita tinggalkan” celetuk teman saya.

Sambil menikmati kopi buatan istri. Dan mengiyakan apa yang dikatakan teman saya tersebut. Wajar saja jika ada orang tak terima ketika belum Haji di depan namanya di tulis Haji. Lha wong penantiannya panjang, modalnya juga puluhan juta, manusiawi sekali.

“Pak…Bapak…sampean saja belum Haji kok bergaya nulis tentang orang yang sudah berhaji mengkritisi tentang tingkah polahnya pula, lha mbok di jarke wae; toh Haji itu kan ibadah mau di pamerkan, mau di sombongkan itu haknya. Andaikan saja bapak sudah berhaji apa mau ada orang manggil tanpa menyebutkan Pak Kaji? ujar istri saya denga ketus

Dengan tanpa semangat saya menutup laptop dan menghabiskan secangkir kopi buatan istri meskipun pahit akan tetapi selalu menyisakan rasa nikmat.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 154
    • 0Komentar

    JAKARTA-Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) membuka tangan lebar-lebar bagi para pengelola pondok pesantren di seluruh Indonesia. Baru-baru ini, melalui Direktorat Pendidikan Islam Subdit Pendidikan Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI membuka penerimaan proposal bantuan.] Setidaknya ada tiga jenis peruntukan bantuan yang ditawarkan oleh Kemenag. Di antaranya, pendidikan lifeskill dan pengembangan ekonomi pesantren; bantuan pesantren […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2016
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Sering saya lihat masjid digunakan sebagai tempat kegiatan – kegiatan ibadah seperti mauludan, isrro’ mi’roj dan sebagainya, dan biasanya setelah acara selesai orang – orang pada makan bersama di dalam masjid, apa itu tidak apa – apa (makan kok di dalam masjid) ? Wa’alaikum  salam Wr Wb. Masjid merupakan salah satu tempat […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Assalamu alaikum Saya Yazid di sukolilo, Mau tanya ustad, tentang masalah kuwalat, semisal saat kita ziaroh ke maqom para wali kita dianjurkan untuk menjaga sikap, kalau tidak maka dikawatirkan kuwalat, sebenarnya apa memang ada istilah kuwalat dalam pandangan agama. Sekian terima kasih. Waalaikum salam Terima kasih atas pertanyaanya Wali adalah sosok mukmin yang ahli taqwa […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Serius Kawal Kaderisasi

    PC IPNU IPPNU Pati Serius Kawal Kaderisasi

    • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 146
    • 0Komentar

      Salah satu prosesi dalam kaderisasi IPNU IPPNU PATI – Masna Zakiyyatus Salwa, Ketua PC IPNU Pati mengungkapakan, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) telah memberikan amanah besar kepada IPNU IPPNU untuk mengembangkan kaderisasi. Hal ini karena tumbuh berkembangnya NU berada ditangan pengkaderan pertama yaitu dari banom IPNU IPPNU. “Amanah serius ini yang selalu membuat segenap pengurus […]

  • Perkuat SMK Ma'arif dengan Rapat Koordinasi MKKS SMK Ma'arif Jateng

    Perkuat SMK Ma’arif dengan Rapat Koordinasi MKKS SMK Ma’arif Jateng

    • calendar_month Ming, 9 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 224
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id- Tegal – Dengan tujuan memperkuat koordinasi antara SMK Ma’arif se-Jawa Tengah dan evaluasi program, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah mengadakan Rapat Koordinasi MKKS SMK Ma’arif NU Jateng di SMK NU Entrepreneur 01 Lebaksiu Kabupaten Tegal pada hari Sabtu (08/02/25). Kegiatan diikuti oleh 18 Pengurus MKKS SMK Ma’arif Kabupaten/Kota yang sudah […]

  • Jelang Muktamar NU, 62 Pendekar Se-Jateng Serbu Pesantren di Blora

    Jelang Muktamar NU, 62 Pendekar Se-Jateng Serbu Pesantren di Blora

    • calendar_month Sen, 13 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Seorang anggota TNI memberikan materi lapangam dalam Diklatsus Pasukan Inti Pagar Nusa BLORA – Pimpinan Wilayah Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PW PSNU) Pagar Nusa Jawa Tengah menggembleng para pendekar untuk persiapan  Muktamar Ke-34 NU di Lampung. Penggemblengan  bertajuk  Pendidikan dan Latihan Khusus (DIKLATSUS) Pasukan Inti (Pasti) ini diadakan di Pondok Pesantren An Nur di Desa […]

expand_less