Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ASWAJA NAHDLIYAH

PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ASWAJA NAHDLIYAH

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 27 Okt 2015
  • visibility 513
  • comment 0 komentar

Karakteristik komunitas NU adalah menjadikan Ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) sebagai paham keagamaan yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Secara simplistik, aswaja mempunyai tiga dimensti, yaitu dalam aqidah mengikuti salah satu dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, dalam syari’ah mengikuti salah satu dari empat mazhab, yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, dalam dalam tasawuf mengikuti salah satu dari Imam Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi.

Dalam realitas aktual, dalam bidang akidah, warga NU mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari, seorang tokoh Mu’tazilah rasional yang mengundurkan diri dan membangun mazhab pemikirannya yang moderat dengan doktrin ‘kasb’.Manusia mempunyai kekuatan ‘kasb’ atau usaha untuk melakukan sesuatu dalam rangka membangun prestasi dunia dan akhirat, namun hasil akhirnya ada dalam kekuasaan Allah SWT. Baik dan buruk ada dalam koridor syar’i, bukan otoritas akal manusia yang relatif. Kebaikan mengandung kemaslahatan dan keburukan mengandung kemadharatan dalam perspektif ketuhanan (al-khaliq),bukan kemanusiaan (makhluq).
Dalam bidang syari’ah, Imam Syafi’i dipilih karena kemampuannya menggabungkan antara ahlul hadis dan ahlur ra’yi. Imam Syafi’i adalah murid utama Imam Malik yang merupakan imam ahlul hadis dan murid Muhammad as-Syaibani yang merupakan murid Imam Abu Hanifah, imam ahlur ra’yi. Kecermelangan Imam Syafi’i terlihat dari kemampuan dalam teorisasi metode penggalian hukum yang dikenal dengan ilmu ushul fiqh. Salah satu teori yang dimunculkan adalah qiyas sebagai bukti moderasi antara aspek rasionalitas (far’ dan illat) dan normativitas (ashl dan hukumnya). Liberalitas akal dibimbing oleh wahyu supaya tidak menyimpang dari aturan agama.
Dalam bidang tasawuf, dalam bidang pemikiran, al-Ghazali menjadi primadona, karena mampu menggabungkan aspek legal dan esensi. Dalam mognus opusnya Ihya’ Ulumiddin, al-Ghazali mampu menggabungkan aspek fikih dan tasawuf, bahkan dengan filsafat dan sosiologi. Elaborasinya yang sangat mendalam dalam mengupas pemikiran fikih dan tasawuf dengan berbagai perspektif yang sangat rasional-filosofis memuaskan dahaga kaum rasionalis dan tradisionalis sekaligus. Namun, dalam prakteknya, warga NU lebih mengikuti tarekat Naqsyabandiyah-Qadiriyah yang menempatkan Imam Abu Hasan As-Syadzili sebagai figur sentral. Ke depan, tasawuf amali-falsafi harus digabungkan untuk menguatkan aspek rasionalitas dan normativitas, sehingga tercipta bangunan yang kokoh di tengah derasnya tantangan zaman di era global.
            Mengapa NU memilih banyak tokoh dalam tiga aspek di atas, tidak cukup dengan satu tokoh ? menurut KH. Dr. Abdul Ghofur Maimun (2010), disebabkan proporsionalitas NU dalam memandang kelebihan tokoh dan menghilangkan fanatisme personal. Imam Syafi’i sebenarnya tidak hanya unggul di bidang syari’ah, tapi juga di bidang tauhid dan tasawuf, namun beliau lebih menekuni bidang syariah. Imam Ghazali tidak hanya unggul di bidang tasawuf, tapi juga di bidang tauhid dan tasawuf, namun kedalamannya di bidang tasawuf sulit ditandingi.
            Dengan memilih tiga tokoh dalam beragama, komunitas NU menjadi lebih obyektif, kritis, kaya diskursus, dan menjadikan silang argumentasi antar imam menjadi basis intelektual dan amaliyahnya. NU tidak menjadikan satu imam dalam segala urusan, karena khawatir jatuh dalam kultus individu yang mengancam obyektivitas ilmu dan mematikan kreativitas berpikir.
Pengembangan Pemikiran Aswaja
Globalisasi mendorong seluruh elemen bangsa untuk berpacu dengan waktu dalam meningkatkan produktivitas dan inovasinya secara terus menerus agar tetap relevan dengan globalisasi yang identik dengan ledakan pengetahuan dan teknologi di segala aspek kehidupan. Pemikiran para imam aswaja menghadapi tantangan serius yang harus dijawab oleh generasi sekarang agar tidak terjadi stagnasi dan degradasi yang bisa melahirkan krisis kepercayaan generasi sekarang.
Dalam konteks akidah, dibutuhkan pemikiran akidah yang menyeimbangkan antara orientasi vertical dan horizontal. Menurut Asghar Ali Enggeneer dalam Islam and It’s Liberation, teologi yang dibawa Nabi Muhammad SAW. tidak hanya membawa revolusi teologis, tapi juga sosial politis yang sangat luas dampaknya bagi kehidupan. Laailaaha Illallah, tiada tuhan selain Allah, bermakna tidak ada yang boleh disembah kecuali Allah. Selain bermakna ini, kalimah tauhid ini juga mempunyai makna, bahwa yang boleh dipatuhi segala aturannya hanya Allah. La tha’ata limakhluqin fi ma’shiyatil khaliq, tidak boleh ada kepatuhan manusia yang bertentangan dengan aturan Allah. Pemegang otoritas bidang keilmuan, ekonomi dan politik tidak mempunyai arti jika bertentangan dengan aturan Allah. Revolusi sosial ini sangat besar dampaknya bagi terciptanya bangunan sosial politik yang egaliter dan humanitarian. Keyakinan teologis harus membawa elan pembebasan sosial politis yang korup dan menindas.
Dalam konteks syari’ah, pemikiran fikih yang membawa kemaslahatan riil umat harus dikembangkan. Dalam konteks ibadah, pemikiran fikih sudah mengalami kematangan. Namun, dalam konteks mu’amalah, khususnya dalam bidang ekonomi, masih jauh ketinggalan dengan dinamika zaman. Konsep-konsep fikih dalam bidang keuangan, jual beli, perdagangan dan kelembagaan dirasa sudah out of date, yang membutuhkan kontekstualisasi, dinamisasi, dan bahkan rekonstruksi. Lembaga keuangan syariah berkembang dengan dinamis, sementara pemikiran mazhab Syafi’i tidak berkembang secara signifikan. Dalam aspek mu’amalah, dibutuhkan kajian perbandingan mazhab untuk menemukan formula yang tepat untuk merespons dan mengantisipasi perubahan zaman.
            Dalam bidang tasawuf, dibutuhkan pengembangan di bidang reorientasi wawasan kemasyarakatan dan kebangsaan. Tasawuf selama ini hanya berorientasi kesalehan personal-vertikal, sementara kesalehan sosial horizontal belum mendapat porsi yang proporsional. Tasawuf sebagai ilmu menyucikan hati membutuhkan mursyid (pembimbing hati) yang mempunyai wawasan sosial yang luas. Dalam konteks wawasan sosial ini, wawasan kebangsaan menjadi keniscayaan. Nasionalisme selalu melekat kepada seorang mursyid yang mempunyai wawasan dan kepedulian besar terhadap pembangunan personal, sosial, dan institusional. Politik yang dikembangkan dalam tasawuf adalah politik yang mengedepankan moralitas dan progresivitas.
            Pengembangan tiga aspek fundamental aswaja di atas mutlak diperlukan agar kader-kader aswaja mampu tampil sebagai pemimpin perubahan di era global sekarang ini. Mereka mampu berada di mainstream perubahan, bukan terus menerus menjadi kelompok marginal yang selalu kalah dalam persaingan. (Dr. Jamal Ma’mur, MA. Wakil Ketua PCNU Pati & Ketua Prodi Zakat & Wakaf IPMAFA)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejaring Global, Ma'arif Jateng Blusukan ke Kunjungi Management and Science University (MSU) Malaysia

    Jejaring Global, Ma’arif Jateng Blusukan ke Kunjungi Management and Science University (MSU) Malaysia

    • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.648
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Selangor, Malaysia — Dalam rangka memperkuat jejaring pendidikan dan membuka peluang kolaborasi internasional, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah melakukan kunjungan ke Management and Science University (MSU) Malaysia pada Kamis (7/11). Rombongan diterima langsung oleh Mohd Hairunizam Ibrahim, Regional Manager Global Affairs Office MSU, di ruang Theater kampus tersebut. Dalam sambutannya, […]

  • Haul Tokoh NU, Empat Malam Pembacaan Manaqib Mbah Karim

    Haul Tokoh NU, Empat Malam Pembacaan Manaqib Mbah Karim

    • calendar_month Ming, 17 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Para santri menyimak pembacaan manaqib KH. Muhammad Karim dari Gus Faiz Aminuddin, Sabtu (16/10) malam.  GEMBONG – Haul KH. Muhammad Karim ke-38 yang akan berlangsung minggu depan, telah bergema. Rangkaian kegiatan yang sudah dimulai sejak Jumat (16/10) lalu.  “Sebelum agenda inti, tanggal 23 sampai 24 Oktober malam, ada rangkaian acara yang sudah kami mulai sejak […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Influencer, Ulama, dan Otoritas Ilmu

    • calendar_month Jum, 13 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.602
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ketiga profesi (pekerjaan), hobi, minat, atau aktivitas pada judul kolom ini memang bukan seharusnya diparadokskan. Akan tetapi, ketiga memiliki ruh yang sama, yaitu “ingin berkuasa” dalam arti tertentu.   Zaman dulu, orang mencari ilmu tak sebatas aktivitas intelektual dan akademis, namun juga perjalanan fisik yang panjang dan tentu sangat melelahkan […]

  • PCNU-PATI

    Mustasyar PWNU Jateng KH Ahmad Wafat

    • calendar_month Rab, 24 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Kabar duka menyelimuti warga Nahdliyin di Jawa Tengah. Pasalnya KH Ahmad (88), mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah meninggal dunia, pada Selasa (23/5/2023) pukul 08.25 WIB. Almarhum dimakamkan di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.  Semasa hidup, Mustasyar PWNU Jateng ini dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan aktif dalam berorganisasi.  Keponakan […]

  • Berikut 10 PTKIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Januari 2025

    Berikut 10 PTKIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Januari 2025

    • calendar_month Sel, 4 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 936
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), berikut adalah daftar 10 PTKIN terbaik di Indonesia versi Webometrics edisi Januari 2025. Adapun metode pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2025 mencakup hampir 32.000 institusi pendidikan tinggi dari seluruh dunia. Model pemeringkatan ini berdasarkan pada indikator Webometrics dan bibliometrik […]

  • PCNU - PATI Photo by Manas Taneja

    Hukum Minum Air Yang Berada di Masjid

    • calendar_month Jum, 1 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 753
    • 0Komentar

          Ada seorang melakukan perjalanan pada saat dia berpuasa.Ketika waktu maghrib tiba,dia mampir ke masjid untuk melakukan solat.karena seharian berpuasa,dia haus,maka dia sekalian minum air dari kulah masjid. Pertanyan: Bagaimana hukum minum air yang berada di masjid? Jawaban : Boleh apabila dilokasi tersebut  tidak ada larangan tertentu Referensi : Al Fatawiy Al Fiqhiyyah Al Kubro […]

expand_less