Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » INDONESIA BUTUH NU

INDONESIA BUTUH NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Nov 2015
  • visibility 403
  • comment 0 komentar

NU merupakan satu organisasi sosial keagamaan yang—bisa dibilang—unik. Keunikan ini sebenarnya lahir dari berbagai aktivitas keorganisasian yang lebih bersifat kultural. Tradisionalisme yang melekat pada organisasi ini, merupakan satu bagian yang sering menjadi buah bibir khalayak. Secara struktural, organisasi NU telah cukup maju dalam penataan kepengurusannya. Hanya saja, esensi yang ‘duduk’ di dalamnya masih sarat dengan nilai-nilai budaya lokal. Namun justru itulah yang membuat organisasi terbesar di indonesia ini layak menjadi salah satu ikon ‘perdamaian’ bukan hanya antara budaya dengan agama namun juga antara yang tradisional dengan yang modern.
‘Lokasi’ lahir yang berdekatan dengan kebodohan, kekolotan dan kemelaratan bangsa terjajah harus membuat NU mampu menjadi wadah, bukan malah menjadi menara gading yang congkak. Wal hasil tercetuslah NU yang seperti sekarang ini. Akantetapi—seperti dikatakan sebelumnya—meski hadir dengan tema tradisional, modernitas tetap menjadi satu bagian wajib dalam rangka membangun “mitra” dengan roda zaman. Penyelarasan ini sebenarnya telah dideklarasikan secara leteral dalam bentuk kaidah. Pemeliharaan terhadap eksistensi tradisionalitas diseguyubkan dengan pengamalan nilai-nilai modern yang dianggap lebih baik menjadi tolak ukur NU dalam memahami masa depan. Demikianlah yang acap kali didengungkan oleh kyai-kyai NU hingga para guru mulok (muatan lokal) Ke-NU-an di madrasah-madrasah.  
Hemat penulis, dari kaca mata ini terlihat jelas bahwa modernitas dan tradisionalitas merupakan barang yang wajib adanya bagi NU. Ibarat dua mata uang dalam satu koin, dua-duanya adalah suatu yang niscaya untuk diaplikasikan. Hanya saja penyalahartian tentang tradisionalitas yang disamaratakan dengan konvensionalitas masih sering berdengung di kawasan anti NU. Maka wajar jika posisi NU semakin terdesak ditepian zaman ‘modern’. Para hater yang  sejatinya belum terlalu jauh memahami NU, dengan segala kepentingannya mengobrak-abrik asumsi pasar soal kekolotan organisasi bikinan KH. Hasyim Asy’ari ini. Akhirnya, tercetuslah gagasan yang diiyakan secara global bahwa NU disamadengankan tradisional, dan tradisional sama dengan kolot. Dengan rumus singkatnya, kolot sama dengan NU.
Terkait kekurangan dan kelebihan NU sebagai organisasi yang notabenenya ‘hand made’ umat manusia—bukan buatan tuhan seperti agama—memojokkan NU dengan satu alasan logis ini bisa saja dibenarkan. Namun wajah NU yang sedemikian rupa sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mewahanai hajat umat Indonesia dalam banyak aspek. Dibalik anggapan miring NU kolot yang berdengung, sejatinya dalam tubuh NU tersimpan pola pemikiran ulama yang begitu maju untuk memajukan Indonesia.
Berangkat dari sebuah kaidah tentang penyelarasan antara tradisionalitas dan modernitas, NU menjadi ikon terpenting yang harus ada. Eksistensi karakter organisasi semacam ini mutlak dimiliki  oleh segala jenis bangsa manusia di dunia. Tanpa penggabungan antara tradisionalitas dan modernitas, mustahil sebuah bangsa bisa menemukan titik ghoyah-nya, memajukan peradaban sekaligus meniadakan penindasan karakter. Begitu banyak bangsa maju di era dunia ke tiga ini, namun tak sedikit pula dari mereka yang kehilangan jati diri karena melewatkan sejarah bangsa dalam modul pembangunan.
Tradisi merupakan bahan baku budaya yang menyejarah, sementara tanpa memahami betul sejarah dan budaya bangsa, maka kemajuan akan terasa pincang sebab kebutaannya terhadap karakter asli bangsa.
Diteropong dari rongga ini, NU dengan segala keunikanya tentu saja bukan organisasi sembarangan. Karakternya telah didesain sedemikian rupa oleh ‘arsitek’ ulung sekelas KH. Hasyim Asy’ari CS sehingga mampu menampung berbagai macam aspirasi baik yang bersifat tradisi ataupun yang kekinian bahkan yang berasal dari masa depan. Kaum intelek menyebutnya dengan istilah yang cukup keren : toleran.
Waktak toleran terhadap kemajuan zamannya serta jadugnya NU dalam mempertahankan tradisi tanpa disadari telah membawa organisasi ini pada sebuah level penyatuan tradisionalitas dan modernitas yang membentuk  satu aliran baru—sebaru-barunya—yakni neo-modernisme. Sebuah istilah untuk menyebut pembaharuan modern.
Kata modern terkadang masih terdengar ‘angkuh’, kekinian, kota dan hal-hal maju lainnya. Namun tanpa sadar, NU yang dianggap kolot telah memodernkan kemodernisasi dengan emblem gagah neomodernisme. Hebatnya lagi, kondisi semacam ini telah diteropong oleh para pendirinya sejak tahun 1926, sekitar sembilan puluh tahun lalu, dan baru sekarang terkuak. Dalam konteks ideologi neomodernisme ini, Indonesia menjadi satu negara yang paling beruntung karena memiliki NU.
KH. Hasyim Asy’ari mafhum betul bahwa Indonesia butuh NU, maka beliau tidak mau sembarangan dalam meracik organisasi ini. Hanya saja,  NU acap kali dianggap sebagai satu hal yang biasa-biasa saja oleh bangsa Indonesia bahkan oleh para kadernya. tanpa disadari bahwa NU adalah masterpiece yang sekaligus menjadi pilar utama peradaban manusia Indonesia. Namun sayang, dengan resep yang telah digodhog hingga benar-benar matang oleh KH. Hasyim Asy’ari CS dalam ‘membuat adonan’ NU yang istimewa, saat ini malah cenderung dipandang sebelah mata. Kekonyolan paradigma khususnya oleh para kader NU terhadap organisasinya sendiri inilah yang kian menggerogoti tubuh NU sendiri secara perlahan. Mereka menganggap NU adalah ‘warisan’ yang biasa-biasa saja ini, wal hasil Indonesiapun turut menjadi negara yang hambar dan biasa-biasa saja. Ketidaksadaran bahwa Indonesia butuh NUatau setidaknya butuh organisasi semacamnya—inilah yang harus dibangunkan dari tidur lamanya.
Neomodernisme menjadi paku bumi mendirikan bangunan negeri yang ingin maju, tak terkecuali Indonesia yang hanya mengekor pada kolonialisme model mutakhir yang berkedok modernisme. Dengan penerapan faham neomodernisme yang diusung NU, Indonesia benar-benar akan menjelma—bukan hanya—sebagai negara maju, namun juga menjadi barang istimewa sebagaimana dicita-citakan hadratusysyaikhSoekarno CS. (Maulana Luthfi Karim Penulis merupakan peneliti di Paradigma Institut, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati Harlah NU ke 95, Ranting NU desa Godo Winong gelar rapat kordinasi banom

    Peringati Harlah NU ke 95, Ranting NU desa Godo Winong gelar rapat kordinasi banom

    • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

      Mengawali Tahun Baru Masehi 2021, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU) Desa Godo Kecamatan Winong Kabupaten Pati melakukan rapat koordinasi (Rakor) pertama sekaligus Memperingati Harlah NU yang 95. Kegiatan rapat rapat koordinasi dihadiri Rais Syuriyah K. Sadi, Sekretaris MWC NU Muhammad Ismail,M.Pd Ketua Tanfidziyah Ariys Khoerul Ashadi dan sejumlah pengurus Lembaga dan Banom NU […]

  • Pengurus PGSI Kabupaten Pati Periode 2025-2030 Resmi Dilantik

    Pengurus PGSI Kabupaten Pati Periode 2025-2030 Resmi Dilantik

    • calendar_month Sen, 8 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.139
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Pengurus Daerah Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PD PGSI) Kabupaten Pati periode 2025-2030, resmi dilantik. Pelantikan berlangsung di aula kantor Muslimat Nahdlatul Ulama Pati, Sabtu (6/12/2025). Ketua PGSI Kabupaten Pati, Sunoto mengatakan, usai pelantikan ini, pihaknya bakal melalukan penguatan kader. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar perjuangan para guru terus berlanjut. “Pengurus daerah […]

  • PCNU- PATI Photo by esudroff

    Setiap Anak Unik

    • calendar_month Jum, 9 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Oleh :Inayatun Najikah Kemarin, saat saya makan siang bersama kawan, saya mendapat cerita yang cukup menarik tentang dunia anak. Dalam hati saya berkata, cocok nih buat ide tulisan. Sambil menyelam saya minum airnya. Kawan saya bercerita soal dirinya dan adiknya yang menginjak usia remaja. Kawan saya mempunyai  adik laki-laki usianya kurang lebih sebelas tahun. Sekarang […]

  • Proses Panjang, PBNU Lantik Hamidulloh Ibda Pimpin INISNU Temanggung

    Proses Panjang, PBNU Lantik Hamidulloh Ibda Pimpin INISNU Temanggung

    • calendar_month Kam, 27 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.852
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi melantik Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., sebagai Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung untuk masa jabatan 2025–2029 berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor: 4776/PB.01/A.II.01.22/99/11/2025 Tentang: Pengangkatan Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung Masa Khidmat 2025-2029 tertanggal 7 November 2025. Prosesi pelantikan digelar […]

  • Darul Hadlahan Gelar Bedah Buku Mbah Yasin Bareng

    Darul Hadlahan Gelar Bedah Buku Mbah Yasin Bareng

    • calendar_month Rab, 29 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 549
    • 0Komentar

    Andi Irawan, Pengasuh Panti Asuhan Darul Hadlanah dalam acara bedah buku ‘Kyai Ahli Riyadlah’ karya Amirul Ulum. MARGOYOSO – Perpustakaan Panti Asuhan Darul Hadlanah (PADH), Waturoyo, Margoyoso menggelar kegiatan bedah buku. Para santri yang turut tampak antusias mengikuti jejak KH. Yasin Bareng dalam buku ‘Kyai Ahli Riyadhah’ karya Amirul Ulum.  Kegiatan yang dilangsungkan Senin (26/9) […]

  • Hukum Mengusap Tangan Setelah Berdoa

    Hukum Mengusap Tangan Setelah Berdoa

    • calendar_month Sen, 26 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 758
    • 0Komentar

    Pertanyaan : Ada salah satu praktik orang – orang ketika berdoa mereka mengangkat kedua tangan dan setelah selesai, mereka mengusapkannya ke wajah. akan tetapi setelah doa qunut di saat sholat subuh mengapa ada yang mengusapkan tanganya ke wajah dan ada yang tidak, mohon dijelaskan cara yang benar itu bagaimana ?   Jawaban :Setelah berdo`a dianjurkan […]

expand_less