Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Momen Kemerdekaan, PCNU : Tanpa Ulama NU Mungkin Indonesia belum Merdeka

Momen Kemerdekaan, PCNU : Tanpa Ulama NU Mungkin Indonesia belum Merdeka

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
  • visibility 589
  • comment 0 komentar
K. Yusuf Hasyim, ketua PCNU Pati dalam diskusi Kebangsaan bersama mahasiswa KKN Gembira IPMAFA

PATI-17 Agustus 76 tahun silam, proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan. Pembacaan naskah keramat ini menjadi simbol kemerdekaan Indonesia. 

Masyarakat era milenial, tidak merasakan beratnya perjuangan kala itu. Maka, K. Yusuf Hasyim, ketua PCNU Pati, mengajak warga Indonesia untuk merenungi jasa-jasa pahlawan, khususnya para ulama NU yang terlibat langsung dalam konfrontasi melawan penjajah. 
“Ulama’ NU banyak yang ikut berjuang, mencurahkan fisik, harta dan pemikirannya,” ungkap K. Yusuf dalam Seminar Daring KKN Gembira IPMAFA beberapa waktu lalu. 
Bahkan, dirinya menambahkan, tanpa ulama NU, mungkin Indonesia belum merdeka hingga saat ini. Dalam forum tersebut, ia banyak bercerita tentang pengaruh-pengaruh NU dalam menyongsong kemerdekaan hingga paska merdeka. 
“Dulu waktu perumusan dasar negara, sempat terjadi perdebatan tentang sila pertama, Ketuhanan yang maha esa dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya,” tuturnya. 
Lanjut K. Yusuf, para tokoh nasionalis sekuler di dukung non islam bersikukuh menghilangkan unsur-unsur islam dengan menghapus tujuh kata terakhir dalam sila tersebut. Sementara beberapa tokoh muslim enggan mencopot unsur islam, sebab menurut mereka, bagaimanapun islam adalah mayoritas. 
Pada saat para pendiri bangsa terlibat adu argumen sengit, KH. Wahid Hasyim hadir dengan intelektualitasnya. Akhirnya, berkat pengetahuan luas yang dimiliki oleh putra KH. Hasyim asy’ari ini, semua sepakat agar tujuh kata tersebut dihapuskan. Pastinya, ayah dari Gus Dur tersebut punya argumen luar biasa sehingga para tokoh islam fundamentalis berkenan untuk serujuk.
“Itu satu bagian kecil yang memperlihatkan jasa ulama NU terhadap kemerdekaan,” lanjut K. Yusuf. 

Berfikir Progresif

Pada sesi tanya jawab, seorang jama’ah online, pemilik akun Sulisalika mengirimkan pertanyaan yang cukup masuk akal. Ia heran mengapa para ulama rela berkorban sedalam itu. 
Pertanyaan ini langsung dijawab oleh K. Yusuf dengan jawaban yang cukup menohok. Menurutnya, kerelaan ummat islam untuk menghapus tujuh kata dalam sila pertama Pancasila merupakan buah pemikiran progresif khususnya oleh KH. Wahid Hasyim. 
“Saat itu sangat mungkin untuk mendirikan negara berasas islam. Namun para tokoh islam akhirnya mengikhlaskan karena mereka berfikir panjang di masa mendatang, bukan hanya saat itu saja,” jelasnya. 
K. Yusuf Hasyim memperkirakan seandainya tujuh kata tersebut dipertahankan, maka konflik horizontal pasti akan terjadi di kemudian hari. Dampaknya, lanjutnya, perpecahan tidak akan terelakkan. 
“Indonesia ini banyak suku bangsa dan agama. Jika ulama bersikukuh mendirikan negara islam, bisa dipastikan daerah-daerah yang mayoritas non muslim akan melepaskan diri dari Indonesia. Lagi pula tidak satupun sila dalam Pancasila berseberangan dengan naskah agama islam,” lanjutnya. 
Pada akhir diskusi, K. Yusuf menutup obrolan dengan kata-kata yang cukup manis dan sangat argumentatif untuk tetap menjaga nasionalisme yang telah dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.
“Kita harus menempatkan nasionalisme dan ajaran islam secara sinergi. Tidak harus selalu mengedepankan label atau simbol-simbol islam. Yang terpenting nilai-nilai islam secara substantif bisa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutupnya tegas.(karim/ltn)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lazisnu Pati Buka Donasi untuk Semeru

    Lazisnu Pati Buka Donasi untuk Semeru

    • calendar_month Rab, 8 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 472
    • 0Komentar

    Pamflet Lazisnu Pati Peduli Semeru PATI – NU Care-Lazisnu  Kabupaten Pati, terhitung mulai Senin (6/12) melakukan penggalanan dana bantuan untuk korban erupsi gunung semeru. Hal tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terkena musibah bencana erupsi gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur. Relawan NU Care-Lazisnu kabupaten Pati dengan bermodalkan membuat flyer untuk mengulurkan tangan menyisihkan […]

  • Rangkaian Hari Santri, PCNU Gelar Lomba Baca Kitab Fathul Qorib

    Rangkaian Hari Santri, PCNU Gelar Lomba Baca Kitab Fathul Qorib

    • calendar_month Sen, 18 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 633
    • 0Komentar

    Suasana lomba membaca kitab Fathul Qorib di Ponpes Masllakul Huda dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2021 PCNU Pati yang dihandle oleh RMI NU Pati. MARGOYOSO – RMI NU Pati menyambut meriah Hari Santri 2021. Salah satu kemeriahannya adalah diselemggarakannya beragam lomba. Mulai dari video pendek hingga lomba baca kitab kuning.  Selain itu, beraneka kegiatan juga […]

  • white concrete building during daytime

    Santri dan Literasi

    • calendar_month Sab, 25 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Pesantren pada umumnya merupakan model pendidikan yang menekankan pada khazanah keilmuan kitab kuning dan ilmu agama. Sehingga pesantren lebih terkenal di lingkungan masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal yang fokus pada pendidikan keagamaan dan pendidikan karakter terhadap para santri. Sedangkan santri sendiri di dalam pondok pesantren merupakan salah satu unsur penting yang […]

  • PCNU- PATI Photo by MasterTux

    Kabar Pernikahan Terviral

    • calendar_month Ming, 4 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 557
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin “Kasihan, lulus jadi dokter bedah langsung disuruh nikah sama kakek-kakek.” “Rupanya dokter cantik itu jadi tumbal orang tuanya sendiri. Ck… ck… ck….” “Kalau aku sih mau aja. Kan konglomerat itu udah aki-aki. Bentar lagi dipanggil Yang Maha Kuasa. Warisan yang gak bakal habis dimakan tujuh turunan akan jatuh di tangan. Haha.” […]

  • Hanya Se Tinggi Lutut tapi Membunuh Harapan. Photo by Ny Menghor on Unsplaash.

    Hanya Se Tinggi Lutut tapi Membunuh Harapan

    • calendar_month Kam, 5 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Karim Sholikhin* “Halah, cuma banjir ndak sampai se lutut,” celetuk seorang kawan di antara riuh hujan. Seketika telinga penulis memanas. Belum usai gemuruh dalam dada akibat ungkapan nyelekit itu, ternyata masih berlanjut. “Media terlalu membesar-besarkan.” Nah, kalau yang ini sudah ndak bisa di biarkan. Uraian ‘khotbah’ unfaedah itu harus segera di sliding […]

  • PCNU-PATI

    Forum Diskusi MEJA PANJANG  Episode Ketiga 

    • calendar_month Kam, 3 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Jakarta, Rabu, 2 Agustus 2023 ,- Forum Diskusi Sastra MEJA PANJANG episode ketiga  berlangsung di Selasar Lantai Lima ,  Gedung Ali Sadikin ,  Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat siang lalu (28 Juli 2023)  bertemakan JAKARTA KITA DAN SASTRA. Menghadirkan pertama adalah  Pembicara  Ahli ,Yahya Andi Saputra , dengan makalah berjudul […]

expand_less