Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 10.940
- comment 0 komentar

Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat
Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang.
Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat ini terjadi baik di Gaza, Iran dan Libanon.
Pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan, orang tua dan masyarakat sipil dianggap biasa. Penghancuran fasilitas publik seperti tempat ibadah, rumah sakit, lembaga pendidikan, museum dan situs bersejarah dianggap lumrah.
“Semakin kesini kemanusiaan semakin tergerus, sehingga kita berhak bertanya, apakah ini masih dunia manusia atau dunia yang dikuasai bukan manusia?” satir budayawan Anis Sholeh Ba’asyin membuka dialog.
Padahal sudah ada konvesi Jenewa yang melarang serangan terhadap masyarakat dan infrastruktur sipil. Bila ini dibiarkan, Anis khawatir ini menjadi pola perang baru. Pola perang yang dijalankan secara barbar tanpa terkendali.
“Nilai-nilai ini sudah lebih dulu diajarkan Islam. Bagaimana anak-anak, wanita, dan orangtua tidak boleh dihancurkan. Rumah ibadah juga, bahkan pohon juga tak boleh. Tapi faktanya banyak korban dari anak-anak dan wanita. Ironisnya Internasional tidak banyak yang mempersoalkan itu,” tegas dia.
“Bagaimana bisa orang begitu tega mengincar kanak-kanak bahkan bayi sebagai sasaran tembak?” ujar dia.
Tindakan semacam itu jauh lebih rendah dari hewan. Anis menyebut perilaku seperti itu terjadi karena manusia dan peradaban ini dikendalikan oleh syahwat dan amarah.
“Kita lihat peradaban ini dikendalikan dua hal, yakni ghadab atau marah dan syahwat. Sedang jika kita tidak bisa mengendalikan maka dapat merusak. Hal itu bisa terjadi karena manusia kalah dengan iblis,” tambah dia.
Syahwat mendorong manusia untuk mencari pemenuhan kenikmatan, sementara dunia modern menyungguhi kita dengan ilusi kenikmatan nyaris tanpa batas. Kita dirangsang untuk terus menerus memburunya. Bila tak terpenuhi, kita jadi gampang tersinggung, gampang marah. Kemarahan itu sendiri ibarat api, bila tak dikendalikan akan membakar diri kita sendiri.
“Situasi semacam ini tak memberi cukup ruang untuk merenung dan menyadari bahwa sebagai manusia kita semua bersaudara yang harus saling menjaga,” tegas dia.
Anis mencontohkan bagaimana dalam salah satu peperangan sayidina Ali tak jadi membunuh lawannya yang sudah tergeletak tak berdaya, hanya karena lawan tersebut meludahinya.
“Ali membatalkannya karena takut pembunuhan itu dilakukan karena amarah pribadinya, dan bukan lagi karena Allah. Pengendalian semacam itu yang sekarang jarang ditemui. Yang umum, cara pikirnya sekarang malah terbalik. Orang marah dulu kemudian mencari pembenaran seolah-olah itu semua demi agama,” imbuh dia.
Tak hanya soal perang, sikap seperti itu juga kerap dilakukan sehari-hari tanpa disadari. Saat berkonflik dengan orang lain, manusia selalu mencari pembenaran bagi dirinya sambil secara bersamaan mencari orang lain untuk mendukung kebenarannya.
“Begitu pula lawannya, yang pasti melakukan hal serupa. Sehingga akhirnya dua kelompok saling berhadapan meski tidak ada yang serius melacak akar masalahnya,” tambah dia.
Anis mengingatkan akan hadis yang menyebut “sesungguhnya rahmat-Ku melingkupi murka-Ku”. Hadits itu mengisyaratkan bahwa kemarahan harus tumbuh dan berangkat dari kasih sayang; sehingga atak akan pernah melampaui batas.
“Ini mengajari kita bahwa tak boleh ada kemarahan bila tak tumbuh dari kasih sayang yang mendalam,” ujar dia.
Oleh karena itu, Anis mengajak agar warga Indonesia senantiasa berfikir secara jernih dan menjaga akal sehat, sehingga tidak terjebak pada narasi yang dapat menggiring pada kejahatan dan permusuhan.
“Jangan sampai kita memalaikatkan tokoh tertentu, karena ini akan mendorong kita mengibliskan yang lain; dan pada akhirnya akan memacu kita untuk menghancurkannya,” ucap dia.
Diskusi yang mengajak pada ruang kontemplasi itu tampak khidmat diikuti oleh ratusan orang baik datang secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial. Meski begitu suasana tetap hangat dengan adanya iringan musik dari Sampak GusUran.
Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Manusia, O Manusia” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (18/4).
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar