Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
  • visibility 11.237
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang.
Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat ini terjadi baik di Gaza, Iran dan Libanon.
Pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan, orang tua dan masyarakat sipil dianggap biasa. Penghancuran fasilitas publik seperti tempat ibadah, rumah sakit, lembaga pendidikan, museum dan situs bersejarah dianggap lumrah.
“Semakin kesini kemanusiaan semakin tergerus, sehingga kita berhak bertanya, apakah ini masih dunia manusia atau dunia yang dikuasai bukan manusia?” satir budayawan Anis Sholeh Ba’asyin membuka dialog.
Padahal sudah ada konvesi Jenewa yang melarang serangan terhadap masyarakat dan infrastruktur sipil. Bila ini dibiarkan, Anis khawatir ini menjadi pola perang baru. Pola perang yang dijalankan secara barbar tanpa terkendali.
“Nilai-nilai ini sudah lebih dulu diajarkan Islam. Bagaimana anak-anak, wanita, dan orangtua tidak boleh dihancurkan. Rumah ibadah juga, bahkan pohon juga tak boleh. Tapi faktanya banyak korban dari anak-anak dan wanita. Ironisnya Internasional tidak banyak yang mempersoalkan itu,” tegas dia.
“Bagaimana bisa orang begitu tega mengincar kanak-kanak bahkan bayi sebagai sasaran tembak?” ujar dia.
Tindakan semacam itu jauh lebih rendah dari hewan. Anis menyebut perilaku seperti itu terjadi karena manusia dan peradaban ini dikendalikan oleh syahwat dan amarah.
“Kita lihat peradaban ini dikendalikan dua hal, yakni ghadab atau marah dan syahwat. Sedang jika kita tidak bisa mengendalikan maka dapat merusak. Hal itu bisa terjadi karena manusia kalah dengan iblis,” tambah dia.
Syahwat mendorong manusia untuk mencari pemenuhan kenikmatan, sementara dunia modern menyungguhi kita dengan ilusi kenikmatan nyaris tanpa batas. Kita dirangsang untuk terus menerus memburunya. Bila tak terpenuhi, kita jadi gampang tersinggung, gampang marah. Kemarahan itu sendiri ibarat api, bila tak dikendalikan akan membakar diri kita sendiri.
“Situasi semacam ini tak memberi cukup ruang untuk merenung dan menyadari bahwa sebagai manusia kita semua bersaudara yang harus saling menjaga,” tegas dia.
Anis mencontohkan bagaimana dalam salah satu peperangan sayidina Ali tak jadi membunuh lawannya yang sudah tergeletak tak berdaya, hanya karena lawan tersebut meludahinya.
“Ali membatalkannya karena takut pembunuhan itu dilakukan karena amarah pribadinya, dan bukan lagi karena Allah. Pengendalian semacam itu yang sekarang jarang ditemui. Yang umum, cara pikirnya sekarang malah terbalik. Orang marah dulu kemudian mencari pembenaran seolah-olah itu semua demi agama,” imbuh dia.
Tak hanya soal perang, sikap seperti itu juga kerap dilakukan sehari-hari tanpa disadari. Saat berkonflik dengan orang lain, manusia selalu mencari pembenaran bagi dirinya sambil secara bersamaan mencari orang lain untuk mendukung kebenarannya.
“Begitu pula lawannya, yang pasti melakukan hal serupa. Sehingga akhirnya dua kelompok saling berhadapan meski tidak ada yang serius melacak akar masalahnya,” tambah dia.
Anis mengingatkan akan hadis yang menyebut “sesungguhnya rahmat-Ku melingkupi murka-Ku”. Hadits itu mengisyaratkan bahwa kemarahan harus tumbuh dan berangkat dari kasih sayang; sehingga atak akan pernah melampaui batas.
“Ini mengajari kita bahwa tak boleh ada kemarahan bila tak tumbuh dari kasih sayang yang mendalam,” ujar dia.
Oleh karena itu, Anis mengajak agar warga Indonesia senantiasa berfikir secara jernih dan menjaga akal sehat, sehingga tidak terjebak pada narasi yang dapat menggiring pada kejahatan dan permusuhan.
“Jangan sampai kita memalaikatkan tokoh tertentu, karena ini akan mendorong kita mengibliskan yang lain; dan pada akhirnya akan memacu kita untuk menghancurkannya,” ucap dia.
Diskusi yang mengajak pada ruang kontemplasi itu tampak khidmat diikuti oleh ratusan orang baik datang secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial. Meski begitu suasana tetap hangat dengan adanya iringan musik dari Sampak GusUran.

Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Manusia, O Manusia” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (18/4).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Para Pelajar Pendekar Menyerbu Abadiyah sejak Malam Tadi

    Para Pelajar Pendekar Menyerbu Abadiyah sejak Malam Tadi

    • calendar_month Sab, 5 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    GABUS-Kejuaraan pencak silat Pandawa Championship 2019 resmi dibuka Jumat (4/10) malam tadi. Kompetisi ini merupakan gelaran yang diadakan oleh Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa (PN) Kabupaten Pati. Kejuaraan ini akan mempertemukan para pelajar dari tingkat MI/SD hingga SLTA. Para peserta ajang Pandawa Championship 2019 memekikkan mars Syubbanul Wathon dalam acara pembukaan perhelatan teraebut di […]

  • PCNU-PATI Photo by Leo Sagala

    Jalan Kaki

    • calendar_month Sen, 19 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Dear kawan. Ada sebuah buku yang menurut saya layak Anda baca. Judulnya A Philosophy of Walking karya Frederic Gros. Jangan-jangan Anda sudah membacanya? Syukurlah jika sudah baca. Tapi anggap saja Anda belum membacanya biar saya punya alasan untuk menulis ini. Buku ini sudah diterjemahkan oleh penerbit Renebook dan terbit pada […]

  • Peletakan Batu Pertama SMKNU

    Peletakan Batu Pertama SMKNU

    • calendar_month Jum, 26 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 533
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pati telah merencanakan pembangunan SMKNU sudah lama yang terletak di Jl. Pati Kudus Km 04 Pegandan Margorejo Pati. Akan tetapi baru hari ini dapat di wujudkan, (Rabu,10/8) pagi hari.  Peletakan batu pertama yang dilakukan oleh kepala Daerah Bupati Haryanto yang disaksikan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama, mulai dari tingkat cabang, Majlis […]

  • PCNU Pati Berikan Masukan tentang Kenaikan Pajak kepada BPKAD

    PCNU Pati Berikan Masukan tentang Kenaikan Pajak kepada BPKAD

    • calendar_month Sab, 19 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 705
    • 0Komentar

      Pati- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, mendatangi Kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) setempat, Sabtu (19/7/2025). Mereka menyampaikan hasil kajian dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU  soal kanaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Pati yang mencapai 250 persen pada tahun 2025 ini. Perwakilan dari PCNU Pati […]

  • Apologi Non-Muslim untuk Merumat Persatuan

    Apologi Non-Muslim untuk Merumat Persatuan

    • calendar_month Rab, 1 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Luthfi Karim* Foto : NU Online Craig Considine, pendeta Nasrani berkebangsaan Amerika sempat berprasangka negatif terhadap islam. Bagaimanapun, citra islam terbentuk dari media massa yang menggiring opini publik untuk melakukan penilaian sepihak, terorisme. Di barat, kecenderungan islamophobia telah berhasil mengintegrasi atau setidaknya menyejajarkan antara islam dengan ISIS, islam dengan Bin Leiden, dan […]

  • Doa Menag saat Upacara Tuai Pujian, Ini Teks Lengkapnya

    Doa Menag saat Upacara Tuai Pujian, Ini Teks Lengkapnya

    • calendar_month Kam, 19 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas sedang membacakan doa dalam Upacara HUT RI ke-76. Doa inilah yang kemudian viral karena keindahan diksinya. PATI-Tidak ada yang aneh dengan upacara peringatannkemerdekaan RI yang ke-76, Selasa (17/8) di istana negara kemarin. Namun akhir-akhir tidak masyarakat yang menyoroti Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil Qoimas.  Bukan soal pakaian atau momen-momen […]

expand_less