Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
  • visibility 10.253
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ramadan tahun 2025 lalu, sekira h-3 Idulfitri saya nyetatus di WA. “Hidupnya di kota. Berbuat dosa di kota. Mudiknya ke desa. Meminta maafnya di desa.”

 

Ada sekira empat rekan mengomentari seingat saya. Komentarnya tidak ada yang serius. Malah tertawa semua. “Hahahahaha…..” ada yang agak panjang “Ha…. Benar, mas!.” That’s all. Ngono tok.

 

Karena tahun lalu belum sempat saya ketik, akhirnya di Ramadan 2026 ini saya ketik khusus di Pacnupati.or.id.

 

Mudik itu sebuah fenomena. Kok bisa? Jadi begini, mudik itu banyak yang meriset. Intinya, mudik menjadi fenomena unik, karena tak hanya urusan balek ndesa, mobilitas geografis, namun mudik mengandung dimensi sosiologis, psikologis, dan spiritual yang sebenarnya kompleks. Woalah!

 

Tapi, kembali ke narasi awal tulisan saya, kenapa kita harus mudik? Padahal kita (saya misal), itu hidupnya di kota, beranak-pinak, beli rumah, beribadah, ngenoni Arwana  juga di kota, tapi mengapa harus mudik dan meminta maaf di kampung halaman? Kan anomali namanya. Paradoks lah!

 

Anomali Mudik Lebaran

Para perantau menghabiskan sebagian besar waktunya selama setahun di kota, luar negeri, atau tanah rantau. Di sini, ruang yang keras, uyel-uyelen, sering kali transaksional, kompetitif, namun ketika momen reflektif seperti Lebaran Idulfitri tiba, mereka justru kembali ke desa, kampung halaman untuk meminta maaf dan melakukan rekonsiliasi batin. Inilah anomali Lebaran Idulfitri. Mengapa ruang yang secara ekonomi tak dominan justru menjadi pusat pemulihan moral dan spiritual?

 

Pertama, dalam pandangan sosiologis, ini adalah bentuk solidaritas dan reintegrasi sosial. Mudik Lebaran Idulfitri dalam perspektif sosiologi bisa dipahami sebagai mekanisme reintegrasi sosial. Lewat buku The Division of Labor in Society (1893), Émile Durkheim mengenalkan konsep solidaritas mekanik, yaitu bentuk kohesi sosial yang lahir dari kesamaan nilai, tradisi, dan keyakinan. Kampung halaman, desa, tanah kelahiran sebagai ruang sosial tradisional masih mempertahankan solidaritas jenis ini.

 

Dalam konteks ini, mudik Lebaran memliki fungsi sebagai bentuk “audit sosial”, yaitu proses refleksi sekaligus verifikasi relasi sosial individu dengan komunitas asalnya. Tak sekadar membawa cerita sukses atau kegagalan, perantau yang kembali ke kampung halaman juga membawa kebutuhan untuk diterima kembali secara sosial.

 

Pandangan Robert D. Putnam dalam bukunya Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000) juga memperkaya lewat teori social capital. Putnam berpandangan relasi sosial yang kuat adalah modal penting dalam kehidupan individu. Lewat mudik Lebaran, individu berupaya menjaga dan memperbarui modal sosial itu agar tak terputus oleh jarak dan waktu. Di kampung halaman, tanpa rekonsiliasi sosial tersebut, seorang perantau berpotensi mengalami keterasingan eksistensial. Apa itu? Yakni kondisi saat individu kehilangan akar sosialnya meskipun berhasil secara ekonomi. Wujudnya, ketika kembali ke desa, ia terasa asing, diasingkan, dan tidak diakui secara sosial. Hehehe

 

Kedua, perspektif teologis, mudik merupakan silaturahmi dan rekonsiliasi spiritual. Mudik dalam perspektif teologis Islam mempunyai dasar normatif kuat, terutama dalam konsep birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan silaturahim. Desa, kampung halaman, tempat lahir, menjadi lokus utama karena di sana relasi primordial manusia terbentuk.

 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 36:

 وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36).

 

Ayat ini menegaskan hubungan sosial, utamanya pada orang tua dan kerabat adalah bagian integral dari keberagamaan. Abu Hamid al-Ghazali (Imam Ghazali) dalam kajian etika Islam dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din menyatakan al-‘afwu (memaafkan) dan menjaga hubungan sosial merupakan bagian dari makarim al-akhlaq (akhlak mulia). Dosa kepada Allah Swt bisa dihapus lewat taubat, namun dosa pada manusia menyaratkan tindakan permohonan maaf secara langsung.

 

Mudik dalam konteks ini merupakan momentum menyelaraskan kembali relasi kepada Allah  (hablum minallah) dan relasi dengan manusia (hablum minannas). Di sini, desa memiliki fungsi sebagai “titik nol spiritual”, yaitu tempat manusia memulai ulang perjalanan moralnya dengan hati yang lebih bersih.

 

Ketiga, dalam pandangan psikologi, mudik Lebaran berfungsi sebagai back to the origin dan katarsis emosional. Maksudnya? Kampung halaman dalam perspektif psikologi bisa dipahami sebagai safe space  (ruang aman) bagi manusia dalam memulihkan identitas dirinya. Lingkungan kota cenderung menempatkan individu (perantau) dalam relasi impersonal. Sementara desa menghadirkan relasi bersifat personal dan afektif.

 

Konsep ini kompatibel dengan sebuah teori topophilia perspektif Yi-Fu Tuan dalam buku Topophilia: A Study of Environmental Perceptions, Attitudes, and Values (1974). Dalam buku ini, dipaparkan manusia mempunyai keterikatan emosional yang mendalam pada tempat asalnya, yang tidak hanya bersifat geografis, namun juga simbolik dan moral. Desa sebagai kampung halaman dan tempat kelahiran menjadi pusat nilai dan memori, tempat di mana seorang manusia merasa diterima secara utuh.

 

Proses mudik juga bisa dipahami sebagai bentuk katarsis. Apa itu? Yaitu pelepasan emosi dan pembersihan psikologis. Pandangan soal katarsis ini berasal dari Aristotle dalam Poetics (Halliwel, 1998). Konsep ini selanjutnya dikembangkan dalam psikologi modern sebagai mekanisme pelepasan tekanan batin bahkan menjadi semacam terapi seperti hipnotis juga. Lewat mudik kembali ke kampung halaman, individu seolah melakukan “detoksifikasi moral” dari beban kehidupan urban yang sangat kejam dan keras.

 

Erik Erikson dalam Identity: Youth and Crisis (1968), dalam kerangka psikologi identitas, memaparkan manusia senantiasa membutuhkan rekognisi pada identitas primernya. Desa sebagai kampung halaman merupakan ruang konfirmasi yang menegaskan identitas dasar sebagai anak, anggota keluarga, dan bagian komunitas di lingkungan desa, tetap melekat meski individu sudah mengalami mobilitas sosial, pindah KTP dan boyongan ke kota.

 

Mudik dengan segala macama tetekbengeknya mempertegas manusia tak bisa sepenuhnya hidup dalam logika materialisme di kota. Sejauh apa pun seseorang merantau di kota, luar pulau bahkan luar negeri selalu ada dorongan eksistensial untuk kembali ke akar. Apa bentuknya? Yaitu keluarga dan komunitas asalnya.

 

Desa tak hanya memiliki fungsi ruang geografis, namun menjadi ruang simbolik yang memuat memori, kenangan, cinta, nilai, dan kasih sayang otentik. Mudik tak sekadar ritual tahunan tiap Lebaran Idulfitri, namun menjadi perjalanan eksistensial, yaitu balik kepada diri sendiri, kembali ke pangkuan orang tua, merajut kembali makna kehidupan, menjemput pengampunan, dan lainnya.

 

Lalu, Anda mudik ke mana?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Pati Apresiasi Inovasi Pupuk Organik MTs Tarbiyatul Banin

    Bupati Pati Apresiasi Inovasi Pupuk Organik MTs Tarbiyatul Banin

    • calendar_month Jum, 16 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 303
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id.Pati – Bupati Pati Sudewo, hadir dalam momen akhirussanah siswa kelas IX MTs Tarbiyatul Banin di Kecamatan Winong, Kabupaten Pati pada Kamis (15/5/2025). Dalam kesempatan itu, Bupati Pati mengapresiasi hasil inovasi pupuk organik yang dikembangkan MTs Tarbiyatul Banin. Dalam bungkus pupuk itu bertuliskan Berkah 60, Pupuk Cair Hayati dan Pestisida Nabati dengan beberapa komposisi […]

  • Vaksinasi, Lebih Sakit Donor Darah

    Vaksinasi, Lebih Sakit Donor Darah

    • calendar_month Kam, 25 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 257
    • 0Komentar

      Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, Kiai Yusuf Hasyim, menjadi satu di antara tokoh publik yang mendapat suntik vaksin Sinovac perdana di Pati. Ia bersama Bupati Haryanto dan sejumlah tokoh publik lainnya menerima suntik vaksin di RSUD RAA Soewondo, Senin (25/1/2021). “Hari ini saya mengikuti program vaksinasi Covid-19. Sebelumnya saya mengikuti swab […]

  • ASWAJA FEST 2025: Lomba Hafalan Bacaan Tahlil dan Tarqiyah MTs/SMP LP Ma’arif NU Kabupaten Temanggung Sukses Digelar

    ASWAJA FEST 2025: Lomba Hafalan Bacaan Tahlil dan Tarqiyah MTs/SMP LP Ma’arif NU Kabupaten Temanggung Sukses Digelar

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 284
    • 0Komentar

      Temanggung – MTs Integrasi Al Hudlori Kebonsari Temanggung menjadi tuan rumah Lomba Hafalan Bacaan Tahlil dan Tarqiyah tingkat MTs dan SMP di bawah naungan LP Ma’arif NU Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini digelar dalam rangka meningkatkan semangat keagamaan serta melestarikan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah di kalangan pelajar. Acara berlangsung pada Kamis, 19 Juni […]

  • UNIK! Tiga Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS MTsN 5 Brebes Semuanya Perempuan, dan Berhasil Sukseskan P5P2RA Bertemakan "Demokrasi di Era Digitalisasi"

    UNIK! Tiga Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS MTsN 5 Brebes Semuanya Perempuan, dan Berhasil Sukseskan P5P2RA Bertemakan “Demokrasi di Era Digitalisasi”

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

      Brebes – Dalam pengembangan kurikulum merdeka yang saat ini tengah berjalan, Kepala Madrasah MTsN 5 Brebes H. Ihda Syifai, S.Pd., M.M menyampaikan urgensi dari PP5RA dengan tema “Demokrasi di Era Digitalisasi” adalah memberikan pengalaman yang setara terhadap semua siswa untuk dapat memberikan suara dalam kesuksesan demokrasi pemilihan calon dan wakil ketua OSIS. Melalui kegiatan […]

  • NU Temanggung Targetkan Kepengurusan Hingga Tingkat Dusun di 289 Ranting

    NU Temanggung Targetkan Kepengurusan Hingga Tingkat Dusun di 289 Ranting

    • calendar_month Sen, 2 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.113
    • 0Komentar

    Temanggung – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Temanggung menargetkan pendirian kepengurusan hingga tingkat anak ranting di seluruh dusun se-kabupaten. Target ambisius ini disampaikan Rais Suriah PC NU KH Muhammad Furqan Mazhur dalam Apel 10.000 Kader memperingati Harlah NU ke-100. Sabtu Pagi (31/01/2026). “NU Temanggung sudah berdiri di 20 MWC dan 289 ranting. Program […]

  • MI Ma`arif Keji Semarang Best Practice dalam Kongres Pendidikan PBNU

    MI Ma`arif Keji Semarang Best Practice dalam Kongres Pendidikan PBNU

    • calendar_month Jum, 24 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 399
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Jakarta – Dalam rangkaian Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-102, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan Kongres Pendidikan dengan tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045 dan Kemaslahatan Umat Manusia”. Acara dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH. Cholil Yahya Staquf. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Bidakara Jakarta pada 21-23 Jakarta 2025. Dalam kesempatan tersebut hadir Menteri […]

expand_less