Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Alquran: Kitab Suci STEM

Alquran: Kitab Suci STEM

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 16 Mar 2026
  • visibility 10.138
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Dalam ruang badan riset, lembaga penelitian, atau lorong-lorong kampus, laboratorium modern, atau kelas santifik, idiom Science, Technology, Engineering, and Mathematics alias STEM akrab dinilai sebagai simbol kemajuan peradaban Barat. Kayake memang ngono! Jadi, banyak orang menilai bahwa STEM adalah produk murni modernitas yang lahir dari revolusi ilmiah Eropa, taka da kaitannya dengan Islam.

 

Akan tetapi, ketika kita menengok kembali literatur-literatur, sumber-sumber pengetahuan pada tradisi Islam, kita menemukan fondasi epistemologis bagi cara berpikir ilmiah hakikatnya sudah lama disemai oleh wahyu juga al-kutub al-mu’tabarah yang mengembangkan ayat-ayat Quran. Di sini, Al-Quran memang bukan buku teks sains yang teknis implementatif, namun Al-Quran merupakan kitab penuh dengan isyarat ilmu pengetahuan yang mendorong umat manusia membaca alam secara logis, metodologis, dan rasional.

 

Kitab Suci STEM?

Kitab suci Al-Quran sebagai kitab petunjuk berulang kali mengajak umat manusia mengamati, melihat, dan menganalisis fenomena alam dengan penuh kesadaran intelektual. Misal dalam QS. Fussilat ayat 53 disebutkan:“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53).

 

Dalam ayat ini, Allah Swt akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap ufuk dan pada diri manusia sampai jelas kebenaran wahyu. Ayat ini tentu mengandung dorongan epistemologis yang sangat kuat, yaitu alam semesta merupakan “laboratorium terbuka” bagi manusia. Prinsip ini sangat kompatibel dengan spirit sains modern berbasis observasi empiris berbasis pengalaman. Membaca alam dalam tradisi Islam tak hanya aktivitas intelektual, namun juga bentuk sebuah ibadah karena lewat observasi itu, manusia makin mengenal kebesaran Allah Swt, Sang Pencipta.

 

Kitab suci Al-Quran dalam konteks sains menyampaikan beragam isyarat soal fenomena alam yang selanjutnya menjadi bahan refleksi ilmiah para sarjana/intelektual muslim. Di antara contoh yang sering dibahas yaitu deskripsi soal perkembangan embrio manusia terdapat dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 yang artinya:“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta. Kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati.” (QS. Al-Mu’minun: 12–14).

 

Ayat di atas ini mengilustrasikan sintak, urutan, atau tahapan penciptaan manusia secara bertahap yang detail, yaitu dimulai dari nutfah (نطفة) (tetesan kecil atau air yang sedikit), ‘alaqah (علقة) (sesuatu yang melekat, segumpal darah, atau menyerupai lintah (leech-like), mudhghah (مضغة) (sesuatu yang dikunyah atau segumpal daging yang seukuran satu kunyahan). Banyak ilmuwan modern terkesan dengan ketepatan narasi di Quran ini dalam menjelaskan proses embriologi. Ayat tersebut bagi umat Islam tentu bukan buku biologi, namun menjadi inspirasi untuk meriset, mengkaji, mendata, menganalisis dan memahami keajaiban penciptaan manusia secara lebih mendalam. Kueren sekali!

 

Sejak awal, tradisi keilmuan Islam melihat alam sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus diriset. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw menegaskan “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” Perintah Kanjeng Nabi Muhammad ini tak terbatas pada ilmu agama saja, melainkan juga mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahkan, Nabi Muhammad memerintahkan untuk menuntut ilmu meski sampai ke negeri Cina. Ini kan revolusioner namanya. Maka tak mengherankan dan takjub saat sejarah peradaban Islam lahir para ilmuwan besar, berpengaruh, dan momumental yang mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, pertanian, fisika, hingga teknik mesin dengan inspirasi dari nilai-nilai wahyu Al-Quran.

 

Selain sains, Al-Quran di dalamnya terdapat kisah-kisah inspirasi teknologi dan rekayasa teknik. Dalam Surat Al-Kahfi ayat 96 artinya: “Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulqarnain) berkata, “Tiuplah (api itu).” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (Q.S Al-Kahfi: 96).

 

Dalam ayat ini, kisah pembangunan dinding raksasa oleh Nabi Zulkarnain untuk menahan Yakjuj dan Makjuj, dinarasikan penggunaan potongan besi yang dipanaskan lalu dilapisi tembaga cair. Dalam pandangan teknik material modern, kisah ini mengilustrasikan konsep dasar rekayasa logam dan konstruksi struktur. Ibrahnya tak hanya cerita sejarah, namun motivasi bagi umat manusia untuk menggunakan ilmu teknik demi melindungi dan memakmurkan kehidupan.

 

Motivasi teknik seperti ayat tersebut melahirkan banyak perkembangan, dan ditulis lewat karya para ilmuwan Islam seperti Al-Jazari (1136–1206) dengan Kitab Al-Jami’ Bain al-‘Ilm wal-‘Amal al-Nafi’ fi Sina’at al-Hiyal pada abad ke-12. Lewat kitab ini, Abū al-‘Iz Ibn Ismā’īl ibn al-Razāz al-Jazarī mengungkap beragam mesin mekanik dan sistem otomatis yang sering dianggap sebagai cikal bakal robotika modern. Karya tokoh yang sering dijuluki sebagai Bapak Robotika ini menunjukkan spirit observasi pada keteraturan alam yang diinspirasi oleh Al-Quran bisa berkembang menjadi inovasi teknologi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat di dunia.

 

Dalam Al-Quran, matematika mempunyai posisi urgen dalam tradisi ilmiah Islam. Misalnya, pada QS. Ar-Rahman ayat 5 yaitu “Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.” Substansi ayat ini, menegaskan matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Ayat tersebut mempertegas alam semesta bergerak dalam keteraturan matematis yang presisi, bahkan sudah sesuai jadwal alam. Spirit ayat tersebut, kesadaran akan keteraturan tersebut memotivasi para ilmuwan Islam mengembangkan ilmu hitung, aljabar, dan astronomi dengan sistematis. Dalam pandangan ini, matematika menjadi bahasa universal dalam memahami struktur kosmos dan sebagai alat praktis dalam kehidupan sosial.

 

Di antara tokoh matematikawan muslim adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (780–850 M). Pada periode ini, bisa disebut perkembangan matematika Islam mencapai puncaknya. Tokoh yang sering disebut sebagai bapak aljabar. Melalui bukunya Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala atau dikenal di Barat sebagai Algebra al-Khwarizmi, Al-Khwarizmi mengembangkan metode aljabar yang menjadi fondasi bagi matematika modern.

 

Bahkan idiom algoritma dalam dunia komputasi saat ini berasal dari pelafalan nama Al-Khwarizmi dalam bahasa Latin. Artinya, teknologi digital yang kita gunakan untuk membaca Al-Quran di gawai saat ini memiliki akar historis dari tradisi matematika Islam. Lalu, mengapa masih ada yang ragu dalam Islam?

 

Quran, Etnosains, dan STEM

Integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai budaya dikenal dengan pendekatan etnosains, yaitu gabuangan enot dan sains. Dalam dunia pendidikan modern saat ini, pendekatan tersebut mempertegas ilmu tak lahir dalam ruang kosong, namun berkembang sesuai konteks budaya dan nilai tertentu. Al-Quran dengan perspektif ini bisa dimengerti sebagai sumber nilai yang menginspirasi metode berpikir ilmiah dalam umat Islam. Integrasi ini sangat penting dengan tujuan agar pembelajaran sains tak terlepas dari dimensi etika dan spiritual yang membimbing penggunaannya.

 

Apakah hanya berhenti di situ? Tidak. Pendekatan di atas kompatibel dengan teori konstruktivisme perspektif Jean Piaget. Lewat buku-buku Piaget, seperti The Origins of Intelligence in Children (1952), The Construction of Reality in the Child (1954), The Psychology of the Child (1969), dan To Understand Is To Invent: The Future of Education (1973), Piaget berpandangan bahwa proses belajar akan lebih efektif jika pengetahuan baru dihubungkan dengan pengalaman dan keyakinan yang telah dikantongi murid.

 

Artinya, dalam konteks pendidikan Islam, mengorelasikan konsep sains dengan ayat-ayat Al-Quran bisa membantu murid mengerti ilmu pengetahuan dengan lebih bermakna. Di sini, sains tak lagi dinilai sebagai pengetahuan asing, namun sains sebagai bagian dari proses memahami tanda-tanda kebesaran Allah Swt.

 

Dalam paradigma pendidikan modern seperti Outcome-Based Education (OBE), William G. Spady dalam buku Outcome-Based Education: Critical Issues and Answers (1994), mempertegas bahwa tujuan akhir pembelajaran bukan hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral. Dalam konteks ini, integrasi STEM dengan nilai-nilai Al-Quran bisa mencetak generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, namun mempunyai kesadaran etis dalam menggunakan pengetahuan. Tentunya, teknologi tanpa nilai moral bisa menjadi alat kerusakan. Sedangkan spiritualitas tanpa pengetahuan bisa membuat manusia tertinggal dalam menghadapi tantangan zaman. Bukankah demikian?

 

Intinya, di kolom yang agak panjang ini, Al-Quran sebagai “Kitab Suci STEM” tidaklah memaksakan tafsir ilmiah dengan isyraf alias berlebihan. Namun, hal ini menjadi wujud rekognisi wahyu Allah Swt sudah memberikan spirit epistemologis bagi umat manusia untuk berpikir, meriset, tadabbur, dan membangun peradaban dengan ruh Al-Quran. Kan sudah jelas, bahwa Al-Quran mengedukasi sumber ilmu berasal dari dua ayat, yaitu ayat yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran (qauliyah) dan ayat yang terbentang di alam semesta (kauniyah).

 

Problem penting untuk segera diselesaikan pendidik hari ini adalah bagaimana caranya membangun generasi ulul albab, yaitu generasi yang dapat mengintegrasikan zikir, pikir, dan amal saleh. Mereka tak sekadar pandai menggunakan teknologi, namun juga mendalami nilai spiritual yang mendasari penggunaannya.

 

Tanpa adanya nilai wahyu, STEM bisa kehilangan arah moral. Pemahaman Islam tanpa adanya penguasaan sains tentu akan kesulitan menjawab tantangan kehidupan. Ada pandangan lain?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resolusi Jihad NU 22 Alasan Hari Santri

    Resolusi Jihad NU 22 Alasan Hari Santri

    • calendar_month Jum, 30 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 283
    • 0Komentar

     Seperti yang di agendakan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yaitu ziarah  ke makam KH. Ahmad Sahal Mahfudz dan KH. Ahmad Mutamakin Kajen.  Sebelum pergi ziarah para peserta kirab terlebih dahulu singgah singgah di Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati.  Kemudian mereka membaca Ikrar Santri yang dipimpin Aizudin Abdurrahman. Aizudin atau akrab disapa Gus Aiz […]

  • Ini Harapan PCNU untuk Pati Paska Hari Jadi Ke-696

    Ini Harapan PCNU untuk Pati Paska Hari Jadi Ke-696

    • calendar_month Rab, 7 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 343
    • 0Komentar

    PATI-Siang ini, Rabu (7/8) pemandangan berbeda tampak di Kabupaten Pati. Orang-orang berduyun-duyun memadati alun-alun Kota Pati. Rupanya, hari ini merupakan puncak perayaan hari jadi Kabupaten Pati yang ke-696. K. Yusuf Hasyim memberika ucapan selamat atas hari jadi Kabupaten Pati yang ke-696 2019 menjadi istimewa karena pada tahun ini diadakan kirab boyongan. Kirab boyongan sendiri merupakan […]

  • PCNU-PATI

    Sirah Mulia Ummul Mukminin

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Syaikh Mahmud Al-Mishri, penulis yang biasa dipanggil Abu Ammar ini merupakan seorang dai kelahiran Kairo, Mesir. Lulus Sarjana dari Fakultas  Pekerjaan Sosial (Sosiatri), Universitas Helwan, Mesir. Belajar ilmu syar’i kepada para ulama Mesir. Kemudian melanjutkan belajar Ushuluddin dan Dakwah Islamiyyah secara talaqqi kepada para ulama Arab Saudi. Berhasil meraih Ijazah Ilmiah di bidang kajian  kitab-kitab […]

  • PCNU-PATI

    Daun Yang Jatuh Tak Membenci Angin

    • calendar_month Sab, 12 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Kehadirannya bagai seorang malaikat bagi keluargaku, dimana dia merengkuh ibu dan juga adikku dari kehidupan kelam hidup di jalanan yang miskin dan nestapa. Dia memberikan kebutuhan yang kami butuhkan baik itu makan, tempat berteduh, sekolah, dan juga janji-janji di masa depan yang lebih baik. Sungguh merupakan malaikat yang diberikan langit untukku, juga memberikan kami kasih […]

  • PCNU-PATI

    Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

    • calendar_month Ming, 1 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Chapter 1 Lengkap sudah penderitaan Shanaya. Masalah yang datang seperti gulungan ombak yang saling bersusul-susulan menghantam kerikil dan karang-karang. Bertubi-tubi. Hanya surut sebentar lalu pasang lagi. Jika seorang perwira perlu bertahun-tahun meraih pangkat sebagai jenderal dengan bintang empat di kedua bahu baret hijaunya, maka ia hanya butuh sepuluh jam saja. Oh, […]

  • Pengurus NU Kayen Diwejang Habib Luthfi sebelum Dilantik

    Pengurus NU Kayen Diwejang Habib Luthfi sebelum Dilantik

    • calendar_month Sen, 31 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Pelantikan pengurus MWC dan Ranting-Ranting NU se-Kecamatan Kayen di GOR Desa Purwokerto, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati KAYEN – Pengurus MWC NU Kayen masa khidmat 2022-2027 resmi dilantik pada Hari Minggu (30/1). Acara pelantikan Tersebut berlangsung di GOR (Gedung Olah Raga) Desa Purwokerto Kayen.  Bukan Hanya Pelantikan Pengurus MWC NU tetapi acara tersebut juga dilangsungkan bersama […]

expand_less