Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
  • visibility 5.624
  • comment 0 komentar

 

Semarang — Ruang Oval lantai dua Dinas Pendidikan Kota Semarang, Selasa (11/11/2025), menjadi pusat perhatian dunia pendidikan daerah. Di tempat inilah, Dr. Hamidulloh Ibda, Wakil Rektor INISNU Temanggung, tampil sebagai reviewer utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembuatan Buku Numerasi Berbasis EVI MAP (Ethnoscience Village Map) yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Semarang bekerja sama dengan Tanoto Foundation.

FGD tersebut mempertemukan para akademisi, guru, pejabat dinas, dan penggerak literasi dalam suasana akademik yang berpadu dengan semangat kebudayaan lokal. Kegiatan ini menjadi puncak refleksi atas perjalanan panjang pendampingan tiga puluh guru dari berbagai sekolah dasar di Semarang yang menulis buku pembelajaran berbasis etnosains dan numerasi.

Dalam arahannya, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si., memberikan apresiasi kepada tim Fasper Berkelas yang terdiri atas Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd., Dian Marta Wijayanti, M.Pd., Martini, S.Pd., M.Pd., dan Eko Prasetyo Nur Utomo, S.Pd. Tim ini mendapat dukungan penuh dari Tanoto Foundation untuk melatih dan mendampingi para guru menulis karya ilmiah populer berupa buku numerasi berbasis EVI MAP. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. Tanoto Foundation jangan kapok mendukung gerakan literasi dan numerasi di Kota Semarang,” ujar Miftahudin, disambut tawa ringan para peserta.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, M.M., juga menegaskan apresiasinya terhadap para guru yang mampu menghasilkan karya buku dalam waktu singkat namun berkualitas. Menurutnya, proyek ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan bukti nyata bahwa guru dapat menjadi penulis dan inovator pembelajaran.

Dalam sesi pemaparan program, Tri Sugiyono menjelaskan bahwa kegiatan yang dijalankan sejak Juli hingga Oktober 2025 ini berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan siswa. Selama empat bulan, guru-guru sasaran mengikuti pelatihan intensif tentang filosofi dan penerapan Ethnoscience Village Map, kemudian menulis buku yang mengintegrasikan konteks budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Hasilnya, para guru tidak hanya menciptakan bahan ajar baru, tetapi juga mempraktikkan pendekatan kontekstual di kelas. Targetnya, terjadi peningkatan kompetensi numerasi siswa hingga 20 persen, terutama dalam domain pengukuran.

Sebagai reviewer utama, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., memberikan ulasan mendalam terhadap karya para guru. Ia menilai bahwa pendekatan EVI MAP bukan hanya proyek penulisan buku, tetapi sebuah gerakan untuk memulihkan hubungan antara ilmu dan budaya. “Numerasi berbasis Ethnoscience Village Map mengajarkan anak tidak hanya berhitung, tetapi juga memahami bagaimana masyarakatnya berpikir, mengukur, berdagang, dan mengelola lingkungan. Ini adalah bentuk literasi budaya yang hidup,” tegas Ibda dalam paparannya.

Sebanyak tiga puluh buku karya guru kemudian direviu bersama. Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari tradisi Apitan di Sampangan, sejarah Ereveld Candi di Gajahmungkur, kisah PDAM Tirta Moedal, rumah kolonial di Sompok, hingga aktivitas ekonomi di Kampung Gumregah. Semua karya menjahit nilai-nilai budaya ke dalam konteks numerasi, menjadikan matematika lebih bermakna bagi siswa.

Ibda menilai, secara umum, buku-buku tersebut telah menarik dan memiliki distingsi kuat karena menampilkan kekayaan lokal Semarang dengan cara ilmiah dan kreatif. Struktur pembelajarannya pun lengkap, mulai dari bacaan naratif, lembar kerja siswa, asesmen formatif, hingga refleksi. Bahasa yang digunakan ringan dan komunikatif, mudah dipahami oleh anak sekolah dasar. Integrasi antara literasi dan numerasi tampak jelas, di mana cerita budaya menjadi titik tolak dalam memahami konsep matematis.

Namun, Ibda juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, banyak karya yang masih berhenti pada level local wisdom (kearifan lokal), belum mencapai local knowledge (pengetahuan lokal) dan local genius (kecerdasan lokal) khas Semarang. Unsur etnosains belum tergali secara mendalam, karena penulis cenderung menonjolkan cerita tanpa menyingkap sains di baliknya—seperti teknik pengukuran tradisional, sistem bangunan, atau logika matematis dalam aktivitas masyarakat. Soal-soal numerasi juga masih dominan bersifat prosedural, belum banyak mendorong penalaran tingkat tinggi.

Kendati demikian, Ibda menekankan bahwa kekuatan utama proyek ini justru terletak pada semangat kolaboratifnya. “Buku-buku EVI MAP bukan hanya bahan ajar, tapi cermin kesadaran guru sebagai peneliti lokal yang merekam dan menghidupkan pengetahuan masyarakatnya,” ujarnya. Menurutnya, EVI MAP adalah wujud pendidikan yang berpihak pada budaya, berpijak pada lokalitas, dan menembus batas ruang kelas. Pendidikan dasar, lanjutnya, seharusnya tidak hanya menumbuhkan kemampuan kognitif, tetapi juga karakter, kebanggaan, serta kesadaran terhadap akar budaya sendiri.

Dalam sesi diskusi terbuka, para reviewer dan peserta memberikan rekomendasi penguatan. Buku-buku EVI MAP disarankan agar dilengkapi pengantar teoretis yang menjelaskan konsep etnosains secara sederhana, disertai peta visual interaktif dan soal berbasis proyek. Rubrik asesmen yang menilai proses berpikir siswa dinilai penting agar hasil belajar tidak hanya dilihat dari angka, tetapi juga dari argumentasi dan strategi yang digunakan siswa. Refleksi guru pun perlu ditambahkan agar pembelajaran menjadi pengalaman reflektif yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan peluncuran resmi tiga puluh buku EVI MAP berbasis numerasi. Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, S.STP., M.Si., secara simbolis melaunching karya para guru tersebut dan mengaku takjub dengan hasil yang di luar ekspektasi. “Saya tidak menyangka, hasilnya sebagus ini,” ujarnya dalam forum yang dimoderatori oleh Dian Marta Wijayanti itu.

Dari keseluruhan hasil review, proyek EVI MAP dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara nasional. Para ahli merekomendasikan agar buku-buku tersebut diberi ISBN dan dijadikan model pembelajaran numerasi kontekstual di berbagai daerah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Contextual Teaching and Learning dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran.

FGD EVI MAP akhirnya menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan di Kota Semarang. Acara ini bukan sekadar forum akademik, melainkan gerakan kebudayaan yang menjadikan belajar sebagai cara memahami kehidupan. Di tengah tantangan rendahnya literasi dan numerasi nasional, para guru di Kota Semarang menunjukkan arah baru: menghadirkan sains dari kampung sendiri, membangun konsep dari tradisi, dan menjadikan budaya sebagai jantung pembelajaran. Melalui EVI MAP, anak-anak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar menghargai warisan pengetahuan leluhur yang kini menjadi bagian dari sains modern.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Pendamping Proyek Literasi Numerasi Normalia Eka Pratiwi, S.Pd.SD., M.Pd., perwakilan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Semarang, serta sejumlah guru penulis buku dari berbagai sekolah di Kota Semarang. (*)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Biaya Haji 2025 Turun

    Biaya Haji 2025 Turun

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 503
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Kabar bahagia datang dari Senayan. Dalam rapat Kementerian Agama RI dengan Komisi VIII DPR-RI, Senin, (26/1) lalu, ke duanya sepakat untuk menurunkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Semula, BPIH jemaah haji Indonesia 2024 adalah sebesar Rp 93.410.286. Tahun ini atau 1446 H., BPIH  turun empat juta rupiah menjadi Rp 89.410.258. Dari jumlah tersebut, […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Keputusan Bahtsul Masail Maudhu’iyah

    • calendar_month Sab, 8 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 758
    • 0Komentar

    Di bumi Nusantara (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI) terdapat tradisi danbudaya dalam sistem pengimplementasian ajaran agama, sehingga hal itu menjadi ciri khasIslam di Nusantara yang tidak dimililiki dan tidak ada di negeri lain. Perbedaan tersebutsangat tampak dan dapat dilihat secara riil dalam beberapa hal, antara lain:

  • PCNU-PATI Photo by Kat Kelley

    Suami yang Menulis untuk Kesembuhan Sang Istri

    • calendar_month Sen, 27 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 489
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Ini memang hanya sebuah film. Tapi, film ini mampu meresap ke dalam jiwa dan pikiranku. Ia mampu mengaduk-aduk emosiku dengan sedemikian kuat. Mungkin karena film tersebut dekat dengan duniaku: suami, istri, buku, dan tulis-menulis. Otak bawah sadarku menuntun ke dalam film tersebut bahwa lelaki yang ada dalam film itu adalah […]

  • PCNU-PATI

    Marching Band MA Silahul Ulum Berhasil Borong Medali di Kompetisi Asia

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 746
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-PATI – Marching Band (MB) Es-silahy MA Silahul Ulum Asempapan, Trangkil, Pati berhasil memborong medali dalam Asian Music Games 2023 di Jember. Dalam kompetisi marching band se-Asia itu, MB Es-Silahy berhasil menyabet tiga medali perak dan satu medali emas. Di antaranya, meraih emas kategori street parade, medali perak kategori musical di konser marching band full […]

  • Gandeng IPNU-IPPNU, Irmas Baitun Nur Selenggarakan Sarasehan Literasi

    Gandeng IPNU-IPPNU, Irmas Baitun Nur Selenggarakan Sarasehan Literasi

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 414
    • 0Komentar

    PATI-Literasi menjadi kebutuhan mendesak di era digital ini. Terlebih minimnya minat kaum milenials terhadap dunia literasi akhir-akhir ini menambah beban bagi kehidupan yang akan datang. Aguk Irawan, salah satu pemantik ketika memaparkan materi dalam Pelatihan Literasi yang digelar di Aula Islamic Centre Masjid Baitun Nur Pati. Dari satu fenomena ini, sudah selayaknya generasi muda mulai […]

  • MAMU Ngerang Salurkan Air Bersih

    MAMU Ngerang Salurkan Air Bersih

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 452
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO-Kekeringan yang melanda beberapa daerah di Kabupaten Pati menyebabkan terhambatnya aktivitas masyarakat. Pasalnya, air sebagai salah kebutuhan vital sulit di dapat. Akhirnya, kegiatan-kegiatan seperti bercocok tanam hingga makan dan minum menuai kendala. Diatribusi air bersih di RW 1 Desa Ngerang, Kecamatan Tambakromo, Pati oleh MA Miftahul Ulum, Ngerang, Mingu (22/9) Menyikapi hal ini, banyak organisasi […]

expand_less