Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Takbiran: Suara Tak Bersuara

Takbiran: Suara Tak Bersuara

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
  • visibility 936
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Selama ini, budaya takbiran, takbir keliling di malam hari Lebaran Idulfitri selalu menggema. Namun, teknologi menggesernya. Jika dulu takbirannya adalah suara manusia, anak-anak, ibu dan bapak, kini digantikan dengan suara sound system, bahkan takbiran koplo dengan versi DJ. Ini kan Namanya “suara tak bersuara”. Rodo angel iki.

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam dalam konteks keagamaan dan sosial budaya umat Islam. Unik dan menarik. Sebab, setahu saya Cuma hanya ada di Nusantara. Secara keseluruhan, tradisi takbiran bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang penting bagi umat Islam.

 

Hakikat Takbiran

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya. Takbiran bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan ekspresi kemenangan dan rasa syukur umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Gema takbir yang berkumandang dari masjid-masjid, mushala, dan jalanan menciptakan suasana khusyuk yang mengingatkan setiap Muslim akan kebesaran Allah SWT serta anugerah-Nya.

Secara spiritual, takbiran adalah bentuk pengagungan kepada Allah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Melalui lantunan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa segala pencapaian, termasuk keberhasilan menunaikan ibadah Ramadan, hanyalah karena pertolongan Allah. Ini juga menjadi momen refleksi diri, mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan menuju keabadian di sisi-Nya.

Dari sisi sosial, takbiran menjadi perekat kebersamaan. Tradisi ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu irama yang sama, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau perbedaan lainnya. Suara takbir yang dilantunkan bersama-sama menguatkan rasa persaudaraan, menciptakan atmosfer kehangatan, serta mempererat tali silaturahmi di antara sesama muslim.

Selain itu, takbiran juga memiliki nilai budaya yang khas dalam tradisi Islam di Indonesia. Dari dulu, takbir keliling menjadi simbol perayaan Idulfitri yang sarat dengan nuansa lokal. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur, membawa obor (oncor), bedug, dan lampion, menelusuri jalanan desa atau kota dengan penuh suka cita. Tradisi ini memberikan warna tersendiri dalam perayaan Lebaran yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal.

Namun, dalam perkembangan zaman, makna takbiran menghadapi tantangan. Pengaruh teknologi dan modernisasi menggeser tradisi takbiran yang dahulu dilantunkan langsung oleh suara manusia menjadi sekadar rekaman yang diputar lewat pengeras suara. Hal ini berisiko mengurangi nilai kebersamaan dan kehangatan yang seharusnya hadir dalam perayaan takbiran.

Oleh karena itu, mempertahankan tradisi takbiran yang sarat makna menjadi suatu keharusan. Takbiran bukan sekadar ritual, tetapi warisan yang menghubungkan generasi dengan nilai-nilai Islam yang luhur. Dengan menghayati dan melaksanakan takbiran dengan penuh kesadaran, umat Islam dapat merasakan esensi sejati dari kemenangan di hari yang fitri, yakni kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan dalam memperkuat iman, serta kemenangan dalam menjalin kebersamaan sebagai satu umat yang bertakwa.

Takbiran: Suara Tak Bersuara

Malam takbiran selalu menjadi momen yang dinantikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Dulu, gema takbir menggema dari suara manusia—anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak—yang dengan penuh semangat melantunkan kalimat tahlil dan tahmid. Suara itu bukan sekadar lantunan, tetapi juga cerminan rasa syukur, kebersamaan, dan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, kini semua berubah. Takbir yang dulu begitu khas dengan suara manusia, perlahan tergeser oleh dentuman sound system, irama koplo, dan bahkan versi DJ.

Takbir keliling yang dahulu menghadirkan suasana khusyuk kini berubah menjadi ajang hiburan. Kendaraan dengan pengeras suara besar melintas, memainkan takbiran dalam berbagai versi modern yang lebih mirip dengan konser musik. Anak-anak tidak lagi berbaris rapi sambil membawa obor atau lampu hias, melainkan sibuk merekam dan berswafoto untuk media sosial. Tradisi yang dulunya penuh dengan kekhidmatan kini terasa kehilangan makna spiritualnya.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia berinteraksi dengan tradisi. Di satu sisi, teknologi mempermudah penyebaran gema takbir, tetapi di sisi lain, ia juga menghilangkan esensi kebersamaan yang muncul dari suara-suara asli manusia. Takbiran bukan hanya soal mengumandangkan kalimat Allahu Akbar, tetapi juga tentang merasakan kekhusyukan, kebersamaan, dan kebanggaan atas ibadah yang telah dijalani.

Jika suara manusia tergantikan oleh mesin, maka esensi takbiran pun semakin terkikis. Gema takbir seharusnya lahir dari hati, bukan sekadar dari speaker yang diputar otomatis. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia yang hanya mengutamakan kemeriahan, tetapi melupakan substansi. Sebab, takbir sejatinya adalah suara iman yang menggetarkan jiwa, bukan sekadar suara yang menggema tanpa makna.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MWCNU Kayen Gelar Doa Bersama Dan Santunan Anak Yatim Piatu

    MWCNU Kayen Gelar Doa Bersama Dan Santunan Anak Yatim Piatu

    • calendar_month Rab, 18 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

    KAYEN – MWC NU Kayen hari ini (Rabu, 18/08) bertempat di Gedung NU Kayen menggelar kegiatan Do’a Bersama untuk keselamatan bangsa dan santunan anak yatim piatu dalam rangka memperingati 10 Muharam 1443 H dan juga HUT RI Ke 76. “Kegiatan di laksanakan dengan konsep yang cukup sederhana dengan menerapkan protokol kesehatan, karena mengingat ini masih […]

  • Aklamasi, Hj. Arina Hidayah Jadi Ketua Muslimat NU Winong

    Aklamasi, Hj. Arina Hidayah Jadi Ketua Muslimat NU Winong

    • calendar_month Sen, 9 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    WINONG – Hj. Arina Hidayah, S.Ag., M.S.I, secara aklamasi terpilih menjadi Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Winong masa khidmat 2019-2024. Pemilihan ketua baru ini sendiri diselenggarakan melalui Konferensi Anak Cabang (Konferancab) yang digelar di Gedung NU Winong, pada Ahad (8/9/2019). Hj. Arina Hidayah, S.Ag,. M.S.I, (berdiri) dalam pemilihan Ketua PAC Muslimat Winong masa khidmat 2019-2024. Foto: […]

  • PCNU- PATI

    Setelah Punya 2 Unit MLU, NU Winong Targetkan Bangun Klinik

    • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 582
    • 0Komentar

    WINONG – MWC NU Winong memang sering menjadi sorotan bagi kaum Nahdliyyin di Kabupaten Pati. Hal itu karena preatasi yang ditorehkan oleh para pengurus MWC NU plus lembaga-lembaganya, terutama Lazisnu.  Pada Minggu (21/8) pagi, MWC NU Winong sukses menggelar Apel Kemerdekaan untuk memperingati HUT-RI ke-77. Kegiatan tersebut dihelat di Lapangan Olahraga Desa Pekalongan, Winong.  Sebelumnya, […]

  • Guru MAN 1 Pati Ciptakan Buku Ajar Kimia

    Guru MAN 1 Pati Ciptakan Buku Ajar Kimia

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 643
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Prestasi membanggakan berhasil diraih salah satu guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pati, Juremi, di tingkat Kabupaten Pati. Melalui salah satu karyanya, yakni Buku Ajar Kimia untuk pembelajaran di MA/SMA, dirinya berhasil meraih penghargaan kategori The Best Achievement “The Best Innovative Teacher 2024”. Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten […]

  • GP Ansor Pati Ikut Demo di Ponpes Ndholo Kusumo, Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

    GP Ansor Pati Ikut Demo di Ponpes Ndholo Kusumo, Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

    • calendar_month Ming, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.412
    • 0Komentar

      ​Pcnupati – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati mengambil sikap tegas dengan ikut serta dalam aksi massa menggeruduk Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Sabtu (2/5/2026). ​Ansor Pati mendesak pihak kepolisian untuk segera meringkus pengasuh pesantren terduga pelaku berinisial A dan memberikan hukuman maksimal guna menyelamatkan masa depan […]

  • Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

    Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2014
    • account_circle admin
    • visibility 418
    • 0Komentar

    NU–Online. NU merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, organisasi masyarakat keagamaan. Sejak awal didirikan oleh para Kyai, NU mengemban tugas besar menjaga, merawat, dan mengembangkan ajaran Islam ala Ahlissunnah wal Jama’ah di bumi Nusantara. Karenanya sudah teramat jelas bahwa NU tidak bertujuan meraih kekuasaan politik. Kalaupun harus menyebut istilah politik, maka politik NU adalah politik kebangsaan dan […]

expand_less