Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 17 Sep 2023
  • visibility 205
  • comment 0 komentar

Oleh : Irna Maifatur Rohmah

Bukan menjadi rahasia lagi, tak jarang wakil rakyat yang terjerat KPK. Ya mau apa lagi? Penggelapan dana untuk proyek ini dan itu. Segampang itu mereka mengklaim dana untuk rakyat menjadi milik pribadi. Segudang alasan klasik berulang-ulang dituturkan pada media. Tapi hal itu tidak bisa mengembalikan kepercayaan dan wibawa. Padahal sudah berkali-kali bahkan mungkin wartawan sampai bosan meliput di KPK terus. Tapi itulah kenyataan yang ada di negara kita.

Melihat realita yang demikian itu, sepertinya syarat untuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat perlu tambahan lagi, deh. Wajib nyantri terlebih dahulu, salaf kalo bisa. Lho, kok gitu? Yuk kita selami dikit dunia santri!

Eksistensi pesantren tak lepas dari para pengelola lembaga pendidikan tersebut, seperti Yai dan Ustadz-nya. Dengan sikap-sikap terpuji mereka sistem pendidikan pesantren dapat diterima oleh masyarakat dan memiliki keyakinan pada pesantren untuk mendidik para santri. Hal ini terbukti jika pesantren dapat survive dengan baik sehingga masih bertahan sampai detik ini. Keunikan pesantren dapat menempa santri yang jumlahnya tidak sedikit dan berhasil mencetak pribadi yang memiliki moral yang apik. Seperti yang dicitakan pendidikan di negeri ini, menciptakan generasi yang bermoral, berpikir kritis, berintelektual, bersosialisasi yang apik dan memiliki ketrampilan.

Menciptakan hal tersebut tentunya tidak instan dan mudah. Tentunya harus ditempa dan didorong dengan kelembutan. Sehingga terbentuklah insan yang tidak mudah mengklaim hal yang bukan hak miliknya. Hal tersebut terjadi karena hal di bawah ini.

Santri terbiasa dengan kehilangan. Hidup bersama dengan sesama santri, mau tidak mau harus menerima segala resiko hidup berdampingan. Di dalam pesantren sudah sangat akrab dengan yang namanya kehilangan. Entah itu kehilangan ember, sandal, baju, dan apapun yang menempel pada dhohir santri. Hal ini sangatlah wajar. Entah karena keteledoran diri sendiri atau santri yang iseng. Namun hal ini pasti menimpa tiap santri. Santri tak gampang jengkel atau marah ketika kehilangan sesuatu darinya. Sebab dari pesantren mereka paham apa yang dimilikinya tidak sempurna miliknya, di pesantren apa yang dimilikinya menjadi milik bersama.

Dari sebuah kehilangan, santri belajar hal lain dalam pesantren. Bagaimana cara bersosialisasi dengan baik, cara meminjam yang baik, memberikan kesan yang baik ketika meminjam. Seandainya santri tidak pernah kehilangan niscaya tak tau cara bersosialisasi yang baik, tak bisa meminjam dengan baik. Salah satu cara untuk menyadarkan diri santri akan sebuah rasa kebersamaan adalah dengan adanya kehilangan. Awal yang menyakitkan namun menimbulkan efek yang tidak terlalu buruk.

Bagaimana tidak, hampir semua yang dimiliki rela barter atau berbagi dengan yang lainnya. Rasa kebersamaan sangat kental di pesantren. Sabun, baju, sandal, buku, pensil, pulpen, dan masih banyak lagi seringkali dipakai ramai-ramai. Hal ini tidak akan mendapat solusi jika dihadapi dengan rasa marah atau tidak terima. Melalui hal-hal seperti ini justru akan menambah rasa kebersamaan santri dan mempererat kedekatan santri.

Rela berbagi, menjiwa dan mendarah daging pada santri. Justru santri yang tidak mau berbagi tidak memiliki teman dan mendapat pandangan negative dari lingkungan pesantren. Karena pada dasarnya pendidikan pesantren menegakkan arti kebersamaan yang sangat kental. Maka dari itu santri perlahan tidak merasa kehilangan atas hal ada pada dirinya.

Dari sini muncullah sikap santri yang tidak mudah meng-klaim apa yang ada di tangannya. Rasa ingin memiliki santri menurun ketika sudah merasakan sensasi kehilangan dan pendidikan di pesantren. Dalam pengajian rutinan, seringkali dijelaskan arti sebuah kehilangan. Bahwasanya kehilangan sebenarnya tidak ada sebab semua yang ada pada tiap diri hanyalah titipan bukan kepemilikan total. Maka ketika sesuatu diambil tidak kaget dan bisa mengikhlaskan dengan mudah. Santri tidak mudah meng-klaim yang ada pada diri santri. Semua hanya titipan padanya. Apalagi untuk hal yang ada di sekitar dirinya, tidak akan mudah meng-klaim bahwa ini milikku, itu milikku, tidak seperti itu. Santri sudah ditanamkan dalam dirinya tidak pantas bagi seorang santri untuk meng-klaim yang ada pada dirinya.

Ide bagus bukan? Pribadi-pribadi yang ingin mencalonkan diri harus nyantri dulu minimal satu tahun, deh, buat membentuk pribadi yang tidak mudah meng-klaim dan legowo. Mungkin ini bisa jadi pembentukan karakter pemimpin agar Indonesia memiliki tatanan dan sistem pemerintah yang lebih baik lagi. Atau alumni pesantren saja yang menjadi pemimpin? Ups.       

*UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Pondok Pesantren Nurul Iman Pasir

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU PATI - Ilustrasi Pijat; Cara Tradisional Pulihkan Kebugaran Tubuh. Photo by Camille Brodard on Unsplash.

    Pijat; Cara Tradisional Pulihkan Kebugaran Tubuh

    • calendar_month Jum, 27 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Dua hari yang lalu saya merasakan ketidaknyamanan pada kondisi tubuh saya. Bukan karena sedang lapar, tapi diseluruh badan terasa lesu dan lemas. Mungkin sebab musababnya karena saya jatuh saat hendak menyalakan motor saat pagi sebelum berangkat bekerja. Pagi itu saya hendak menyalakan motor dengan menstandarkan dua penyangganya. Tapi sesuatu hal terjadi. Motor saya tiba-tiba rubuh […]

  • PCNU-PATI

    Hasil-Hasil Munas Alim Ulama Konbes NU 2017

    • calendar_month Jum, 23 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Buku ini merupakan kumpulan Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan pada pada tanggal 23-25 November 2017 di NusaTenggara Barat. Buku ini terdiri dua bagian. Bagian pertama merupakan Keputusan-Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama yang membahas masalah keislaman (bahtsul masail ad-diniyyah), meliputi masalah-masalah aktual (al-waqi’iyyah), tematik (al-maudhuiyyah) dan perundang-undangan (al-qanuniyyah)

  • Siswi MA Salafiyah Kajen Pati Lolos Seleksi Presentasi Draf Rencana Aksi Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama Tingkat Nasional Tahun 2023

    Siswi MA Salafiyah Kajen Pati Lolos Seleksi Presentasi Draf Rencana Aksi Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama Tingkat Nasional Tahun 2023

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Siswi MA Salafiyah Kajen Pati atas nama Zulfa Farikha berhasil lolos seleksi tahap presentasi dan terpilih mengikuti pelatihan dalam Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama Madrasah Tingkat Nasional Tahun 2023 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Kegiatan yang diikuti oleh ratusan peserta dari perwakilan madrasah se-Indonesia ini diawali dengan seleksi naskah dan […]

  • Menolong Orang Termasuk `Udzur Jum`atan

    Menolong Orang Termasuk `Udzur Jum`atan

    • calendar_month Sab, 7 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Ilustrasi : Pixabay Seorang laki-laki hendak pergi melaksanakan sholat jum`at, kemudian ditengah jalan ada sebuah kecelakaan. Pertanyaan :Apa lelaki tersebut harus menolong kecelakaan ataukah tidak? Mengingat jikalau ia menolong, maka akan tertinggal sholat jum`at/waktu sholat jum`at akan habis. Akan tetapi jikalau ia tidak segera menolong, kecelakaan tersebut akan merenggut nyawa/sakit parah. ? Jawaban :Wajib menolong, […]

  • Awas… Bahaya Laten HTI

    Awas… Bahaya Laten HTI

    • calendar_month Sel, 13 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Di antara keistimewaan syari’at Islam dari agama lainnya ialah adanya sanad atau mata rantai yang berkesinambungan hingga pembawa syari’at itu sendiri; Rasulullah. Karena itulah munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi. Sanad inilah yang kemudian menjadi tradisi di kalangan Ahlussunnah untuk selalu d ilestarikan, karena dengan terus membudayakannya […]

  • Ansor Pati Khataman Quran di Makam Ki Ageng Penjawi

    Ansor Pati Khataman Quran di Makam Ki Ageng Penjawi

    • calendar_month Kam, 19 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 117
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pati menggelar acara 100 Khataman Al Quran di Makam Ki Ageng Penjawi, pagi ini, Kamis (19/9/2019). Acara ini merupakan pembuka dari rangkaian acara Selametan Bumi Pesantenan yang akan dilaksanakan selama dua hari berturut-turut. Anggota Ansor Pati sedang melakukan khataman Al Quran bil ghoib di makan Ki Ageng Penjawi, […]

expand_less