Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pustaka » Tetes Darah Perjuangan dalam Buku Laskar Ulama-Santri

Tetes Darah Perjuangan dalam Buku Laskar Ulama-Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 14 Okt 2023
  • visibility 171
  • comment 0 komentar

Salah satu aspek penting dari Nahdlatul Ulama yang wajib diketahui adalah sejarah perjuangan ulama-santrinya. Bukan sejarah arus utama yang kerap dibenturkan kepentingan kelompok tertentu; bukan pula yang ditulis para generasi nasionalis, yang menonjolkan figur utama sejarah sehingga detail sejarah dan tokoh-tokoh lain yang perannya sangat besar nihil disebutkan. Tulisan ini mencoba menerangkan sisi lain sejarah itu dalam bentuk indoktrinasi pemahaman atas sejarah arus utama, yang ditulis kalangan nonsantri, melalui catatan kecil atas sebuah buku sejarah yang ditulis komprehensif seorang sejarawan-santri. 

Buku ini cukup lama ditulis, sekitar 11 tahun yang lalu. Selama itu pula, buku ini berulang kali didiskusikan para mahasiswa, santri, dan kalangan pemerhati isu sejarah ulama pesantren Nusantara. Ditulis oleh sejarawan asal Pati yang menekuni dunia pesantren dan ulama nusantara, buku ini menawarkan informasi luar biasa nan penting berkenaan dengan dinamika perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830 hingga pertempuran heroik Surabaya yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Ketertindasan masyarakat Indonesia bukan omong kosong belaka. Hal itu lugas disaksikan kalangan ulama dan santri pesantren yang pada fase selanjutnya mengonsolidasi gerakannnya dalam basis kultural melalui jejaring ulama Nusantara. Basis kultural itu disokong diaspora para ulama Nusantara di Timur Tengah yang kebanyakan bermukim di Mekkah dengan sebutan Ashab Al-Jawiyyin. Ulama nusantara yang berangkat ke Timur Tengah berkumpul, berkontak, bertukar informasi dan saling menguatkan dukungan. Meskipun telah menjadi warga Arab mereka tetap mendorong lahirnya benih-benih perjuangan melawan penjajahan.

Penindasan Belanda dan negara Barat atas rakyat pribumi amat menekan hati kecil banyak ulama-santri. Muncul gerakan untuk melawan kezaliman yang turun temurun bergenerasi itu. Satu-satunya jalan melawan adalah turun ke medan tempur. Akan tetapi, para ulama sadar perjuangan ketika itu masih sangat lemah dan akan mudah patah. Oleh karenanya, para murid yang kembali dari Mekkah kemudian menguatkan basis perlawanan ke dalam bilik-bilik pesantren.

Buku ini terdiri dari enam bab. Tersusun secara kronologis, mulai dari apersepsi rekonstruksi metanarasi sejarah. Pembaca ditantang merefleksikan sejarah arus utama dengan menarasikan kembali sejarah yang kontra dengan narasi besar yang lama dipercaya. Pada bab kedua, penulis memaparkan rentetan tapak tilas perlawanan ulama-santri terhadap penindasan kolonial. Pada bab ini pula penulis mencoba menguak sisi rumpang sejarah yang tak terbaca, melalui sederet nama ulama-santri yang melakukan konsolidasi perjuangan, baik secara individu maupun berkelompok. Derasnya perjuangan itu sampai mendorong para kiai memobilisasi santri mengikuti pelatihan militer di Cibarusa, Bogor bersama barisan Peta (Pembela Tanah Air).

Para santri hasil didikan Cibarusa kemudian merintis perjuangan lewat badan kelaskaran di tiap kantong basis perlawanan daerah. Laskar ini dikomandoi seorang santri atau kiai sendiri yang memiliki basis keahlian militer: mengangkat senjata, menyusun strategi, atau pernah terjun bertempur. Kemudian di Bab Empat, jejaring itu dikuatkan kembali koneksi ulama pesantren yang terhubung untuk bertempur di bawah bendera Resolusi Jihad Fi Sabilillah. Setiap pertempuran bersejarah: aksi 10 November di Surabaya, peristiwa Palagan Ambarawa, perlawanan di Yogyakarta, dan Pertempuran Tanah Pasundan tak pernah luput dari kontribusi kiai-santri dalam barisan Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Bab selanjutnya, perjuangan tidak langsung padam. Barisan laskar yang melebur ke dalam TNI tetap memegang teguh landasan perjuangan sebelumnuya. Pada kesempatan ini, Muktamar ke-16 NU menetapkan Resolusi Jihad II kepada seluruh masyarakat muslim untuk berjuang totalitas mempertahankan kemerdakaan bangsa dari rong-rongan agresi militer Belanda. (hlm. 296–297). Bab keenam secara sederhana merupakan pelengkap keterangan atas simbolisasi perjuangan ulama-santri, pesantren sebagai basis perjuangan, dan kesaktian senjata bambu runcing.

Secara keseluruhan, buku ini berisi informasi penting yang sulit didapat dari sumber lain. Pembaca yang ingin menajamkan pencariannya mengenai sejarah panjang NU dan basis perjuangan ulama dahulu—khususnya di Jawa dalam mempertahankan Nusantara hingga Indonesia—tepat sekali untuk menelaahnya. Buku ini dilengkapi peta jejaring ulama-santri, mulai dari Syekh Abdurrauf Singkel dan Nuruddin Al-Raniri, Syekh Ahmad Mutamakkin dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang sekurun hingga diteruskan Pangeran Diponegoro, sampai yang terjauh senarai murid Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari beserta ulama sezamannya. (hlm. 77)

Meskipun begitu, satu-dua hal yang perlu dipikirkan ulang sebelum membaca buku ini adalah tebalnya buku untuk diselesaikan secara cepat layaknya membaca novel. Selain itu, pembaca perlu berulang kali membolak-balik lembaran buku demi tahu keterangan (catatan) kaki di halaman terakhir bab. Catatan itu melengkapi informasi yang terbatas dalam buku. Kendala lain yang mungkin dihadapi adalah akses buku yang terbilang sulit karena di beberapa perpustakaan memang belum tersedia, dan satu-satunya jalan mungkin membeli versi loak atau versi barunya.

Buku ini ibarat kumpulan buih air yang tersusun harmonis menjabarkan fakta, bahwa sejarah Indonesia tidak terlepas dari tumpahan darah para santri dan kiai, yang nama dan riwayat perjuangannya hilang atau sengaja dihilangkan oleh kepentingan subjektif narator sejarah arus utama. Subjektifitas penulis yang hanya bertujuan “menabikan” tokoh nasionalis mereka. Ketakutan mereka atas keruntuhan pamor tokohnya jika masyarakat tahu kebenarannya. Sejarah akan terus menemukan pemaknaanya seiring proses dialektika yang tiada kunjung berhenti (Pengantar, XV).

Judul Buku                  : Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945–1949)

Penulis                         : Zainul Milal Bizawie

Tahun terbit                : 2014

Kota terbit                   : Tangerang

Jumlah halaman           : 452 hlm.

Peresensi                     : Fahri Reza Muhammad

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Uniknya Gelar Karya dan Market Day MI Sullam Taufiq Pekalongan

    Uniknya Gelar Karya dan Market Day MI Sullam Taufiq Pekalongan

    • calendar_month Kam, 20 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pekalongan – MI Sullam Taufiq Kajen sukses menyelenggarakan Gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil Alamin (P5RA) dan Market Day pada Rabu (19/02/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program P5RA yang telah dijalankan oleh madrasah dengan tujuan memperkuat karakter dan keterampilan siswa melalui proyek berbasis nilai-nilai Pancasila dan Islam Rahmatan Lil […]

  • Ketua PWNU Jateng Akan Beri Sambutan Sosialisasi Majalah Ma’arif

    Ketua PWNU Jateng Akan Beri Sambutan Sosialisasi Majalah Ma’arif

    • calendar_month Sel, 17 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 244
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah akan menggelar Sosialisasi Majalah Ma’arif / Majalah Mopdik edisi Tahun Pelajaran 2025/2026 pada Rabu, 18 Juni 2025 pukul 08.30 WIB melalui platform Zoom Meeting. Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa kegiatan […]

  • Kuatkan Mutu, INISNU Siap Laksanakan Pancadharma Internasional di Tiga Negara

    Kuatkan Mutu, INISNU Siap Laksanakan Pancadharma Internasional di Tiga Negara

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 121
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Temanggung – Dalam rangka memperkuat mutu dan internasionalisasi, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung terus berupaya melaksanakan berbagai program. Salah satunya di tahun ini adalah kegiatan Pancadharma Internasional pada tiga negara yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand. Hal itu terungkap dalam sosialisasi oleh Panitia Pancadharma Internasional bersama travel pada Senin (28/4/2025) di aula lt.3 kampus […]

  • Puisi-Puisi Melisa Yusrina

    Puisi-Puisi Melisa Yusrina

    • calendar_month Sab, 14 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 132
    • 0Komentar

      Sepucuk Kata Untuk Rekanita   Keringatmu adalah semangat Lelahmu adalah cambuk kehidupan Langkahmu tanda perjuangan Pengabdianmu tanda cinta   Semua itu hanya untuk satu tujuan Untuk menyirnakan kegelepan Untuk tetap melanjutkan perjuangan sang panutan Mekar seribu bunga di taman Mekar cinta pada ikatan Sehat selalu rekanita tersayang Tetaplah belajar, berjuang, dan bertaqwa tanpa bosan. […]

  • img-20220322-wa0000-jpg-2

    Akatiga – PP Fatayat NU Adakan Lokarya di Bandung

    • calendar_month Rab, 23 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Para delegadi Fatayat NU Pati dalam acara Lokakarya nasional buah sinergi antara PP Fatayat NU dan Akatiga. BANDUNG – Akatiga bersama PP Farayat NU baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan tingkat nasional di Bandung. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari sejak Kamis (17/3) hingga Minggu (20/3) lalu ini diselenggarakan dengan target BPJS.  Kegiatan bertajuk Lokakarya Nasional Program […]

  • PCNU-PATI

    MWC NU Margoyoso Gelar Pasar Murah, Siapkan 500 Paket Sembako

    • calendar_month Sab, 8 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 188
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Margoyoso, Kabupaten Pati, adakan Pasar Murah, Sabtu (8/4/2023). Kegiatan itu bertempat di Kantor Kecamatan Margoyoso.  Ketua Panitia, Anis Zainal Arifin, mengatakan, pihaknya menyediakan 500 paket sembako murah untuk masyarakat. Dalam pelaksanaan, pihaknya  bekerja sama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam). ”Satu paketnya berisi 2,5 kilogram beras, 2 […]

expand_less