Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan Mode AI

Ramadan Mode AI

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 9.882
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Beberapa hari ini, saya mencoba mencari informasi soal konflik Iran, Palestina, dan USA. Namun, ketika kita membuka aplikasi mesin pencari (search engine), sering muncul “Ramadan Mode AI”. Ya, itu saya alami ketika membuka Firefox Browser, Google Chrome, maupun Safari di iPhone. Apakah Ramadan memang dimanjakan dengan AI? Pikir saya dalam hati.

 

Ya, bulan suci Ramadan menjadi momentum introspeksi mendalam dan mencari kesucian hati. Pencarian ini secara tradisional melibatkan beralih kepada para ulama, teks-teks Islam, dan pemimpin masyarakat. Akan tetapi fenomena baru menarik muncul: banyak orang sekarang mempelajari agama dan mencari hikmah Ramadan lewat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence (AI)?) Piye ya? Fenomena “Ramadan Mode AI” tersebut menajdi peluang apa ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tantangan unik soal bagaimana iman dipahami dan dipraktikkan. Duh!

 

Mode AI dan Kebergantungan

Instan, cepet, satset atas jawaban dari pertanyaan kita menjadi daya tarik AI. Apapun bentuk AI-nya. Missal, kita perlu mengetahui cara tepat dalam membuat niat berpuasa? Tanyakan pada ChatGPT, Gemini AI, Perplexity, dan lainnya. Misal lagi, ingin paham soal dasar filosofis zakat? Suatu pertanyaan singkat bisa menyajikan informasi komprehensif, bahkan disertai dalil yang disajikan AI tersebut.

 

Akses informasi yang terdemokratisasi ini bisa memberdayakan, utamanya untuk muslim yang baru memeluk Islam (muallaf) / muslimyang terbatas akses langsung ke bimbingan agama Islam yang otoritatif seperti kiai, ulama, gus, ning, mbah modin, atau akademisi muslim. Prinsip inti Islam soal thalabul ilmi (mencari ilmu) seperti terangkum dalam sabda Kanjeng Nabi Muhammad yaitu, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” (Sunan Ibn Majah no 224). Hal ini mendaptkan metode baru, mungkin tak terduga, melalui AI yang tersajikan open acces dan limitless.

 

Akan tetapi, soal kebergantungan seorang muslim dengan kebijaksanaan algoritmik digital tersebut melahirkan perenungan pertanyaan penting. Apakah kecerdasan buatan itu benar-benar memahami nuansa iman, takwa, rasa, dan kedalaman pengalaman spiritual, atau kompleksitas etika yang tertanam pada turats, atau teks-teks keagamaan?

 

Kita perlu mempertimbangkan Al-Quran, firman Allah yang hakiki dan juga sunnah-sunnah Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Meski kecerdasan artifisal bisa memproses, memproduksi, dan meringkas ayat-ayat dari Surah Al-Baqarah terkait puasa (misalnya pada Ayat 183-185), tetapi AI tak bisa menyampaikan “resonansi spiritual” secara jeru (mendalam) / lapisan interpretasi yang telah dikonstruksi dalam kurun waktu berabad-abad oleh mufassirun (ahli tafsir).

 

Nah, unsur manusia berupa empati, roso, wibowo, pemahaman kontekstual, wawasan spiritual, yang sering ditemukan lewat produk akademis klasik seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din oleh Imam Al-Ghazali dengan meode inheren hilang dari produk kecerdasan buatan. Ironisnya, hari ini kita bergantung pada AI-AI tersebut sehingga kemalasan semakin melanda umat Islam dari kalangan atas hingga yang paling bawah sekalipun.

Budaya keilmuan Islam yang ketat, disiplin, kaya, yang terangkum pada beragam koleksi Hadits semisal Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, atau hukum Fikih yang rumit, warisan turats, atau kitab kuning  yang dinamis  tentunya dibutuhkan riset, kajian, atau studi cermat dan silsilah transmisi yang terverifikasi dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Pada dasarnya, kecerdasan buatan menghimpun informasi. AI pastinya tak memiliki sanad keilmuan yang jelas, terverifikasi, dalam rangka memverifikasi keaslian pengetahuan seperti yang dilakukan oleh para ulama Islam tradisional zaman dulu.

 

Laiknya pepatah lama dari Imam Syafi’I yaitu, “Ilmu bukanlah apa yang dihafal, tetapi apa yang bermanfaat bagimu.” Artinya, kegunaan ilmu Islam seringkali dari penerapannya dalam konteks kehidupan yang luas dan lama, juga dibimbing oleh guru manusia (kiai, ulama, guru, dosen) yang otoritatif, serta memahami perjalanan spiritual individu tiap muslim.

 

Efek Dehumanisasi

Apa bentuk dehumanisasi hari ini? Jacques Ellul lewat buku The Technological Society (1904) berpesan meskipun efisien, teknologi bisa mengakibatkan dampak dehumanisasi ketika kita (umat Islam) dengan sengaja membiarkan teknologi itu (AI) mendikte nilai-nilai dan pemahaman kita yang harusnya lebih humanis, otentik, dan orisinil.

 

Sebut saja saat kita mencari hikmah Ramadan semata-mata melalui AI secara murni 100 persen, melalui aktivitas ini tentu akan lahir risiko bahwa iman akan terhimpun menjadi sekumpulan data, kumpulan fakta belaka, bukan menjadi praktik religius yang bernas dan bernapas. Artinya, lewat gema emosional dari aktivitas berbuka puasa, perjuangan pribadi yang mendalam untuk mengatasi keinginan, atau ketenangan bersama dalam salat tarawih dan salat witir di masjid/musala, hal ini merupakan empirisme yang bisa dijelaskan oleh kecerdasan buata, namun akan kering, gersang, bahkan tak pernah ditransmisikan dengan bahasa manusia. Jelas to, soale manusa kuwi duwe rasa!

 

Ramadan dalam mode AI harus diperhatikan. Artinya, ini adalah bentuk kemajaun teknologi yang super dahsyat, namun harus diimbangi dengan kualitas iman dan takwa. Kecerdasan buata bisa saja dijadikan tools berharga dalam mencari informasi, acuan teknis yang cepat untuk pertanyaan dasar. Akan tetapi, kecerdasan buatan saya menyebut selamanya tak bisa menggantikan Al-Quran, sunnah, ijma’, qiyas, dan manusia itu sendiri.

 

Simpelnya, kecerdasan buatan hanya buatan manusia, namun manusia ada yang membuat. Siapa? Ya jawaben dewe!

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • WA dan Saluran Menuju Tuhan. Photo by Christian Wiediger on Unsplash.

    WA dan Saluran Menuju Tuhan

    • calendar_month Kam, 27 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Selasa (25/10) kemarin, sejak pukul 14.00, jejaring sosial WhatsApp atau WA seperti tak bernyawa selama beberapa jam. Khalayak warga WA pun bersedih hati. Kesedihan ini tentu bukan tanpa alasan. Ketergantungan manusia Indonesia terhadap aplikasi ini memang begitu besar. menurut Bussiness of Apps, Pengguna WA di negara +62 mencapai 112 juta kepala. […]

  • Akademi Pendidikan Da’I  Nusantara

    Akademi Pendidikan Da’I Nusantara

    • calendar_month Kam, 3 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Pati (Pergunu) dalam waktu dekat akan mengadakan Akademi Pendidikan Da’i Nusantara hal tersebut dilakukan agar supaya menemukan Da’i-Da’i yang berbakat atau pun bakat menjadi Da’i belum terasah. Karena warga Nahliyin Pati khususnya  untuk saat ini telah kekurangan Da’i yang sesuai dengan faham ahlussunah waljamaah dan  fenomena sekarang yang terjadi sebagian Da’i […]

  • Konfercab, Mastna-Melisa Nakhoda Baru Pelajar NU Pati

    Konfercab, Mastna-Melisa Nakhoda Baru Pelajar NU Pati

    • calendar_month Ming, 29 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

      Perwakilan PW IPNU Jateng sedang melakukan penghitungan suara bakal calon ketua IPNU-IPPNU Pati PATI – Konferensi Cabang (Konfercab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) Kabupaten Pati ke XIII mengahasilkan Mastna Zakiyatus Salwa dan Melisa Yusrina sebagai Ketua IPNU dan IPPNU Kabupaten Pati. Kegiatan tersebut diadakan di Pendopo Desa […]

  • PCNU-PATI

    Ketok Palu! Kiai Mustofa dan Kiai Marzuki Pimpin NU Tambakromo

    • calendar_month Sel, 8 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 628
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Setelah jabatan pengurus MWC-NU Tambakromo periode 2018-2023 berakhir pada Ahad (7/8) lewat konferensi MWC, kini NU Tambakromo memiliki ketua baru.  Kiai Marzuki Abbas sukses naik takhta setelah melewati dua nama yang direstui Syuriyah. Ke duanya adalah KH. Suwarno dan K. Edy Supriyanto. Sementara, untuk Ro’is MWC NU Tambakromo masa khidmat 2023-2028 dijabat oleh Kiai […]

  • A blurry image of a flower on a purple background

    (b)Untung

    • calendar_month Rab, 2 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Ada sebagian orang yang berprinsip dengan melalukan apa saja harus diperhitungkan; semuanya yang dilakukan dan dijalani harus ternominalkan. Sebab geraknya penuh perhitungan seperti halnya rumus fisika ada gaya dan tekanan, pada sejatinya ketika banyak gaya maka tekanan semakin kencang dan keras. Seperti yang dikemukakan seorang kawan jika untuk bertahan hidup […]

  • Halaqoh dengan Rais ‘Am PBNU

    Halaqoh dengan Rais ‘Am PBNU

    • calendar_month Kam, 7 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pati mengadakan halaqoh Nahdliyah bersama Rais Am PBNU KH Ma’ruf Amin di Safin Hotel Pati, Selasa malam (5/12). Kemarin. KH Ma’ruf Amin menjelaskan beberapa agenda penting Nahdlatul Ulama  ke depan.  PBNU melakukan revitalisasi dengan membuat pedoman standar  organisasi yang baik. Disamping itu, PBNU akan terus monitoring dan evaluasi (monev)  […]

expand_less