Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan di Pati Bumi Mina Tani

Ramadan di Pati Bumi Mina Tani

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 23 Mar 2024
  • visibility 410
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

“Poso kok ora bali Dukuhseti piye leh?” Seorang teman bertanya sembari menegaskan saya diharapkan ke tempat kelahiran di Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati.

Menjalankan ibadah Ramadan di tempat kelahiran meman beda. Beda sekali. Saya kira tidak hanya di Pati. Setiap tempat kelahiran menyimpan ruang-ruang memori yang indah ketika momentum Ramadan. Sebab, bisa sehari semalam waktu kita habiskan di musala dan masjid untuk salat tarawih, salat witir, tadaruan, tong-tongklek membangunkan warga untuk sahur, nyumet mercon, salat subuh, nyuluh jangkrik, hingga nyolong semangka dan mangga milik warga. Ya, memori-memori itu akan saya ingat sampai tua nanti.

Ramadan hakikatnya memang menjadi bulan suci bagi umat muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, bulan Ramadan memiliki makna yang sangat mendalam, tidak terkecuali bagi masyarakat di Pati, sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah, yang dikenal dengan sebutan “Bumi Mina Tani”. Di sinilah Ramadan dirayakan dengan penuh kegembiraan, kebersamaan, dan keagungan spiritual, bahkan kekonyolan-kekonyolan yang terlalu manis untuk dilupakan, dan terlalu pahit untuk dikenang.

Keunikan Bumi Mina Tani

Kabupaten Pati, sebuah bagian kabupaten di Jawa Tengah, tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga dengan kekayaan budaya dan religinya yang mengagumkan. Di tengah-tengah kehidupan sehari-hari masyarakatnya, terdapat keunikan religi yang membentuk identitas dan karakteristik khas Kabupaten Pati. Pertama, tradisi keagamaan yang kental. Pati juga dikenal dengan tradisi keagamaannya yang sangat kental. Setiap hari, berbagai ritual keagamaan dilakukan dengan penuh khidmat dan kekhusyukan. Mulai dari salat berjemaah di masjid-masjid hingga kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian, mujahadah, yasinan, nyadran, sedekah bumi, manaqiban, tahlilan, dan peringatan hari-hari besar keagamaan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Pati.

Kedua, keberagaman agama dan toleransi antarumat beragama. Salah satu ciri khas yang menonjol dari Kabupaten Pati adalah keberagaman agama yang ada di dalamnya. Meskipun mayoritas penduduknya adalah Muslim, namun terdapat pula komunitas Hindu, Buddha, dan Kristen yang hidup berdampingan dengan damai. Toleransi antarumat beragama di Pati menjadi teladan bagi daerah lain, di mana kerukunan antarumat beragama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Saya bisa mencontohkan di dekat rumah ada musala dan wihara yang tetap damai. Begitu juga di wilayah sejak Puncel, Kembang, Dukuhseti, Tayu, hingga Batangan yang dekat pantai berkembang beragama agama utamanya Islam dengan Kristen dan Katolik. Apalagi, dulu di sepanjang wilayah pantai Pati sejak dari Puncel berkembang pesat agama Kristen karena peran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885) sebagai misionaris/penginjil yang gigih menyebarkan Kristen. Begitu juga dengan Islam yang sangat berkembang pesat. Namun, Pati itu toleran. Intinya itu.

Ketiga, kerukunan antarumat beragama dalam perayaan keagamaan. Perayaan-perayaan keagamaan di Pati juga menjadi momen penting yang menggambarkan kerukunan antarumat beragama. Misalnya, saat perayaan Idulfitri, Natal, Waisak, dan Nyepi, masyarakat Pati saling mengunjungi dan memberikan ucapan selamat kepada sesama, menggambarkan semangat persaudaraan lintas agama yang erat.

Keempat, pusat pendidikan keagamaan dan intelektual. Kabupaten Pati juga memiliki peran penting dalam dunia pendidikan keagamaan dan intelektual, karena terdapat 256 pesantren. Dengan adanya berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam ternama seperti Perguruan Islam Mathali`ul Falah Kajen, Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Pondok Pesantren Mambaul Ulum Pakis, dan yang lain, Pati menjadi pusat pengembangan keilmuan agama Islam yang diakui secara nasional maupun internasional. Sumbangan intelektual dari para ulama dan cendekiawan muslim Pati telah memberi kontribusi besar terhadap pemahaman agama dan peradaban Islam di Indonesia.

Kelima, ritual dan upacara adat yang dihormati. Selain tradisi keagamaan Islam, Pati juga memiliki beragam ritual dan upacara adat yang diwariskan dari nenek moyang. Upacara-upacara seperti slametan, selamatan, ruwatan, tahlilan, manaqiban, dan sedekah bumi masih dijalankan secara turun temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan keyakinan spiritual yang diyakini.

Dengan segala keunikan religi yang dimilikinya, Kabupaten Pati tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi masyarakatnya, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi penghayatan agama yang mendalam, toleransi antarumat beragama, dan kearifan lokal yang luhur. Keberagaman dan kerukunan menjadi kekuatan yang memperkaya dan memperindah kesejahteraan spiritual masyarakat Pati, menjadikan daerah ini sebagai contoh harmoni antaragama bagi seluruh Indonesia.

 

Tradisi-tradisi Ramadan di Pati

Pati, sebuah kota yang kaya akan sejarah dan budaya, menjadi saksi perayaan Ramadan yang berbeda dari tempat lain. Setiap tahunnya, suasana Ramadan di Pati diwarnai oleh tradisi-tradisi yang turun temurun, serta kegiatan-kegiatan keagamaan yang memperkuat rasa persaudaraan di antara warganya.

Salah satu tradisi yang sangat dijunjung tinggi di Pati adalah “ngabuburit”, kegiatan bersama yang dilakukan menjelang waktu berbuka puasa. Ngabuburit di Pati tidak hanya sekadar berkumpul dan menunggu waktu berbuka, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti seni pertunjukan, pameran kuliner khas Ramadan, dan bazaar amal. Hal ini menciptakan atmosfer yang meriah dan mengundang kebersamaan di antara penduduk Pati.

Tidak hanya itu, semangat gotong royong juga terlihat jelas selama bulan Ramadan di Pati. Berbagai kegiatan sosial seperti pembagian takjil kepada orang-orang yang membutuhkan, penyelenggaraan buka puasa bersama di masjid-masjid, dan penggalangan dana untuk membantu sesama menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Ramadan di Pati.

Selain aspek sosial, aspek spiritual juga sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Pati selama Ramadan. Masjid-masjid di Pati dipenuhi oleh jemaah yang datang untuk melaksanakan ibadah tarawih dan berdoa bersama. Suasana khusyuk dan khidmat terasa di setiap sudut masjid, menciptakan atmosfer spiritual yang menggetarkan hati.

Bulan Ramadan di Pati juga dirayakan dengan menyajikan hidangan khas dan tradisional. Berbagai makanan seperti nasi gandul, soto kemiri, ketupat, opor ayam, es kelapa kopyor, aneka makanan laut, dan kolak menjadi menu wajib di meja berbuka puasa masyarakat Pati. Hidangan-hidangan ini tidak hanya menjadi sajian lezat, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan antarwarga dalam suasana kebersamaan yang penuh berkah. Namun, di balik semua kegembiraan dan kegiatan yang meriah, Ramadan di Pati juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan. Umat muslim di Pati berusaha untuk meningkatkan ibadah mereka selama bulan suci ini, baik melalui pembacaan Al-Quran, melakukan amal kebaikan, maupun memperbanyak doa dan zikir.

Dengan begitu, Ramadan di Pati bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga sebuah perayaan kebersamaan, kegembiraan, dan spiritualitas yang memperkaya jiwa dan membentuk karakter masyarakatnya. Di Bumi Mina Tani ini, Ramadan bukan hanya menjadi waktu untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga momen untuk merayakan keagungan dan kemurahan Allah SWT serta meningkatkan kualitas ibadah dan kemanusiaan.

Pertanyaan bagi Anda yang asli Pati tapi tidak di sana, Anda kangen Pati nggak?

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., penulis lahir di Pati, 17 Juni. Saat ini menjadi dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2018-2023, Kabid Media, Hukum, dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2020-sekarang, aktif menjadi reviewer 18 jurnal internasional terindeks Scopus, reviewer 9 jurnal internasional, editor dan reviewer 25 jurnal nasional.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harlah LP Ma’arif, PCNU : Kontribusinya Sangat Besar

    Harlah LP Ma’arif, PCNU : Kontribusinya Sangat Besar

    • calendar_month Ming, 19 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 393
    • 0Komentar

    PATI – Hari ini, Minggu (19/9) Lembaga Pendidikan Ma’arif NU tepat berusia 92 tahun. Dalam usia yang tak lagi muda, Lembaga di bawah naungan ormas islam terbesar di dunia ia telah banyak menghasilkan karya nyata di dunia pendidikan.  Hanya saja, harapan demi harapan masih digantungkan kepada LP Ma’arif dalam memajukan pendidikan. Menurut K. Yusif Hasyim, […]

  • MWCNU  Kecamatan Gembong Sukses Gelar Seminar Ekonomi

    MWCNU Kecamatan Gembong Sukses Gelar Seminar Ekonomi

    • calendar_month Sel, 24 Jan 2017
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) dan Para Kader  Muda NU melaksanakan seminar Ekonomi bertajuk “Membangun Kemandirian Ekonomi MWC-NU Gembong” dengan peserta dari seluruh Ranting NU se Kecamatan Gembong dengan menghadirkan dua narasumber, H. Najib Zabidi Direktur Koperasi Aneka Jasa 26 Pati dan Mumu Mubarok, Direktur Arta Mas Abadi, Minggu (15/1) kemarin. […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Semua akan NU pada Waktunya

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 318
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Karim Sholikhin* Dulu, dulu sekali, diceritakan bahwa Imam Syafi’i sudah mengajar di Masjidil Haram sebelum usianya genap 12 tahun. Santrinya bukan anak-anak yang masih belajar a-ba-ta, melainkan para syaikh, pemuka agama. Bukan main! Al kisah, di suatu hari di Bulan Ramadhan, Imam Syafi’i mengajar sejak pagi sampai siang bolong. Saat mencapai tengah […]

  • PCNU-PATI

    Gambang Rancag Perlu Dilestarikan Karena Nyaris Lenyap

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Jakarta, Senin, 28 Agustus 2023,-  Kehadiran empat buku antologi puisi Penyair Nusantara, Jakarta, dan Betawi sejak tahun 2019 sampai tahun 2023, semoga tak berhenti ditahun ini.Bisa saja ditahun depan ada gagasan dengan tema lain, misalnya Jakarta Pasca Pemilu tahun 2024,” ujar Nanang R.Supriyatin, Ketua Penyelenggara peluncuran buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, Jakarta, dan Betawi 4 […]

  • PCNU-PATI

    NU, Nasionalisme dan Bernegara

    • calendar_month Kam, 28 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini kita kenal sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia,bahkan tersebar dunia merupakan salah satu ormas yang sudah tidak diragukan lagi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai ormas terbesar di dunia tentunya NU memiliki sumbangsih yang juga besar di masyarakat. Adapun bentuk sumbangsih yang […]

  • Mahasiswa KKN Undang Guru Se-Kecamatan Gembong Ikuti Workshop

    Mahasiswa KKN Undang Guru Se-Kecamatan Gembong Ikuti Workshop

    • calendar_month Sab, 13 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 384
    • 0Komentar

    H. Suwarno (tengah), Pengawas Madrasah tengah mensimulasikan penggunaan media elektronik, smartphone untuk menunjang media pembelajaran didampingi moderator, Maulana Luthfi Karim (kiri) dan pemateri kedua, Suroningsih.  GEMBONG – KKN Terintegrasi 2021 Stai Pati yang melaksanakan tugasnya di MI Hidayatul Islam (MHI) Gembomg kembali melakukan gebrakan. Bertempag di Gedung MHI, Kamis (11/11) lalu, enam punggawa mahasiswa Stai […]

expand_less