Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kaji Filantropi Kreatif Islam, BRIN Gelar FGD Filantropi NU

Kaji Filantropi Kreatif Islam, BRIN Gelar FGD Filantropi NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 26 Mar 2024
  • visibility 413
  • comment 0 komentar

 

Jakarta – Melalui platform Zoom Meeting, Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan FDG atau Sharing Session bertajuk “Filantropi Nahdlatul Ulama” pada Selasa (26/3/2024) yang dihadiri puluhan periset, dosen/akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Sebagai informasi, kegiatan tersebut merupakan rangkaian riset yang dilakukan oleh peneliti PMB BRIN Muhammad Nur Prabowo Setyabudi, peneliti PRAK BRIN Aji Sofanudin, dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda, dan dosen Universitas Gadjah Mada Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi bertajuk “Islamic Creative Philanthropy: Studi Terhadap Praktik Filantropi Islam pada Komunitas Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Ahmadiyah, dan Syiah (MUNAS) di Indonesia.“

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Aji Sofanudin mengatakan bahwa sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi filantropi Islam yang cukup besar.

Menurut data Kemenag RI, potensi zakat di Indonesia sangat besar mencapai 327 triliun. Sementara data Baznas menyebutkan dana zakat yang tersalurkan sebesar 33 T pada tahun 2023.

Ini artinya baru 10,09 % potensi zakat yang mewujud. Belum lagi potensi filantropi Islam yang lain seperti infaq, sedekah, hibah dan wakaf, kata Aji.

Kegiatan ini, menurutnya, merupakan bagian dari riset filantropi yang menyasar organisasi atau komunitas Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Ahmadiyah, dan Syiah.

“Jika merujuk pendapatnya Prof. Ahmad Najib Burhani, Nahdlatul Ulama menjadi ormas Islam yang menarik karena mampu melahirkan penciptaan atau penguatan identitas Islam nasional dengan nama Islam Nusantara. NU dinilai unik dan distingtif dibandingkan dengan Islam di belahan dunia lain, karena karakternya yang damai, moderat, keberterimaan terhadap demokrasi yang tinggi,” lanjutnya dalam kegiatan yang dimoderatori BRIN Muhammad Nur Prabowo Setyabudi tersebut.

Dalam konteks riset ini, katanya, NU dikaji karena telah memiliki lembaga amil yaitu LAZISNU yang berdiri tahun 2004 sesuai dengan amanat Muktamar NU ke-31 di Boyolali, Jawa Tengah.

Direktur Eksekutif NU Care – LAZISNU PBNU Drs. KH. Qohari Cholil dalam paparannya mengatakan banyak hal, dari sejarah, profil, capain, inovasi, dan dampak filantropi yang dilakukan LAZISNU. “LAZISNU diberi amanat sebagai penopang dan penyokong kegiatan sosial di lingkungan NU khususnya di bidang sumber daya manusia dan filantropi,” katanya.

Pihaknya juga memberikan contoh bagian dari program LAZISNU yang populer adalah KOIN NU. “Jadi Koin NU ini adalah singkatan dari Kotak Infak (Koin) NU,” paparnya.

Kiai Qohari juga membeberkan, bahwa NU Care – LAZISNU PBNU terdiri atas 33 cabang tersebar di 29 negara melalui PCI NU, dan 26 provinsi di Indonesia.

Dalam hal penghimpunan, NU Care – LAZISNU PBNU melakukan sejumlah inovasi. “Kami ada fundraising lembaga. Di sini melakukan optimalisasi jejaring lembaga dan Badan Otonom NU melalui Koin NU, optimalisasi web crowfunding nucare.id, kemitraan CSR perusahaan dan pemerintah, kemitraan dengan platform digital. Kemudian sistem pelaporan dengan skema PSAK 109-409, audit internal, audit PBNU, audit KAP, audit Syariah Kemenag RI,” jelasnya.

Dalam aspek mekanisme penyaluran, dilakukan kolaborasi horizontal yaitu pelibatan lembaga dan Banom NU, juga ada pelibatan pakar/ahli, penyaluran yang dilakukan oleh 233 cabang LAZISNU, dan penyaluran yang tersebar di 30 provinsi cabang LAZISNU.

Sementara itu, Dr. Hamidulloh Ibda menambahkan bahwa sebenarnya di LAZISNU, realitas di lapangan khususnya di Jawa Tengah telah terlaksana praktik filantropi yang terstruktur (struktural), tidak/semi terstruktur atau kultural. “Kalau yang tidak terstruktur ini banyak sekali, dari infak Arwah Jama’, infak pada kegiatan tahlilan, tahtimul Quran, manaqiban, ziarah walisongo, ziarah wali lima Jawa Timur, infak Ramadan, arisan Qurban, arisan wakaf tanah, dan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, Ibda juga menjelaskan bahwa banyak sekali praktik baik yang telah dilakukan oleh LAZISNU Jawa Tengah dan cabang di wilayah Jawa Tengah. Dari praktik filantropi itu, katanya, dibutuhkan pola yang bisa dikategorisasi sebagai filantropi kreatif Islam agar menjadi temuan menarik.

“Kalau dari kajian yang saya lakukan, filantropi kreatif Islam itu intinya pendekatan dalam memberikan sumbangan dan dukungan yang diilhami oleh nilai-nilai Islam, namun dengan kecenderungan untuk memanfaatkan inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaannya. Nah, kami membutuhkan saran dan masukan dari LAZISNU PBNU untuk menguatkan temuan itu,” kata dia.

Di sisi lain, dosen Universitas Gadjah Mada Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi menambahkan bahwa sebelum terjadi gerakan filantropi Islam yang masif, dilatarbelakangi oleh sejumlah fenomena. “Gerakan-gerakan Islam yang tumbuh di Yogyakarta pada kurun 1920-an sampai 1930-an menginstitusionalisasi aset-aset kedermawanan yang mereka terima sehingga menjadi modal sosial bagi mereka dalam menunjukkan eksistensinya sebagai masyarakat sipil,” katanya.

Terjadinya momentum-momentum dinamis termasuk kehadiran gerakan Zending dan Missie yang semakin kuat di Yogyakarta, lanjutnya, momentum-momentum itu termasuk pula dampak panjang ekspansi perkebunan, reogrnisasi tanah/agraria, kemunculan santri urban, dinamika pengulon dan organisasi Islam. Dari momentum-momentum itu melahirkan banyak dampak yang pada akhirnya hadir kedermawanan Islam sebagai gerakan sosial baru di Yogyakarta.

Penulis buku Filantropi Masyarakat Perkotaan: Transformasi Kedermawanan Muhammadiyah di Yogyakarta, 1912-1931 itu menjelaskan pula bahwa ada kesamaan fungsi lembaga sebagai fundriser dan model pentasyarufan melalui lembaga dalam Muhammadiyah dan NU. “Selain itu ada kesamaan pilar program antara LAZISMU dan NU-Care/LAZISNU. LAZISNU menggunakan cerdas, istilah program yaitu berdaya, sehat, damai, hijau,” papar dia. (*)

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • STAI Pati Wisuda 132 Mahasiswa Secara Daring

    STAI Pati Wisuda 132 Mahasiswa Secara Daring

    • calendar_month Ming, 15 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 549
    • 0Komentar

    PATI – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati sabtu kemarin (14/8) menggelar Sidang Senat Terbuka ke XXVIII dengan mewisuda 132 mahasiswanya secara virtual yang bertempat digedung A Kampus tersebut. Sebanyak 132 Mahasiswa yang terdiri dari 15 mahasiswa Jurusan Syariah program studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah) dan 117 mahasiswa Jurusan Tarbiyah program studi Pendidikan Agama Islam (PAI). […]

  • PCNU-PATI Photo by Aliaksei Lepik

    Zakat sebagai Metode Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Sab, 12 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 599
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Salah satu masalah terbesar masyarakat Indonesia adalah tingginya angka kemiskinan. Sebagai sebuah masalah, maka kemiskinan perlu didefinisikan terlebih dahulu kemudian dicari faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masyarakat menjadi miskin dan bagaimana kemiskinan itu dapat diminimalisir. Boleh jadi kemiskinan itu terjadi karena kebodohan sehingga mayarakat tidak mengetahui masalah dan potensi dirinya. Selain masalah […]

  • LPPNU Pati Turut Serta dalam Penanaman Pohon di Pegunungan Kendeng

    LPPNU Pati Turut Serta dalam Penanaman Pohon di Pegunungan Kendeng

    • calendar_month Sel, 18 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 753
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Dalam rangka penghijauan di Pegunungan Kendeng, Laskar Lereng Muria (LLM) bekerja sama dengan beberapa organisasi kemasyarakatan, termasuk Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Pati, melakukan penanaman seribu pohon. Penanaman itu tepatnya di wilayah Desa Kedungwinong, Kecamatan Sukolilo, Pati, Selasa (18/2/2025). Ketua LPPNU Kabupaten Pati, Sutrisno mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian […]

  • PCNU - PATI 99 Untuk Tuhanku

    99 Untuk Tuhanku

    • calendar_month Sen, 27 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Tuhanku Kususun 99-ku agar sampai pada 0 dan kulahirkan kembali 1-ku sampai 99-ku yang baru. Tuhanku Kususun 99 napasku untuk meniru-Mu mendekati watak-Mu dan menjadi hati-Mu. Ini ^hanya^ suatu sembahyang, tak lebih dan tak kurang. Sepenuh-penuhnya kutumpahkan kepada Allah Swt., langsung kepada-Nya maupun melewati engkau dan semua saudara kiita. Suatu sembahyang sederhana; usaha untuk merebut […]

  • Peringati HSN dan Maulid Nabi, MWCNU Kayen Gelar Ngaji dan Sholawat

    Peringati HSN dan Maulid Nabi, MWCNU Kayen Gelar Ngaji dan Sholawat

    • calendar_month Sab, 22 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 498
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) menggelar Ngaji dan Sholat di Alun-alun Kayen, Jumat (21/10) malam. Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2022 ini juga dimeriahkan 1.000 penerbang dari hadroh se-Kecamatan Kayen. “Ngaji dan Sholawat yang dimeriahkan 1.000 terbang ini memiliki tujuan Habblum Minallah dan Hablum Minannas,” ungkap Rois Syuriah […]

  • Hasilkan Rp 85 Juta Sebulan, Lazisnu Winong Galakkan Zakat Produktif

    Hasilkan Rp 85 Juta Sebulan, Lazisnu Winong Galakkan Zakat Produktif

    • calendar_month Jum, 24 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 578
    • 0Komentar

    Paket Pertaminu untuk warga kurang mampu dari dana ummat yang dikelola oleh Lazisnu Winong. Penyalurannya bantuan semacam ini tidak dilakukan oleh Lazisnu sendiri, tetapi diserahkan kepada Banom dan lembaga lain sesuai dengan program mereka masing-masing WINONG – Lazisnu Kecamatan sudah tak asing bagi para pengurus NU di Kabupaten Pati. Prestasinya dalam mengelola keuangan dengan prinsip dari […]

expand_less