Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

  • account_circle admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 9.089
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Sebenarnya, tulisan ini selesai pada bagian pertama, yaitu berjudul Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian I). Namun, karena saya kesel, ya saya lanjutkan di bagian kedua ini. Agar ada jeda. Ambegan disit.

Idiom gandulan sarunge kiai dalam wacana populer sering dipahami sebagai simbol kebergantungan atau bahkan kultus individu. Dekonstruksi atas idiom tersebut tentu menuntut pemahaman epistemologis, bukan sekadar penilaian sosiologis modern yang sudah kita sampaikan pada bagian pertama kemarin.

Dalam riset Linnaja dan El Syam (2025), gondelan sarunge kiai menjadi simbol pendidikan Islam khas Nusantara yang menekankan kesetiaan pada sanad keilmuan para kiai, keberlanjutan ajaran Walisongo, dan pendekatan dakwah berbasis budaya yang ramah, membumi, serta mencerminkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Ini menjadi penguat bahwa gondelan tidak sekadar tradisi turun-temurun yang ngawur, tapi ada alasannya!

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai

Mengapa idiom gandulan sarunge kiai, gendolan sarunge kiai perlu didekonstruksi. Ya, jelas agar tidak salah paham. Salah tafsir. Salah mengartikan. Untuk itu, terdapat beberapa temuan dan hasil kajian dari bagian pertama atas bentuk dekonstruksi tersebut.

Pertama, gandulan sarunge kiai tidaklah bentuk kultus personal kiai/ulama, namun hal itu bentuk rekognisi atau pengakuan sanad keilmuan yang sahih dan jelas. Kiai dalam tradisi pesantren dihormati, ditakzimi, ditempatkan sebagai simpul dalam jaringan transmisi ilmu pengetahuan. Otoritas melekat pada kiai/ulama tidaklah milik individu, namun menjadi milik tradisi keilmuan yang ia wakili

Kedua, perspektif modern sering mengalamatkan tuduhan feodalisme budaya yang pada akhirnya memisahkan otoritas dari tradisi. Nah, uniknya, dalam pesantren, hubungan kiai-santri, guru-murid, atau pendidik-peserta didik itu bersifat timbal balik. Artinya, santri atau murid menghormati kiai/guru karena ilmu, dan kiai/guru memiliki bertanggung jawab ngemong atau membimbing santri/murid secara moral dan intelektual. Jelas ya!

Dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’Allim, KH – Hasyim Asy’ari menyerukan urgensi ikatan batin atau relasi jiwa antara santri-kiai, murid-guru, pelajar-pendidik, mahasiswa-dosen, dan lainnya. Meskipun secara puitis dan populer, istilah gondelan sarunge kiai kerap tampak dalam jargon-jargon santri ketika menggambarkan sikap rendah hati alias tawadu. Jenenge santri ya pancen ngono lah!

Ketiga, modernisasi telah melahirkan recontextualization. John Obert Voll lewat karyanya Islam: Continuity and Change in the Modern World (1994) mempertegas tradisi keilmuan Islam selalu melalui proses negosiasi dengan modernitas. Artinya, saat sistem “sertifikasi formal” dan “gelar akademis” menggantikan sanad sebagai mekanisme validasi utama dan paling utama yang diakui, maka praktik-praktik tradisional sering disalahpahami bahkan tidak dianggap babarblas.

Keempat, di pesantren maupun masyarakat Islam di Jawa pada umumnya, simbol-simbol fisik yang terlihat ritualistik mempunyai signifikasi epistemik. Ia merupakan pernyataan keterikatan pada sanad. Legitimasi pada tradisi ilmu klasik bukan sebatas lewat teks, malainkan juga lewat relasi individual yang terverifikasi.

Kelima, gondelan sarung kiai merupakan bentuk santri untuk mencari keberkahan, alias bertambah kebaikan. Konsep tabarruk atau tabarrukan ala pesantren ini sudah dicontohkan sejak dulu. Dalam Kitab Fathul Baari, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, melalui penjelasan atas Shahih Bukhari, di dalamnya dikaji mendalam soal diperbolehkannya tabarruk dengan peninggalan Nabi SAW. Kita-kitab sejarah (tarikh) juga menceritakan para sahabat Nabi Muhammad yang berebut sisa air wudhu atau potongan rambut Nabi. Seperti Sahabat Khalid bin Walid rajin menyimpan beberapa helai rambut Kanjeng Nabi Muhammad, Anas bin Malik pernah menginformasikan bahwa Ummu Sulaim (ibunya) mengumpulkan keringat Kanjeng Nabi, Abu Juhaifah pernah menceritakan para sahabat berebut sisa air wudlu Kanjeng Nabi Muhammad lalu mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka.

Nah, dalam konteks lokal di tulisan ini, kiai/ulama yang dianggap sebagai Warasatul Anbiya (pewaris nabi), diberi penghormatan serupa yang diaplikasikan tanpa mengurangi spirit gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Di media sosial, bisa jadi banyak nalar sekuler, nalar populer, nalar literel, yang cenderung menyempitkan idiom dan tradisi gandulan sarunge kiai sebagai “kultus individual kiai” atau “praktik feodalisme”. Akan tetapi, ketika dikaji dari aspek epistemologi sanad dalam tradisi pesantren, narasi gandulan sarunge kiai merupakan ekspresi simbolik dari relasi santri/murid dengan jaringan keilmuan historis

Menghormati kiai/ulama harus diyakini ittiba’ para sahabat atas menghormati Kanjeng Nabi Muhammad tanpa menggantikan sosok kiai sebagai pengganti sosok Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ini saya jelas tidak setuju.

Gandulan sarunge kiai secara sederhana tidak semata sebagai rekognisi atau pengakuan sosial, namun sebagai pengakuan pada garis transmitif ilmu, sanad keilmuan, yang secara konseptual bermuara pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagai sumber utama ilmu Islam yang benar dan sahih. Lewat pemahaman ini, sanad tak sebatas nostalgia tradisi belaka, namun menjadi fondasi epistemik untuk menjaga adab, otentisitas, dan nyambungnya ilmu dalam peradaban Islam.

Gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad adalah wajib. Ini tidak bisa didebat. Namun, gandulan sarunge kiai juga penting, karena menjadi bentuk menjaga sanad keilmuan, ittiba’, dan penghormatan yang sekadarnya juga penting. Sebab, ulama/kiai/orang alim adalah pewaris nabi. Begitu!

Ada pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Santri Darul Hadlanah Waturoyo Ikuti Webinar Bersama Wakil DPR RI

    Santri Darul Hadlanah Waturoyo Ikuti Webinar Bersama Wakil DPR RI

    • calendar_month Sen, 30 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Para santri Darul Hadlanah antusias mengikuti Gebyar Muharram 1443 Halaqah Majelis Ta’lim, Minggu (29/8) kemarin MARGOYOSO – Munggu (29/8), puluhan santri Panti Asuhan Darul Hadlonah, Waturoyo, Margoyoso menjadi peserta dalam Gebyar Muharram 1443 H Halaqoh Majelis Ta’lim (HMT). Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini dihadiri oleh wakil ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar.  Antusiasme santri terlihat […]

  • PCNU-PATI

    Upacara Hari Pancasila Elemen Muda NU Tak Diundang, PMII Pati: Tidak Mencerminkan Persatuan

    • calendar_month Sen, 5 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Pcnupti.or.id- Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Kabupaten Pati yang digelar Halaman Setda Pati pada 1 Juni 2023 lalu tak mengundang elemen muda Nahdlatul Ulama (NU) Pati seperti GP Ansor, Banser, Fatayat, IPNU-IPPNU, maupun PC PMII Pati. Hal itu pun mendapat berbagai sorotan seperti unggahan akun Facebook Ansor Pucakwangi Net, beberapa hari lalu. “Salam Hormat […]

  • SAMBUTAN PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA KABUPATEN PATI

    Sambutan PCNU Pati di Hari Santri Nasional 2024

    • calendar_month Sel, 22 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Saudara-saudara santri yang saya banggakan. Dalam suasana memperingati Hari Santri tanggal 22 Oktober 2024, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, semoga rahmat, berkah, dan perlindungan-Nya senantiasa menyertai kita semua. Saudara-saudara sekalian Penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 adalah suatu […]

  • Puluhan Peserta Ikuti Diklat Astronomi LF-NU

    Puluhan Peserta Ikuti Diklat Astronomi LF-NU

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 191
    • 0Komentar

    KAYEN-Sabtu (23/11) Lembaga Falaqiyah (LF) NU Kabupaten Pati mengadakan Diklat. Dalam Kegiatan ini, Sanawi, M.Pd.I., Ketua PC LFNU Pati menegaskan bahwa pihaknya menggandeng LF PWNU Jawa Tengah dan Yayasan Joyokusumo, Pasuruhan, Kayen. Lembaga Falaqiyah merupakan lembaga di bawah naungan NU yang berkecimpung dalam dunia astronomi. Praktik pengukuran arah kiblat yang dipandu oleh Syaiful Mujab, M.Si., […]

  • Logam Jowo

    Logam Jowo

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Logam Jawa, sebuah usaha kuningan yang berkonsentrasi di bidang handle pintu. usaha yang di tekuni oleh Kader Nahdlatul Ulama di Juwana Pati Jenis     : Hadle MinimalisPanjang: 45 cmHarga    : Rp. 75.000 belum OngkirHub       : 082276951949   Logam Jawa, sebuah usaha kuningan yang berkonsentrasi di bidang handle pintu.usaha yang di tekuni oleh Kader Nahdlatul Ulama di Juwana […]

  • PCNU - PATI

    Ayat Ayat Cinta

    • calendar_month Ming, 17 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekadar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target […]

expand_less