Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Celeng, Babi, dan Anjir

Celeng, Babi, dan Anjir

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 25 Jul 2023
  • visibility 534
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Tiga bentuk umpatan di atas sengaja saya jadikan judul pada artikel ini. Mengingat, ragam bahasa yang digunakan anak-anak dan remaja kita, sekarang ini memprihatinkan. Di semua level. Entah pra sekolah, SD/MI hingga SMA/SMK/MA. Di kota dan desa sama. Meski bentuk umpatannya berbeda.

Umpatan ditinjau dari bentuknya pun beragam. Pertama, nama binatang seperti asu, babi, celeng, kerbau, dan lainnya. Kedua, kondisi kejiwaan seperti gila, stres, tidak waras, eror, dan lainnya. Ketiga, nama anggota tubuh, seperti matamu, dengkulmu, untumu, dan lainnya. Keempat, umpatan bahasa slang dan bahasa lokal seperti anjir (bentuk lain dari anjing), jancuk/dancuk, sikak, thelo, jidor, puki/pukimai, fuck, matamen picek, bajingan, dan lainnya.

Bentuk umpatan di atas bisa dilihat dari perspektif beragam. Namun umpatan yang diungkapkan tidak sesuai konteks, bukan ekspresi budaya, melainkan dijadikan alat marah-marah, maka hal itu termasuk kerusakan bahasa. Bahkan memang tidak diperbolehkan karena bahasa mengandung kekuatan magis.

*Kerusakan Bahasa Anak*

Secara konseptual, kerusakan bahasa pada anak dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Beberapa bentuk kerusakan bahasa memang beragam. Pertama, penggunaan bahasa kasar, kotor, atau ragam umpatan.

Kedua, gangguan bicara. Anak mengalami kesulitan dalam mengucapkan suara atau kata-kata dengan jelas. Ini bisa meliputi penggantian, penghilangan, atau distorsi bunyi tertentu. Contohnya, anak mungkin mengucapkan “pintu” sebagai “intu” atau “masak” sebagai “matak”.

Kedua, gangguan pemahaman bahasa. Anak mungkin memiliki kesulitan dalam memahami arti kata-kata, kalimat, atau instruksi yang diberikan kepada mereka. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam mengikuti arah, mengenali objek atau menghubungkan kata-kata dengan maknanya.

Ketiga, kelambatan perkembangan bahasa. Anak mengalami keterlambatan dalam mengembangkan kemampuan bahasa secara umum. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam memahami kata-kata, mengucapkan suara-suara atau kata-kata dengan benar, atau menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang lengkap.

Keempat, gangguan kecerdasan verbal. Anak mungkin memiliki tingkat kecerdasan verbal yang rendah, yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam memahami, menggunakan, dan memproduksi bahasa secara efektif.

Kelima, gangguan keterampilan membaca dan menulis. Anak mungkin mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Mereka mungkin memiliki masalah dalam mengenali huruf, memahami bunyi huruf, memahami teks yang dibaca, atau mengekspresikan diri secara tertulis.

Penyebab kerusakan bahasa pada anak bisa bervariasi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak termasuk faktor genetik, gangguan pendengaran, gangguan perkembangan, kelainan perkembangan otak, kurangnya rangsangan bahasa yang memadai, atau lingkungan yang tidak mendukung perkembangan bahasa.

Jika Anda mengkhawatirkan perkembangan bahasa anak, penting untuk berkonsultasi dengan seorang profesional seperti ahli bicara atau logopedi. Mereka dapat melakukan penilaian terperinci dan memberikan intervensi yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Semakin dini intervensi dimulai, semakin baik peluang pemulihan bahasa anak.

*Perkembangan Bahasa Anak*

Perkembangan bahasa anak merupakan proses di mana seorang anak belajar dan menguasai bahasa dalam berbagai aspek, termasuk kemampuan berbicara, memahami, membaca, dan menulis. Terdapat beberapa perkembangan bahasa anak yang umum terjadi.

Pertama, pada tahap awal kehidupan, anak mulai mengeluarkan suara-suara sebagai bentuk komunikasi. Mereka akan merespons suara-suara yang mereka dengar di sekitar mereka, mulai dari suara ibu, ayah, atau orang lain. Anak-anak juga mulai mengenali suara-suara dasar dalam bahasa mereka sendiri.

Kedua, tahap suara awal. Anak-anak kemudian mulai mengucapkan suara-suaranya sendiri, seperti “mama” atau “dada.” Pada tahap ini, artikulasi belum sempurna, dan anak sering kali mengucapkan suara yang masih belum jelas.

Ketiga, tahap kata tunggal. Pada tahap ini, anak mulai menggunakan kata-kata tunggal untuk menyampaikan makna. Misalnya, mereka mungkin mengatakan “air” ketika mereka ingin minum atau “main” ketika mereka ingin bermain. Anak juga dapat menggabungkan kata-kata untuk membentuk frasa sederhana.

Keempat, tahap kalimat dua kata. Anak-anak kemudian mulai menggunakan dua kata dalam satu kalimat untuk menyampaikan pesan yang lebih lengkap. Misalnya, mereka bisa mengatakan “mama pulang” atau “main bola.”

Kelima, tahap kalimat kompleks. Anak-anak kemudian mulai menggunakan kalimat yang lebih kompleks dan mengembangkan kosakata mereka. Mereka mampu menggabungkan kata-kata dengan konjungsi seperti “dan,” “atau,” atau “karena” untuk menghubungkan gagasan.

Keenam, kemampuan berbicara yang lebih lanjut. Seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak mengembangkan kemampuan berbicara yang lebih lanjut. Mereka bisa mengungkapkan ide-ide kompleks, menggunakan kalimat yang lebih panjang, dan memahami bahasa yang lebih abstrak.

Ketujuh, membaca dan menulis. Pada tahap ini, anak-anak mulai mempelajari membaca dan menulis. Mereka mengenali huruf, menghubungkannya dengan bunyi, dan menggabungkannya menjadi kata-kata. Selain itu, mereka juga mulai belajar menulis huruf, kata, dan kalimat.

*Perlu Pengawalan*

Ketika sudah mengetahui konsep kerusakan bahasa anak dan perkembangan bahasa anak, orang tua harus mengawal mereka. Bagi saya, umpatan itu sah-sah saja karena merupakan bagian dari kehidupan manusia dan bagian dari ragam bahasa di Indonesia.

Banyak kearifan lokal di Indonesia berupa umpatan yang beragam bahasanya. Namun, pengucapannya harus tahu konteks, karena salah satu temuan riset saya, umpatan itu untuk penanda keakraban, kedekatan, dan sapaan, serta ekspresi budaya seorang. “Piye kabarmu, Cuk?” Bagi orang Jawa Timur, ini bukan marah-marah dan kata-kata jelek, namun penanda keakraban. Jika tidak kenal dan akrab, tidak mungkin berani mengucapkan “cuk”.

Maka orang tua dan guru perlu mengawal perkembangan bahasa anak. Sebab, perkembangan bahasa anak dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan di sekitarnya, interaksi dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya, serta kegiatan pembelajaran yang mereka alami. 

Penting bagi orang tua dan guru untuk memberikan dukungan yang tepat dan memfasilitasi perkembangan bahasa anak dengan membaca bersama, berbicara dengan mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk berinteraksi secara verbal dalam berbagai situasi.

Tulisan ini merupakan pandangan saya terhadap beragam varian umpatan yang diucapkan anak-anak. Bisa salah bisa benar. Semua bergantung cara pandang. Bukankah begitu, Cuk?

_-Penulis adalah dosen mata kuliah Bahasa dan Sastra MI/SD Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan INISNU Temanggung._

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Pati Bagikan Takjil Selama Bulan Ramadhan

    NU Pati Bagikan Takjil Selama Bulan Ramadhan

    • calendar_month Jum, 16 Apr 2021
    • account_circle admin
    • visibility 313
    • 0Komentar

      Ratusan takjil dibagikan kepada Pengguna jalan yang melintas di depan kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati selama Ramadhan. Aksi sosial itu bagian dari program NU Peduli yang selama ini gencar menyentuh kalangan kurang beruntung. “Sebelum Ramadhan setiap Jumat kami membagikan nasi bungkus. Kami bagikan kepada warga kurang mampu yang sedang berada di pinggir […]

  • Ipmafa Setor Dua Mahasiswa ke Lazisnu Pati

    Ipmafa Setor Dua Mahasiswa ke Lazisnu Pati

    • calendar_month Sel, 15 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 325
    • 0Komentar

    PATI-Dua mahasiswa Institut Pesantren Matholiul Falah (IPMAFA), Ah. Shofi Amri dan Nur Faiz sowan ke kantor Lazisnu Cabang Pati, Selasa (15/10) siang. Mereka datang dengan didampingi dua orang dosen, Ahmad Nashiruddin dan M. Luthfi. Lazisnu Cabang Pati menyambut kehadiran dua orang mahasiswa IPMAFA didampingi dua orang dosennya untuk melaksanakan PPL di kantor Lazisnu selama 45 […]

  • Sinergi Kankemenag dan Pemerintah Daerah: Akselerasi Pemenuhan Akomodasi yang Layak Melalui Gebyar Pendidikan Inklusif 2026

    Sinergi Kankemenag dan Pemerintah Daerah: Akselerasi Pemenuhan Akomodasi yang Layak Melalui Gebyar Pendidikan Inklusif 2026

    • calendar_month Sel, 17 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.544
    • 0Komentar

      UNGARAN – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang mengukuhkan langkah strategis dalam mewujudkan ekosistem pendidikan ramah disabilitas. Melalui helat “Gebyar Pendidikan Inklusif Kabupaten Semarang 2026” di Pendopo Kabupaten Semarang (14/2), kegiatan ini secara resmi menjadi bagian dari rangkaian FGD dan pengisian Profil Belajar Siswa (PBS) yang diinisiasi oleh Direktorat KSKK Madrasah […]

  • MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    • calendar_month Rab, 23 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Warta MWC Gabus. Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Gabus mengadakan sholat Istisqo’ bersama Pagar Nusa, Ansor, Banser,Fatayat. Banser,IPNU-IPPNU. Dan sekolah-sekolah yang berada di Kec Gabus. Senin (21/9). Ribuan warga Nahdliyin  Kec Gabus mengikuti Shalat Istisqo’ yang dilaksanakan di Lapangan Desa Gabus.Hal ini dilakukan agar Tuhan memberikan berkah dan rahmat berupa hujan yang dinantikan kehadirannya. […]

  • Pembahasan Raperda Pesantren Ditarget Selesai Pertengahan November

    Pembahasan Raperda Pesantren Ditarget Selesai Pertengahan November

    • calendar_month Sen, 31 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pesantren dikebut oleh Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati. Pembahasan ini ditargetkan rampung pada pertengahan November 2022. Ketua Komisi D DPRD Pati, Wisnu Wijayanto mengatakan, Komisinya akan menyelesaikan pembahasan Raperda tersebut paling lambat sampai 14 Oktober mendatang.  “Tanggal 2 sampai 4 November kita pembahasan. […]

  • PGMI IPMAFA Gelar Pelatihan Computational Thinking

    PGMI IPMAFA Gelar Pelatihan Computational Thinking

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 348
    • 0Komentar

      Para guru MI antusias mengikuti Pelatihan Computational Thinking di aula IPMAFA  MARGOYOSO – Puluhan guru Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Pati Utara mengikuti Pelatihan Computational Thinking pada Pembelajaran Tematik Berbasis Kearifan Lokal. Kegiatan yang diadakan pada Rabu (10/11) di aula 1 lantai 2 kampus IPMAFA merupakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari dosen PGMI Fakultas Tarbiyah […]

expand_less