Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Catatan Juri Porsema XIII: Puisi Bukan Ajang Gaya, Tapi Kejujuran Rasa

Catatan Juri Porsema XIII: Puisi Bukan Ajang Gaya, Tapi Kejujuran Rasa

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
  • visibility 377
  • comment 0 komentar

Wonosobo — Ajang Lomba Cipta dan Baca Puisi Religi dalam Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII LP Ma’arif NU Jawa Tengah yang digelar di Wonosobo tak hanya menyajikan panggung ekspresi seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sastra. Hal ini ditegaskan oleh tim juri dari kalangan sastrawan Pati, yang memberikan catatan penting sebagai evaluasi bersama.

Seperti diketahui, Porsema XIII digelar di Kabupaten Wonosobo pada 10-13 September 2025. Salah satu cabang lomba bidang seni adalah puisi religi yang menghadirkan juri dari unsur penyair / sastrawan dan akademisi bidang bahasa dan sastra.

Dalam catatan resminya, salah satu juri puisi religi, Puji Pistols, menyampaikan keprihatinan atas kecenderungan peserta yang lebih sibuk menonjolkan gaya dibandingkan mendalami makna puisi. “Puisi itu dunia rasa, tapi dalam praktiknya banyak yang justru terjebak pada gaya,” ungkap sastrawan asal Kabupaten Pati tersebut.

Kesalahan Umum dalam Membaca Puisi
Salah satu kekeliruan yang banyak ditemukan adalah mendahulukan nada sebelum memahami makna. Peserta cenderung mengedepankan lengkingan suara dan intonasi dramatis, padahal isi puisinya belum sepenuhnya dikuasai. “Akhirnya, terdengar seperti orang karaoke yang salah pilih lagu: merdu tapi hampa,” katanya di sela-sela istirahat pada Jumat (12/9/2025).

Kesalahan lain yang disorot adalah pengubahan warna vokal. Banyak peserta memaksakan suara besar dengan membulatkan vokal secara tidak alami. Menurut Mbah Puji, suara terbaik adalah suara yang jujur, bukan yang dipaksa atau dipelintir.

Gestur tubuh yang berlebihan juga menjadi perhatian. Ada peserta yang tampil seperti sedang pentas tari alih-alih membaca puisi. Padahal, menurut juri, gerakan seharusnya hanya menjadi penguat ekspresi, bukan justru menutupi pesan yang ingin disampaikan.

Persaingan dalam hal kelantangan pun dinilai sebagai kesalahan. “Sebagian peserta mengira semakin keras semakin bagus. Akibatnya, ada puisi yang disampaikan seperti toa masjid subuh,” kritik juri dengan nada satir.

Inti dari pembacaan puisi, tegas mereka, adalah penyampaian makna, bukan sekadar volume suara.

Tak hanya itu, aspek penampilan juga ikut dikomentari. Sebagian peserta terlihat terlalu fokus pada kostum, seakan mengikuti peragaan busana. “Padahal, juri tidak menilai batik atau jas. Membaca puisi itu soal isi, bukan fashion show,” tambah mereka.

Catatan untuk Lomba Cipta Puisi
Tak hanya dari segi pembacaan, juri juga mencermati karya-karya cipta puisi yang dikirimkan. Tiga hal pokok menjadi catatan utama: kejujuran bahasa, kedalaman pengalaman hidup, dan kemampuan menjalin relasi dengan pembaca.

Menurut juri, puisi yang kuat lahir dari keintiman dan ketulusan kata, bukan dari sekadar tumpukan diksi indah yang kosong makna. “Puisi yang bernilai adalah yang berani menyentuh kebenaran, kehilangan, dan cinta,” tambahnya.

Lebih jauh, puisi yang baik harus mampu menciptakan relasi dengan pembaca. Imaji yang kuat dan narasi yang menyentuh akan membuat pembaca merasa diajak bicara, bukan hanya ditunjukkan poster kata-kata.

Catatan juri ini ditutup dengan pengingat bahwa puisi sejatinya bukan soal gaya berlebihan, kelantangan suara, atau pakaian yang rapi. “Pada akhirnya, puisi adalah soal kejujuran hati yang diolah menjadi bahasa,” tegas mereka.

Mengutip penyair besar W.S. Rendra, juri menekankan kembali esensi puisi: “Puisi bukanlah hiasan. Ia adalah suara hati yang menuntut kejujuran.”

Dengan catatan ini, juri berharap Porsema tidak hanya menjadi arena lomba, tetapi juga ruang pembelajaran dan refleksi bersama bagi para peserta, pendamping, hingga pegiat sastra secara umum. (Ibda)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Respon Tantangan Zaman, 100 Pengelola Medsos Sekolah Ma'arif Pekalongan Ikuti Pelatihan Literasi Digital

    Respon Tantangan Zaman, 100 Pengelola Medsos Sekolah Ma’arif Pekalongan Ikuti Pelatihan Literasi Digital

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.531
    • 0Komentar

    PEKALONGAN — Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan resmi menggandeng Institut Widya Pratama (IWIMA)Kota Pekalongan. Kolaborasi strategis ini diwujudkan melalui program pelatihan khusus bagi pengelola media sosial di lingkungan sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif NU Kota Pekalongan. Tak kurang dari 100 peserta dintanggal […]

  • Seminar Kesehatan PC Fatayat NU

    Seminar Kesehatan PC Fatayat NU

    • calendar_month Jum, 20 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

    Pati. Bertempat di Pendopo Kabupaten Pati, jajaran Pengurus Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Pati mengadakan seminar kesehatan, 3/9 kemarin. Kegiatan yang dibuka oleh Bupati Pati H. Haryanto. SH, MM, M.Si, dengan mengundang 21 PAC Fatayat  se Kabupaten Pati kurang lebihnya peserta sebanyak 450 orang, dengan menghadirkan narasumber  BALKESMAS Pati dr. Aviani Tri Tanti Venusia, MM kepala […]

  • NgAllah Suluk Maleman JANGAN JADIKAN AGAMA SEBAGAI MESIN CUCI

    NgAllah Suluk Maleman JANGAN JADIKAN AGAMA SEBAGAI MESIN CUCI

    • calendar_month Ming, 22 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.908
    • 0Komentar

      Ramadan tentu bukanlah sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum besar untuk melakukan muhasabah atau introspeksi total. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, muncul sebuah fenomena yang memprihatinkan: menjadikan agama sebagai “mesin cuci”. Kalimat satir itu diungkapkan oleh budayawan Anis Sholeh Ba’asyin saat membuka Suluk Maleman pada Sabtu (21/2). Dia menyebut dengan beribadah, seringkali seseorang sudah […]

  • PCNU-PATI

    Mustasyar PCNU Pati KH Abdul Mujib Sholeh Tutup Usia

    • calendar_month Jum, 26 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 463
    • 0Komentar

     Pcnupati,or.id- PATI – Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati, Abdul Mujib Sholeh, tutup usia, Kamis (25/1/2024) malam. Almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman Madrasah Miftahul Huda (MMH) Tayu, Jumat (26/1/2024). Ribuan pelayat pun berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati ini. Sejumlah tokoh tampak hadir dalam pemakaman KH […]

  • MWC NU Gelar Acara Tahtiman Al-Qur’an, Pelantikan Pengurus Ranting dan Launching Mobil MWC

    MWC NU Gelar Acara Tahtiman Al-Qur’an, Pelantikan Pengurus Ranting dan Launching Mobil MWC

    • calendar_month Kam, 27 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Margoyoso-Pati, 26/10/2022MWC NU Margoyoso menggelar rangkaian acara Tahtiman Al-Qur’an, Pelantikan Pengurus Ranting dan Launching Mobil MWC di Masjid Ipmafa desa Purworejo Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati pada hari Rabu (26/10/2022). Turut hadir Camat Kecamatan Margoyoso, Kapolsek Margoyoso, Danramil Margoyoso. Disamping itu hadir Ketua Tangidziyah MWC NU Margoyoso, Bapak KH. Samu’in Wage, Bapak KH. Suhaili Ya’kub, pengurus […]

  • Siswa siswi SMA dan MTs Joyo Kusumo Gelar Penanaman 1.000 Pohon di Desa Pasuruhan dan Jetis Pesagi

    Siswa siswi SMA dan MTs Joyo Kusumo Gelar Penanaman 1.000 Pohon di Desa Pasuruhan dan Jetis Pesagi

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 751
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Dalam rangka mewujudkan komitmen terhadap kelestarian alam dan pendidikan karakter berbasis lingkungan, SMA dan MTs Joyo Kusumo sukses menyelenggarakan kegiatan penanaman 1.000 pohon di Desa Pasuruhan dan Jetis Pesagi, Kecamatan Kayen. Acara yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari ini tidak hanya melibatkan seluruh civitas akademika sekolah/ madrasah di bawah naungan Yayasan Joyo […]

expand_less