Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Biksu Menabung untuk Menerbitkan Tao Te Ching

Biksu Menabung untuk Menerbitkan Tao Te Ching

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 5 Sep 2022
  • visibility 320
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Sebuah kisah menarik dari legenda Jepang. Konon ada seorang biksu yang tertarik menerjemah dan menerbitkan buku Tao Te Ching ke dalam bahasanya. Sembari menerjemah ia menabung untuk menerbitkannya kelak. Kurang lebih 10 tahun ia berhasil mengumpulkan dana yang kira-kira cukup untuk menerbitkan hasil terjemahannya itu. Ketika siap mencetak bukunya tiba-tiba terjadi bencana besar, yakni wabah penyakit sampar. Sang biksu ragu untuk menggunakan ambisinya menerbitkan terjemahannya itu.

Ia mengambil keputusan bahwa dana yang sudah dikumpulkannya itu akan peruntukkkan orang-orang yang terkena penyakit. Dan dengan sekejap uangnya habis seketika. Saat keadaan sudah mulai normal, sang biksu mulai kembali mengumpulkan uang untuk menerbitkan terjemahannya itu. Nampaknya mimpinya masih tetap terjaga. 10 tahun telah berlalu dan dananya pun sudah cukup untuk membiayai mimpi yang sempat tertunda. Namun bencana terjadi lagi. Kali ini gempa bumi melanda desa itu.

Banyak orang kehilangan rumah dan pekerjaan. Sang biksu tak tega melihat kenyataan itu. Lagi-lagi, dengan legowo ia merelakan uang yang sudah dikumpulkan kali keduanya. Dan seperti kejadian sebelumnya, uangnya dengan sekejap habis dibuat membeli segala keperluan pembangunan rumah masyarakat. Setelah semua kembali normal, ia memulai kembali mengumpulkan uang. 10 tahun kemudian, sang biksu berhasil menerbitkan terjemahan Tao Te Ching. Dan semua penduduk bahkan seluruh rakyat Jepang bisa membacanya.   

            Perihal kisah di atas Paulo Coelho memberikan komentar yang sungguh menarik, yang berbunyi, “Orang-orang bijak mengatakan bahwa sebenarnya sang biksu telah menerbitkan tiga buku Tao ini: dua dalam versi yang tidak kasatmata, dan satu dalam bentuk tercetak. Dia meyakini Utopia-nya, berjuang mewujudkan hal yang baik, dan tetap setia pada tujuannya, namun sekaligus tidak mengabaikan sesamanya. Saya berharap kita semua bisa meniru teladannya: kadang-kadang buku-buku yang “tidak kasatmata”, yang muncul dari kemurahan hati yang diperlihatkan terhadap sesama, sama pentingnya dengan buku-buku yang mengisi perpustakaan-perpustakaan kita.”[1]

            Aduhai, indah sekali perkataan Paulo Coelho itu. Keteladan sang biksu patut kita tiru dalam laku keseharian kita. Saya jadi teringat perkataan Siti Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Quran yang berjalan. Dengan kata lain apa yang dilakukan Rasulullah merupakan pengejawantahan dari segala yang termaktub dalam Al-Quran. Segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarangnya diamalkan. Jadi, kalau kita ingin melihat ajaran Al-Quran, lihatlah Nabi Muhammad. Kira-kira begitu gambarannya. 

            Impian baik kita sebetulnya tidak lebih penting dari perilaku baik kita dalam keseharian. Kita mempunyai impian dan cita-cita luhur namun kerapkali melupakan hal-hal sepele yang terjadi dalam lingkungan kita, yang justru bertolak belakang dengan cita-cita mulia itu sendiri. Fokus kita terlampau jauh. Mestinya, memelihara cita-cita itu harus sejalan dalam laku keseharian kita. Misalnya saja, orang ingin menjadi dokter atau insinyur, tapi dia tidak peduli dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan dia yang ada di sekelilingnya.

Mestinya sembari dia meraih cita-citanya, sembari dia peduli pula dengan yang ada di sekelilingnya. Jadi, tatkala dia sudah berhasil menolong orang yang ada di sekelilingnya, sesungguhnya dia sudah meraih cita-citanya. Itu adalah inti kehidupan. Cita-cita menjadi dokter, insinyur, ilmuwan, dan lain-lain, sesungguhnya itu adalah sarana (wasilah) bukan tujuan (ghayah). Pemahaman inilah yang mungkin harus kita tanamkan dalam benak kita. Karena tidak sedikit orang terjebak dalam masalah ini.

Semua sarana yang disebutkan di atas sebetulnya tujuannya adalah satu: melakukan kebaikan (sesuai dengan profesinya). Ya, kebaikan. Itulah sebenarnya yang harus dijadikan tujuan. Apa pun profesi kita pada hakikatnya adalah hendak melayani orang lain sesuai dengan keahlian yang kita punya. Jadi keliru apabila ada di antara kita yang menjadikan cita-citanya sebagai tujuan, bukan sarana untuk menebar kebaikan. Paradigma berpikir seperti ini saya kira sangat penting agar kita tidak putus asa dalam usaha meraih impiannya.

Bisa dibayangkan, betapa kecewanya apabila ada orang yang gagal dalam meraih impiannya, padahal dia sudah mengupayakannya. Misalnya saja ada orang ingin menjadi guru PNS. Dia mencoba berkali-kali ikut tes ketika ada pembukaan, tapi dia selalu gagal. Kemungkinan besar dia kecewa. Dan bisa jadi putus asa. Padahal, menjadi guru PNS adalah sarana untuk menjadi guru yang terdaftar sebagai pegawai negara, alias digaji oleh negara. Sedang tujuannya adalah mengajar siswa tentang pengetahuan. Kalau sudah bicara tujuan, semestinya dia tidak perlu kecewa hanya lantaran, misalnya, sebagai guru swasta maupun honorer.

Tentu soal lain apabila sudah berbicara soal gaji dan pendapatan. Karena barangkali itu pula yang dikejar banyak orang mengapa ingin menjadi PNS. Terlalu rendah jadinya kalau itu menjadi ukuran. Soal gaji dan pendapatan itu soal keahlian dan strategi saja. Jadi ada niat yang keliru kalau ada orang ingin menjadi guru PNS karena gaji yang lumayan dan jaminan seumur hidup. Karena di luar PNS pun soal gaji dan jaminan cukup menjanjikan apabila kita mau mencarinya. Dengan berbisnis, misalnya.

Jelas sudah antara sarana dan tujuan. Kembali ke cerita awal tentang biksu yang bercita-cita ingin menerbitkan terjemahan Tao Te Ching, bahwa sang biksu sadar sesadar-sadarnya bahwa keinginan tersebut hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuan yakni agar orang mendapatkan pencerahan dan kehidupan yang baik, dalam hal ini, lewat bukunya itu dimana nanti bisa dibaca khalayak masyarakat. Oleh karena itu, dia tidak ragu tatkala desanya ditimpa musibah, dana yang dikumpulkan untuk biaya cetak, dia pergunakan untuk keperluan desanya tersebut, entah itu membeli obat-obatan, membangun rumah, membeli makanan, dan lain-lain.      

            Nampaknya, di zaman ini banyak orang menukar antara keduanya, ghayah dijadikan wasilah dan wasilah dijadikan ghayah. Akibatnya banyak orang berperilaku buruk dan merugikan diri sendiri dan masyarakat, bahkan negara. Oleh karena itu, ada hal yang harus selalu diingat, bahwa dunia ini hanya sekadar wasilah, bukan ghayah. Bahwa hidup di dunia ini ibarat sekadar mampir minum. Menurut Gus Mus, panggilan akrab Mustofa Bisri, kalau sudah segalanya dunia, Al-Quran dibaca beribu kali itu tidak akan berpengaruh, apalagi Al-Quran hanya dagingnya saja (dipahami simbolik saja). Zikir atau istigasah tidak akan ada gunanya, kalau cuma daging saja.

            Betul dengan apa yang dikatakan Gus Mus bahwa tampaknya kehidupan kita ini kita sudah jatuh pada yang sifatnya daging-daging saja. Sedang substansial atau ruh itu sudah semakin jauh, karena kita sudah ke daging dan daging. Semoga kita selalu sadar dan dapat membedakan mana wasilah dan mana ghayah. Wallahu a’lam bi al-shawab. []


                [1] Ibid., hlm. 168

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    MTs Darun Najah Sukses Adakan Testing Kitab Kuning

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 340
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id MARGOYOSO-Kamis (2/3) kemarin, MTs Darun Najah, Ngemplak, Margoyoso sukses menyelesaikan agenda tahunan, Testing Kitab Kuning dan Baca Al Qur’an.  Testing tersebut merupakan program akhir tahun sebagai salah satu penentu kelulusan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.  “Ini adalah agenda tahunan yang rutin diadakan sejak madrasah ini didirikan,” terang Hasyim, Kepala MTs Darun Najah.  Meski sebelumnya sempat […]

  • 99 Kader GP Ansor-Banser Pati Ikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar dan Diklatsar

    99 Kader GP Ansor-Banser Pati Ikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar dan Diklatsar

    • calendar_month Sel, 22 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Sebanyak 99 kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor-Banser di Kabupaten Pati mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) serta Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). Kegiatan itu berlangsung di SMK Tiara, Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, pada tanggal 18 hingga 21 Juli 2025. PKD dan Diklatsar ini merupakan gabungan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor se-Korwil I, […]

  • PCNU-PATI

    Pentas Seni Senja Berpuisi Perkenalkan Sastra Untuk Anak Muda

    • calendar_month Sen, 21 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jakarta, Senin 21/8/2023,-  “Pentas seni Senja Berpuisi kali ini sengaja mengambil lokasi publik area untuk memperkenalkan dunia sastra khususnya kepada anak-anak muda generasi milenial di Kota Jakarta dan sekitarnya,” jelas Diki Lukman Hakim, Kepala Perpustakaan Jakarta dan Kepala Satuan Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin. Dalam wawancara khusus dengan penulis  di ujung acara Pentas […]

  • NU Pati Serahkan 1 Truk Besar Bantuan untuk Korban Semeru

    NU Pati Serahkan 1 Truk Besar Bantuan untuk Korban Semeru

    • calendar_month Ming, 19 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Penyaluran Bantuan untuk korban Semeru secara simbolis diserahkan oleh ketua PC Lazisnu Pati, KH. Niam Sutaman (pegang kardus, kanan) kepada pengurus PCNU Lumajang LUMAJANG – Bantuan untuk Semeru masih terus berdatangan. Kali ini datang dari NU Kabupaten Pati Jawa Tengah yang membawa satu Truck bantuan pada Jum’at, (17/12) ke Posko utama NU Lumajang Peduli Gedung […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

    • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.227
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ramadan tahun 2025 lalu, sekira h-3 Idulfitri saya nyetatus di WA. “Hidupnya di kota. Berbuat dosa di kota. Mudiknya ke desa. Meminta maafnya di desa.”   Ada sekira empat rekan mengomentari seingat saya. Komentarnya tidak ada yang serius. Malah tertawa semua. “Hahahahaha…..” ada yang agak panjang “Ha…. Benar, mas!.” That’s […]

  • PCNU-PATI Photo by Philip Oroni

    Puisi Puisi Eska Mariska

    • calendar_month Ming, 20 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Pesan setiap kali aku singgah di tempat yang sama rasanya begitu nyata kamu yang menatapku aku membalas malu-malu desiran ombak yang membawamu ke sisiku menyadarkanku akan kehadiranmu sesaat-menyenangkan lalu aku berbisik kepada angin untuk membawakan secarik pesan yang aku tulis di tengah kerumunan 24 Juli 2022 Tak Pernah Usai percakapan kita tak pernah usai setiap […]

expand_less