Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Emergency Couple

Emergency Couple

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 20 Nov 2022
  • visibility 566
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Sejak Faris berubah wujud dari lelaki bersarung menjadi lelaki berdasi, Najiya terus berpikir siapa sebenarnya Faris. Sepertinya Mr. Bunglon itu bukan orang sembarangan. Sejak awal bertemu, ia punya firasat sendiri mengenai lelaki pemilik panti tersebut. Ia punya aroma bangsawan. Wajahnya penuh misteri memendam sekam. 

Wajah tirus dengan hidung mancung, bibir berbentuk lambang hati dan mata sejernih telaga komplit dengan irit bicara dan sikap dinginnya, Faris memang terkesan elusif tapi mampu memenjarakan perasaan perempuan mana saja. Auranya elit berwibawa dan beretika. 

Najiya mencoba menerka-nerka dan mengaitkan hasil pengamatan dengan sikap Bik Misih. Perempuan itu selalu memanggilnya “Den” dan panggilan itu familiar untuk kalangan kasta tinggi seperti bangsawan, juragan besar atau seorang Tuan Muda bergelimang harta. 

Mata Najiya kini menumbuk pada kedua sepatu hitam mengkilat Faris, terus menyusuri penampilan lelaki yang berjalan dengan tegap berwibawa di depannya dari bawah ke atas. Ia yakin semua atribut yang dikenakan Faris tidak kaleng-kaleng. 

Sebagai mantan mahasiswi kedokteran dengan pergaulan luas dari berbagai kalangan orang-orang berkelas dan borjuis, ia tahu brand barang-barang terkenal dan bergengsi seperti Gucci, Christian Louboutin, Jimmy Chou, sampai yang teratas Balenciaga. Dan jas itu, ia tahu harga jas yang dikenakan Faris dan Vicky adalah harga langit. 

“Dia memang bunglon. Mr. Bunglon,” gumam Najiya. 

Suara lirihnya beradu dengan suara sepatu Faris dan Vicky yang berdekak-dekak menghantam lantai. Namun sayangnya masih tertangkap di telinga Faris. Lelaki itu mendadak berhenti dan menoleh ke belakang. Membuat Najiya terkesiap dan dahinya hampir membentur dada Faris. Gadis itu mendongak lalu menemukan sepotong wajah yang menatapnya tajam. 

“Kau bilang apa?” Tanya Faris dengan tatapan penuh selidik. Vicky memandang Najiya dan Faris bergantian. Dua pasang insan manusia itu saling beradu tatap. Najiya merasa kesulitan bernapas berada begitu dekat dengan Faris. Bau Parfum Jo Malone semakin tajam merajami hidungnya. Membuat bicaranya tak tertata dengan baik. 

“Emmm… saya nggak apa-apa. Maksud saya, saya nggak bilang apa-apa,” jawab Najiya dengan ekspresi grogi. 

“Tapi saya yakin kamu tadi mengatakan sesuatu.” Faris tetap menuntut.

“Em, kita mau kemana? Tolong antarkan saya pulang,” sahut Najiya cepat–mengalihkan pembicaraan. 

“Apa kau sudah memutuskan hendak pulang kemana?” 

“Ke.. Ke rumah saja.” 

“Good. Saya akan mengantarmu sampai rumah.” Faris segera berbalik. Memasukkan kedua tangan pada saku celananya. 

“Ah, bagaimana kalau antarkan saya saja ke tempat dimana mobil saya berada? Saya bisa pulang sendiri,” seru Najiya dengan mata berbinar. Kenapa tidak dari tadi ia meminta seperti itu. Mengapa ia tadi loading dan menurut saja saat diminta mengikuti Faris? 

“Tidak! Aku takut nanti kamu akan bunuh diri lagi,” tampik Faris tanpa menatap Najiya. 

“Bunuh diri?” Vicky terkejut. Lelaki berambut ikal itu menatap Najiya lagi dengan tatapan yang lebih intens. 

Tiba-tiba saja sebuah suara milik seorang perempuan paruh baya hinggap lagi di benaknya. “Ini loh, Vick calonnya Faris. Dokter Najiya. Cantik ya? Dia anak sahabatku. Kami sudah lama ingin jadi besan.” Nyonya Kamelia dengan bangga memperlihatkan sebuah foto seorang dokter muda dengan outer sebuah jas putih kebanggaan dipadu inner blouse katun hijau tua menyunggingkan senyum manis di sana. Rambut gadis itu bergelung indah kecoklatan dengan stetoskop melingkar di dadanya. Tangan kiri tenggelam dalam saku kiri, sedang tangan kanan membawa sebuah buku kesehatan bersampul hitam. 

Kedua mata Vicky melebar, ia berhasil menumpas rasa penasarannya. Dalam kacamata Vicky Najiya sama-sama cantik dengan atau tanpa hijab. Namun berpenampilan tertutup begini membuat gadis itu terlihat jauh memesona. 

“Saya janji nggak akan melakukannya lagi, please? Please, biarkan saya pulang sendiri saja,” bujuk Najiya dengan suara memelas. 

“Ah, sekarang saya ingat. Apa kamu Najiya dokter itu?” sela Vicky membuat Faris menatapnya tajam. Namun sayang, Vicky tak menyadari kode itu. Ia tetap mengoceh. Najiya sendiri heran kenapa lelaki yang baru saja melihatnya bisa tahu tentangnya.

Ah, mungkin lelaki ini sudah tahu tentangku berkat video jahanam yang sedang viral itu, terka Najiya pada dirinya sendiri. 

“Jadi kalian sudah sepakat dan memutuskan untuk meni….” 

“Vicky…  kau mau aku bunuh?” sembur Faris tak sabar. Vicky segera menutup mulut. Wajahnya bingung. Kenapa Faris justru memarahinya. Bukankah Tuan Muda Faris dan Najiya sudah mendengar kabar perjodohan itu dan saling tahu lewat orang tua masing-masing? Rasa penasaran bercokol dalam benak Vicky setelah yakin perempuan yang berdiri didekatnya adalah calon istri atasan sekaligus sahabatnya Faris. Dokter Najiya. 

Najiya lebih bingung lagi. Apakah dua lelaki ini sedang berdebat gara-gara aku? Tanyanya dalam hati. 

“Loh …  loh, Den. Mau kemana? Non?” Bik Misih muncul dan langsung berseru sambil lari tergopoh-gopoh menghampiri majikan serta dua orang yang berdiri di langkan aula. Mereka telah rapi dan bersiap pergi. 

“Kami mau ke kantor lalu bersiap menghadiri acara di Bali, Bik,” jawab Vicky mewakili. 

“Lha Non…  em siapa namanya? Oh ya, anak-anak manggilnya Kak Najiya ya? Ya Allah sampai ndak sempet kenalan secara resmi sudah mau pergi,” sesal Bik Misih. Perempuan berpipi chubby itu meraih tangan Najiya. 

“Kami akan mengantarnya pulang,” lanjut Vicky lagi. 

“Besok-besok mampir lagi ya, Non? Oh ya baju pengantinnya belum kering,” tukas Bik Misih mengingat pakaian Najiya awal datang ke panti kemarin. Itu membuat alis Vicky naik sebelah. Dugaannya semakin kuat tentang Faris dan Najiya.

“Apa mereka sudah meni….” Vicky menyela. Menatap Bik Misih sungguh-sungguh. Ia yakin perempuan tambun pengasuh panti tahu sesuatu tentang mereka berdua. Tapi lagi-lagi kalimatnya dipotong oleh Faris. “Ya sudah kami pergi dulu, Bik. Jaga anak-anak.”

Faris segera melangkah cepat menuju halaman. Bik Misih hanya manggut-manggut seperti burung beo. Najiya dan Vicky menyusul setelah menganggukkan kepala pada Bik Misih. 

“Maaf, Bik baju ini nanti saya kembalikan. Saya pamit dulu,” ujar Najiya sambil menunjuk pakaian yang melekat di tubuhnya. 

“Ah, nggak usah, Non. Non pakai aja. Cocok dan cantik.” 

Bik Misih tertawa lebar. Sekali lagi Najiya menganggukkan kepala dan berterima kasih. 

Beberapa anak kecil berebut mencium tangan Najiya. Mereka sedih saat tahu Najiya harus pulang dan hanya sebentar saja singgah. 

“InsyaAllah kapan-kapan kakak mampir lagi ya. Nanti tak bawakan coklat dan boneka yang banyak,” ucap Najiya sambil mengusap satu persatu anak-anak yang berdiri mengelilinginya. Mereka bertampik sorak dan tak sabar Najiya akan mampir lagi. 

Sebuah mobil Lexus LX 570 terparkir gagah di halaman luas panti. Mata Najiya terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga. Itu adalah mobil impiannya. Salah satu impian yang  pupus sebab beberapa tahun ke depan ia harus melunasi hutang-hutang dulu. Bahkan mobil merah jazznya terancam musnah. 

“Mr. Bunglon memang bukan orang sembarangan,” gumam Najiya sebelum melangkah menuju mobil mengikuti Faris dan Vicky. 

Najiya merasa diperlakukan layaknya seorang putri begitu Vicky membukakan pintu mobil untuknya. Dia duduk di tengah, sedang Faris di depan menemani Vicky menyetir. Beberapa anak melambaikan tangan dan bersorak hingga mobil lenyap dibalik pintu gerbang. 

“Mobilmu sudah diambil pegawaiku untuk diantar ke rumahmu.” 

Suara Faris memecah kebekuan. Setelah beberapa detik yang lalu ia berbicara seseorang lewat telepon. 

“Bisakah saya mengambil ponsel sebentar di mobil itu?” Tanya Najiya. Ia perlu mengecek beberapa hal. Namun sebuah nada dering dari ponsel Faris membuat gadis itu urung mendapat jawaban. Faris memang tampak sibuk sejak Vicky muncul. Lelaki itu juga sempat mengingatkan rangkaian acara dalam jadwal harian Vicky. Sepertinya Vicky adalah jam weker hidup bagi Faris. 

“Iya, Mi?” 

Sebuah suara panik menyerang telinga Faris. Najiya bisa melihat bagaimana Faris beberapa kali menjauhkan ponsel dari telinganya. 

“Ris, kakekmu drop lagi. Bisa pulang sekarang tidak? Mami khawatir.” 

“Kenapa tidak langsung dibawa ke RS saja, Mi?” 

“Beliau nggak mau. Kekeh dirawat di rumah saja. Mana Dokter Damar keluar kota. Kakek pengen ketemu sama kamu.” 

“Baik, saya pulang sekarang. Mami tak usah khawatir.”  Faris menutup teleponnya. Tanpa perintah Vicky memutar setir dengan ligat. 

Lexus berwarna silver mengkilat segera berbalik arah menuju Royal Residence di mana kediaman Albana berada. Faris sempat menoleh ke arah Najiya sekilas. Ada debur ombak dalam dadanya. 

“Loh, antarkan saya pulang dulu, Mister,” ucap Najiya panik saat mendengar kalimat terakhir Faris tentang pulang. 

“Tak ada waktu. Kakek butuh pertolongan.” 

Najiya menghela napas. Ia tak mampu lagi berkata-kata.

Jadi aku akan ke rumah Mr. Bunglon? Sebuah pertanyaan mengusik ketenangannya.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Moderasi Beragama

    • calendar_month Sab, 26 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Dalam bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata-rata), core (inti), standard (baku), atau non-aligned (tidak berpihak). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. Sedangkan dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padananmakna dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith.

  • Kapolres Baru Sowani Ulama-Ulama NU

    Kapolres Baru Sowani Ulama-Ulama NU

    • calendar_month Jum, 16 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 574
    • 0Komentar

    Sambangan AKBP Christian Tobing, SIK, MH.M.Si, Kapolres Baru Pati di rumah K. Yusuf Hasyim (Ketua PCNU Pati)  WINONG-Kapolres Pati AKBP Christian Tobing, SIK, MH.M.Si mengunjungi kediaman ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim, Rabu (14/7). Dalam sambangannya tersebut, Kapolres baru ini mendiskusikan beberapa hal.  Selain memperkenalkan diri sebagai pejabat baru di lingkungan Polres Pati AKBP Christian Tobing […]

  • Peroleh 20 Medali, Kontingen Pati Menempati Urutan Keempat Porsema XIII Jateng

    Peroleh 20 Medali, Kontingen Pati Menempati Urutan Keempat Porsema XIII Jateng

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 713
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Kontingen Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menempati urutan keempat dalam Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII Jawa Tengah Tahun 2025, yang berlangsung di Kabupaten Wonosobo. Adapun urutan juara diumumkan pada penutupan Porsema XIII di Gedung Sasana Adipura Kencana, Wonosobo, Sabtu (13/9/2025) pagi. […]

  • Launching Mobil Layanan Umat Lazisnu Ranting Tluwuk

    Launching Mobil Layanan Umat Lazisnu Ranting Tluwuk

    • calendar_month Rab, 3 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Wedarijaksa, 01/01/2024. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Wedarijaksa, laksanakan program kegiatan Lailatul Ijtima di Gedung NU Wedarijaksa. Kegiatan ini dihadiri oleh Rois Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Lembaga dan Banom NU, serta Pengurus Lazisnu Wedarijaksa. Rois Syuriyah, KH. Muhammad Munadi memimpin istigosah dan berdo’a untuk keselamatan Negara Indonesia. Dengan istigotsah diharapkan, Indonesia menjadi Negara yang baldatun, […]

  • MMH Tayu Cetak 90 Calon Anggota IPNU-IPPNU

    MMH Tayu Cetak 90 Calon Anggota IPNU-IPPNU

    • calendar_month Sab, 4 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 548
    • 0Komentar

    Suasana pembukaan Makesta IPNU IPPNU MMH Tayu, Kamis (2/9) TAYU – MA Miftahul Huda  mengadakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta merupakan tahap kaderisasi pertama dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Agenda ini diharapkan mampu mencetak kader yang mampu menjalankan tugas di tengah-tengah masyarakat dengan memegang ajaran Islam […]

  • Puisi-Puisi Melisa Yusrina

    Puisi-Puisi Melisa Yusrina

    • calendar_month Sab, 14 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 525
    • 0Komentar

      Sepucuk Kata Untuk Rekanita   Keringatmu adalah semangat Lelahmu adalah cambuk kehidupan Langkahmu tanda perjuangan Pengabdianmu tanda cinta   Semua itu hanya untuk satu tujuan Untuk menyirnakan kegelepan Untuk tetap melanjutkan perjuangan sang panutan Mekar seribu bunga di taman Mekar cinta pada ikatan Sehat selalu rekanita tersayang Tetaplah belajar, berjuang, dan bertaqwa tanpa bosan. […]

expand_less