Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » NgAllah Suluk Maleman; Refleksi Kemerdekaan untuk Kedaulatan, Kemerdekaan di Mulai dari Pikiran

NgAllah Suluk Maleman; Refleksi Kemerdekaan untuk Kedaulatan, Kemerdekaan di Mulai dari Pikiran

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 19 Agu 2026
  • visibility 18.042
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id.Pada momen bulan kemerdekaan, Suluk Maleman kembali mengajak untuk merenung. Budayawan Anis Sholeh Ba’asyin menyebut merdeka harus diartikan mandiri atau berdaulat.
Anis menyebut bahwa istilah merdeka dalam konteks geopolitik adalah terjemahan dari kata independen, yakni tidak bergantung pada yang lain. Dalam kaitan proklamasi kemudian diartikan sebagai pernyataan terlepas dari cengekeraman penjajah.
“Jika kemerdekaan hanya dimaknai demikian, muncul kekhawatiran bahwa kemerdekaan hanya sekadar perpindahan dari penguasa lama ke penguasa baru. Dan kekhawatiran semacam itu pernah diungkap oleh Tan Malaka,” terang Anis.
Apa yang dikhawatirkan Tan Malaka, semakin ke sini terasa semakin nyata. Berbeda dengan fase awal kemerdekaan dimana semangat kerakyatan para tokoh bangsa masih sangat kental, sehingga tidak mencari kepentingan diri sendiri.
“Al Qur’an menyebut para syuhada itu terus hidup dan tidak mati. Kita tahu mereka yang gugur saat berjuang melawan penjajah adalah syuhada. Karena masih hidup, mereka pasti marah melihat negara yang dibentuk atas pengorbanan mereka ternyata berubah menjadi ajang kenduri sekelompok elite seperti ini? Tampaknya faktor ini tidak pernah diperhitungkan,” imbuh dia.
Anis kemudian menyoroti makna kata ‘rakyat’. Kata diserap dari bahasa Arab ra’iyah yang berarti: yang digembalakan, yang dipelihara, yang dijaga. Dalam kaitan ini, menjadi pemimpin artinya menjadi pemelihara, pengurus dan penjaga rakyatnya.
“Dari sisi ini, penggunaan istilah ‘pemerintah’ pada dasarnya tidak tepat, dan cenderung bias karena tekanannya pada sisi memberi perintah. Ini berkemungkinan membuat para pemegang kuasa merasa bebas memerintah, sementara rakyat hanya wajib mematuhinya.”
Dalam khasanah Jawa, Anis meneruskan, dikenal istilah pamong praja dan pangreh praja. Kalau istilah pemerintah dipahami dalam konteks pangreh praja, titik beratnya memang pada sisi memerintahnya.
“Seharusnya istilah yang tepat dipakai adalah pamong praja, karena titik beratnya adalah mengasuh dan melayani rakyat, bukan sisi sebagi pemberi perintah,” sambungnya.
“Kita harus ingat ada hadis yang menyebut bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya akan yang dipimpinnya,” ujar Anis mengingatkan.
Dari satu sisi, hadits ini menyiratkan bahwa kemerdekaan harus di mulai dari pribadi-pribadi yang merdeka mengelola dirinya, pribadi-pribadi yang merdeka sejak dari pikirannya.
“Hal ini penting untuk ditekankan, karena banyak bekas negara jajahan mengalami apa yang bisa disebut Stockholm syndrome, jatuh cinta pada penyandera atau penjajahnya. Sehingga gagal mengenali dan merealisasi peradabannya sendiri,” jelasnya.
Kecuali makna kata rakyat, Anis juga menjelaskan makna masyarakat. Masyarakat diserap dari kosa kata Arab ‘syaraka’, yang artinya artinya ikut serta atau berpartisipasi dalam dalam suatu ikatan dan kesepakatan bersama.
“Bila rakyat adalah posisi politik, maka masyarakat adalah posisi budaya atau peradaban, atau dalam kata lain lebih dekat dengan makna society dalam bahasa Inggris, atau masyarakat sipil,” kelas Anis.
“Kita seharusnya melihat masyarakat sebagai suatu entitas yang terikat dalam kepentingan bersama. Fungsi pemimpin adalah menjalankan kebijakan sesuai kesepakatan bersama tersebut. Bukan membuat kebijakan berdasar kemauan sendiri,” ungkap dia.
Konteks keterikatan antar suku dan bangsa itu juga tercermin dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Baik sejak era kerajaan, hingga perjuangan dalam meraih kemerdekaan.
“Era kerajaan Demak melalui ratu Kalinyamat sudah memiliki kesadaran untuk mengirim pasukan ke Malaka untuk menghadang Portugis. Perlawanan Diponegoro walaupun dilakukan di Jawa tapi banyak dibantu pasukan dari Bugis, Ambon, dan berbagai daerah lainnya. Sehingga tidak hanya memperjuangkan kedaerahan saja,” terang dia.
Anis menambahkan, jejaring ulama di nusantara juga semakin menguatkan perjuangan terhadap kemerdekaan. Sehingga dia tak melihat perlawanan itu secara parsial melainkan memiliki keterkaitan yang cukup kuat.
“Narasi tanpa ada penjajahan Belanda tidak akan terbentuk negara Indonesia adalah narasi sesat. Karena sejak awal Indonesia bukan negara kosong. Ada banyak kerajaan dan ulama yang sudah saling terhubung menjadi suatu ikatan masyarakat yang kuat. Sehingga boleh dikatakan, Indonesia secara peradaban sudah terbentuk sebelum Belanda masuk. Belanda hanya menegaskan bahkan mereduksi wilayah,” imbuh dia.
Kerajaan-kerajaan yang tersebar di Indonesia itu bahkan dengan sukarela menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan dan penderian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini menunjukkan bagaimana jejaring nusantara sudah terbangun dengan begitu kuat.
“Harus diingat, para raja itu punya wilayah dan kekuasaan nyata. Tapi ketika kemerdekaan, mereka semua mendukung Indonesia. Kalau belum ada jejaring yang kuat, pasti Indonesia tidak akan terbentuk. Mereka menghindari ego sektoral kerajaan sendiri meski bisa mendeklarasikan kerajaannya masing-masing,” imbuh dia.
Peran jejaring ulama juga tak kalah pentingnya dalam sejarah kemerdekaan. Resolusi jihad dari Kiai Hasyim Asyhari memberi semangat besar dalam perlawanan melawan penjajah.
“Aceh baru mendengar proklamasi satu bulan kemudian. Setelah mendengar berita tersebut, para ulama segera berkumpul dan bersepakat mendukung proklamasi. Ini terjadi di semua daerah,” ujar dia.
Oleh karena itulah dengan semangat keterikatan masyarakat yang kuat itulah, Anis mengajak agar bangsa ini harus berani berdaulat. Sehingga apa yang dicita-citakan lewat kemerdekaan dapat benar-benar terwujud.
Topik yang menggugah semangat itu sendiri kian hangat dengan iringan musik dari Sampak GusUran. Ratusan masyarakat tampak khidmat menyaksikan baik secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia atau melalui berbagai media sosial Suluk Maleman.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenag Pati Gelontorkan Zakat Rp 782 Juta untuk Bedah Rumah dan Modal Usaha

    Kemenag Pati Gelontorkan Zakat Rp 782 Juta untuk Bedah Rumah dan Modal Usaha

    • calendar_month Kam, 9 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.588
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh jajaran Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati. Memasuki pertengahan tahun ini, Kemenag Pati melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) resmi menggelontorkan dana zakat dengan total mencapai Rp 782 juta. Dana yang terkumpul sepanjang triwulan kedua tersebut dialokasikan langsung untuk mendongkrak kesejahteraan warga, mulai dari urusan pemenuhan kebutuhan pokok, modal […]

  • Harlah Ke-20 Almadina, Wujud Syukur Dua Dekade Mengabdi untuk Pendidikan

    Harlah Ke-20 Almadina, Wujud Syukur Dua Dekade Mengabdi untuk Pendidikan

    • calendar_month Sab, 20 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.005
    • 0Komentar

    WONOSOBO – Yayasan Almadina Wonosobo memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-20 dengan menggelar kegiatan Almadina On The Road (OTR) di Alun-Alun Wonosobo, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum syukur atas perjalanan dua dekade Almadina dalam berkontribusi membangun pendidikan dan mencetak generasi berkarakter. Ribuan peserta yang terdiri atas pengurus yayasan, dewan guru, tenaga kependidikan, wali murid, serta […]

  • Sisi Kontroversi Zakir Naik

    Sisi Kontroversi Zakir Naik

    • calendar_month Sen, 17 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 628
    • 0Komentar

    DR. Zakir Naik, begitulah panggilan sosok yang menjadi viral akhir-akhir ini di dunia maya. Ia adalah seorang dokter sekaligus pendakwah (pembicara dalam masalah keagamaan) hebat. Namanya kini mulai diperbincangkan dunia. Hampir semua orang dari seluruh pelosok dunia mengenalnya setidaknya pernah mendengar nama dan kehebatan dakwahnya. Kehebatan dakwahnya telah berhasil mengislamkan ratusan ribu nonmuslim. Tidak hanya […]

  • PCNU - PATI

    Jaringan Sekolah PAC IPNU IPPNU Kayen Bekali Siwa Baru Materi Keaswajaan

    • calendar_month Kam, 21 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    KAYEN – Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) dimanfaatkan oleh Departemen Jaringan Sekolah PAC IPNU-IPPNU Kayen untuk memberikan sosialisasi Keaswajaan (Ahlusunah Wal-Jama’ah) kepada para peserta didik baru. Hal ini sebagai tindak lanjut agenda program Departemen Jaringan Sekolah (JS) PC IPNU IPPNU Pati yang akan mengadakan pertemuan dengan OSIS di beberapa sekolah. Pertemuan ini diharapkan menjadi pintu […]

  • Islam Agama Nurani. Photo by Mubashir Ahmet on Unsplash.

    Islam Agama Nurani

    • calendar_month Kam, 29 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 425
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Malam takbir Idul Qurban mengingatkan pelajaran Fiqih di madrasah tempo dulu. Seorang guru menjelaskan binatang yang sah digunakan qurban, di antaranya, genap usianya dan tidak cacat fisik. Step berikutnya, kalau bisa ya yang jantan, berbadan besar dan lain sebagainya. Intinya, carilah binatang terbaik di kelasnya. Kalau domba ya domba terbaik, kalau […]

  • Perkuat Lingkungan Ramah Santri, RMI NU Gelar 'Sambang Pesantren' di Pati

    Perkuat Lingkungan Ramah Santri, RMI NU Gelar ‘Sambang Pesantren’ di Pati

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.519
    • 0Komentar

      ​PATI — Upaya memperkuat keharmonisan dan keamanan di lingkungan pesantren terus digalakkan. Pengrus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan SAKA Pesantren, bekerja sama dengan PWNU Jawa Tengah serta PCNU Kabupaten Pati, sukses menggelar kegiatan Sambang Pesantren dengan mengusung tema “Pesantrenku Aman”, Ahad (2/8/2026). ​Kegiatan yang diselenggarakan oleh RMI PWNU Jawa […]

expand_less