Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa Bukan Bulan Kapital

Puasa Bukan Bulan Kapital

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
  • visibility 10.469
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ibadah yang hanya dipandang kayak dodolan, dagang, untung-rugi, oleh ganjaran pira, kayaknya itu menjadi bentuk riil cara berpikir kita itu kapitalistik. Maksude pimen? Ya, simpelnya kita beribadah hanya mengejar keuntungan pahala saja, tanpa memastikan puasa kita itu sakjane ya agar kita bertakwa dan menuju Allah Swt.

 

Realitas lain, tiap kali Ramadan tiba, apalagi menjelang akhir seperti ini, juga menghadirkan wajah yang berbeda. Apa saja bentuknya? Mall, toko, warung, atau pusat perbelanjaan berjubel antre penuh, diskon besar-besaran, festival kuliner berbuka, dan promosi iklan-iklan yang memanfaatkan simbol religius untuk mendorong konsumsi menjadi meningkat.

 

Parahnya lagi, bulan Ramadan yang Allah meminta kita untuk menahan diri justru sering menjadi puncak perputaran ekonomi dan konsumsi. Nah, puasa yang selaiknya menjadi latihan imsak, menahan diri, ngerem, sering berubah menjadi sebatas perubahan jadwal makan. Artinya, kita sekadar ganti jadwal makan, dari siang ke malam, dari lapar ke pesta kuliner. Begitu!

 

Realitas tersebut pastinya memunculkan pertanyaan reflektif begini: Apakah Ramadan masih menjadi ruang penyucian jiwa, atau menjadi “bulan kapital” yang justru memperkuat logika konsumsi manusia?

 

Puasa: Jeda dari Materialisme dan Syahwat

Puasa secara teologis tentu memiliki tujuan jelas, yaitu membentuk manusia yang bertakwa sebagimana pesan Allah Swt dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Hakikatnya, puasa tiak sekadar menjadi ibadah fisik, namun substansi puasa adalah mekanisme pengendalian diri pada dorongan material dan biologis.

 

Allah Swt dalam Al-Qur’an, menyampaikan prinsip sangat sederhana namun sangat mendalam mengenai relasi manusia dengan konsumsi yaitu: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Dalam ayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya, substansi perintah Allah di atas menunjukkan bahwa Islam tak menolak kenikmatan dunia, namun hakikatnya menolak israf alias konsumsi berlebihan yang melampaui kebutuhan. Itu pasti lah. Salat pun berlebihan tidak boleh, apalagi hanya urusan badokan. Hehehe

 

Panduan sangat praktis dari Kanjeng Nabi Muhammad soal manajemen konsumsi manusia sudah dijelaskan jauh-jauh hari. Dalam hadis Nabi Muhammad yang tertulis juga dalam Kitab Al-Arba’ūn An-Nawawiyyah – 47, bermakna: “Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah).

 

Maknsa hadis di atas tentu sangat kompatibel dalam konteks bulan Ramadan era modern seperti saat ini. Artinya, puasa bukan sekadar latihan menahan lapar selama sehari untuk kemudian membalasnya (balasa dendam) dengan konsumsi berlebihan saat berbuka. Hakikatnya, puasa Ramadan menjadi latihan membuktikan manusia merupakan tuan atas nafsunya, bukan budak dari keinginannya.

 

Pandangan religius lewat Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa puasa merupakan sarana untuk menaklukkan syahwat. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa rahasia puasa terletak pada kemampuannya mematahkan dorongan nafsu manusia.

 

Imam Al-Ghazali dalam kitab ini memetakan tingkatan puasa menjadi tiga. Pertama, puasa umum, yaitu hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Keduam tingkatan puasa khusus, yaitu menahan pancaindra dari perbuatan dosa. Ketiga, tingkatan puasa khususul khusus, yaitu puasa hati dari segala sesuatu selain Allah Swt.

 

Jika bulan suci Ramadan diisi dengan shopping secara berlebihan, pesta kuliner dalam buka bersama, pamer THR, gaji 13, gaji 14, dan pamer kemewahan, maka manusia hakikatnya masih berada pada tingkat pertama tadi, bahkan mungkin belum sepenuhnya berhasil. Di sini jelas, hakikatnya puasa dapat membebaskan manusia dari dominasi nafsu yang berpotensi menjadi ritual biologis semata.

 

Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Nizham al-Islam, memberi pandangan dalam perspektif pemikiran ekonomi Islam, yaitu kebutuhan manusia seharusnya diatur dengan prinsip syariat, bukan oleh dorongan pasar.  Hal ini menegaskan, konsumsi dalam Islam tidak boleh didorong oleh rangsangan komersial semata, tetapi harus dikendalikan oleh nilai moral dan spiritual.

 

Logika Pasar dan Komodifikasi Agama

Realitas sosial selama Ramadan yang melahirkan stigma “bulan konsumsif,” hakikatnya bisa dijelaskan lewat teori sosiologi modern mengenai komodifikasi agama. Dalam buku Consuming Religion (2017) oleh Kathryn Lofton, dan dalam buku Consuming Religion: Christian Faith and Practice in a Consumer Culture (2004) oleh Vincent J. Miller, berpandangan bagaimana simbol-simbol agama sering ditarik masuk ke dalam logika pasar. Praktik keagamaan tidak lagi hanya menjadi ekspresi spiritual, tetapi juga menjadi komoditas yang dipasarkan.

 

Bulan suci Ramadan dalam konteks ini dominan dijadikan momentum ekonomi. Apa buktinya? Promo, dan iklan-iklan menggunakan simbol religius, acara TV, radio, dan pertunjukan juga berbalut “religius”, masjid, keluarga berbuka bersama, atau pesan moral untuk menciptakan kedekatan emosional dengan konsumen juga bejibun selama Ramadan.

 

Nah, asumsi saya, tujuannya simpel yaitu meningkatkan daya beli. Hehehe Mengapa demikian? Nanti dulu. Jaid, strategi ini dalam psikologi konsumen lebih sering digunakan untuk memanfaatkan apa yang disebut artificial needs alias kebutuhan buatan, bukan kecerdasan buatan lo ya. Manusia dalam hal ini adalah umat Islam, didesain merasa seolah mereka membutuhkan sesuatu yang sebenarnya tidak esensial sama sekali. Makanya kita tak perlu tergoda!

 

Apa contohnya? Misalnya, keyakinan Lebaran harus identik dengan hal-hal baru, gawai baru, pakaian baru, sepatu baru, kerudung baru, hidangan mewah, atau dekorasi rumah tertentu. Padahal, realitasnya, kebutuhan itu hakikatnya tak berasal dari ajaran agama, melainkan dari konstruksi sosial yang dibentuk oleh pasar. Meski tak Lebaran pun, saya biasa beli hal baru ketika butuh dan ada dana. Entah saat jalan-jalan nemani istri dan anak, maupun lewat online.

 

Paradoks Kelaparan Mata

Ini fenomena menarik dan unik. Saya menyebutnya “kelaparan mata”. Maksudnya bagaimana? Jadi, fenomena psikologis dalam Ramadan salah satunya adalah kelaparan mata meski ini adalah bagian dari sesuatu yang paradoks.

 

Saat manusia menahan makan selama berjam-jam, secara biologis, tubuh dan pikiran menjadi sangat sensitif pada rangsangan makanan atau minuman. Suasana ini sering dimanfaatkan kaum kapital, pemilik modal, dan industri kuliner dan pemasaran. Artinya, menu berbuka disajikan dalam jumlah berlebihan, promosi makanan, minuman, pakaian termasuk sarung, dan amplop Lebaran pun bermunculan di berbagai platform, dan pasar dipenuhi berbagai jenis hidangan khas Ramadan.

 

Apa dampaknya? Manusia yang menahan lapar selama sehari justru cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan daripada hari biasa. Hal itu salah satunya dipengaruhi oleh hal-hal di atas. Nah, di sini paradoks itu terjadi, yaitu ketika puasa yang selayaknya mengurangi konsumsi, namun berakhir dengan konsumsi yang lebih besar.

 

Hakikat puasa merupakan wujud perlawanan spiritual terhadap dominasi materialisme dan puncaknya adalah ketakwaan. Puasa mengedukasi manusia untuk berkata “cukup” saat dunia terus mendorong kita untuk berkata “kurang”. Bulan suci Ramadan bukan merupakan bulan untuk membuktikan seberapa banyak kita dapat membeli ini dan itu, namun justru seberapa kuat kita mampu menahan diri.

 

Dalam kesederhanaan tersebut hakikatnya ada kemerdekaan batin. Ketika manusia dapat mengurangi konsumsi, memperbanyak sedekah, membebaskan diri dari kebergantungan pada benda-benda, maka puasa telah mencapai tujuan terdalamnya.

 

Intinya, Ramadan menjadi semacam diet konsumerisme yang menjadi latihan untuk menata ulang hubungan manusia dengan dunia. Kemenangan Ramadan pada akhirnya tak diukur dari banyaknya makanan di meja makan saat berbuka, namun dari seberapa ringan hati kita melepaskan keterikatan pada dunia fana ini. Adakah pendapat lain?

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Foto: Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) anggota Banser Pati. (PCNU Pati)

    Gembleng Kader, Ansor Pati Gelar PKD dan Diklatsar

    • calendar_month Sab, 18 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 573
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati terus menggembleng para kader agar menjadi tangguh. Mereka menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). PKD dan Diklatsar ini digelar selama tiga hari, Jumat (17/1/2025) hingga Minggu (19/1/2025) besok. Seratusan peserta tampak antusias mengikuti pelatihan di Gedung Yayasan Pendidikan Islam […]

  • PCNU PATI - Majelis an Nuronniyyah Gelar Maulid di Pinggir Waduk Gembong

    Majelis an Nuronniyyah Gelar Maulid di Pinggir Waduk Gembong

    • calendar_month Ming, 7 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    GEMBONG – Majelis Maulid an-Nuronniyyah Posono, Klakahkasihan, Kecamatan Gembong kembali membuat gebrakan antimainstream. Setelah bulan lalu meramaikan tempat wisata Bukit Kayangan, Sabtu (6/8) kemarin, majelis dibawah bimbingan Gus Mahmud Al A’shom Muhammad ini kembali membikin geger. Belokasi di tempat wisata Waduk Poncodan, Desa Pohgading Kecamatan Gembong, Majelis an Nuronniyyah lagi-lagi menggelar maulid dibawah langit Waduk […]

  • PCNU-PATI Photo by pixel2013

    Tuan Muda Albana

    • calendar_month Ming, 18 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 576
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Sepasang mata berbingkai kacamata itu sedikit membeliak ketika menemukan wajah pucat tapi cantik dari jarak yang begitu dekat. “Lepas!” Gadis berhidung mancung itu berteriak dengan suara parau yang berat. “Kalau takut ngapain mau bunuh diri? Sudah gila kamu? Sudah nggak punya iman?” Balas lelaki itu tak kalah emosional. Lelaki bersarung biru […]

  • Pagar Nusa Selenggarakan UKT

    Pagar Nusa Selenggarakan UKT

    • calendar_month Jum, 22 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 771
    • 0Komentar

    Pati. Pencak Silat NU Pagar Nusa Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat (UKT) di Goa Manik Jepara, Kamis 21 Desember 2017. Sebanyak 34 pendekar mengikuti UKT dari berbagai rayon. Pelatih Pencat Silat NU Pagar Nusa Dukuhseti, Muh Khoirul Fatihin mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk menguji peserta untuk kenaikan tingkat terhadap apa yang telah […]

  • PCNU-PATI

    Pesantren dan Pengembangan Ekonomi Umat

    • calendar_month Sab, 14 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Pesantren sebagaimana kita ketahui merupakan sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang konsen dalam bidang keagamaan. Pesantren juga bisa diartikan sebagai sebuah ‘institusi budaya’ yang lahir atas prakarsa dan inisiatif tokoh masyarakat yang bersifat otonom. Sejak awal berdirinya, pesantren merupakan potensi strategis yang ada di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Karena mayoritas pesantren […]

  • IPNU-IPPNU  Menjadi Pelopor Organisasi Positif

    IPNU-IPPNU Menjadi Pelopor Organisasi Positif

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

    Warta,IPNU-IPPNU  Pati. Sabtu 7 Maret 2015 di Pendopo Kabupaten Pati, Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU melakukan pelantikan pengurus baru, masa bakti 2014-2015.” Dengan adanya organisasi yang positif sudah barang tentu akan mengurangi kenakalan remaja dan dampak-dampak negative lainnya. Sehingga dengan adanya berbagai macam organisasi yang bernaung dibawah bendera Nahdlatul Ulama (NU) ini, di harapkan dapat […]

expand_less