Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » FOMO Ramadan

FOMO Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 4 Mar 2026
  • visibility 9.825
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ramadan sering melahirkan nafsu konsumtif berlebihan. Mbuh kenapa. Saya juga nggak paham. Seolah, ada dorongan kuat untuk beli, beli, beli, check out di Shoope, Lazada, Tokopedia, dan jalan-jalan ke pasar, mall, atau swalayan untuk beli, dan beli. Bahkan ada teman berkata “Wes, rasah nunggu paketan ning Shoope, marakke mumet, soale suwe ra tekan-tekan”. Hahaha

 

Dalam momentum kegembiraan menyambut Lebaran Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi, tentu sering muncul fenomena yang makin terasa dalam masyarakat modern, yaitu FOMO Ramadan. Apa itu? FOMO atau fear of missing out secara simpel adalah kondisi takut, atau rasa takut tertinggal dari orang lain dalam merayakan Ramadan. Entah hanya soal sirup, baju, hampers, atau bentuk lain. Mbuh kuwi!

 

Seolah, FOMO kini menjadi ritual sosial baru tiap tahun pada saat Ramadan dan Lebaran Idulfitri. Apa buktinya? Ya, okeh wong merasa perlu membeli sarung baru, baju baru, jam baru, tas baru, sepatu baru, kerudung baru, bahkan gawai baru dalam menyambut Idulfitri. Bagi saya, atau pendapat saya, sebagian melakukan kegiatan itu tak sekadar soal kebutuhan, namun semacam motivasi agar tak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya, teman ghibah, atau rekan kerja sekantor. Saat orang lain memamerkan asesoris lebaran terbaru, gawai baru, misalnya, atau hanya kerudung baru, maka lahir dorongan psikologis untuk melakukan hal yang sama. Kan aneh!

 

Pada momentum ini, saya memaknai bahwa Ramadan justru tercerabut dari ruang religius, namun bergantung atau bermigrasi menjadi arena pamer konsumsi. Hahaha

 

Bahasa Sosial Konsumsi

Soal konsumsi, hakikatnya tak sebatas kegiatan ekonomi. Akan tetapi, menurut pandangan sosiologi, menurut Thorstein Bunde Veblen, dalam buku The Theory of the Leisure Class (1899), ini disebut sebagai “bahasa simbolik” masyarakat. Veblen menyebut dalam buku ini sebagai conspicuous consumption, yaitu ketika konsumsi dilakukan dalam rangka menunjukkan status sosial. Sok yes lah. Artinya, manusia membeli benda tidak sekadar soal fungsinya, namun juga karena nilai simboliknya di mata masyarakat.

 

Konsep ini bisa untuk menganalisis fenomena Ramadan dan Idulfitri ketika umat Islam membeli, dan mengonsumsi semua benda yang serba baru, dari mulai peci, sajarah, kerudung, baju, makanan, sampai gawai batu. Seolah, umat Islam ingin tampil “sing paling keren dewe dibandingke liyane” di mata tetangga, teman ghibah, atau teman di media sosial. Hehehe

 

Fenomena ini sudah lama, dan hakikatnya mempunyai akar kultur yang panjang sekali. Dalam konteks masyarakat kota dan modern, fenomena ini mengalami pergeseran dari “simbol kebahagiaan” menjadi “kompetisi simbolik.”

 

Dinamika ini diperkuat dan didukung adanya intensitasi unggah mengunggah di medsos. Misal saja, foto bersama keluarga dengan sarung baru, kerudung baru, gawai baru seolah menjadi representasi identitas agar “divalidasi publik” iki lo kelurgaku nganyari klambi.

Pierre Bourdieu jauh-jauh dari telah memberikan padangan melalui buku Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1984). Bourdieu menyebut bahwa pilihan konsumsi sering berkorelasi dengan “modal simbolik”, yaitu sebuah metode manusia dalam menampilkan pilihan hidup, kelas sosial, selera, gaya, dan identitas mereka di hadapan publik, apalagi sekarang didukung adanya medsos yang membahana.

 

Nah, simpulannya di sini, bulan suci Ramadan telah bergeser dan berkamuflase menjadi panggung identitas sosial ditonjolkan lewat barang-barang konsumsi yang serba baru dan kekinian agar tidak disebut katrok dan ketinggalan zaman. Jan!

 

FOMO di Media Sosial

Fear of Missing Out dalam sejarahnya ditemukan oleh periset Andrew Przybylski, dkk., lewat publikasi berjudul Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out (2013). Di sini, FOMO diidentikkan pada rasa cemas manusia ketika ia tak punya pengalaman atau memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Wedi ketinggalan lah intinya.

 

Algoritma medsos mendukung perkembangan FOMO, khsusunya di bulan suci Ramadan. Uploadan teman di medsos berisi baju baru, gawai baru, sajarah baru jelang Idulfitri, melahirkan rasa cemas ketika mereka tak melakukan hal serupa. Seolah, jika tidak seperti itu mereka ketinggalan zaman bahkan ketinggalan hidup. Hehe

 

Apa dampaknya? Jelas, konsumsi bukan lagi soal kebutuhan, namun validasi sosial, rekognisi publik, dan legitimasi masyarakat di sekitarnya.

 

Dalam buku The Consumer Society (1970), Jean Baudrillard berpendapat bahwa manusia modern adalah “manusia konsumtif.” Maksudnya bagaimana? Manusia membeli makna dan simbol, bukan membeli sebuah benda atau barang yang sesuai kebutuhannya. Sebut saja baju, gawai, tas, sarung, kerudung, dalam kajian ini tak sekadar menjadi barang belaki, melainkan menjadi simbol gaya hidup, kemapanan, bahkan kekayaan.

 

Membeli barang baru menjelang Lebaran bukan salah 100 persen. Namun, dalam tradisi Islam, alangah bijaksananya mengenakan pakaian terbaik (bukan yang terbaru) saat umat Islam merayakan hari raya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan umat manusia tampil rapi dan bersih pada hari besar, bukan klomprot lan badheg.

 

Ironisnya, kebiasaan ini seolah menjadi “tekanan sosial”. Seolah, nek ora nganyari ora sah. Padahal, mereka membeli bukan berdasarkan kebutuhan, namun lebih pada validasi sosial belaka. Bahkan, tak sedikit umat Islam demi validasi itu, direwangi utang-utang dulure. Kan repot!

 

Dalam buku The Overspent American: Why We Want What We Don’t Need (1998), Juliet Schor berpesan fenomena competitive consumption atau kecenderungan publik tuku-tuku barang disebabkan oleh standar atau gaya hidup orang lain. Saat gaya hidup atau standar terus naik, mereka pun ikut terdorong untuk terus mengejar. Sampai tekan ndi wae dikejar.

 

Dalam tulisan ini, saya berpesan pada diri saya pribadi, keluarga, dan pembaca, mari kita kembalikan makna Ramadan sebagai latihan spiritual. Ibadah puasa Ramadan hakikatnya mengedukasi kita untuk mengendalikan nafsu, termasuk nafsu konsumtif yang sering kebablasan. Di sini, Ramadan malah menjadi kritik pada budaya israf alias berlebih-lebihan. Al-Qur’an juga telah berpesan “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

 

Apakah kita tergolong orang yang FOMO dan suka berlebih-lebihan?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hadapi Covid 19, Menag : Tingkatkan Kedermawanan Sosial

    Hadapi Covid 19, Menag : Tingkatkan Kedermawanan Sosial

    • calendar_month Sen, 12 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas JAKARTA-Acara pray from home yang dihelat oleh Kementerian Agama RI Minggu (11/7) berjalan lancar. Kegiatan yang juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo tersebut merupakan langkah spiritual untuk mengurangi penyebaran Covid 19. Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Agama RI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hingga saat ini, belum ada yang mengetahui […]

  • LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah Gelar Temu Teknis PORSEMA XIII 2025, Siap Cetak Generasi Sehat, Hebat, dan Berprestasi Dahsyat

    LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Gelar Temu Teknis PORSEMA XIII 2025, Siap Cetak Generasi Sehat, Hebat, dan Berprestasi Dahsyat

    • calendar_month Sab, 5 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 447
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id SEMARANG, 5 Juli 2025 – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah hari ini, Sabtu, 5 Juli 2025, menyelenggarakan rapat koordinasi dan Temu Teknis (Technical Meeting) Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII Tahun 2025. Acara yang berlangsung di Hotel Muria, Semarang itu menandai langkah […]

  • Ketum GP Ansor Minta Kader Turun ke Desa-Desa

    Ketum GP Ansor Minta Kader Turun ke Desa-Desa

    • calendar_month Ming, 4 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Addin Jauharuddin meminta seluruh kader Ansor dan Banser untuk turun ke desa-desa. Itu untuk merespon kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak baik-baik saja. “Teruslah bergerak dan berjuang melakukan yang terbaik untuk organisasi. Turunlah ke desa-desa, ke masyarakat, bantulah mereka dengan perangkat kita, baik […]

  • PCNU-PATI Photo by Alan Alves

    Memilih Diam

    • calendar_month Jum, 24 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 355
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Beberapa waktu yang lalu kawan baik saya tengah berkeluh kesah pada saya. Ia membagikan kisah perjalanan cintanya yang begitu rumit. Saat ia bercerita sesekali ia meneteskan air mata. Barangkali terlalu berat kisah yang dihadapinya ini. Saya hanya mendengarkannya dengan seksama, tanpa ingin mengintervensi atau semacamnya. Barangkali dengan begitu ia akan sedikit lega […]

  • Perkuat Organisasi, IPNU-IPPNU Gembong Minta Wejangan Sayyid Muhammad

    Perkuat Organisasi, IPNU-IPPNU Gembong Minta Wejangan Sayyid Muhammad

    • calendar_month Ming, 1 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 369
    • 0Komentar

    GEMBONG-Serangan eksternal akhir-akhir ini kian tajam menghantam NU. Kelompok-kelompok yang sering mengaku ingin kembali ke al qur’an dan hadits banyak menberikan tudingan terhadap amaliyah-amaliyah yang dikerjakan warga Nahdliyyin. Fitnah bid’ah, syirik hingga kafir sering tersemat untuk orang-orang dalam tubuh NU. Demi menanggulangi gangguan ini, diperlukan adanya kekuatan internal. Para Pemgurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Gembong bersama […]

  • PCNU-PATI

    Kunci Sukses Meraih Ridha-Nya?

    • calendar_month Sen, 5 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Belajar memahami Islam menjadi modal dalam memilah dan memilih jalan untuk mencapai hidup sukses dan mulia. Pemahaman yang benar akan menjaga kita dari kesesatan dan kerugian. Merasa sudah ada di jalan yang akan menghantarkan pada kesuksesan dan kemuliaan, ternyata akhir yang didapat tidak sesuai dengan yang diharap. Pemahaman yang benar tentang Islam akan menuntun setiap […]

expand_less