Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan Mode AI

Ramadan Mode AI

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 10.062
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Beberapa hari ini, saya mencoba mencari informasi soal konflik Iran, Palestina, dan USA. Namun, ketika kita membuka aplikasi mesin pencari (search engine), sering muncul “Ramadan Mode AI”. Ya, itu saya alami ketika membuka Firefox Browser, Google Chrome, maupun Safari di iPhone. Apakah Ramadan memang dimanjakan dengan AI? Pikir saya dalam hati.

 

Ya, bulan suci Ramadan menjadi momentum introspeksi mendalam dan mencari kesucian hati. Pencarian ini secara tradisional melibatkan beralih kepada para ulama, teks-teks Islam, dan pemimpin masyarakat. Akan tetapi fenomena baru menarik muncul: banyak orang sekarang mempelajari agama dan mencari hikmah Ramadan lewat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence (AI)?) Piye ya? Fenomena “Ramadan Mode AI” tersebut menajdi peluang apa ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tantangan unik soal bagaimana iman dipahami dan dipraktikkan. Duh!

 

Mode AI dan Kebergantungan

Instan, cepet, satset atas jawaban dari pertanyaan kita menjadi daya tarik AI. Apapun bentuk AI-nya. Missal, kita perlu mengetahui cara tepat dalam membuat niat berpuasa? Tanyakan pada ChatGPT, Gemini AI, Perplexity, dan lainnya. Misal lagi, ingin paham soal dasar filosofis zakat? Suatu pertanyaan singkat bisa menyajikan informasi komprehensif, bahkan disertai dalil yang disajikan AI tersebut.

 

Akses informasi yang terdemokratisasi ini bisa memberdayakan, utamanya untuk muslim yang baru memeluk Islam (muallaf) / muslimyang terbatas akses langsung ke bimbingan agama Islam yang otoritatif seperti kiai, ulama, gus, ning, mbah modin, atau akademisi muslim. Prinsip inti Islam soal thalabul ilmi (mencari ilmu) seperti terangkum dalam sabda Kanjeng Nabi Muhammad yaitu, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” (Sunan Ibn Majah no 224). Hal ini mendaptkan metode baru, mungkin tak terduga, melalui AI yang tersajikan open acces dan limitless.

 

Akan tetapi, soal kebergantungan seorang muslim dengan kebijaksanaan algoritmik digital tersebut melahirkan perenungan pertanyaan penting. Apakah kecerdasan buatan itu benar-benar memahami nuansa iman, takwa, rasa, dan kedalaman pengalaman spiritual, atau kompleksitas etika yang tertanam pada turats, atau teks-teks keagamaan?

 

Kita perlu mempertimbangkan Al-Quran, firman Allah yang hakiki dan juga sunnah-sunnah Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Meski kecerdasan artifisal bisa memproses, memproduksi, dan meringkas ayat-ayat dari Surah Al-Baqarah terkait puasa (misalnya pada Ayat 183-185), tetapi AI tak bisa menyampaikan “resonansi spiritual” secara jeru (mendalam) / lapisan interpretasi yang telah dikonstruksi dalam kurun waktu berabad-abad oleh mufassirun (ahli tafsir).

 

Nah, unsur manusia berupa empati, roso, wibowo, pemahaman kontekstual, wawasan spiritual, yang sering ditemukan lewat produk akademis klasik seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din oleh Imam Al-Ghazali dengan meode inheren hilang dari produk kecerdasan buatan. Ironisnya, hari ini kita bergantung pada AI-AI tersebut sehingga kemalasan semakin melanda umat Islam dari kalangan atas hingga yang paling bawah sekalipun.

Budaya keilmuan Islam yang ketat, disiplin, kaya, yang terangkum pada beragam koleksi Hadits semisal Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, atau hukum Fikih yang rumit, warisan turats, atau kitab kuning  yang dinamis  tentunya dibutuhkan riset, kajian, atau studi cermat dan silsilah transmisi yang terverifikasi dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Pada dasarnya, kecerdasan buatan menghimpun informasi. AI pastinya tak memiliki sanad keilmuan yang jelas, terverifikasi, dalam rangka memverifikasi keaslian pengetahuan seperti yang dilakukan oleh para ulama Islam tradisional zaman dulu.

 

Laiknya pepatah lama dari Imam Syafi’I yaitu, “Ilmu bukanlah apa yang dihafal, tetapi apa yang bermanfaat bagimu.” Artinya, kegunaan ilmu Islam seringkali dari penerapannya dalam konteks kehidupan yang luas dan lama, juga dibimbing oleh guru manusia (kiai, ulama, guru, dosen) yang otoritatif, serta memahami perjalanan spiritual individu tiap muslim.

 

Efek Dehumanisasi

Apa bentuk dehumanisasi hari ini? Jacques Ellul lewat buku The Technological Society (1904) berpesan meskipun efisien, teknologi bisa mengakibatkan dampak dehumanisasi ketika kita (umat Islam) dengan sengaja membiarkan teknologi itu (AI) mendikte nilai-nilai dan pemahaman kita yang harusnya lebih humanis, otentik, dan orisinil.

 

Sebut saja saat kita mencari hikmah Ramadan semata-mata melalui AI secara murni 100 persen, melalui aktivitas ini tentu akan lahir risiko bahwa iman akan terhimpun menjadi sekumpulan data, kumpulan fakta belaka, bukan menjadi praktik religius yang bernas dan bernapas. Artinya, lewat gema emosional dari aktivitas berbuka puasa, perjuangan pribadi yang mendalam untuk mengatasi keinginan, atau ketenangan bersama dalam salat tarawih dan salat witir di masjid/musala, hal ini merupakan empirisme yang bisa dijelaskan oleh kecerdasan buata, namun akan kering, gersang, bahkan tak pernah ditransmisikan dengan bahasa manusia. Jelas to, soale manusa kuwi duwe rasa!

 

Ramadan dalam mode AI harus diperhatikan. Artinya, ini adalah bentuk kemajaun teknologi yang super dahsyat, namun harus diimbangi dengan kualitas iman dan takwa. Kecerdasan buata bisa saja dijadikan tools berharga dalam mencari informasi, acuan teknis yang cepat untuk pertanyaan dasar. Akan tetapi, kecerdasan buatan saya menyebut selamanya tak bisa menggantikan Al-Quran, sunnah, ijma’, qiyas, dan manusia itu sendiri.

 

Simpelnya, kecerdasan buatan hanya buatan manusia, namun manusia ada yang membuat. Siapa? Ya jawaben dewe!

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking. Photo by Yudha Aprilian on Unsplash.

    Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 578
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Dari bacaan yang ada, orang jawa memiliki khazanah yang tak lazim. Kalau kita telusur di literasi-literasi tentang masuknya islam di pulau jawa, tentu kita temukan fakta bahwa, ‘merayu’ orang jawa untuk masuk islam—atau setidaknya ramah terhadap islam—bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan skill marketing tingkat dewa untuk bisa menembus rapatnya dinding kepercayaan yang […]

  • Muhammad Hasyim Santri Pejuang Kemerdekaan

    Muhammad Hasyim Santri Pejuang Kemerdekaan

    • calendar_month Kam, 26 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 580
    • 0Komentar

    Sebagai santri yang juga putra kiyai, masyarakat biasa memanggil dengan sebutan Gus Hasyim, nama lengkap beliau adalah Muhammad Hasyim putra Mbah Mahfudh Salam Kajen (w-1944)lahir di Kajen pada tahun 1929 M. Beliau adalah putra kedua dari enam bersaudara yaitu : 1.    Hj.  Muzayyanah, istri KH Mansyur Lasem  (ibu dari Gus Qoyyum) 2.    Muhammad Hasyim 3.    […]

  • Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa

    Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 657
    • 0Komentar

    Pati. Perpustakaan Darul Hadlanah mengadakan bedah buku rutin setiap tiga bulan sekali, hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan daya kritis para santrinya dan  menumbuhkan minat baca para santri,  bertempat di aula, pada Senin, 7/8 kemarin Bedah buku yang berjudul Zero To Hero dengan tema Mendahsyatkan pribadi biasa menjadi luar biasa” ini menjelasakan bahwa menjadi orang pintar, […]

  • Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama.

    Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama.

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.953
    • 0Komentar

    PWNU Jawa Tengah kembali membuka peluang baru bagi lulusan Sekolah Ma`arif untuk meningkatkan skill dan kompetensi serta peluang bekerja di Jepang. Demikian mengemuka dalam diskusi antara PWNU Jawa Tengah, LP Ma`arif NU Jateng, saat menerima kunjungan rombongan dari ASCare Jepang, Tsubasa Jepang, dan LPK Hajime Sinergi Indonesia yang digelar di Kantor PWNU Jawa Tengah, Selasa […]

  • PCNU Pati Siap Tampung dan Dampingi Santri Korban Kekerasan Seksual

    PCNU Pati Siap Tampung dan Dampingi Santri Korban Kekerasan Seksual

    • calendar_month Sen, 4 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.616
    • 0Komentar

      PCNU Pati – PCNU Kabupaten Pati mengawal kasus dugaan kekerasan seksual di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Mereka pun siap menampung dan mendampingi para korban. Jajaran pengurus PCNU Pati, RMI NU Pati, Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Pati, GP Ansor Pati, Fatayat NU dan pengurus PCNU lainnya […]

  • Lazisnu Pati, Sosialisasikan ‘Koin Nusantara’ ke Muslimat Bulumanis Kidul

    Lazisnu Pati, Sosialisasikan ‘Koin Nusantara’ ke Muslimat Bulumanis Kidul

    • calendar_month Ming, 14 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 528
    • 0Komentar

    Pati. Lazisnu PCNU Kabupaten Pati, hari ini (Ahad, 14/07) melakukan sosialisasi “Koin Nusantara” kepada anggota Muslimat Ranting Desa Bulumanis Kidul, Margoyoso. Kegiatan yang diselenggarakan di aula Pondok Pesantren Al Hamidiyah ini berlangsung atas kerjasama antara Lazisnu PCNU Pati dengan MWC NU dan Muslimat NU Kecamatan Margoyoso. Koin Nusantara merupakan gerakan sukarela untuk menyisihkan uang-uang recehan […]

expand_less