Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan Mode AI

Ramadan Mode AI

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 9.512
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Beberapa hari ini, saya mencoba mencari informasi soal konflik Iran, Palestina, dan USA. Namun, ketika kita membuka aplikasi mesin pencari (search engine), sering muncul “Ramadan Mode AI”. Ya, itu saya alami ketika membuka Firefox Browser, Google Chrome, maupun Safari di iPhone. Apakah Ramadan memang dimanjakan dengan AI? Pikir saya dalam hati.

 

Ya, bulan suci Ramadan menjadi momentum introspeksi mendalam dan mencari kesucian hati. Pencarian ini secara tradisional melibatkan beralih kepada para ulama, teks-teks Islam, dan pemimpin masyarakat. Akan tetapi fenomena baru menarik muncul: banyak orang sekarang mempelajari agama dan mencari hikmah Ramadan lewat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence (AI)?) Piye ya? Fenomena “Ramadan Mode AI” tersebut menajdi peluang apa ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tantangan unik soal bagaimana iman dipahami dan dipraktikkan. Duh!

 

Mode AI dan Kebergantungan

Instan, cepet, satset atas jawaban dari pertanyaan kita menjadi daya tarik AI. Apapun bentuk AI-nya. Missal, kita perlu mengetahui cara tepat dalam membuat niat berpuasa? Tanyakan pada ChatGPT, Gemini AI, Perplexity, dan lainnya. Misal lagi, ingin paham soal dasar filosofis zakat? Suatu pertanyaan singkat bisa menyajikan informasi komprehensif, bahkan disertai dalil yang disajikan AI tersebut.

 

Akses informasi yang terdemokratisasi ini bisa memberdayakan, utamanya untuk muslim yang baru memeluk Islam (muallaf) / muslimyang terbatas akses langsung ke bimbingan agama Islam yang otoritatif seperti kiai, ulama, gus, ning, mbah modin, atau akademisi muslim. Prinsip inti Islam soal thalabul ilmi (mencari ilmu) seperti terangkum dalam sabda Kanjeng Nabi Muhammad yaitu, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” (Sunan Ibn Majah no 224). Hal ini mendaptkan metode baru, mungkin tak terduga, melalui AI yang tersajikan open acces dan limitless.

 

Akan tetapi, soal kebergantungan seorang muslim dengan kebijaksanaan algoritmik digital tersebut melahirkan perenungan pertanyaan penting. Apakah kecerdasan buatan itu benar-benar memahami nuansa iman, takwa, rasa, dan kedalaman pengalaman spiritual, atau kompleksitas etika yang tertanam pada turats, atau teks-teks keagamaan?

 

Kita perlu mempertimbangkan Al-Quran, firman Allah yang hakiki dan juga sunnah-sunnah Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Meski kecerdasan artifisal bisa memproses, memproduksi, dan meringkas ayat-ayat dari Surah Al-Baqarah terkait puasa (misalnya pada Ayat 183-185), tetapi AI tak bisa menyampaikan “resonansi spiritual” secara jeru (mendalam) / lapisan interpretasi yang telah dikonstruksi dalam kurun waktu berabad-abad oleh mufassirun (ahli tafsir).

 

Nah, unsur manusia berupa empati, roso, wibowo, pemahaman kontekstual, wawasan spiritual, yang sering ditemukan lewat produk akademis klasik seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din oleh Imam Al-Ghazali dengan meode inheren hilang dari produk kecerdasan buatan. Ironisnya, hari ini kita bergantung pada AI-AI tersebut sehingga kemalasan semakin melanda umat Islam dari kalangan atas hingga yang paling bawah sekalipun.

Budaya keilmuan Islam yang ketat, disiplin, kaya, yang terangkum pada beragam koleksi Hadits semisal Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, atau hukum Fikih yang rumit, warisan turats, atau kitab kuning  yang dinamis  tentunya dibutuhkan riset, kajian, atau studi cermat dan silsilah transmisi yang terverifikasi dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Pada dasarnya, kecerdasan buatan menghimpun informasi. AI pastinya tak memiliki sanad keilmuan yang jelas, terverifikasi, dalam rangka memverifikasi keaslian pengetahuan seperti yang dilakukan oleh para ulama Islam tradisional zaman dulu.

 

Laiknya pepatah lama dari Imam Syafi’I yaitu, “Ilmu bukanlah apa yang dihafal, tetapi apa yang bermanfaat bagimu.” Artinya, kegunaan ilmu Islam seringkali dari penerapannya dalam konteks kehidupan yang luas dan lama, juga dibimbing oleh guru manusia (kiai, ulama, guru, dosen) yang otoritatif, serta memahami perjalanan spiritual individu tiap muslim.

 

Efek Dehumanisasi

Apa bentuk dehumanisasi hari ini? Jacques Ellul lewat buku The Technological Society (1904) berpesan meskipun efisien, teknologi bisa mengakibatkan dampak dehumanisasi ketika kita (umat Islam) dengan sengaja membiarkan teknologi itu (AI) mendikte nilai-nilai dan pemahaman kita yang harusnya lebih humanis, otentik, dan orisinil.

 

Sebut saja saat kita mencari hikmah Ramadan semata-mata melalui AI secara murni 100 persen, melalui aktivitas ini tentu akan lahir risiko bahwa iman akan terhimpun menjadi sekumpulan data, kumpulan fakta belaka, bukan menjadi praktik religius yang bernas dan bernapas. Artinya, lewat gema emosional dari aktivitas berbuka puasa, perjuangan pribadi yang mendalam untuk mengatasi keinginan, atau ketenangan bersama dalam salat tarawih dan salat witir di masjid/musala, hal ini merupakan empirisme yang bisa dijelaskan oleh kecerdasan buata, namun akan kering, gersang, bahkan tak pernah ditransmisikan dengan bahasa manusia. Jelas to, soale manusa kuwi duwe rasa!

 

Ramadan dalam mode AI harus diperhatikan. Artinya, ini adalah bentuk kemajaun teknologi yang super dahsyat, namun harus diimbangi dengan kualitas iman dan takwa. Kecerdasan buata bisa saja dijadikan tools berharga dalam mencari informasi, acuan teknis yang cepat untuk pertanyaan dasar. Akan tetapi, kecerdasan buatan saya menyebut selamanya tak bisa menggantikan Al-Quran, sunnah, ijma’, qiyas, dan manusia itu sendiri.

 

Simpelnya, kecerdasan buatan hanya buatan manusia, namun manusia ada yang membuat. Siapa? Ya jawaben dewe!

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GP Ansor Sitiluhur Gelar Kampoeng Ramadhan

    GP Ansor Sitiluhur Gelar Kampoeng Ramadhan

    • calendar_month Ming, 2 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 217
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Gerakan Pemuda Ansor Ranting Sitiluhur, terus berupaya melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam memberikan manfaat di tengah-tengah masyarakat. Seperti halnya dalam menyambut Ramadan tahun ini, GP Ansor  bersama pemuda Sitiluhur menggelar “Kampoeng Ramadhan”. Kegiatan ini dibuka pada Ahad (2/3/2025) sore di Dukuh Boro, Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Pati. Turut hadir dalam pembukaan itu Ketua PAC […]

  • Saifullah Kembali Pimpin MWC NU Gabus

    Saifullah Kembali Pimpin MWC NU Gabus

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Jumat malam 15 Januari 2016, kemarin. Bertempat di Masjid Al-Iman desa Plumbungan Kecamatan Gabus, berlangsung acara pelantikan Pengurus MWC NU Gabus sekaligus maudhoh khasanah dari KH. M Aniq Muhammadun Rois Syuriah PCNU Pati.             “Setelah pelantikan ini, saya sebagai ketua akan berusaha membawa MWC NU menjadi lebih baik dari periode sebelumnya, meskipun periode sebelumnya saya […]

  • Nalar Kritis Abu Bakar ash Shiddiq

    Nalar Kritis Abu Bakar ash Shiddiq

    • calendar_month Kam, 23 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 282
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq selalu menjadi trending topik di kalangan da’i terutama menjelang peringatan hari agung isro’ mi’roj. Pasalnya, dialah tokoh islam yang seketika membenarkan klaim Nabi Muhammad yang menyatakan telah mengunjungi Palestina lalu naik menuju langit ke-tujuh dalam waktu semalam. Sebagai catatan, Nabi melaksanakan kegiatan luar biasa tersebut […]

  • Kunjungan Syaikh Fadi Alamuddin Lebanon di MTs dan MA NU Miftahul Huda

    Kunjungan Syaikh Fadi Alamuddin Lebanon di MTs dan MA NU Miftahul Huda

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2017
    • account_circle admin
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Pati. Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya, akan tetapi ada sesuatu berbeda  di MTs dan MA NU Miftahul Huda  di desa Sugihrejo Kec. Gabus karena mendapatkan tamu istimewa yaitu Syaikh Fadi Alamuddin dari Global University Lebanon,13/8 kemarin, bertempat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Dukuh Pasinggahan, acara berlangsung mulai pukul 07.00 – 09.00 wib. Maka dari […]

  • PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking

    PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking

    • calendar_month Jum, 12 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 150
    • 0Komentar

    PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking Pati, 13 Maret 2021 PR IPNU IPPNU gelar pelatihan Public Speaking guna untuk menambah mental dan wawasan anggota. Kegiatan yang di gelar pada 12 Maret 2021 berlangsung selama 1 jam. Berlokasi di Madrasah Mansyaul Ulum Kadilangu melibatkan kurang lebi 30 anggota sebagi peserta kegiatan. dengan […]

  • PAC Fatayat NU Margoyoso Gelar Pelantikan dan Raker

    PAC Fatayat NU Margoyoso Gelar Pelantikan dan Raker

    • calendar_month Sab, 11 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 233
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – Bertempat di Pondok Pesantren Al Fakhry Hadiwijaya Kajen Margoyoso, Kemarin (Jum’at, 10/09/2021) PAC Fatayat NU menggelar Pelantikan Pengurus.  Dalam kegiatan ini turut hadir Ketua Tanfidziyah MWC NU Margoyoso KH. Samu’in Wage, PC Fatayat NU Pati yang diwakili oleh Nining Sugiharti, Ketua PAC Muslimat Margoyoso Dr. Munifah, dan perwakilan dari PAC IPNU IPPNU Margoyoso. Ketua […]

expand_less