Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Masjid Memakmurkan Masyarakat

Masjid Memakmurkan Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
  • visibility 9.523
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Saya dulu sempat jengkel karena mau salat, tapi masjid digembok. Hal itulah yang melatarbelakangi saya menulis Ketika Masjid Digembok pada Alif.id terbit Kamis 17 Mei 2018. Pada 9 Juni 2018, sebenarnya saya juga sudah nulis di Islami.co berjudul Saatnya Masjid Memakmurkan Masyarakat. Pada tulisan kali ini bukan mengulang, tapi mencoba mengulik dari perspektif berbeda.

Saya sebenarnya hanya sekadar hendak bercerita. Ini soal masjid dan masjid. Sebab, saya ingin bernostalgia saat kuliah S1 dulu, aktivitas saya full di masjid yaitu Masjid At-Taqwa Perum Karonsih, di Jl. Karonsih Utara V No.192, Ngaliyan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang,. Di rumah pun, saya juga ngrumati Musala Nurussalam dan TPQ Nurussalam. Di kampus, sekarang saya juga jadi Penanggungjawab Takmir Masjid Al-Ittihad Kampus INISNU Temanggung. Di kampus di kasih jadwal khutbah juga.

Saya diminta juga membantu kepengurusan Masjid Baitul Mujahid Perum GMR, Patemon, Gunungpati, Kota Semarang. Dikasih jadwal khutbah, jadwal ngisi kajian. Halah mbuh. Wis, pokoke ra isa menghindar. Haha

Sudah ya ceritanya. Jadi begini, di sudut depan Perum Graha Mandiri Residence, Patemon, Gunungpati, Semarang, berdiri sebuah rumah ibadah yang tak hanya memanggil orang untuk salat, tetapi juga menghidupkan denyut sosial warganya. Masjid itu bernama Masjid Baitul Mujahid yang kini Ketua Takmirnya adalah Achmad Safuan, SE., MM. Di Ramadan 1447 H ini, Masjid Baitul Mujahid mengusung tema Ramadan: Feels Like Home.

Masjid Memakmurkan Masyarakat?

Ramadan di sini tak sebatas rangkaian ibadah ritual, namun bagi saya menjadi peristiwa sosial yang memakmurkan masyarakat. Mulai dari takjil gratis menjelang waktu magrib, dan buka puasa bersama, santap hangat usai tarawih dan witir, hingga ramah tamah setelah tadarus malam, masjid menjelma ruang berbagi yang sangat akrab dan egaliter.

Tiap senja usai asyar, warga berdatangan. Orang tua, anak-anak, pendatang baru, pekerja yang baru pulang dari kantor, dan utamanya mahasiswa kos-kosan sekitar masjid duduk bersama menikmati buka puasa. Tak ada sekat status sosial. Makanan terhidang di depan masjid merupakan simbol kesetaraan.

Nanti usai salat tarawih dan salat witir, ramah tamah dengan kudapan ringan memperpanjang percakapan para jemaah salat tawarih dan salat witir. Malam belum usai, sebagian jemaah kembali duduk melingkar membaca Al-Quran bersama-sama dikomandoi Mbah Kiai Rohman. Bahkan selepas tadarus, panitia masih menyiapkan hidangan sederhana bagi para peserta tadarus. Ramadan terasa seperti “rumah besar” yang menaungi semua kalangan tanpa pandang sekat dan profesi: dari karyawan swasta, ASN, TNI, Polri, dosen, guru, pensiunan, pengusaha, dan semuanya.

Dalam teori solidaritas sosial, Émile Durkheim lewat buku The Elementary Forms of Religious Life (2001) dapat menjadikan saya menganalisis fenomena ini. Dalam pandangan Durkheim, ritus keagamaan (termasuk Islam) tak sebatas media relasi vertikal dengan Tuhan (Allah), namun menjadi mekanisme pembentukan solidaritas kolektif. Artinya, saat jemaah Masjid Baitul Mujahid berbuka bersama dan salat berjemaah tiap malam, mereka semua hakikatnya sedang membangun apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence, yaitu sebuah “getaran kebersamaan” yang menguatkan identitas sosial. Nah, lebih khusus lagi di Ramadan ini menjadi energi pemersatu yang hadir tiap tahun.

Dalam konteks Ramadan 1447 H, program Ramadan di Masjid Baitul Mujahid dirancang sistematis. Bukan sekadar formalitas. Misal, salat tarawih berjemaah tiap malam Ramadan menjadi poros spiritual. Tadarus Al-Quran bakda salat tarawih dan selepas subuh menjadi harmoni. Buka bersama diselenggarakan setiap hari menjadi motivasi, Ramah tamah menghadirkan suasana hangat.

Ada pula program “Ramadan Cantik” melalui dekorasi bertajuk Ramadan: Feels Like Home atau Feels Like Home yang menjadikan para jemaah merasa memiliki dan betah di sana. Pengumpulan dan pendistribusian zakat fitrah berjalan terorganisasi dengan baik. Acara-acara lain seperti Malam Selikuran sampai nanti Halalbihalal menjadi rangkaian dengan nuansa spiritual sekaligus sosial.

Pengajian Ramadan Ahad Sore menghadirkan narasumber kompeten, yaitu KH. Muharno (Muchtar Abi Maya) Pengasuh PP Assalafiyah Perbalan, Ust. Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I., M.Pd.Gr., Pengasuh Pondok Pesantren An-Najma Bandarejo Semarang, H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A., Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo, dan Gus Mujib Jogo Roso, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huda Getasan. Kehadiran para tokoh tersebut memperluas cakrawala intelektual jemaah masjid dan mempertemukan dimensi keilmuan dengan praksis sosial.

Robert D. Putnam dalam buku Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000) mengajak kita untuk menganalisis fenomena ini lewat teori modal sosial. Artinya, kegiatan-kegiatan di masjid ini membangun bonding social capital (ikatan internal antarwarga) dan bridging social capital (jembatan dengan komunitas dan narasumber eksternal). Ramah tamah bersama, tadarus kolektif, dan kegiatan distribusi zakat tak sebatas fenomena agama, namun menjadi investasi kepercayaan sosial. Nah, kepercayaan ini menguatkan kohesi lingkungan perumahan GMR.

Dalam buku lawas bertajuk The Sociology of Religion (1922), Max Weber mempertgeas tindakan keagamaan bisa menjadi kekuatan rasional berorientasi nilai. Dalam konteks Masjid Baitul Mujahid, ibadah bukan saja berhenti pada dimensi ritual, namun menguatkan tindakan sosial nyata, yaitu berupa pelayanan takjil, pelayanan ramah tamah/makanan, pengelolaan zakat, forum ilmu (pengajian dan kajian). Dalam konteks ini, Islam bertransformasi menjadi etos pelayanan, bukan sekadar doktrin.

Jika kita analisis perspektif Pierre Bourdieu melalui bukunya Outline of a Theory of Practice (1977), maka praktik Ramadan yang berulang membentuk habitus keagamaan. Tradisi berbagi takjil, duduk bersama tanpa hierarki dan sekat, guyon gayeng bersama, dan mendengar pengajian rutin menciptakan pola disposisi menetap dalam diri para jemaah. Artinya, Ramadan tak sekadar peristiwa sesaat, namun proses pembentukan karakter kolektif. Masjid di sini menjadi arena produksi nilai dan etika sosial.

Pelayanan masjid yang melimpah di Ramadan 1447 H menjadi bukti manajemen partisipatif berbasis masjid yang matang. Panitia tak sebatas menjadi penyelenggara, namun menjadi fasilitator partisipasi warga sekitar masjid. Tiap orang terlibat dalam bentuk apapun, ada yang menyumbang dana, makanan, tenaga, pikiran, ada yang mendekorasi, ada yang membersihkan, dan semua terlibat. Di sinilah masjid menjadi pusat pemberdayaan komunitas.

Nah, ini tentu fenomena menarik. Sebab, dalam konteks masyarakat urban yang lebih dominan individualistik, masjid seperti Masjid Baitul Mujahid maupun masjid-masjid yang lain menghadirkan kembali ruang komunal. Artinya, masjid menjadi counter-culture pada isolasi sosial. Dalam momentum Ramadan dapat mengubah ruang ibadah menjadi ruang perjumpaan, ruang distribusi kesejahteraan, ruang pembentukan solidaritas, ruang edukasi, dan ruang-ruang lainnya.

Konsep dan fakta “masjid memakmurkan masyarakat” tak sebatas lantaran bangunannya megah atau lampunya terang benderang. Lebih dari itu, karena denyut kemanusiaan hidup di dalamnya tanpa ada sekat. Saat para jemaah merasa pulang tiap kali melangkahkan kaji ke masjid, saat warga merasakan manfaat nyata dari zakat, infak, dan sedekah, saat anak-anak tumbuh dalam atmosfer kebersamaan, nah saat itulah masjid benar-benar makmur dan memakmurkan. Begitu!

Di Masjid Baitul Mujahid, bagi saya Ramadan kali ini mengungkap bahwa ibadah kolektif yang dikelola dengan visi sosial dapat melahirkan masyarakat (komunitas) lebih peduli, lebih berdaya, dan lebih terhubung. Secara substansial, masjid tak hanya menjadi tempat sujud. Masjid merupakan pusat peradaban kecil yang menyalakan lentera kebersamaan di tengah lingkungan. Di sanalah kita kembali “pulang”.

Ada pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Masjid dan Media Sosial

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.669
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Masjid menjadi penting dalam pembangunan spiritualitas masyarakat muslim. Perannya sudah kentara dan jelas sejak zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dalam konteks Ramadan, banyak sekali dakwah-dakwah berbasis digital berseliweran di gawai kita. Namun masalahnya, apakah masjid masih memiliki otoritas dibandingkan media sosial? Secara tradisional, masjid dilihat sebagai ruang fisik, bangunan, tempat untuk bersujud, […]

  • Gelar Rapimcab Perdana, PC IPNU IPPNU Pati Serap Aspirasi dan Evaluasi Kader

    Gelar Rapimcab Perdana, PC IPNU IPPNU Pati Serap Aspirasi dan Evaluasi Kader

    • calendar_month Sen, 3 Jun 2024
    • account_circle admin
    • visibility 361
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati menggelar Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab) perdana, Ahad (3/6). Kegiatan yang bertempat di Balai Desa Semirejo, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati ini dihadiri oleh seluruh Ketua atau pengurus yang mewakili Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU se-kabupaten Pati. Rapimcab […]

  • Makesta IPNU-IPPNU di SMK Pelayaran Tayu

    Makesta IPNU-IPPNU di SMK Pelayaran Tayu

    • calendar_month Sab, 13 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang IPNU-IPPNU mengadakan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) di SMK Pelayaran Tayu, 29/7 kemarin, acara tersebut bertujuan untuk menguatkan perihal keanggotaan dalam IPNU-IPPNU, berdakwah, berfikir, beramal melalui organisasi. “Inti dari Makesta yaitu memberikan pemahaman tentang sebenarnya IPNU-IPPNU itu seperti apa, dan sejarah pendiriannya pun sudah jelas, lha tujuan kami sebagai Pengurus Cabang secara bertahap […]

  • PCNU - PATI

    Ketua PCNU Cerita Pengalaman Haji : Saya Bandingkan dengan Negara Lain (1)

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 465
    • 0Komentar

    WINONG – Ketua PCNU Pati, KH Yusuf Hasyim baru saja menunaikan ibadah haji tahun ini. Sepulang dari tananh suci, dirinya membeberkan banyak pengalaman menarik selama beribadah di sana.  Kepada pcnupati.or.id, ketua PCNU Pati dua periode tersebut, banyak berkisah seputar pelaksanaan haji 2022 ini. Memang cukup banyak yang diceritakan.  Apalagi, setelah Indonesia absen mengirim jama’ah haji selama […]

  • Hak Perempuan dalam Islam

    Hak Perempuan dalam Islam

    • calendar_month Sel, 13 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 519
    • 0Komentar

      Islam adalah agama rohmatan lil’alamin, semuanya sudah ada tata cara dan ketentuan untuk menjadi panduan kita dalam beragama. Ada banyak aspek yang dibahas didalam Islam, salah satunya mengenai perempuan. Saya mencoba mengulas kitab Assittin Al-Adliyyah semampu saya, dan sesuai dengan pemahaman saya. Dalam kitab tersebut terdiri dari 60 hadist yang bisa menjadi rujukan bagaimana […]

  • GP Ansor Pati Buka Posko Mudik di Alun-Alun Juwana dan Pati

    GP Ansor Pati Buka Posko Mudik di Alun-Alun Juwana dan Pati

    • calendar_month Jum, 28 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 466
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pati membuka Posko Mudik di Alun-Alun Juwana, tepatnya di samping Masjid Al Mukarromah, dan di Alun-Alun Simpanglima Pati, tepatnya di depan Masjid Agung Baitunnur. Ketua PC GP Ansor Pati Abdullah Syafiq mengatakan, posko mudik dibuka untuk memberi pelayanan kepada masyarakat yang tengah dalam perjalanan. Pelayanan […]

expand_less