Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

Kali ini Suluk Maleman Membahas Fenomena Masyarakat Autoimun

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
  • visibility 619
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id- Secara medis, sistem imun dikenal sebagai mekanisme pertahanan untuk menangkal masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh. Sistem imun akan mendeteksi zat asing yang masuk ke dalam tubuh, dan memproduksi antibodi untuk melawannya.
Persoalan muncul bilamana yang terjadi adalah autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan justru menjadi senjata makan tuan. Antibodi yang diproduksi justru menyerang tubuh manusia sendiri.
Fenomena medis ini yang kemudian digunakan sebagai pisau analisa untuk membedah fenomena serupa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 161 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (17/5) mengangkatnya dengan tajuk Dongeng Peradaban Autoimun.
Menurut penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, sistem imun sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sosial, berupa reaksi spontan penolakan setiap ada unsur asing yang masuk. Tapi, sama seperti dalam fenomena medis, munculnya gejala autoimun bisa menjadi ancaman yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ambil contoh,” jelas Anis, “ketika tentara yang harusnya menjadi antibodi yang menjaga masyarakat dari ancaman yang datang dari luar; tiba-tiba malah memosisikan masyarakat yang harus dijaganya sebagai ancaman misalnya. Atau penegak hukum, yang harusnya menjaga masyarakat dari para pelanggar hukum, tiba-tiba menggeneralisasi masyarakat sebagai pelanggar hukum. Atau ketika para politisi yang seharusnya manyalurkan aspirasi, justru memanipulasi masyarakat dan menindas kepentingannya. Atau ASN yang seharusnya melayani, justru menggeroti kehidupan masyarakat. Baik terjadi secara terpisah, apalagi bila berlangsung secara bersamaan; maka bisa dipastikan ini akan melumpuhkan kehidupan masyakat”
Kecuali elemen-elemen di atas, Anis juga menyebut adanya gejala autoimun lain yang muncul, baik secara organik mau pun hasil rekayasa, dalam kehidupan masyarakat. Ini seringkali bermula dari kebencian dan permusuhan antar atau inter kelompok maupun golongan. Gejala semacam ini tentu akan melemahkan kohesifitas ‘tubuh’ masyarakat itu sendiri. Apalagi ketika eskalasinya meningkat dan melahirkan konflik horizontal.
“Dengan beragam cara, kekuasaan, apalagi kekuasaan modern, cenderung menciptakan autoimun jenis ini demi menjaga dan melanggengkan kekuasaannya. Mereka sengaja merekayasa dan memprovokasi konflik yang secara potensial ada di masyarakat, atau menaman potensi konflik baru; agar masyarakat terpecah belah dan saling berhadapan satu dengan lain. Dengan demikian lebih mudah dikuasai,” jelas Anis.
Anis kemudian mengambil dua contoh terbaru untuk menjelaskannya. Pertama isu nasab sebagai contoh dari rekayasa potensi konflik yang memang secara laten ada di masyarakat. Yang kedua, isu cebong dan kampret yang sengaja ditanam untuk membelah masyarakat berdasar perbedaan aspirasi politik. Ironisnya kadang dendam akibat perseteruan macam ini justru diestafetkan dari generasi ke genarasi.
“Kalau hal seperti ini terus dikembangkan, maka kita sedang menanam bom waktu bagi masa depan,” tegasnya.
Dengan mengutip hadits Nabi, Anis menawarkan cara untuk menghindar dari fenomena autoimun sosial.
“Ada hadits menarik, mencintailah secukupnya dan membencilah secukupnya. Jangan terlalu mencintai, karena siapa tahu yang kamu cintai suatu saat menjadi musuhmu. Jangan pula terlalu membenci, karena mungkin yang kamu benci suatu saat bisa jadi sahabatmu,” ujarnya.
Dalam Islam, mencintai dan membenci harus karena Allah. Allah harus menjadi pusat yang menghubungkan antar mahluk. Kalau posisi Allah disingkirkan, maka baik hubungan cinta mau pun benci bisa menjadi destruktif; karena semua manusia pasti punya4 kelemahan dan kekurangan yang bisa menjadi amunisi lahirnya konflik.
Oleh sebab itu Anis mengritik penggunaan istilah muhibbin, karena menurutnya itu hanya adopsi dari istilah fans atau follower dalam dunia selebritas modern. Anis menyebut tidak ada model penggemar fanatik dalam Islam, di mana seseorang mencintai junjungannya secara fanatik dan satu arah.
“Dalam Islam yang dikenal adalah saling menyayangi. Bukan hanya satu arah tapi dua arah.Istilah thogut itu ketika kita memberhalakan sesuatu. Memuja sesuatu dengan berlebihan. Kalau seperti itu pasti ditindas,” ucapnya.
Pria yang juga mengasuh Sampak GusUran itu juga mengingatkan pentingnya berkumpul dengan orang sholeh. Menurutnya tataran sholeh adalah orang yang terus bertumbuh kebaikannya.
“Sholeh itu tidak statis, tapi dinamis. Bukan hanya selalu ke masjid, namun yang terus berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya.
Saling mencinta dan menyayangi adalah metode inter personal terbaik untuk menghindari munculnya gejala autoimun dalam relasi sosial. Sementara sebagai sebuah tananan, masyarakat butuh sosok-sosok terpercaya untuk membimbing mereka. Baik sosok tokoh masyarakat mau pun tokoh agama.
“Adam bisa disebut kholifah setelah tidak terikat dengan kepentingan duniawi. Nah dalam sebuah komunitas sosial tentu penting hadirnya sosok dalam tingkat tertentu sudah terbebas dari ikatan dunia. Mereka inilah yang mampu memilah dan memilih secara tepat, sehingga bisa menuntun masyarakat,” ucapnya.
“Celakanya,” lanjut Anis, “dalam proses menuju autoimun, sosok-sosok semacam ini justru menjadi sasaran pertama untuk dibunuh karakternya; sehingga masyarakat kehilangan sumber utama pemroduksi dan pengendali antibodi sosial.”
Anis menyebut bangsa Indonesia memiliki banyak nilai positif. Nilai positif itu bisa menjadi sistem imun dalam menangkal hal buruk.
“Bangsa ini disebut berada di deretan ke empat negara paling miskin di dunia. Anehnya, penelitian lain menyebut sebagai bangsa yang ada di deretan kedua bangsa paling bahagia di dunia. Hal itu bisa terjadi karena kuatnya interaksi dan saling bantu di masyarakat kita. Bahkan nongkrong di pos ronda saja sudah bisa membuat kita bahagia. Saya harap nilai semacam itu jangan sampai dihancurkan.Tak perlu silau budaya luar namun justru merusak tradisi luhur bangsa kita,” ujar Anis penutup Suluk Maleman.(*)

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dongeng Peradaban Autoimun’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (17/5).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    3 Tips Siap Siaga Bencana

    • calendar_month Sel, 10 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Oleh : Angga Saputra Puluhan desa di Kabupaten Pati hingga saat ini masih tergenang banjir. Bahkan aktivitas warga menjadi tersendat. Sejumlah desa juga mengalami kelumpuhan akses. Sebab jalan utama terendam banjir. Banyak masyarakat yang terdampak banjir menggunakan sampan atau pohon pisang rakitan sebagai sarana transportasi darurat ketika beraktivitas di luar rumah. Rangkaian bencana alam yang […]

  • Ini Pesan PJ Bupati Terkait Harlah Satu Abad NU

    Ini Pesan PJ Bupati Terkait Harlah Satu Abad NU

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 411
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id PATI-Dalam Perhelatan Satu Abad NU di Kabupaten Pati, hadir banyak tokoh dari berbagai level. Mulai dari tingkat domestik, seperti para Ketua MWC NU, hingga tokoh-tokoh Nasional. Beberapa pejabat pun turut hadir, terutama jajaran Forkoppimda Pati. Namun, PJ Bupati Pati, Henggar yang sedianya turut dalam agenda tersebut absen. Ia mewakilkan kepada salah seorang pejabat kabupaten, […]

  • KKG Ke-NU-an MI Tancap Gas Jalankan Proker

    KKG Ke-NU-an MI Tancap Gas Jalankan Proker

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Adib Al Arif, Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pati sedang menyampaikan gagasannya dalm rapat koordinasi KKG MI untuk Mapel Ke-NU-an di Gedung PCNU Pati, Sabtu (9/10) PATI – Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah pelajaran Ke-NU-an Kabupaten Pati melakukan rapat koordinasi dengan Guru Ke-NU-an se-Kabupaten Pati. Rapat koordinasi dihadiri oleh Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pati, Adib […]

  • PCNU-PATI

    Ratusan Santri Pati Ziarah di Makam Gus Hasyim

    • calendar_month Rab, 23 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 670
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati melaksanakan apel sekaligus berziarah di Taman Makam Pahlawan Giri Dharma, Selasa (22/10/2024) sore. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2024. Satusan santri mengikuti kegiatan ini dengan khidmat. Kegiatan apel sekaligus ziarah dipimpin oleh Penjabat (Pj) Bupati Pati Sujarwanto Dwiatmoko. Usai apel, rombongan […]

  • Gelar Rapimcab Perdana, PC IPNU IPPNU Pati Serap Aspirasi dan Evaluasi Kader

    Gelar Rapimcab Perdana, PC IPNU IPPNU Pati Serap Aspirasi dan Evaluasi Kader

    • calendar_month Sen, 3 Jun 2024
    • account_circle admin
    • visibility 434
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati menggelar Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab) perdana, Ahad (3/6). Kegiatan yang bertempat di Balai Desa Semirejo, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati ini dihadiri oleh seluruh Ketua atau pengurus yang mewakili Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU se-kabupaten Pati. Rapimcab […]

  • PCNU-PATI Photo by Anita Austvika

    Perempuan itu Makhluk Bebas

    • calendar_month Jum, 2 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Tadi malam saat tengah bersantai, tiba-tiba handphone saya bergetar. Rupanya ada panggilan video call masuk dari teman-teman semasa kuliah. Bermaksud untuk melepas kerinduan. Kami saling berbagi kabar dan bercerita perihal kesibukan masing-masing. Selain itu mereka juga saling curhat perihal apa saja, yang salah satunya tentang asmara. Dan saya hanya sebagai pendengar setia, […]

expand_less